
Third Person’s POV
Keesokan harinya.
Reynald terlihat berjalan cepat menuju ke ruang
kepala sekolah akademi Fairan. Ketika dirinya membuka
daun pintu kembar ruangan tersebut. Terlihatlah di seberang sana. Sosok Naira
yang tengah memunggunginya dan Araya yang sudah menoleh ke arahnya dengan wajah
sendu, seolah akan siap untuk menangis.
“Anda sudah dating, Pangeran Reynald.” Ucap Kepala
sekolah Aedhira yang menyunggingkan senyum dari balik mejanya.
“Ada keperluan apa anda memanggil saya kemari?”
Tanya Reynald kini melangkah mendekati sosok Naira yang masih tak bergeming
dari tempatnya berdiri.
“Saya baru saja mendapat laporan dari nona Naira
kalau Araya, keponakan saya telah melakukan beberapa pelanggaran.” Jelas Kepala
sekolah lagi yang kini semakin membuat Araya panic.
“Lalu? Apa hubungannya dengan anda memanggil saya
kemari.” Tanya pangeran Reynald lagi yang sekali ini tidak terpengaruh oleh
nona Araya, dikarenakan keberadaan Naira yang juga berada di dalam ruangan
tersebut.
“Saya ingin meminta maaf atas kelancangan keponakan saya, yang sudah
memaksa anda untuk dating ketempat seperti itu di waktu malam.” Jelasnya yang
membuat sang pangeran tertegun hingga kemudian melempar pandangannya pada
Naira.
“Tuan Aedhira. Saya tau anda sangat menyayangi nona Araya sebagai
keponakan anda.” Katanya mengawali sembari memperlihatkan gesture yang seolah
cemas, “tetapi… sebagai seorang gadis yang bahkan tidak memiliki hubungan
apapun dengan sang pangeran. Bukankah akan sangat membahayakan posisi nona
Araya nantinya.” Sambung Naira lagi.
“…te..tetapi… saya… sama sekali tidak mengundang…” Ujara Araya
terbata-bata, namun kalimatnya dengan seketika di potong oleh Naira.
“Saya sangat memahami perasaan anda nona Araya. Saya tau kalau anda
punya perasaan khusus terhadap Pangeran Reynald. Tetapi, bukan berarti anda bias
pergi malam-malam seperti itu dan mengundang yang mulia putra mahkota Negara Ceylon
dan berduaan dengan beliau.” Terangnya yang malah membuat pangeran Reynald
tertegun luar biasa.
“Bagaimana kalau seandainya hal ini diketahui oleh orang selain saya.
Bukankah nama kepala sekolah Zaephiroth akan tercemar karena perbuatan dan
kelalaian anda.” Katanya yang kini semakin membuat Araya terpojok.
“…tapi… saya…” Araya yang berusaha menahan airmatanya masih tidak mampu
untuk membela diri.
“Tuan Zaephiroth, bukankah akan adil jika anda tidak mendiskriminasi
nona Araya hanya karena dia adalah keponakan anda? Ayahanda dan yang mulia kaisar Yashura juga tidak akan
menyukai hal ini jika saya harus terpaksa mengatakannya pada mereka, bukan?!”
Penuturan Naira yang kali ini terdengar mengancam. Membuat pangeran
Reynald akhirnya angkat bicara. “Nona Naira…” Panggilnya yang masih tak mampu
membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
“Jika memang anda menganggap pertemuan saya dengan nona Araya itu di
sengaja. Lalu bagaimana dengan anda sendiri?” Tanya pangeran Reynald yang
menatapnya dengan perasaan terluka dan kecewa.
“Saya? Saya sedang dalam perjalanan kembali dari latihan sihir.”
Jawabnya yang semakin membuat pangeran Reynald terkejut.
“Sejak kapan anda belajar sihir diluar jam sekolah??” Tanya pangeran
Reynald yang kini dengan terpaksa harus menarik lengan Naira agar gadis cantik
itu mau menatap ke arahnya.
“Aduh… sakit…apa yang anda lakukan…” Katanya merengek yang seketika
membuat Reynald tersadar bahwa amarahnya membuat dirinya tanpa sadar berbuat
kasar pada gadis yang sangat ingin dimilikinya.
“…maaf…” Kata pangeran Reynald pelan. Seolah-olah dirinya lah yang
tengah dikasari oleh seseorang.
“Saya mendapatkan ijin dari kepala sekolah.” Jawabnya yang semakin tak
mampu meredam keterkejutan pangeran Reynald. Pemuda tampan itu kemudian menoleh
kea rah kepala sekolah yang kini tengah menyunggingkan senyum penuh arti pada
sang pangeran.
“…bagaimana dengan tuan Kayana?” Tanya pangeran Reynald, menahan
kekesalannya.
“Apa saya terlihat begitu bodoh sampai-sampai guru penyihir sehebat tuan
Kayana Delarion harus menjadi pembimbing saya?” Tanya Naira dengan angkuhnya.
Pangeran Reynald menoleh kea rah gadis yang menjawabnya dengan senyuman
sinis. “Dengan level yang saya miliki. Saya tidak memerlukan bimbingan tuan
muda Delarion, lagipula kenapa sekarang obrolan ini malah jadi tentang saya?”
Tanya Naira kini berpangku tangan cemberut.
“Yang mulia pangeran Reynald. Sayalah yang memberi ijin penuh pada
permintaan nona Naira yang mengatakan bahwa beliau secara pribadi ingin belajar
tentang sihir diluar jam sekolah.” Kali ini sang kepala sekolah bermata rubah
yang angkat bicara. Seolah sengaja ingin mengganti topic pembicaraan.
“Apakah tuan Kayana mengetahui hal ini?” Tanya pangeran Reynald sedikit
geram, “bukankah beliau sudah mengatakan pada anda dengan jelas dan tegas
sebelumnya, kalau pelajaran sihir nona Naira akan menjadi tanggung jawab beliau
sepenuhnya!?” Ucap Reynald yang memberikat tatapan tajam pada kepala sekolah
yang masih tak melunturkan senyumannya.
“Anda tidak perlu mencemaskan hal tersebut, pangeran Reynald.” Kali ini
Naira kembali menjawab dengan senyum sinisnya, “jika tuan penyihir berambut
iblis itu memang ingin sekali menjadi guru didik saya…” katanya yang membuat
pangeran Reynald tertegun dengan bagaimana Naira menyebut Kayana.
“Saya sama sekali tidak keberatan untuk memiliki dua guru pembimbing
sekaligus.” Ungkapnya dengan penuh percaya diri. “Jadi, bagaimana dengan hukuman
yang pantas untuk nona Araya, tuan Zaephiroth?” Tanya Naira kini yang sudah
membuang pandangannya pada kepala sekolah.
Pangeran Reynald yang sudah tidak bias menahan perasaannya lagi. Dengan tiba-tiba
langsung menarik pergelangan tangan Naira lalu membawanya pergi meninggalkan
ruang kepala sekolah. “Yang mulia pangeran Reynald… mau anda bawa kemana saya?”
Tanyanya dengan kening berkerut. “Pangeran Reynald!!” Panggilnya lagi ketika
dirinya tidak menerima jawaban apapun atas pertanyaannya.
Hingga kemudian sampailah mereka di taman belakang gedung administrasi. Tempat
dimana dulu Naira pernah melarikan diri setelah mengalami dua kali ciuman oleh
para pangeran. Setelah mereke berdua akhirnya berhenti. Naira yang mencoba
menarik pergelangan tangannya, tidak mampu menampik kekuatan genggaman tangan
pangeran Reynald yang lembut dan hangat.
“Lepaskan tangan saya!!” Pintanya dengan tegas.
“…” Reynald sama sekali tidak bergeming, sampai pada detik berikutnya
dia berbalik saat menarik Naira kepelukannya. “Tolong katakana kalau kamu Cuma bercanda…”
Ucap pangeran Reynald yang sudah memenjarakan tubuh mungil Naira kedalam
rengkuhan lengannya.
“…” Naira terdiam sejenak.
“Naira… kumohon… katakan padaku kalau semua ini tidak benar…” pintanya
lagi mengiba. Kedua tangan Naira yang mungil terlihat bergerak membalas pelukan
sang pangeran. Terkejut dengan kehangatan sentuhan itu, membuat pangeran
Reynald semakin memperkuat pelukannya.
“Apa tidak masalah jika orang lain melihat kita berdua berpelukan
seperti ini?” Kata Naira yang membuat pengaran Reynald tersentak, kedua
tangannya yang besar itu menarik tubuh mungil Naira hingga keduanya kini saling
berhadapan dan menatap satu sama lain.
“Bagaimanapun kelihatannya, bagi semua orang, saya yang terlahir dengan
merugikan kita berdua, jika ada orang lain yang melihat saya dipeluk oleh putra
mahkota dari Negara lain?!” Ujar Naira dengan tatapan matanya yang seolah
menyiratkan rasa muak.
Kedua tangan pangeran Reynald, melemah hingga kemudian jatuh dari pundak
Naira. Gadis itu melangkah mundur sambil mengibaskan kedua pundaknya seolah ada
kotoran yang telah menempel di sana. “Kalau memang anda masih menginginkan saya
menjadi putri mahkota Ilankai, saya harap anda bias mengatakannya dengan jelas
dan tegas kepada kedua kaisar.” Ungkapnya kini yang sudah berbalik memunggungi
sang pangeran.
“Jika seperti itu saja tidak bias, sepertinya saya harus menganggap
bahwa tattoo kupu-kupu yang ada pada jari manis saya ini hanyalah sebatas
dekorasi.” Katanya lagi dengan seringai mengolok. “Saya akan lebih
menghargainya jika pangeran bias memberikan perhiasan yang lebih berharga
daripada hal yang tidak jelas bentuknya seperti ini.” Ujarnya lagi.
Pangeran Reynald hanya bias diam membisu ditempat ia berdiri mematung
saat ini. Kepalanya menggantung mendengarkan segala tutur bicara Naira yang
semakin lama mencoba melukai perasaannya. Hingga kemudian hening. Gadis secantik
boneka itu sudah pergi meninggalkan pangeran Reynald sendiri tanpa pamit.
“Pangeran Reynald…” Panggil satu suara dibelakang sang pangeran. Sosok mungil
itu perlahan, berjalan mendekat kepadanya. Dalam diam, tangan mungil itu
mengait lengan baju pangeran Reynald.
“…tolong jangan perlihatkan wajah terluka seperti itu…” Kata satu suara
itu, yang mana kini sosoknya telah menyandar pada punggung sang pangeran yang
masih tak mampu merespon apapun.
Sementara itu
ditempat lain.
Naira yang terlihat berjalan dengan anggun di lorong sekolah, tanpa
sengaja bertemu dengan pangeran Richardo. “…Naira…?!” Sapanya yang masih tak
mampu menyembunyikan kedua pipinya yang sudah merona merah.
“Yang mulia pangeran Ricky~” Serunya kemudian memeluk Richardo yang
terkejut.
“…Na-Naira??”
“Apa anda tidak rindu padaku?” Tanyanya dengan manja yang malah membuat
sang pangeran memperlihatkan wajah kebingungan. Naira yang tidak mendapat
jawaban semakin membuat pangeran Richardo kalang kabut dengan sikapnya yang sok
imut dan menggemaskan.
Namun, pangeran Richardo yang teringat akan bagaimana Naira yang asli bersikap,
jadi tersadar kemudian. “…nona Naira…” ucapnya kini memegang dengan lembut
kedua pundak kecil Naira. “Sebenarnya…apa yang sudah terjadi padamu?” Tanya
pangeran Richardo dengan tatapan sedih dan mengiba.
Naira yang kembali mendapat pertanyaan yang hamper sama dengan pangeran
Reynald itu, hanya mengendus lucu. “Ya ampun~ anda ini bicara apa sih pangeran
Richardo? Memangnya apa yang sudah terjadi dengan saya?” Tanyanya balik yang
malah membuat Richardo tertegun.
“Selain mengalami koma selama lebih dari sebulan, tidak ada hal aneh
yang terjadi dengan saya.” Katanya lagi menerangkan dengan penuh percaya diri. “Tapi ini bukan kamu.” Seru pangeran Richardo membantah. “Sebelum hal
itu terjadi, kamu sama sekali tidak seperti ini.” Jelas sang pangeran masih
berusaha untuk mengembalikan Naira yang dianggapnya sudah berubah karena suatu
hal, agar bias menjadi seperti dulu lagi.
Naira terkekeh sebelum kemudian dengan lembut ia melepaskan kedua
genggaman tangan pangeran Richardo dari bahunya. “ Saya tidak mengerti dengan
maksud yang mulia pangeran. Tetapi, sepertinya saya bias memahami satu hal ini.”
Kata Naira yang kini berpaling dari pangeran Richardo.
“Jika anda keberatan dengan saya yang sekarang. Saya juga tidak keberatan
dengan pembatalan pertunangan kita.” Katanya dengan senyum lebar, “oh iya~
benar juga. Bukankah sebelumnya kita bertiga juga sudah membahas perihal ini
sebelumnya?” Kata Naira lagi dengan wajah sumringah.
“Masih belum terlambat bagi anda untuk benar-benar membatalkan
pertunangan dengan saya. Oh dan anda tidak perlu cemas mengenai pangeran
Reynald. Karena saya juga tidak punya niatan untuk menjadi calon permaisuri
kekaisaran Negara Ceylon.” Terangnya sembari memutar tubuhnya dengan anggun.
“…Araya…” gumam sang pangeran yang membuat Naira sedikit tertegun, “Ini
semua…jangan-jangan karena si Araya itu, kan?!” Katanya kali ini menatap Naira
dengan tegas dan tajam.
“…” keterdiaman Naira membuat pangeran Richardo yakin bahwa memang ada
sesuatu hal yang tidak beres dengan perubahan Niara. “Aku memang belum mengerti
akan penyebab perubahan mu yang jadi seperti ini. Tapi, aku yakin bahwa ini
semua pasti ada hubungannya dengan Araya.” Katanya penuh percaya diri.
Naira hanya diam, ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Sampai
kemudian dia memutuskan untuk berlenggang pergi meninggalkan pangeran Richardo.
“Nona Naira… aku berjanji aku akan melakukan apapun untuk mengembalikanmu lagi
seperti sebelum saat anda terbangun dari koma.” Seru yang mulia pangeran pada
Naira yang berjalan cepat meninggalkan Richardo sendirian.
Beberapa hari kemudian di menara penyihir.
Terlihat di dalam ruang kerja sang penyihir berambut hitam, kedua kakak
lelaki Naira, kedua putra mahkota dan kayana sendiri, tengah berkumpul seolah
mengadakan rapat besar. “Bagaimana perkembangan nona Naira selama di kelas?”
Tanya Arvhein pada Kayana.
“Aku hanya bias bilang satu hal. Kalau nona Naira sudah benar-benar
diasingkan oleh semua murid di kelasnya.” Jelas Kayana terlihat sedikit
gelisah.
“Aku juga mendengar kabar angina kalau nona Naira sering membully nona
Araya dimanapun dan kapanpun mereka berpapasan.” Tambah pangeran Richardo.
“menurut laporan dari Draco, nona Naira juga terlihat pernah menyuruh
dan mengancam beberapa murid untuk menjahati nona Araya.” Kali ini pangeran
Reynald yang angkat bicara.
“Semuanya sedikit banyak selalu ditujukan pada gadis yang bernama Araya
itu…” Kata Roland sedikit mengernyit.
“Tidakkah semua ini terlihat sangat disengaja? Seolah-olah… kejahatan
dan perubahan Naira yang tiba-tiba ini semuanya dicurahkan kepada satu-satunya
yaitu Araya?” Jelasnya lagi yang kini mendapat seluruh perhatian dari
orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
“…jika diperhatikan lagi memang benar. Nona Naira seolah dengan sengaja
menjauhkan diri dari semua orang dan menjadi jahat untuk membuat nona Araya
agar mendapati banyak dukungan dan simpati.” Kata Kayana , mata semerah rubi
itu melirik seolah melihat kenyataan tengah terpampang dengan jelas di sana.
“Tetapi… bukankah banyak yang masih tidak menyukai nona Araya karena
backgroundnya yang tidak jelas itu?!” Ungkap Arvhein kini dengan kedua alis
bertaut.
“…sepertinya tujuan nona Naira bukanlah untuk membuat nona Araya
mendapatkan simpati semua orang…” Kata Richardo berlipat tangan.
“Lalu? Kepada siapa Naira ingin menunjukkannya?” Tanya Arvhein
penasaran.
“Kepada kita berlima…” sambung pangeran Reynald menjawabnya dengan wajah
serius.
“Kak Rey… kau masih ingat soal ramalan mimpi nona Naira?” Tanya Richardo
heran yang dibalas dengan anggukan oleh Reynald.
“Ramalan mimpi? Maksud yang mulia pangeran apa?” Tanya kedua kakak
lelaki Naira hamper bersamaan.
Kedua putra mahkota saling menatap satu sama lain sebelum kemudian mengangguk seolah mengisyaratkan bahwa mereka berdua paham dan saling satuju satu sama lain.
Tuan penyihir Kayana dan kedua putra Archduke memperhatikan kedua pangeran penuh tanya
BERSAMBUNG