
Sebelumnya
Diperbatasan antara alam sadar dan bawah alam sadar Naira
"sigh" ... sepertinya mantra yang kugunakan untuk mencegahku agar tidak tertidur, tidak mempan.
batin Naira sedikit kesal dan kecewa.
"Kau tidak apa-apa?"
Tanya satu suara yang cukup familiar di telinga Naira dan cukup mampu membuat urat kesal Naira makin mencuat keluar.
"Apa aku kelihatan tidak apa-apa?"
Tanyanya lagi kini berbalik menatap mahluk yang mengaku sebagai Radja Peri itu.
"Tenang saja, aku di sini tidak bisa berbuat seenaknya untuk mengurung jiwamu."
Katanya mengangkat kedua tangan, seperti gesture menyerah.
Senyum kecutnya membuat Naira sedikit penasaran.
"Kenapa?"
tanyanya kemudian.
"Ini adalah perbatasan antara alam sadar dan alam bawah sadarmu, jadi aku tidak punya kuasa penuh terhadapmu."
"Dengan kata lain kau bisa melawanku di alam ini."
terangnya yang malah semakin membuat Naira mengernyitkan dahinya, curiga.
"Kenapa kau mengatakan hal ini kepadaku?"
"Bukankah akan lebih menguntungkan bagimu jika aku tidak tau apa-apa."
Kata Naira yang hanya ditanggapi dengan senyum simpul dari pemuda tampan dihadapannya itu.
Saat Naira mencoba untuk kembali memperhatikan mahluk yang selalu ia panggil dengan si gila itu.
naira baru menyadari bahwa kedua warna bola mata dan helai rambut di balik hoody-nya itu hampir sama seperti miliknya.
hanya saja warna yang dimiliki oleh pemuda itu lebih silverish.
"Apa kau mulai merasa simpati padaku?"
Tanya Naira kini yang mana cukup mampu membuat pemuda itu terkejut.
"Ini pertama kalinya selama aku mengenalmu, aku baru menyadari bahwa kau dan aku sepertinya berada dalam kondisi yang sama."
Kata Naira lagi kini mulai berjalan mendekati pemuda yang sedari tadi duduk di atas tempat atau sesuatu yang sama putihnya dengan ruangan yang ada di sekeliling Naira.
"Coba katakan padaku."
"Siapa kau sebenarnya ..."
Ucap Naira lembut saat meraih penutup kepala pemuda yang juga sedari tadi terdiam membiarkan Naira membuka hoodynya.
Memamerkan warna seindah permata tersebut.
Entah bagaimana Naira seolah mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya seperti mendapat ingatan dari masa lalu Naira.
Pemilik warna mata dan rambut platinum purple adalah merupakan mahluk yang terlahir dari hasil pernikahan antara iblis dan manusia.
Naira sedikit terkejut dengan ingatan yang ia terima barusan.
Kedua bola mata berwarna cheldony itu kembali mengernyit, seolah masih meragukan hal tersebut.
Seakan mampu membaca ekspresi Naira. Pemuda itu tersenyum, sebelum kemudian meraih kedua tangan Naira.
Diciumnya kedua punggung tangan Naira olehnya.
Walaupun terkejut, entah kenapa Naira tak mampu menampiknya.
"Benar ... walaupun sebenarnya situasi kita cukup berbeda, tapi kita berdua juga sebenarnya berada dalam posisi yang sama."
"Aku adalah Xelvasiliac ... satu-satunya mahluk yang terlahir dari hasil pernikahan iblis dan manusia."
"Ayahku adalah iblis, sedangkan ibundaku adalah seorang manusia."
"Hubungan terlarang merekalah yang membuatku terlahir kedunia ini."
"Tentu saja hal tersebut sangat bertentangan dan dianggap sebagai ancaman oleh semua orang."
Terangnya mulai bercerita.
"Kau juga pasti baru saja mendapat ingatan dari dirimu dimasa lalu, kan?!"
"kelahiranku, hubungan terkutuk kedua orang tuaku, semuanya tercatat dalam buku Aiwond."
"Untuk diceritakan kepada semua generasi bahwa keberadaanku adalah aib bagi umat manusia bahkan iblis sekalipun."
"Namun, dengan belas kasih yang dilimpahkan oleh Atashi-sama ... aku bisa hidup sampai saat ini."
Naira mendengarkan kisah Xelvasiliac dengan tenang.
Gadis cantik itu juga membiarkan Xelvasiliac yang masih menggenggam kedua telapak tangannya.
"Karna suatu alasan yang mana aku sendiri juga tidak mampu berbuat apapun untuk bisa mencegahnya."
"Aku akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat persembunyianku selama ini dan mengembara ke kediaman para manusia."
"Singkatnya, diambang ketidak berdayaan, aku bertemu dengan Aedhira yang mengatakan akan mengembalikan kehormatanku, membangunkan kekuatanku yang sebenarnya selama ini tengah tertidur dan menunggu untuk dilepaskan."
"DIa bilang, selama aku mau mengikutinya dan bersedia menuruti perintahnya, maka aku akan mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan."
Katanya lagi kini menyunggingkan senyum datar.
"Apa yang kau inginkan?"
Tanya Naira penasaran, ekspresinya berubah menjadi lembut.
Xelvasiliac yang melihatnya tentu saja sedikit tertegun, selama mereka bersama-sama, Naira sama sekali tidak pernah memberikan tatapan selembut ini, walaupun tentu saja Xelvasiliac lebih memilih apabila Naira bisa tersenyum lagi untuknya.
Sebagaimana ketika dirinya masih menyamar menjadi Radja peri.
"Apa kau ingin tau?"
Tanyanya pada Naira.
"Apa yang kepala sekolah telah janjikan padamu sehingga kau mau menjadi budaknya?"
Tanya Naira sedikit kasar.
Meskipun sedikit terkejut, Xelvasiliac tau bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya salah.
Dia memang dengan sadar telah mau dan bersedia diperbudak oleh Aedhira, hanya demi untuk dapat meraih impiannya.
Dan tentu saja semua itu ada hubungannya dengan Naira.
Tetapi, mampu Naira mengerti apabila dia mengatakan hal tersebut padanya.
Apakah Naira akan mempercayai ucapannya?
Tanya Xelvasiliac yang kembali menunduk memandangi kedua telapak tangan mungil Naira yang masih berada dalam genggamannya.
Naira yang melihat tingkahnya itu jadi merasa complecated sendiri.
Disatu sisi dirinya sangat membenci mahluk yang sudah membuatnya repot ini.
Namun, kini dirinya seolah mampu menyadari bahwa semua itu hanya karena dirinya terpaksa melakukan hal tersebut.
Apa yang diperbuat Xelvasiliac selama ini kepadanya hanyalah sesuatu yang diminta oleh kepala sekola dan Araya.
Yang mana dengan kata lain, semua ini bukan salah Xelvasiliac sepenuhnya.
Dengan kuat Naira menarik kedua tangannya, melepaskannya dari genggaman tangan Xelvasiliac yang kini terkejut menatap Naira.
Namun, pada detik berikutnya
dengan kesal dan gemas Naira malah mengusap-usap rambut indah Xelvasiliac dengan cepat hingga membuatnya berantakan.
Pemuda yang tak kalah tampan dari pangeran Reynald den kedua kakak lelaki Naira itu kini hanya bisa bengong.
kedua mata berwarna platinum purple itu berkedip-kedip keheranan.
Tidak mengerti dengan apa sebenarnya alasan Naira sampai berbuat seperti itu.
"Aku benar-benar sangat ingin memukulmu."Katanya kini berkacak pinggang dengan imutnya walau wajah cantik itu memperlihatkan ekspresi kesal.
"Kalau kau tidak mau jadi temanku bilang saja."
"Tidak usah sok cerita agar aku mau bersimpati padamu."
Ucap Naira panjang lebar yang masih tidak mampu membuat Xelvasiliac mengerti.
Kembali Naira membuang nafas pendek, mengeluh.
"Dengarkan aku, Xelvasiliac ... aku juga sama sepertimu."
"Bahkan aku yang terlahir dari kedua orang tua yang sama-sama merupakan ras manusia, masih juga disebut sebagai anak iblis."
"Sampai saat ini pun alasan kenapa aku terlahir dengan warna iblis masih belum bisa aku temukan."
"Yang bisa kulakukan hanyalah berusaha untuk menjaga agar orang-orang yang menyayangiku apa adanya masih berada disisiku dan bersamaku."
"Jika kau ingin aku menjadi salah satu orang yang bisa menerima dirimu apa adanya,"
"Maka yang harus kau lakukan adalah membuka hatimu, menceritakan segalanya padaku agar aku bisa mengerti akan situasimu."
"Aku ingin membantumu, aku ingin melakukan sesuatu untukmu tanpa harus memperbudakmu."
Ucap Naira lagi panjang lebar.
Dengan lembut Naira membelai rambut indah Xelvasiliac dan merapikannya kembali.
"Aku bahkan tidak tau kenapa warna seindah ini dianggap sebagai warna iblis."
Gumamnya pelan pada diri sendiri.
Didetik berikutnya, Naira dikejutkan dengan bagaimana Xelvasiliac memeluknya erat, menariknya hingga tubuh mungil itu kini sepenuhnya jatuh didalam rengkuhan kedua lengan pemuda tampan yang sama dewasanya dengan pangeran Reynald.
"Xelvasiliac ... apa yang kau."
Tanya Naira panik dengan wajahnya yang sudah memerah.
"Panggil aku Xelvet."
"Iya-oke aku paham Xelvet, tapi bisakah kau melepaskan aku dulu??"
Katanya lagi berusaha melepaskan diri walaupun sia-sia belaka.
"Sebenarnya aku juga ingin menceritakan semuanya kepadamu, tapi aku takut kalau kau hanya menganggap bahwa semua ini hanya bohong belaka."
"Dengan apa yang sudah kulakukan padamu, aku berpikir ... mana mungkin kau akan mau mempercayai semua kata-kataku saat ini."
Jelasnya yang mana membuat Naira cukup memahami kekhawatirannya.
Pelukan Xelvet yang semakin erat tentu saja membuat perasaan dan jantung Naira tidak tenang.
Please bukan waktunya my kokoro goes doki-doki di saat seperti ini.
Batin Naira yang berusaha menenangkan diri.
"Wajar saja kalau aku menaruh curiga padamu yang sudah membohongiku sampai seperti ini."
"Tapi sayang sekali, jiwaku yang berasal dari dunia lain ini sangat mudah sekali percaya dengan ucapan orang lain, sampai-sampai bisa dibodohi."
"Hanya saja bedanya kali ini aku tidak selemah dan se-hopeless dahulu."
"Jadi kalau aku sampai mengetahui bahwa kau sudah membohongiku."
"Maka akan kubalas kau berkali-kali lipat, hingga kau merasa lebih baik mati saja."
Ucapnya dengan nada mengancam, kali ini dirinya menengadahkan wajah mungil nan cantik itu untuk menatap ke arah Xelvasiliac.
Kedua mata seindah cheldony itu menatap lekat seakan mampu menembus jiwa Xelvasiliac.
Membuat kedua pipi itu bersemu merah.
Oleh bagaimana wajah seimut dan secantik Naira mengancamnya dengan bibir yang tersenyum menyeringai sinis dan mata yang memercing angkuh.
Seolah terhipnotis Xelvasiliac pun tak lagi mampu menyembunyikan apapun dari Naira.
"Apa aku boleh mengatakan segalanya padamu?"
Tanyanya lagi pada Naira yang kini terlihat sedikit tertegun.
"Sure ... go ahead and try me."
Ucap Naira lagi yang kini sudah mampu duduk, walaupun itu harus berada di atas pangkuan Xelvet.
Kedua tangan Xelvet masih melingkar di pinggang Naira mengunci tubuh mungil gadis itu saat dirinya sudah mulai bercerita.
"Aedhira mengatakan padaku bahwa selain aku ada seseorang lain lagi yang berada dalam situasi dan kondisi yang sama denganku."
"Tetapi ... gadis yang terlahir sebagai putri tunggal keluarga Archduke akan menemui ajalnya diusinya yang ke tujuh belas nanti."
"Jika aku ingin menyelamatkanmu satu-satunya cara adalah dengan."
"membuatku dibenci oleh semua orang, terutama orang-orang yang memiliki perasaan terhadapku? Hingga aku merasa benci dan berbalik melawan semuanya dan menguasai Aiwond?"
Ucap Naira sengaja memotong kalimat Xelvet.
"Itukah hal bodoh yang diajarkan kepala sekolah padamu?"
Tanya Naira lagi sedikit mengerutkan keningnya, kesal.
Bukan kepada Xelvet melainkan kepada orang yang menanamkan ide konyol tersebut kepadanya.
Naira marah melihat bagaimana mahluk yang diasingkan oleh semua orang, ditakuti dan dibenci ini, malah harus bertemu dengan orang yang memanfaatkan kelemahannya dan ketidak berdayaannya untuk kepentingan pribadinya.
Xelvet menunduk, ia paham bahwa apa yang dikatakan oleh Naira memang ada benarnya.
Semua yang dikatakan oleh si kepala sekolah memang sangat tidak masuk akal dan bodoh,
Tapi dia tidak mampu memikirkan cara lain agar bisa mendekati Naira.
Agar bisa membuat gadis itu berada dipihaknya.
Naira menghembuskan nafas cepat dan berat.
Dengan lembut dia menepuk puncak kepala Xelvet dengan tangan mungilnya.
"Aku bukannya marah padamu."
"Ya bukannya gak sepenuhnya marah padamu juga, sih."
Katanya lagi kini mencubit kedua pipi Xelvet dengan gemasnya.
"Aku tau kau tidak punya pilihan selain mempercayai ucapan orang yang telah membantumu."
"Aku mengerti bahwa kau percaya sepenuhnya pada kepala sekolah Aedhira karena dia telah memberikan apa yang kau inginkan selama ini untuk bertahan hidup."
"Tapi, jika seandainya aku bisa mengabulkan keinginan yang sebelumnya dijanjikan oleh pak kepala sekolah padamu."
"Apa kau mau bekerjasama denganku untuk mengakhiri semua drama ini?"
"Tanpa harus memilih jalan yang salah yang akan membuat kita berdua menjadi apa yang orang lain selalu pikirkan terhadap kita."
jelas Naira lembut memegang kedua pipi Xelvet dan menatapnya lekat.
Xelvet yang seolah terhipnotis oleh indahnya warna mata Naira, terdiam.
Perlahan wajah tampan itu mendekat, nafas mereka beradu sebelum kemudian.
Bugh
Suara jitakan di kepala Xelvet membuatnya sadar bahwa dirinya barusaja berusaha mencoba untuk mencium Naira.
"Jangan macam-macam kau, ya."
Kata Naira yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Katanya kau akan mengabulkan keinginanku."
Ucap Xelvet polos sambil memegangi kepalanya dengan ekspresi merengek sedih.
"Kau mau aku tabok lagi atau bagaimana?"
Ucap Naira yang sudah saking salah tingakhnya sampai menyebut istilah dari dunianya yang dulu.
"ck~ padahal tinggal beberapa centi lagi*"*
Ucap Xelvet mendecak lidahnya.
Naira yang makin berdebar-debar dan memerah wajahnya jadi ingin memukul cowok tampan dihadapannya ini beberapa kali lagi.
Melihat reaksi Naira yang imut tentu saja membuat Xelvet senang.
"Yang kuinginkan hanyalah agar aku bisa berada di sisimu, diakui sebagai salah satu rakyat wonderland."
"Walaupun aku memiliki darah iblis di dalam tubuhku, tapi aku berharap bisa hidup dengan normal seperti manusia biasa."
"Sepertimu, seperti semua orang yang ada di sekitarmu."
Kembali Xelvet meraih kedua tangan Naira dan mengecup punggung tangannya.
"Aku ingin tau beberapa hal, tapi untuk sekarang aku ingin bertanya padamu."
"Apakah Araya yang mengatakan padamu kalau Naira saat ini tengah didiami oelh jiwa dari dunia lain?"
Tanya Naira dengan mimik serius.
"Bukan."
Jawab Xelvet tegas yang mana malah membuat Naira terbelalak.
Jika orang itu bukan Araya, maka bisa jadi yang mengatakan semua hal tentang jati diri Naira adalah ...
Kembali pada saat ini.
"Memang benar bahwa semua mantra sihir negatif bisa dikatakan sebagain kutukan."
"Tetapi, mantra yang mampu memenjarakan jiwa korbannya dalam dunia buatanadalah kutukan yang hanya bisa digunakan oleh mahluk yang memiliki darah iblis dalam tubuhnya."
"Bukankah itu adalah alasan kenapa kalian membutuhkan Xelvet?"
Ucap Naira panjang lebar, senyum liciknya terpambang jelas diwajah imutnya.
Naira sangat menikmati ekspresi panik dan takut Araya saat ini, namun pada detik berikutnya, Naira tertegun dengan senyum penuh percaya diri yang diberikan oleh Araya kepadanya.
"Lalu? Bagaimana kau bisa yakin bahwa kau bisa mematahkan kutukan ini?"
"Bukankah kau bilang sendiri kalau Naira adalah manusia, bukan iblis apalagi manusia berdarah iblis."
Selorohnya dengan bangga menjatuhkan keyakinan Naira.
"Ah benar juga, Naira memang tidak memiliki darah iblis."
"Tapi bukankah itu hanyalah kepercayaanku sendiri?"
"Aku bahkan tidak tau darimana semua kekuatan tak terhingga ini berasal."
"Sebagai anak yang terlahir dengan warna iblis, walaupun aku percaya bahwa aku adalah manusia biasa."
"Tapi orang-orang percaya bahwa aku punya kekuatan yang bisa disetarakan dengan para Iblis>"
"Jadi tidakkah kaupun harusnya percaya bahwa aku bisa mematahkan kutukan ini dengan mudah."
Ujar Naira dengan senyum penuh percaya dirinya.
"Kenapa aku harus mempercayai kata-katamu yang tidak masuk akal ini sama sekali?"
Tanya Araya kesal.
"Huh!? Kau percaya bahwa aku adalah iblis tapi tidak mau mempercayai bahwa aku juga bisa menghancurkan kutukan ini?"
"AHAHAHAHA~ ya ampun, aku tidak menyangka bahwa kau ini benar-benar lucu sekai, Araya."
"Yah~ kau dan kepala sekolah boleh saja tidak percaya dengan hal tersebut, tidak masalah."
"Tetapi ... percayalah akan satu hal ini."
"Kalau kepala sekolah Aedhira tidak segera menyerahkan buku mantra kutukan ini padaku."
"Aku akan dengan sangat senang hati menjadi iblis untuk menyakitimu sampai mati."
Ujar Naira yang kini sudah mendekati Araya, menatap lekat kemata gadis yang sudah mulai memucat itu.
Senyum licik dan sinisnya semakin membuat Araya grogi setengah mati.