
Naira's POV
Setelah merasa tenang dengan secangkir milk tea hangat dari Anne, akhirnya aku pun mulai perbincangan dengan Kyuven, Anne dan Derrick, setelah memastikan bahwa si rese Radja itu tidak sedang mengintip maupun menguping pembicaraan kami.
Tentu saja dengan Skill sihir coba-cobaku lagi.
Aku melantunkan mantra aneh yang berharap bahwa sihir untuk membuat aku, Kyuven, Anne dan Derrick mampu melakukan telepathy.
Jadi saat ini di dalam kamarku, kami berempat terlihat tengah menyeruput teh dan makan cemilan dengan santai sementara Kyuven tengah tiduran dipangkuanku dengan manjanya.
Meskipun terlihat sunyi senyap tanpa suara sebenarnya kami berempat tengah berbincang-bincang di dalam pikiran kami.
"Kamu bertemu orang asing di menara tuan penyihir?"
Tanyaku pada Kyuven yang sudah memperlihatkan ekornya tengah bergoyang-goyang.
"Benar ...."
jawabnya yang mendengkur senang ketika tanganku membelai kepalanya.
"Apa kamu bisa menjelaskan bagaimana sosoknya?" tanyaku lagi penasaran.
"Dia punya warna rambut dan bola mata berwarna madu .... "jelas Kyuven.
"Hanya ada satu orang yang memiliki warna mata dan rambut seperti itu."
Kataku kembali menyeruput milk tea.
"Bukankah kepala sekolah juga memiliki warna rambut dan bola mata seperti itu."
Kata Anne mencoba mengontrol ekspresinya.
"... Bukan 'juga' Anne, tetapi memang dialah orangnya ... entahlah, aku merasa pak kepala sekolah Aedhira itu pasti memiliki hubungan dengan Araya dan Radja ... atau bisa dibilang kalau mereka bertiga sebenarnya memang bersekongkol."
Jelasku yang kini menyandarkan punggungku pada kursi.
"... Araya, kepala sekolah dan Radja ... mereka adalah orang-orang yang terpaksa harus kulawan, dengan atau tanpa bantuan para pangeran dan tuan penyihir ...."
Ucapku lagi.
"Saya mohon Nona Naira, jangan melakukan hal-hal berbahaya lagi."
"Saya sudah mengantarkan surat Anda dan ternyata para pangeran, tuan penyihir Delarion serta kedua tuan muda tengah berkumpul di kamar Pangeran Richardo."
Terang Anne.
"Tuan muda itu... maksudmu ... para kakak?"
Tanyaku lagi yang hampir saja berjingkat dari sofa.
"Benar Nona ...."
"Mereka berlima tengah berkumpul di sana untuk membahas cara menyelamatkan Anda."
"Bahkan sebelum saya mengantarkan surat dari Anda, sepertinya mereka berlima memang sudah memiliki rencana sendiri untuk membantu Anda."
Terang Anne lagi panjang lebar dengan senyum terukir di bibirnya.
Aku hanya bisa memejamkan mata, senyum tipis terpamer dibibir mungil Naira.
"Saya tau kalau para pangeran dan tuan muda juga tuan penyihir Delarion tidak mungkin percaya tentang akting Anda."
Ucap Derrick yang sudah ikut menyandarkan punggungnya di single chair.
"Apa aktingku seburuk itu?" tanyaku dengan polosnya.
"Tentu saja tidak, saking hebatnya akting Anda, Anne sampai mau bunuh diri, kan?!"
Kata Derrick yang entah kenapa malah di dukung anggukan setuju oleh Anne.
"Saya sendiri saja hampir sempat mempercayai perubahan pada diri Anda."
"Tetapi, sama seperti para pangeran, kedua tuan muda, serta tuan penyihir Delarion."
"Perasaan sayang ini tidak mungkin kalah oleh bagaimana sikap Anda pada kami."
Kali ini Anne menerangkan dengan bibir yang memperlihatkan senyum bahagia, ketika berpura-pura menyeruput secangkir teh di tangannya.
"Nona ... bagaimanapun, kami percaya bahwa perubahan sikap Anda, pasti dipengaruhi oleh sesuatu dan apapun itu, kami ingin sekali membantu Anda."
Derrick sekali lagi menjalaskan padaku.
Semyumnya mengembang dikala kedua tangannya menyodorkan sepotong kue kepadaku.
Entah kenapa aku merasa terharu dan senang mendengarnya, tetapi bukan berarti masalahku selesai sampai disini saja.
Karena bagaimanapun, aku harus bisa menjauhkan Radja dari alam bawah sadarku, jika tidak maka hanya tinggal menunggu waktu sampai aku tertidur, itu akan menjadi hari terakhirku membuka mata selamanya.
Aku tidak bisa begitu saja dengan percaya dirinya bilang, untuk bisa mengalahkannya.
Hanya dengan mantra coba-coba yang entah akan berefek atau tidak, tinggal menunggu kedua kakak, para pangeran dan tuan penyihir Delarion untuk menemukan caranya.
Harapanku sekarang hanyalah semoga hal tersebut tidak perlu membuatku menunggu terlalu lama.
"Nona ini sudah waktunya makan siang."
Kata Anne yang seolah teringat akan sesuatu sampai-sampai membuatnya terbangun dari kursi.
"Benar juga ... pantas dari tadi rasanya lapar sekali."
Ucapku yang masih mengambil kue di depan mejaku.
"Walaupun Nona Naira sudah menghabiskan banyak cemilan?" goda Derrick terkekeh.
"Hey ... camilan itu bukan sarapan apalagi makan siang."
"Apalagi untuk gadis berumur 10 tahun sepertiku ini, makan dengan baik adalah salah satu cara untuk tumbuh sehat."
Ucapku sedikit cemberut nakal.
Anne dan Derrick terkekeh senang, sepertinya mereka merasa lega karena pada akhirnya aku bisa terlihat dan bersikap santai seperti sebelumnya.
Sudah lama tidak merasa sebebas ini.
Batinku dalam hati.
Aku memejamkan mata perlahan, menikmati suara merdu dari Anne dan Derrick yang sedang berbincang serta telapak tanganku yang masih dengan lembut membelai kepala Kyuven.
Perasaan nyaman yang saat ini kurasakan rupanya sedikit membuatku lengah.
Aku tersentak seolah tersadar bahwa aku hampir saja akan tertidur.
Kyuven terlihat terkejut mendapatiku masih berekspresi bingung, sesaat aku tak mampu memastikan apakah ini dunia mimpi atau nyata.
Kyuven ... ini bukan mimpi, kan??
Tanyaku dalam hati ketika menatap ke arah Kyuven yang masih dengan santai menggelayuti pangkuanku.
Apa barusan Nona tertidur?
Tanyanya balik yang membuatku tertegun sejenak.
Entahlah ... aku tidak yakin.
Aku hanya tiba-tiba takut ketika memejamkan mata.
Aku takut jika tanpa sadar aku sudah terseret ke dalam mimpi, tanpa sepengetahuanku.
Ujarku memegangi kening walau tidak terasa pusing.
Beberapa saat kemudian, Anne dan Derrick datang membawakan hidangan untukku.
"Aku lupa kalau hari ini aku sengaja tidak masuk sekolah."
Ujarku dengan cara bicara yang sudah kembali normal lagi.
"Apa Nona mau main ke luar?" tanya Anne yang tengah membereskan meja makan.
"Buat apa?"
Tanyaku tengah bersantai di sofa dengan Kyuven yang kembali bermanja dipangkuanku.
"Bukankah tujuan Nona adalah untuk membuat image Villain?!"
Jawab Derrick yang tengah terlihat membantu Anne.
"Hmmm ... benar juga, lagipula kalau menganggur di sini bisa-bisa aku malah ketiduran sangking bosannya." Kataku berpikir dengan bibir sedikit manyun dan sebelah alis terangkat.
"Baiklah, ayo kita ke perpustakaan, Kyuven!!!"
Ajakku dengan riang.
"Ke perpustakaan? Untuk apa?"
Tanya Kyuven yang sudah duduk manis menatap penuh tanya ke arahku.
"Hehehe tentu saja untuk cari gara-gara."
Jawabku yang membuat Anne dan Derrick tersenyum garing dengan sweatdrops besar di kepala mereka, sementara Kyuven yang tidak memahami maksudku hanya bisa memiringkan kepalanya, bingung.
Beberapa saat kemudian.
Aku yang sengaja mengenakan seragam akademi menggandeng Kyuven untuk berjalan santai menuju ke perspustakaan.
Dalam keterdiaman kami, aku menjelaskan rencanaku kepada Kyuven, dimana aku ingin menarik perhatian siapapun itu yang kami temui sepanjang perjalanan menuju Perpustakaan.
Pertama,
Jika yang kami temui adalah murid-murid di akademi, terutama apabila itu adalah para guru dan pengawas.
Maka image-ku sebagai anak Archduke yang mulai bertingkah seenaknya akan semakin menyebar luas.
Ke dua,
Apabila ternyata yang kami temui adalah salah satu dari para Capture Target, maka aku akan melakukan sihir telepathy yang sama untuk merencanakan penyelamatanku.
Ke tiga,
Jika malah yang kami temui adalah para murid atau guru bersamaan dengan salah seorang Capture Target.
Maka aku akan menampilkan aktingku yang luar biasa agar "orang-orang" yang terlibat dalam rencana Radja, masih berpikir bahwa aku masih melakukan apa yang si gila itu perintahkan.
Baru saja selesai menerangkan rencanaku pada Kyuven, dari belakang, terdengar suara seseorang yang sangat familiar ditelinga, memanggil namaku.
"Nona Naira!!!"
Serunya yang kemudian membuatku berpaling untuk menghadapnya.
Araya terlihat tengah berjalan bersama dengan kedua pangeran, dari jauh terlihat bagaimana kedua pangeran tengah memperlihatkan senyum tulus saat mendekat ke arahku.
"Saya tidak sengaja bertemu dengan para pangeran saat akan menuju ke perpustakaan." Katanya dengan senyum sumringah.
"Oh ... bukankah ini masih jam pelajaran untuk murid angkatan pertama, apa yang Nona Naira lakukan di tempat ini?"
Tanya Araya kali ini seolah teringat akan sesuatu.
Aku melirik ke arah Pangeran Richardo dan Pangeran Reynald secara bergantian.
Sampai kemudian Kyuven berbisik pelan ke telingaku.
"Nona ... saya merasakan ada pancaran kekuatan aneh yang menyelimuti tubuh kedua pangeran,."
"Dan sumbernya berasal dari benda yang ada di balik pakaian gadis di depan Anda."
Sepertinya sihir Hipnotis-nya mulai diperkuat?
Yah ... baiklah, kalau begitu ... apa boleh buat.
Kita akan coba pastikan seberapa mampu imunku menghadapi sihir yang dimiliki nona Araya itu, terhadap kedua pangeran.
"Memangnya kenapa kalau saya ingin membolos dari pelajaran akademi yang membosankan?"
Jawabku dengan percaya dirinya.
"Lagipula, aku sudah ditunjuk oleh sang Kaisar dan pangeran Richardo sendiri untuk menjadi calon permaisuri Faireniyan."
Ucapku dengan senyum menyeringai.
Meskipun sedikit, aku bisa melihat bagaimana Araya terlihat sedikit kaget dengan bagaimana aku mengungkit-ungkit masalah pertunanganku dengan si Capture Target.
"Walaupun saat ini dengan sangat kecewa, aku harus melihat bagaimana tunanganku tercinta malah tengan bersama gadis yang tak jelas asal-usulnya sepertimu."
Kataku yang sudah memperlihatkan mimik wajah sedih, dimana sengaja kupasang ketika melihat rupanya beberapa murid-murid akademi sudah ada di sekitar kami, entah secara disengaja maupun tidak.
"Kyo ... apa yang harus kulakukan kalau ternyata seorang gadis kampung seperti nona Araya sekarang sudah berusaha mengambil orang yang seharusnya mendampingiku?"
Tanyaku yang masih terlihat sedih dengan mata berkaca-kaca kepada sosok Kyo.
"Nona Naira, saya tidak bermaksud ...."
Kata Araya yang terputus oleh kalimat sang pangeran.
"Nona Naira, apakah bagini cara calon permaisuri Faireniyan bersikap kepada salah satu rakyatnya?"
"Dan apakah pantas Anda mengkritik tingkah nona Araya, dimana Anda sendiri tengah menggandeng mesra lengan seorang lelaki yang tak jelas asal usulnya."
Kalimat tersebut datang dari Pangeran Reynald.
Aku yang tidak menyangka bahwa karakter favorite-ku malah berpihak pada Araya, cukup membuatku syok berat.
Walaupun aku berusaha keras agar tidak terlihat terguncang.
"Nona Naira, sebaiknya Anda berhenti menyalahgunakan kekuasaan Anda, hanya karena Anda tidak menyukai kebersamaan nona Araya dengan saya."
Kali ini Pangeran Richardo pasang badan membela Araya.
Aku yang masih mencengkeram kuat pakaian Kyuven ketika menyandarkan tubuhku padanya, merasa bahwa kali ini sepertinya Radja sudah mulai melakukan sesuatu untuk membantu Araya dalam menggapai rute asli miliknya.
Aku yang melihat bagaimana Pangeran Reynald masih memberikan tatapan dingin dan tajam padaku, cukup mampu membuat mood-ku rusak seketika itu juga.
Seolah merasa seperti mendapati sang "pacar" berselingkuh, aku pun memutuskan untuk menyudahi tontonan gratis ini.
"Ayo kita pergi, Kyo ... sepertinya kita sudah membuang-buang waktu kita dengan hal yang tidak berguna."
Ucapku dengan ketus yang kemudian berpaling pergi dengan masih merangkul lengan Kyuven erat.
Sebenarnya bisa saja aku memperlihatkan akting marah lalu mendorong Araya hingga jatuh atau menamparnya, pelan.
Tapi entah kenapa kok rasanya males banget kalau sampai si Radja gila itu tertawa senang dengan bagaimana aku membawakan peran jahatku sesuai keinginannya.
Sepertinya imun-ku sudah tidak mampu membuat kedua pangeran terlepas dari pengaruh nona Araya.
Kembali aku teringat momen saat dimana Pangeran Reynald membela Araya dan bagaimana Araya terlihat sangat terharu dengan hal tersebut.
Inikah yang dirasakan oleh Naira di dalam novel ketika Pangeran Rickardo lebih memilih Araya ketimbang dirinya, yang masih berstatus tunangan resminya?
Batinku, menunduk.
"Nona?"
Panggilan Kyuven tak mampu kudengar