My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
Page 12: The Innocent Villain part four



Naira's POV


Setelah rasa keterkejutanku oleh kedatangan Putra Mahkota Kaisar dari Negara Caylon berangsur mereda. Kini, malah muncul another surprise dari Putra Mahkota Kaisar Yashura.


Melihat bagaimana kedua pangeran itu sekarang saling berperang lewat ucapan dan tatapan mata yang setajam pedang.


Membuatku hanya mampu menghela nafas.


Oh but no worries, aku melakukannya dalam hati saja kok.


Mau tau gimana tampangku yang lagi memperhatikan kedua pangeran itu sekarang? 


Senyum manis yang dipaksakan as always.


Sepertinya mereka sudah mulai sadar bahwa sedari tadi kelakuan mereka tengah kuperhatikan.


Melihat bagaimana mereka kini memberikan seluruh perhatian ke arahku.


Senyum yang kubuat-buat sepertinya makin terasa canggung saja.


Aku hanya bisa mengerjapkan kedua mataku ketika mereka masih terdiam menatapku.


??


Sudah tentu perhatian mereka yang seperti orang bengong sesaat itu membuatku semakin bertanya-tanya. Why?


Ada apa?


What's wrong, kok tiba-tiba kalian diem?


Batinku.


Pangeran Reynald hanya berpaling menutup bibirnya, bisa kuliat bias warna kemerahan di pipinya. Sedangkan Pangeran Richardo berdehem pelan sebelum akhirnya lanjut bicara.


"Memang apa masalahnya bagi Paman, kalau aku ingin mengunjungi kediaman calon tunanganku?"


Tanya Pangeran Richardo, lirikan matanya yang tajam serta ucapannya cukup mampu membuatku dan Pangeran Reynald sedikit tertegun.


Sebelum aku mengeluarkan suara, pangeran Reynald sudah mendahuluiku untuk berkomentar.


"Huh? Apa aku tidak salah dengar? Hey, Ricky ... bukankah kau setuju bahwa pada ulang tahunmu nanti, kau tidak akan mengumumkan pertunangan kalian. Lalu setelah itu, kau akan menyampaikan pada baginda kaisar bahwa kau akan membatalkan pertunangan kalian?!"


Terang Pangeran Reynald yang membuatku dan Pangeran Richardo tertegun.


Itu memang benar.


Kalau Pangeran Richardo sampai masih menganggapku calon tunangannya.


Bisa jadi itu berarti ...


Pikiranku terganggu oleh bagaimana Pangeran Richardo berekspresi setelah mendengar kalimat yang diutarakan oleh Pangeran Reynald.


Entahlah aku sendiri takut untuk mengartikan ekspresi yang terlihat sedih dan syok itu.


Namun, ekspresi itu kemudian berganti dengan tatapan penuh benci.


Selama yang bisa kudapatkan dari ingatan Naira, Pangeran Richardo sama sekali atau bahkan tidak pernah memperlihatkan ekspresi macam itu di hadapan Naira.


Ekspresi yang seolah tengah terluka.


Kenapa?


Apakah ada sesuatu di dalam kalimat Pangeran Reynald yang mampu membuat Pangeran Richardo memberikan tatapan seperti itu, bahkan kepada saudara sepupunya sendiri?


Aku yang masih belum mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, hanya mampu melakukan satu hal yang kubisa untuk saat ini.


"Pangeran Reynald?" panggilku merdu kepada sosok yang masih tersenyum sinis pada keponakannya itu.


"Ya, Nona Naira?!" jawab Pangeran Reynald menanggapi panggilanku.


"Apakah saya boleh meminta tolong sesuatu pada anda Yang Mulia?" tanyaku lagi dengan sopan.


"Tentu saja Nona Naira, katakan saja apa itu?" jawabnya lagi tanpa keraguan sedikitpun.


"Saya tau ini mungkin terdengar sangat kurang ajar dan keterlaluan. Tapi, bisakah Yang Mulia Pangeran mengabulkannya?" tanyaku lagi menatap kedua manik mata Pangeran Reynald dengan sangat serius.


Walaupun sepertinya Pangeran Reynald mulai sedikit agak ragu.


Rupanya hal tersebut tak mampu membuatnya melunturkan senyuman.


"Dengan senang hati, jika memang itu yang Nona Naira inginkan."


Balasnya lagi dengan senyuman penuh percaya diri.


Aku tidak tau kenapa dan bagaimana bisa seorang Putra Mahkota seperti dirinya akan mengiyakan permintaan yang belum jelas apa itu?


Tapi, mungkin saja itu berarti bahwa Pangeran Reynald menaruh kepercayaan kepadaku, kan?!


Ujarku sendiri dalam hati.


Dengan senyum menawan dan menggemaskan yang kini terpamer dengan cantik di bibirku yang mungil, aku pun berkata.


"Naira mohon agar Pangeran Reynald mau membiarkan Pangeran Richardo menyampaikan apapun itu yang menjadi tujuannya datang menemui Naira dan Naira juga berharap agar Pangeran Reynald mau menahan diri untuk tidak ikut ambil andil dalam perbincangan ini, kecuali jika Pangeran Richardo sendiri yang menginginkannya."


Jelasku panjang lebar, senyuman manis, kata-kata dengan suara imut serta puppy eyes yang menggemaskan.


Yep ... aku sengaja memasang semua jurus itu agar Pangeran Reynald mau mendengarkan permintaanku danof coursemengabulkannya.


Masih dengan pose dan jurus yang sama, kutatap lekat kedua bola mata Pangeran Reynald yang berwarna abu-abu, sinar mata hari yang menerobos masuk melalui jendela ruang tamu ini membuat manik mata Pangeran Reynald seolah berkilau keperakan.


Cantiknya ...!!!


Seruku dalam hati yang masih dengan polosnya memandangi Pangeran Reynald.


Entah kenapa aku cukup mampu menyadari adanya perubahan warna di kedua pipi sang pangeran muda. Awwww~ so cute.


Tante yang sok imut ini membuatmu blushing ya.


Godaku yang tentu saja tak 'kan terungkap selamanya.


Pangeran Reynald berpaling sejenak.


Lalu, kembali menatapku lagi dan kali ini dengan senyumannya yang menyeringai senang.


"Sure, My Lady ... why not!!" katanya yang membuatku sedikit tertegun.


"Asalkan Nona Naira mengijinkanku untuk terus berada di sisi Anda seperti ini. Maka aku janji akan menjadi patung untuk Anda."


Sambungnya lagi yang malah membuatku bertanya-tanya.


Walaupun, gak terdengar seperti jawaban yang sebenarnya kuinginkan.


Tapi, apa boleh buat.


Jika, itu yang bisa membuat Pangeran Reynald berpikir, bahwa aku tidak bermaksud mengusirnya secara lembut.


Yaaa~ walaupun dalam konteks kalimat lain sebenarnya aku mengamankan diri dengan tidak secara langsung menyuruh Pangeran Reynald meninggalkan kami berdua.


Aku cukup senang dengan jawaban tersebut.


Saking senangnya kuberikan senyum terbaik pada sang pangeran sebagai ungkapan rasa terima kasih.


Tak cukup dengan seringai manis yang diberikannya untukku.


Rupanya Pangeran Reynald punya sesuatu yang cukup mampu membuat pangeran khususnya aku terbelalak kaget sekaligus malu.


Bagaimana tidak jika sejurus kemudian, Pangeran Reynald mengangkat tangan kananku, menggenggamnya erat lalu mengecup jari manisku.


Bahkan tak tanggung-tanggung sampai mengeluarkan bunyi cup.


Aku yang kagetnya setengah hidup benar-benar dibuatnya speechless.


Karena gak tau apa yang harus kukatakan dan bahkan lakukan untuk merespon hal tersebut.


Terpaksa dengan canggungnya, aku menoleh ke arah lain.


Tanpa sengaja, aku melihat bagaimana Pangeran Richardo berekspresi melihat kejadian tersebut.


Entah kenapa aku sendiri takut untuk mengartikan ekspresi si pangeran cilik saat ini.


Beberapa saat kemudian,


"Jadi, apa kiranya yang membawa Pangeran Richardo secara pribadi datang kemari?" tanyaku dengan senyum innocent penuh tanya.


"Bukankah sebelunya juga aku sering mengunjungimu?! Bahkan tanpa pemberitahuan dan kau selalu terlihat senang setiap kali aku datang."


Seolah terkejut sendiri dengan ucapannya, Pangeran Richardo berpaling sambil menggigit bibir bawahnya. Aku tertegun.


Sedangkan, Pangeran Reynald sepertinya sudah gatal ingin berkomentar.



Well, emang gak ada yang salah dengan berkunjung ke kediaman manapun dan meski tanpa surat pemberitahuan sebelumnya pun, tak 'kan ada yang menolak kehadiran seorang putra mahkota di rumah mereka.


Jadi, sebenarnya aku mau bilang kalau itu tidak perlu.


Malah sebaliknya, aku akan sangat berterima kasih kalau Pangeran Richardo membiarkan dan meninggalkan ku sendiri, dengan begitu dia bisa dengan santai dan tenang menunggu saat dimana dia bertemu dengan Putri Araya.


Beberapa detik setelah keheningan menggerogoti waktu, Pangeran Richardo pun kembali angkat bicara setelah untuk sepersekian detik, melirik ke arah Pangeran Reynald.


"Aku ingin mengajukan penawaran ...."


Katanya yang membuatku dan Pangeran Reynald tertegun.


"Apakah yang ingin Pangeran Richardo tawarkan?" tanyaku lagi dengan sopan.


Richardo's POV


Aku yang saat ini tengah bersama Naira dan Pangeran Reynald merasa seperti orang bodoh.


Pasalnya, aku bahkan tidak sadar, bagaimana bisa aku datang ke kediaman Archduke Van Vellzhein untuk menemui Naira lagi.


Padahal, gadis itu sudah jelas-jelas ingin aku membatalkan pertunangan kami.


Tapi, setiap kali aku ingin berusaha menghilangkan perasaanku yang tengah kacau karena Naira.


Sekali lagi, kalimat Naira membuatku bimbang.


"Saya menyukai anda, Yang Mulia ...."


"Yang Mulia Richardo, saya benar-benar berterima kasih atas kebaikan dan pengertian Anda. Saya harap setelah ini pun hubungan kita tidak berubah."


"Saya tau ini terdengar sangat egois, tapi saya ingat sekali bahwa Andalah satu-satunya teman yang saya miliki selama ini ... mungkin itu sebabnya saya sangat-sangat menyukai anda sampai jadi seperti itu."


Benar, aku merasa keputusanku datang kemari tidak salah.


Aku yakin gadis itu juga akan mengerti bahwa tujuanku bukanlah untuk menghianatinya.


Tapi, masalahnya adalah pada sosok menyebalkan yang berada di sisi Naira saat ini.


Gerutuku yang tak mampu menyembunyikan betapa sebalnya tatapan mata yang kutujukan pada Pangeran Reynald.


Dimana dengan santainya orang itu duduk di sebelah Naira seolah gadis itu adalah miliknya.


"Aku ... hanya ingin memastikan kalau kau tidak kesepian. Jadi aku datang berkunjung sebagai teman ...." Ungkapku menahan malu.


Naira terlihat sedikit tertegun setelah mendengarnya.


Aku yang tak ingin melihat bagaimana ekspresi Pangeran Reynald sudah bisa menebak bagaimana ia menahan diri untuk tidak berkomentar.


"Maksud anda, Yang Mulia?" tanya gadis itu polos sambil memiringkan kepala.


"Ka-kau bilang sendiri, kan, kalau aku satu-satunya teman yang kau punya. Jadi aku mau menawarkan hubungan persahabatan denganmu."


Kataku lagi melipat kedua tangan di dada dengan ekspresi kesal.


Kenapa di saat-saat seperti ini dia malah tidak bisa berpikir secara dewasa.


Kenapa juga aku harus menjelaskan hal memalukan seperti ini, saat paman ada di sebelahnya. MENYEBALKAN!!!


Gerutuku dalam hati.


"A-apakah itu artinya Pangeran Richardo akan menjadi temanku?" tanyanya lagi dengan mata berbinar.


DEG!!!


Entah kenapa untuk sesaat tatapan mata itu membuat jantungku berdetak dengan irama yang aneh.


"Bukan ... sekedar teman, kalau kau mau, aku akan menjadi sahabatmu ...."


Kataku lagi menahan gugup sambil memalingkan wajah.


Kulirik Naira yang kemudian memperlihatkan wajah ceria.


Senyumnya yang mengembang ketika itu sangat bersinar dan kembali membuat jantungku berdetak dengan cepat.


"Sungguh ... anda tidak bohong, kan? Anda tidak akan berubah pikiran, kan? Anda akan jadi sahabat saya selamanya, kan?" tanyanya bertubi-tubi.


Tak hanya ekspresinya yang membuatku jadi salah tingkah.


Tiba-tiba saja Naira sudah beranjak dari tempat duduknya di sebelah Pangeran Reynald dan saat ini sudah berada di hadapanku sembari menggenggam kedua tanganku.


"I-iya ... tentu saja." Jawabku terbata-bata.


Aku benar-benar tidak sempat menyiapkan diri dengan serangan Naira yang imut itu.


Senyum yang masih mengembang dengan bahagia itu rupanya mampu membuat kegugupanku sirna dan membari senyum di bibirku.


"Ahem!!"


Deheman Pangeran Reynald rupanya sanggup membuat Naira memberi seluruh perhatian padanya.


Seolah tersadarkan oleh sesuatu.


Naira melepaskan genggaman tangannya.


"Ah!! Maafkan saya Yang Mulia ... saking senangnya saya jadi bertingkah tidak sopan."


Katanya padaku dengan gaya bahasa formal yang entah kenapa sangat membuatku kesal.


"Kita, kan, sudah bersahabat, jadi kau tidak perlu menggunakan bahsa formal dan sopan yang kaku seperti itu."


Protesku dengan wajah grumpy.


"Uh ... kalau Yang Mulia tidak keberatan?" ucapnya yang malah terdengar seperti pertanyaan.


"Aku malah lebih tidak suka lagi kalau kau masih bersikap seolah-olah aku ini orang asing bagimu."


Ucapku dengan wajah serius.


Naira terlihat sedikit tertegun dengan ucapanku barusan.


Namun, sesaat kemudian dia memberiku senyum ceria yang lagi-lagi menggelitik hati.


Aku suka melihatnya tersenyum seperti itu kepadaku.


Hanya kepadaku.


?!


Aku terkejut sendiri dengan apa yang barusan kuucapkan.


Walau hanya dalam hati, hal itu membuatku malu sendiri.


Ketika tatapan mataku tanpa sengaja terarah pada Pangeran Reynald.


Entah kenapa orang itu memberiku tatapan kesal dan ... how do i put it?


Tatapan itu penuh dengan kebencian.


Aku sendiri ragu dengan caraku mengartikan ekspresi Pangeran Reynald.


Karena, sebelumnya aku memang tidak pernah melihat Kak Reynald memberikan tatapan semenakutkan itu. Khususnya kepadaku.


"Jadi ... apakah Pangeran Richardo mau tinggal di sini sampai makan siang?" pikiranku terganggu oleh ucapan Naira yang terdengar senang.


"Ya?" tanyaku seperti orang dungu.


"Sebentar lagi sudah makan siang, kan?! Aku yakin para maid dan Butler juga sedang bersiap menyajikan hidangannya."


Tukasnya lagi kali ini berjalan kembali ke sofanya.


Aku sedikit tersentak ketika melihat bagaimana Pangeran Reynald dengan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Naira, hingga gadis itu terjatuh ke pelukannya.


"Apakah aku juga akan mendapatkan kehormatan untuk ikut makan siang bersamamu, Nona Naira?"


Tanya Pangeran Reynald dengan seringai manisnya yang entah kenapa membuatku sedikit terganggu.


Tanpa kusadari, kedua alisku bertaut, mengernyit, kesal.


"Tentu saja, Pangeran Reynald. Saya juga berharap Pangeran Reynald bisa ikut makan siang bersama kami."


Kata Naira yang seolah tak merasa keberatan dengan bagaimana cara Pangeran Reynald masih memeluknya.


Aku benar-benar gatal ingin menyeret Naira menjauh dari Pangeran Reynald pada detik itu juga.


Tapi, aku tidak mau terlihat ke kanak-kanakan di hadapan Naira.


Tapi, sungguh aku benar-benar sangat kesal, hingga rasanya ingin sekali kutonjok wajah tampan kak Reynald, paling tidak hanya sekali saja.


NARATOR


SO, kalau masih penasaran dengan bagaimana ketiga muda-mudi itu menjalani kehidupan mereka yang sama sekali jauh diluar plot Novel. Ikuti terus kelanjutan nya :D