My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
Page 17: The Villainous Charms part four



Naira's POV


Minggu pertama masuk ke akademi, rasanya tidak ada yang berubah.


Aku juga masih belum bisa mendapatkan teman karena penampilanku.


Walaupun, pada saat acara sosialisasi murid-murid tahun ajaran baru, untuk kumpul bersama dalam pesta teh di hall  sekolah.


Sebagai salah satu seorang nobles, tentu saja aku hadir pada acara tersebut.


"Lihat itu, warna rambut dan matanya benar-benar berwarna ungu."


"Kata ibuku, warna ungu itu warna Iblis lho."


"Hiii ... seram, ya?!"


"Kasihan sekali dia."


"Ayahku bilang, orang yang punya warna Iblis itu berbahaya."


"Apakah dia Iblis?"


"Bukan dia masih kecil, jadi pasti dia itu anak Iblis!!"


"Aku takut!!"


Dimanapun aku berada. kata-kata itu ah yang sering kudengar dari bisikan murid-murid di akademi kepadaku.


Sebenarnya aku bisa saja mengabaikan hal tersebut dan tidak ambil peduli.


Hanya saja, setiap kali Anne dan Derrick menanyakan kabarku di kelas.


Bagaimana aku berinteraksi dengan murid-murid lain atau apa aku sudah memiliki teman.


Sama sekali tidak bisa membuatku tenang.


Pasalnya, jika aku mengatakan yang sejujurnya pada Anne dan Derrick.


Mereka seolah siap untuk menyeret siapapun yang berani menghindariku.


Atau bisa saja mengancam para murid itu agar mau berteman denganku.


Hhhff ... entah mengapa akhir-akhir ini rasanya sifat Yandere Anne jadi semakin parah saja.


Jadi, yang bisa kulakukan adalah menjadi tokoh antagonis beneran demi untuk menutupi kenyataan, bahwa mereka menjauhiku bukan karena sifat, melainkan karena penampilanku.


Aku ingat ketika bagaimana Anne menanyakan soal kenapa aku masih terlihat belum punya teman untukku ajak makan bersama atau belajar bersama.


Dan itu dia tanyakan ketika kami ada DIKANTIN, bayangkan saudara-saudara.


Bagaimana gugupnya aku kalau ditanya seperti itu.


Harus aku jawab apa coba.


Apalagi waktu Anne bilang.


"Apakah itu karena penampilan Nona Naira?"


Aku benar-benar terkejut saat Anne membawa topik tersebut.


Kulihat bagaimana Anne menundukkan kepalanya.


Tetapi, kedua bola mata itu menatap tajam ke arah para murid yang tengah menikmati makanannya.


Aku seolah bisa merasakan aura hitam terpancar dari tubuh Anne yang masih melayangkan tatapannya itu ke seluruh murid di kantin.


"Apakah mereka tidak ingin berteman dengan Anda hanya karena warna rambut dan mata Anda?"


"Memangnya siapa mereka dengan berani menghakimi Anda seperti itu!?" ujarnya lagi seolah pada detik itu juga sudah siap untuk membunuh siapa pun.


Aku pun akhirnya dengan terpaksa mengeluarkan jurus andalanku.


DRAMAQUEE No JUTSU.


Kutarik napas dengan dalam dan cepat sebelum mengutarakan kalimat yang bisa menenangkan emosi Anne. "Tidak akan ada yang berani menghakimi aku hanya karena penampilanku, Anne."


"Mereka hanya takut karena berhadapan dengan sesuatu yang cantik dan tak terkalahkan itu sangat mengerikan."


Ujarku dengan tatapan dingin dan senyum sinis.


Kupandangi satu persatu anak yang menatap ke arahku.


Mereka semua tersentak lalu mengalihkan pandangannya lagi.


"Sudahlah Anne, kau tidak usah mencemaskan hal remeh seperti itu."


"kau dan Derrick juga tau, kan, kalau aku sudah banyak berubah. Aku bukan anak kecil lagi dan mereka semua sama sekali tidak selevel denganku."


"Jadi aku harap kau berhenti mempermasalahkan kesendirianku."


"Karena aku hanya akan berteman dengan orang-orang terpilih saja. Bukan anak kecil manja yang hanya bisa bergantung pada orang tua mereka."


Kataku dengan sesumbar.


Senyum sombong yang kupamerkan pada seluruh mata yang memandang, kurasa cukup mampu memberikan kesan jahat dan menyebalkan kepada mereka.


Setelah hari itu, bukan hanya penampilanku.


Tapi juga sifat jahatku yang mulai menjadi bahan omongan.


Dimana aku dikatakan sebagai nona sombong yang hanya pantas berteman dengan sesama Iblis.


Atau anak Iblis berhati jahat yang tidak mau berteman dengan normal.


AIGOOOOOO!!!!


Mungkin inilah saat-saat dimana Naira sudah mulai melakukan perannya sebagai tokoh antagonis.


God Please!!


Aku harap cuma masalah dengan anak-anak akademi saja.


Jangan sampai ada tambahan tokoh Protagonist tiba-tiba muncul di sini juga.


Bisa-bisa urusan jadi tambah runyam.


Yah ... walaupun sebenarnya tidak akan jadi masalah, toh aku tidak punya hubungan apa-apa dengan kedua pangeran.


Meskipun, aku masih berharap Pangeran Reynald tidak akan jatuh cinta dengan Araya.


Aku yang sedang asik menghilang dalam pikiranku, secara tidak sengaja berpapasan dengan seorang gadis berambut cokelat kemerahan.


Bola mata yang berwarna sama, seolah aku melihat pantulan diriku sendiri.


Namun, dengan versi yang berbeda.


Entah mengapa, tapi gadis itu sangat menarik perhatianku.


Aku berhenti, lalu menoleh ke arah gadis itu pergi.


Tingginya tak terlalu banyak berbeda denganku.


Tapi, aku tidak merasa pernah bertemu dengan gadis seperti dirinya.


Rambutnya yang di cepol kebelang, mengingatkanku pada cara menguncir rambut di kehidupanku yang sebelumnya.


Aku merasa begitu familiar dengan gayanya yang terlihat sangat sederhana, jika dibandingkan dengan para


nobles di sekitarku.


Entah apa karena caraku yang memandangnya terlalu intense.


Sehingga membuat gadis itu berhenti lalu menoleh ke arahku.


Aku yang terkejut tiba-tiba jadi bingung sendiri.


Namun, ternyata pada detik berikutnya, gadis itu mengangguk dengan senyum hangat, memberi salam padaku.


Aku yang masih bingung sampai lupa membalas salamnya.


Hingga kemudian gadis itu berbalik pergi.


Aku masih terpaku berdiri memandangi kepergian gadis yang bahkan namanya saja belum aku ketahui.


"Sedang apa kamu berdiri bengong di sini?" tanya satu suara dari sosok yang sepertinya aku kenal.


Aku berpaling melihat Pangeran Richardo sudah berdiri di belakangku.


"Pangeran Richardo? Sedang apa anda di tempat ini?" tanyaku seperti orang linglung.


Dengan gemas Pengeran Richardo menyentikkan jari telunjuknya ke keningku.


"Awh!! What was that for??" tanyaku cemberut sambil mengusap-usap keningku.


Pangeran Richardo yang melihat reaksiku hanya memalingkan wajah, sambil terdengar sedikit kesal ia berkata.


"Itu karena kamu tidak fokus dan lagi-lagi memanggilku dengan bahsa formal yang kaku."


Protesnya padaku.


Aku hanya mengerjapkan mata, heran dengan tingkah si pangeran yang sedikit Tsundere itu.


Karena belum pernah berhadapan dengan tipe itu sebelumnya, entah mengapa aku merasa cowok Tsundere itu sangat manis.


Aku pun tanpa sengaja malah terkekeh, membuat Pangeran Richardo semakin kesal dengan kedua pipinya yang bersemu merah.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanyanya cemberut.


Menutupi kenyataan bahwa aku membuatnya malu.


Membuat Pangeran Richardo jadi salah tingkah, hingga terpaksa menyeretku pergi dari tempat itu.


Sesampainya kami di kantin, Anne, Derridk, lalu butler pangeran Richardo sudah menunggu bersama hidangan yang telah tersaji.


"Apa pangeran Ricky tidak apa-apa?" tanyaku mengawali perbincangan.


"Apanya yang tidak apa-apa?" tanyanya dengan kening sedikit berkerut.


"Selama seminggu ini Pangeran selalu menghabiskan makan siang denganku."


"Saya yakin banyak murid-murid akademi yang ingin makan bersama pangeran."


Ujarku.


"So? Memangnya kenapa kalau aku hanya ingin makan bersama denganmu?" tanyanya sedikit kesal.


"Apa menghabiskan waktu denganku begitu tidak menyenangkan?" tanyanya sekali lagi kali ini benar-benar dengan tatapan yang sedikit jengkel.


Aku yang melihatnya sedikit terkejut.


"Bukan begitu maksudku ..."


"Aku bahkan tidak paham dengan tujuanmu menjauhkan dari dari orang-orang."


"Padahal aku tau kamu bukan orang seperti itu, tapi seolah-olah kamu mau memperlihatkan bahwa kamu adalah orang jahat."


Katanya memotong ucapanku dengan kalimat yang cukup membuat kami, si pendengar, kaget.


"Kamu berkata kasar seolah-olah alasan kamu dijauhi adalah karena sifatmu dan bukan penampilanmu." Jelasnya lagi yang sedikit banyak membuatku tertegun untuk sejenak.


Kami berdua pun saling memandang.


Pangeran Richardo masih menatapku tajam dan kesal, seolah tidak terima dengan sikapku yang berlagak baik-baik saja.


Aku hanya bisa menatap balik Pangeran Richardo dengan kalem.


Aku paham dengan perasaannya yang sangat memperdulikanku.


Tapi, sebentar lagi dia akan bertemu dengan Araya dan aku tidak ingin masalahku berada di antara mereka.


"Terima kasih banyak, Pangeran Ricky ... maaf bila saya sudah membuat Anda cemas seperti ini."


Kataku dengan tatapan mengiba.


"H-Hey ... aku tidak menyuruhmu minta maaf!!" Pangeran Richardo tampak kebingungan ketika melihatku sudah merunduk lesu dengan mata berkaca-kaca.


Anne dan Derrick tampaknya sudah memberikan death glare pada Pangeran Richardo, sedangkan Butlernya hanya bisa menghela nafas berat.


Hal tersebut, makin membuat Pangeran Richardo kalang kabut.


Akhirnya dengan terpaksa pangeran cilik itu meninggalkan kursinya dan berlutut di hadapanku.


"Aku tidak marah ... kau ... hey, jangan menangis!!" katanya sembari mengelap kedua ujung mataku yang sedikit berair.


"Aku hanya tidak suka melihatmu sok tegar."


"Dengan tubuh sekecil ini, seharusnya kau lebih bisa bersikap seperti gadis seusiamu."


Terangnya sembari memalingkan wajah.


Lagi-lagi kedua pipi Yang Mulia Pangeran Richardo terlihat bersemu merah.


"Apa pangeran ingin aku bersikap manja pada Anda?" tanyaku sengaja memancingnya dengan tatapan malu-malu.


Aku bisa melihat bagaimana wajah Pangeran Richardo tiba-tiba saja sudah berubah menjadi merah padam.


Ia pun berpaling menjauhi tatapan mataku, lalu beranjak pergi untuk kembali duduk di kursinya lagi.


Aku hanya bisa meringis dalam hati.


Melihat bagaimana Pangeran *T*sundere itu lemah di hadapan Naira.


Kemudian,


Setelah makan siang usai, Pangeran Richardo berinisiatif untuk mengantarku kembali ke kelas.


Sebelum, pelajaran berikutnya dimulai.


"Apa benar kamu baik-baik saja? Kalau ada yang mengganggumu, katakan saja terus terang padaku ...."


Ucap Pangeran Richardo yang entah kenapa, kali ini nadanya terdengar cukup gelisah.


"Saya baik-baik saja, Pangeran Ricky tidak perlu terlalu mencemaskan hal semacam itu."


Kataku dengan senyum manis.


"Apanya yang baik-baik saja ... kau itu ... hhhh!!!"


Pangeran Richardo hanya mampu menghela nafas kesal, dengan bagaimana aku masih berusaha untuk tidak terlalu bergantung padanya.


Aku sedikit banyaknya mulai merasa kalau Pangeran Richardo ada rasa dengan Naira.


Tapi, mengingat bagaimana sebentar lagi plot Araya akan dimulai.


Aku juga lebih memilih untuk menyelamatkan Pangeran Reynald dari bad endingnya.


Saat kami berdua tengah asik mengobrol, tiba-tiba saja seseorang menabrak Pangeran Richardo dari belakang.


Hanya saja sosok yang menabrak Pangeran Richardo-lah yang malah terjatuh.


Aku kaget melihat bagaimana gadis itu jatuh terduduk di belakang Pangeran Richardo yang masih berdiri dengan cueknya, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku padanya dengan ramah.


Padahal sebelumnya aku sudah berusaha dengan sengaja untuk tidak menghiraukan apapun dan siapapun.


Karena ingin terlihat jahat di mata orang-orang.


Tapi, entah kenapa waktu melihat anak perempuan itu terjatuh tanpa meringik selain kata.


Aduh ... karena kagetnya itu.


Aku jadi tanpa sadar sudah mengulurkan tangan padanya.


"Oh? Makasih ..." katanya masih belum menengadahkan wajahnya untuk melihat ke arahku.


Gadis itu mengelap lengan baju dan bawahannya, setelah bangkit dengan sempurna, akhirnya pandangan kami berdua pun bertemu.


"Waaaah ... warna rambut dan matamu indah sekali."


Ucapnya tiba-tiba mengagetkanku.


"Maaf?" kataku yang tertegun dengan bagaimana anak perempuan itu melihatku dengan mata berbina-binar.


"Oh maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar."


"Aku benar-benar mengagumi warna ungu, soalnya Itu warna favoritku."


Katanya lagi panjang lebar dengan senyum ceria.


Aku hanya bisa mengerjapkan mata heran, dengan anak yang bahkan aku belum tau namanya ini.


"Terima kasih sudha menolongku, bye!!" pamitnya kemudian berlari lari untuk pergi meninggalkan kami.


Aku yang masih terpaku di tempat sambil melihat kepergiannya, disadarkan oleh deheman yang mulia pangeran.


"Kenapa kamu melihat dia seperti itu?" tanya pangeran yang membuatku sedikit tertegun.


"Huh?! Ya? Aku? Oh ... uhm, bukan apa-apa, kog. Apa ... pangeran mengenal dia?" tanyaku penasaran walau responnya jadi seperti orang gelagapan.


"Iya ... dia anak baru yang masuk di kelasku. Namanya Araya ...."


Ucap pangeran Richardo yang langsung membuatku terkaget-kaget.


ARAYA????


ARAYA YANG ITU?????


DIA UDAH MUNCUL DI SINI???????


SEKARANG ????????


YA AMPUN TOLONG!!!!!!!


Jerit ku dalam hati, tidak pernah menduga kalau Araya akan masuk ke sekolah yang sama denganku di tahun yang sama dengan Pangeran Richardo.


Kalau alurnya seperti itu, tidak heran jika Pangeran Richardo akhirnya berpaling menyukai Araya daripada tunangannya sendiri.


Nah loh, terus sekarang enaknya gimana?


Apa aku mundur teratur aja ya dari sekarang?


Tapi, kan, aku udah gak tunangan lagi sama pangeran!?


Seharusnya gak apa-apa, kan??


Batinku menanyakan hal tersebut bertubi-tubi, pada diriku sendiri.


Pangeran Richardo yang melihatku tiba-tiba terdiam dengam wajah yang sedikit pucat sepertinya jadi cemas. "Kamu kenapa Naira? Apa ada yang sakit?" tanyanya kini mengangkat wajahku untuk menatapnya.


"Huh? Sa-saya ... maksud saya, aku ... baik-baik saja."


Jawab ku gugup, masih kepikiran dengan apa yang sebaiknya aku lakukan.


BERSAMBUNG LAGI NANTI :D