My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(Session 2) Page 2: Villain's Secrets (2)



Naira's POV


Aku benar-benar tidak tau lagi harus berekspresi seperti apa,


ketika mendengar jawaban nona Araya yang mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap kedua pangeran.


Wait-wait-wait tunggu dulu ... apa maksudnya semua ini?


Sejauh apa plot dalam Novel ini berubah sejak aku datang???


Aku menunduk, seolah mencari jawaban di bawah kakiku.


"Nona Naira?"


Panggil nona Araya padaku yang masih juga merunduk tanpa suara,


"Nona Naira ... apa anda baik-baik saja?"


Kembali dirinya bertanya.


Hingga kemudian aku memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang selama ini menjadi kecurigaanku.


"Nona Araya, apakah anda mengingat siapa anda yang sebenarnya di kehidupan sebelumnya?"


Tanyaku yang meragukan sendiri pertanyaanku barusan.


"Mak-sud Nona Naira?"


Tanyanya menatapku dengan polos.


Aku sedikit tertegun dengan jawaban tersebut.


Sepertinya dugaanku salah.


"Maaf Nona Araya ... tolong lupakan saja pertanyaan saya barusan."


Kataku dengan senyum hambar.


"Aku akan panggil Anne untuk menyiapkan camilan, Nona Araya ingin curhat, kan?"


Kataku lagi yang akan berbalik pergi.


"Apakah anda mengingat identitas anda di kehidupan sebelumnya?"


Pertanyaan nona Araya barusan membuatku membeku.


Aku pun berpaling menandang nona Araya yang ikut memandangiku dengan penuh tanya.


beberapa saat kemudian,


"HEEEEEEE????"


Seruku yang kemudian dibungkam oleh kedua tangan nona Araya.


"Oops ... maaf, saking kagetnya aku tidak sadar sudah berteriak."


Kataku yang sudah menutup mulut dengan kedua tanganku sendiri,


setelah nona Araya melepaskan kedua tangannya.


"Tentu saja kamu akan terkejut."


"Aku sendiri kalau boleh jujur juga sebenarnya sangat terkejut."


"Aku gak menyangka kalau Nona Naira ternyata juga berasal dari dunia lain."


Ungkapnya kepadaku.


"Apa Nona Araya masih mengingat bagaimana bisa sampai ke dunia ini?"


Tanyaku penasaran.


"Sama seperti Nona Naira, semua berawal dari kecelakaan."


"Hanya saja, ini adalah sosok asliku yang sebenarnya."


Jelasnya padaku, terkejut, aku pun mengulang kalimatnya sebagai bentuk pertanyaan.


"Maksud kamu, sosok Nona Araya ini, yang saat ini ada bersamaku adalah kamu yang asli?"


"Kamu yang sebenarnya?? Bukan sosok yang di deskripsikan di dalam novel???"


Tanyaku bertubi-tubi,


"Benar..." jawabnya pelan.


Bagaimana bisa?? Batinku, tanpa sadar membuat kedua alisku bertaut.


"Kamu pasti berpikir bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini."


"Yang sesungguhnya adalah ... pengarang Novel tersebut adalah sahabatku."


Penjelasan kali ini semakin membuat keningku melipat.


"Maksud Nona Araya?"


"Pengarang Novel My Precious Prencess adalah sahabatku, dia mengambilku sebagai model tokoh utama yaitu Araya."


"Itulah sebabnya aku dan Araya sebenarnya adalah orang yang sama."


"Hanya saja, seperti yang tadi aku katakan pada Nona Naira."


"Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada kedua pangeran."


Jelas Nona Araya panjang lebar padaku.


Kepalaku sedikit pening saat mencoba mencernah semua ceritanya.


"Lalu? Siapa sebenarnya orang yang kamu sukai di Novel ini?"


Tanyaku penasaran.


Ingin mencari tau lebih lanjut alasan kenapa kedua pangeran seolah tidak mampu melepaskan diri dari Nona Araya.


Dan kalau memang nona Araya tidak memiliki perasaan kepada kedua pangeran sama sekali.


Lalu apa tujuan Nona Araya memikat kedua pangeran?


"Uhh ... kalau itu ... sebenarnya."


Aku melihat adanya perubahan ekspresi di wajah Nona Araya,


kedua pipinya mulai bersemu kemerahan,


selayaknya seorang gadis yang tengah ingin menyatakan cinta.


Sampai kemudian ia berbisik ke telingaku.


"HEEEEEEEEEE????"


Sekali lagi nona Araya harus membungkam mulutku.


Nama yang barusan ia sebutkan ke telingaku benar-benar membuatku terkejut setengah mati.


Orang yang bahkan perannya sama sekali tidak terlalu menonjol di dalam Novel aslinya.


"Nona Naira, apakah Nona Naira masih bisa mengingat nama Nona Naira di kehidupan sebelumnya?"


Tanya nona Araya lagi kepadaku.


Benar juga.


Sampai saat ini pun aku tidak pernah memikirkan hal tersebut.


Namaku.


Meskipun aku mengingat siapa diriku, pekerjaanku, serta penyebab kematianku, hanya sekedar itu saja.


Memori penting yang lain sama sekali tidak mampu kuingat.


"Apa Nona Araya bisa mengingat nama atau apapun dari kehidupan Nona Araya sebelumnya?"


Tanyaku balik kepada gadis yang kini termangu mendengar pertanyaanku.


"Yang bisa kuingat hanyalah, pekerjaanku, penyebab kematianku dan panampilan asliku."


Jawabnya menggelengkan kepala lemah.


Jadi ...kami memiliki situasi yang sama. Batinku.


Aku tidak tau harus bertindak seperti apa.


Tapi, dari sini aku bisa menyimpulkan bahwa nona Araya sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakaiku maupun berniat ingin menjalankan Plot Novelnya.


Hanya satu hal yang aku masih pertanyakan.


Perihal kebetulan yang waktu itu diterangkan oleh para pangeran, dimana seolah-olah ingin mengatakan bahwa nona Araya adalah seorang penguntit.


Tapi ... bagaimana caranya aku memastikan hal tersebut?


Bolehkah aku langsung menanyakan pada orang yang bersangkutan??


"Nona Naira??"


Panggil nona Araya padaku, yang lagi-lagi terdiam tiba-tiba.


"Maaf Nona Araya ... aku tidak sadar sudah mengabaikan kamu."


"Maaf ya, aku melamun tadi."


Ucapku sok polos.


"Apa ada hal yang mengganggumu Nona Naira?"


Tanyanya dengan ekspresi cemas.


Aku tertegun sejenak mendengarnya.


Mungkin sebaiknya aku menanyakan perihal tersebut pada nona Araya secara langsung.


Aku tidak mau sok jadi detektif seperti di cerita-cerita lain.


Akhirnya kuputar tubuhku untuk menghadap nona Araya yang tengah duduk bersamaku di sofa.


"Nona Araya, kamu bilang sendiri, kan, kalau kamu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap para pangeran?"


Tanyaku mengulang kalimatnya.


"I-ya?"


Jawabnya yang malah terdengar seperti bertanya.


"Begini, maksudku yang sebenarnya adalah."


Entah mengapa dengan suka rela aku mengatakan segala hal mencurigakan yang terjadi terhadap kedua pangeran sejak kedatangan nona Araya.


Aku tau ini sama halnya dengan mengungkapkan rahasia kepada lawan yang entah bisa dipercaya ataukah saat ini, aku tengah ditipu olehnya.


Firasatku mengatakan aku boleh percaya pada nona Araya.


Bahwa dia bukanlah Tokoh Antagonis yang menyamar dibalik kulit Tokoh utama seperti yang ada di manga-manga isekai lain.


Bahwa aku bisa mendapatkan penjelasan dan meluruskan kesalah-pahaman ini.


Setelah menceritakan sedikit banyaknya hal yang membuat para pangeran mencurigai nona Araya,


juga alasan kenapa perasaan mereka berubah juga waktu kebetulan yang terlalu mazing itu.


Akhirnya membuat nona Araya menghela nafas panjang setelah memperlihatkan ekspresi syok padaku.


"Inilah yang aku takutkan, Nona Naira ... sepertinya kita berdua bukannya terjebak dalam dunia Novel." Katanya dengan wajah sedikit cemas.


"Maksud mu?"


Tanyaku tak paham.


"Kita berada dalam univers lain."


"Dimensi pararel yang terbentuk dari suatu karya lain."


Jelasnya padaku yang masih mengernyitkan kening.


Mencoba memahami setiap kalimat yang dikatakannya.


"Maksudmu ... kita berada di dunia bernama Doujinshi?"


Tanyaku ngawur namun serius.


"Tidak ... yang lebih buruk lagi ... kita berada dalam dunia bernama OTOME GAME..."


...


...


...


...


...


APAAAAAAAAA?????????


Batinku berteriak seketika.


Tidak bisa mempercayai sepenggal kalimat yang baru saja disampaikan oleh nona Araya kepadaku.


Entah aku harus tertawa terbahak-bahak dengan hal ini ataukah menangis sejadi-jadinya.


Pantas saja, rasanya ada yang aneh dengan semua ini.


Walau bagaimana pun aku mengingat isi keseluruhan Novel My Precious Princess.


Dunia yang saat ini kami tinggali merupak Univers dari sebuah OTOME GAME.