My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(Session 2) Page 17: Villain in Demand 4



"Nainai~" Panggil suara merdu Arvhein yang terlihat dengan senyum hangatnya memasuki kamar Naira.


"Kak Arvan? Ada perlu apa kak?" tanya Naira yang tengah minum teh dengan Derrick dan Anne mendampingi disampingnya.


"Ayo ikut~" Ajak Arvhein yang sudah mengulurkan tangannya.


"Mau kemana kak?" Tanya Naira lagi dengan tatapan penuh tanya dan keraguan untuk membalas uluran tangan tersebut.


"Aku dan Roland akan pergi ke pusat kota, ayah bilang karena bebarapa hari ini kamu mengurung diri di kamar terus..." ungkap Arvhein yang tiba-tiba di potong oleh Naira.


"Apa ayahanda yang menyuruh kalian untuk mengajakku karena merasa kasihan?" tanyanya dengan nada ketus.


"Apa? Tentu saja bukan, Nai. Aku dan Roland memang kebetulan ingin mengajakmu jalan-jalan. Hanya saja sebelum kami meminta ijin pada ayahanda mengenai dirimu. Ayahanda sudah  lebih dulu meminta kami berdua untuk mengajakmu." Jelas Arvhein panjang lebar. masih dengan senyum hangat yang tersungging di bibirnya.


Naira menatap tajam ke dalam bola mata Arvhein. "Baiklah kalau begitu." setelah untuk beberapa saat terdiam, Arvhein tersenyum mendapati jawaban adik tercintanya. Walaupun masih belum bisa diyakinkan oleh ketulusan ucapan Arvhein. Naira mencoba untuk mempercayai ucapan kakaknya.


Di lorong mansion, Naira bertemu dengan Archduke Rhaka. "Kalian sudah mau pergi? Roland menunggu di luar." Ucapnya lembut. Naira membuang pandangannya seolah menghindari tatapan hangan sang ayah dengan sengaja.


"Ayah senang kamu bersedia ikut dengan kakak-kakakmu. Bersenang-senanglah diluar sana." Archduke Rakha mengulurkan tangan kanannya mencoba untuk membelai puncak kepala anak gadis kesayangannya. Namun, dengan kasar ditampiknya tangan itu oleh Naira.


"Aku bersedia ikut hanya karena aku bosan berada dikamar. Tapi, bukan berarti aku bisa begitu saja bersenang-senang di kerumunan orang-orang yang suka menggunjingku dari belakang."


Naira masih belum mampu menatap mata ayahandanya yang sudah terlihat sedih. Dirinya kembali melangkahkan kedua kakinya dengan cepat meninggalkan Archduke dan Arvhein yang masih berdiri mematung. Setiap kali Naira bertemu atau berpapasan dengan para Maids dan Buttlers mereka semua hampir berpura-pura tidak melihat Naira atau bahkan ada yang dengan terang-terangan melarikan diri. Walaupun sebagian dari mereka ada yang masih menunduk karena takut.


Sesampainya diluar mansion, Naira disambut dengan senyuman hangat oleh kakaknya, Raoland. "Syukurlah Arvhein berhasil merayumu untuk ikut bersama kami." Katanya melangkah mendekati Naira, "kalau tidak... mungkin kakaklah yang akan terbang ke kamar untuk membawamu keluar." sambungnya lagi kali ini mengusap puncak kepala Naira.


Dengan dingin Naira menampik tangan tersebut lalu bergerak kembali mendekati kereta kudanya. "Ayo pergi..." katanya singkat.


Roland tersenyum masam. Setelah Arvhein datang bersama Archduke yang mengantar kepergian mereka. Kereta kudapun akhirnya berangkat meninggalkan Mansion Van Vellzhein untuk menuju ke pusat kota."


"Sebentar lagi sudah siang... bagaimana kalau kita pergi ke restoran yang waktu itu." Ajak Arvhein  yang tengah duduk si samping Naira.


"Oh maksudmu Restaurant yang kita pernah bilang sangat cocok buat Nainai?!" kata Roland membalas.


"Betul. Di tempat itu ada kue dan tart yang enak, aku yakin Nainai pasti suka." Jelas Arvhein lagi.


"Seenak apapun makanan itu. Kalau suasananya buruk juga tidak nyaman untuk menikmatinya." Jawab Naira yang menatap keluar jendela dengan ketus.


Roland dan Arvhein saling menatap, mereka ingat alasan kenapa Naira jadi sangat introvert dan membenci keramaian adalah karena seorang anak laki-laki yang entah siapa itu tiba-tiba saja menyiram Naira dengan air dan meneriaki Naira dengan julukan iblis.


Naira yang masih berusia 10 tahun sangat syock saat mendengarnya. Ditambah lagi dengan bagaimana orang-orang disekelilingnya menatap dengan takut dan jijik tanpa seorangpun menolongnya. Sampai kemudian kedua kakak lelaki Naira datang dan membawa Naira pergi dari lokasi.


Anak lelaki yang masih terus menunjuk-nunjuknya sebagai iblis dikerumunan pusat kota itu membuat Naira trauma. Semenjak itulah Naira menarik diri dari dunia luar.


.


.


.


"Shhh sudah tidak apa-apa Nainai ... kamu baik-baik saja." Ucap Roland yang terlihat tengah memangku Naira dan mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk.


"...kak Roland ..." panggil Naira dengan suara lemah.


"Ya?"


"Apa benar aku adalah iblis?" tanya Naira lagi menundukkan kepalanya.


Roland yang terkejut tentu saja langsung memutar tubuh adiknya itu untuk menatap kedua mata ungu Naira yang sudah sembab.


"Kamu bukan iblis Naira, kamu adik kakak...anak perempuan kesayangan ayah. Apa kamu berpikir kalau orang tua kita adalah iblis?" tanya Roland dengan tatapan sendu namun tegas.


Naira menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tapi... mereka bilang Naira iblis yang menggantikan bayi di rahim ibunda..." katanya lagi kini dengan sesenggukan.


Roland yang mendengarnya terlihat panik apalagi ditambah Naira yang sudha meneteskan airmata. "Siapa yang berani bilang begitu sama kamu?" tanya Roland dengan kedua alisnya yang bertaut.


Kembali Naira menggelengkan kepalanya.


Naira menangis kencang di dalam pelukan Roland yang semakin erat. Setelah insiden tersebut. Naira sudah tidak berani melangkahkan kaki keluar Mansion bahkan kamar. Seluruh anggota keluarga Naira yang berusaha membujuk anak perempuan mereka agar mau setidaknya menghabiskan waktu bersama mereka diluar kamarnya berujung sia-sia.


.


.


.


Naira melamun, mengingat kembali memorinya yang paling menyakitkan. Walaupun beberapa waktu kemudian Naira mendengar kabar bahwa kedua kakak lelaki dan ayahandanya  telah menghukum semua orang yng telah membuat rumor buruk mengenai Naira adalah familiar iblis, bahkan meskipun hal tersebut dilakukan oleh anak kecil sekalipun.


Archduke yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang menyamai kaisar Fairyan tak mampu dicegah oleh bahkan sang kaisar sendiri. Hingga ancaman hukuman bagi siapapun yang menyebarkan rumor buruk tersebut terdengar keseluruh penjuru Fairyan.


dan tak ada yang berani melanggarnya, Setelah sembuh dari trauma tersebut beberapa tahun kemudian, kembali Naira diserang oleh hal lain, yang mana kali ini tak mampu membuat gadis cantik dan lembut tersebut mempertahankan kewarasannya.


Kemunculan Araya yang tiba-tiba di akademi, lalu pangeran Richardo yang mulai memberikan seleuruh perhatiannya pada Araya dan menomor duakan Naira. Hingga rumor baru yang mengatakan bahwa Naira telah mengutuk kedua kakak lelaki dan ayahandanya sendiri.


hanya karena kedua kakak lelaki dan ayahanda Naira pasti mengabulkan dan menuruti semua permintaan Naira tanpa terkecuali, walaupun duchess Mary menentangnya. Bahkan satu permintaan berbahaya Naira yang menginginkan Araya untuk dijauhkan dari sisi sang pangeran Richardo bagaimanapun caranya dikabulkan dengan senang hati oleh Archduke.


dan ketika duchess Mary mencoba menghentikan kedua putra dan suaminya untuk tidak membahayakan diri mereka hanya karena keinginan egois mereka. Arvhein, Roland dan bahkan sang Archduke memandang duchess dengan dingin. mereka menganggap bahwa ibu sekaligus istri archduke tersebut lebih mementingkan reputasinya labih dari kebahagiaan Naira.


Yang mana hasilnya semenjak hari itu duchess Mary sedikit demi sedikit hingga kemudian menjadi sering di acuhkan dan diabaikan keberadaannya.


Naira hanya mampu menghela nafas panjang, mengingat bagaimana sekarang ibunda yang dulu menyayanginya kini seolah berpaling memusuhinya hanya karena Ayahanda dan kedua kakak lelakinya lebih menyayangi Naira.


Arvhein dan Roland hanya mampu saling memandang dengan cemas. Mereka berharap bahwa adik kesayang mereka bisa kembali seperti dulu lagi, ceria, meskipun egois selalu penuh dengan senyum hangat dan ramah. walaupun cengeng Naira anak yang sangat penyayang.


"Nainai~ lihat, kita sudah sampai~" ucap Arvhein memecah keheningan di dalam kereta kuda mereka.


ketika naira dan kedua kakak lelakinya memasuki restoran. terlihat bagaimana atmosfir di dalam tempat tersebut berubah dari hangat menjadi dingin. Naira bisa merasakan bagaimana desperatenya para pengunjung di dalam restauran untuk tidak terpengerauh dengan kedatangannya dan berpura-pura tidak tau.


Naira yang sebenarnya sangat membenci kecanggungan dan perasaan dimana dirinya sama sekali tidak dianggap berusaha untuk bertahan demi memperlihatkan bahwa perlakuan mereka sama sekali bukan sesuatu yang mampu mempengaruhinya.


hingga kemudian satu suara muncul tanpa di duga. "Nona Naira...?" sapa suara yang sangat familiar di telinga Naira. Walaupun dirinya berusaha untuk tidak menoleh, namun, otaknya yang mengatakan bahwa di samping pemilik suara tersebut ada sosok yang sangat dinantikannya.


Naira berpaling, di hadapannya kini terpajang pemandangan dimana Araya dengan wajah terkejut, cemas dan takut tengah memeluk lengan pangeran Richardo, seolah tengah meminta perlindungan kepadanya.


sejak Richardo berhasil menyelamatkan Araya dan mengetahui darinya bahwa semua hal yang terjadi pada Araya adalah ulah dari Naira. Richardo masih tak mampu membatalkan pertungangan mereka tanpa restu sang Kaisar. Hanya karena tidak memiliki cukup bukti kuat yang mana bisa menjatuhkan Naira beserta seluruh keluarganya. Pangeran Richardo hanya bisa memberikan sikap dingin dan kasar pada Naira. Yang mana cukup mampu membuat gadis itu kehilangan seluruh akal sehatnya dan semakin menggila dengan obsessinya pada sang pangeran.


Naira yang melihat bagaimana pangeran Richardo memberikan tatapan dingin pada Naira dan mencoba menenangkan Araya dihadapan semua orang, bisikan dan sindiran di belakang mereka membuat Arvhein dan Roland semakin panas.


"yang mulia pangeran Richardo, tidakkah berjalan dengan wanita lain disamping anda ketika anda masih terikat pertunangan dengan putri keluarga Archduke akan menempatkan posisi anda menjadi buruk." Kata Arvhein dengan sinis.


"Aku yakin nona yang tengah ketakutan di sebelahku ini, lebih pantas mendampingiku sebagai calon ratu dimasa depan dibandingkan dengan nona yang membuat semua orang ketakutan dengan kehdirannya, bukankah begitu?" Jawab Richardo yang membuat Arvhein dan Roland menjadi sangat emosi.


Naira mencegah kedua kakak lelakinya tersebut dengan menarik pergelangan tangan mereka. "Aku memang sengaja mengajak nona Araya bersamaku kemanapun aku ingin pergi. Karena, apabila kaisar belum bisa memberikan restunya untukku. maka tidak ada jalan lain dengan meminta restu kepada semua orang yang tinggal di kekaisaran Fairan." Jelasnya lagi panjang lebar.


kedua tangan Naira hanya mempu mencengkeram kedua pergelangan kakak lelakinya kuat-kuat. Arvhein dan roland mengerti sekali bagaimana perasaan Naira saat ini. Walaupun mereka sudah berusaha untuk membujuk Naira agar melepaskan pangeran Richardo yang hanya bisa menyakitinya. Naira masih tidak mau melakukannya.


Bagi Naira, Pangeran Richardo adalah sekian dari beberapa orang selain keluarganya yang tidak pernah menganggapnya sebagai titisan iblis, perhatian dan kasih sayang sang pengeran membuat Naira jadi sangat ketergantungan kepadanya. Hingga semuanya berubah ketika sang pangeran mengenal Araya. Hal tersebutlah yang membuat Naira dari seorang yang dianggap sebagai titisan iblis berubah menjadi seperti apa yang ditakutkan orang-orang.


Naira yang selalu menahan diri dan berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan orang lain selama masih memiliki pangeran Richardo di sisinya kini merasa soalah dunianya sudah hancur, ketika mendengar bagaimana sang pangeran juga ikut menganggap bahwa dirinya menakutkan dan tidak pantas mendampinginya.


Naira yang merasa tersakiti oleh penghianatan dan cemooh itu menatap kedua mahluk adam dan hawa dihadapannya itu dengan pandangan penuh dendam.


kebencian dan amarah terpancar dalam mata ungu Naira yang sesaat seolah menyala.


.


.


.


"Hahh... hahh... hahh..." Aku terbangun tiba-tiba dengan keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhku.


Apa yang barusan aku lihat itu? Kenapa terasa begitu nyata, seolah orang itu adalah aku. Naira memeluk kedua lengannya dengan tangan gemetar.


"Kamu sudah melihatnya kan?" tanya satu suara yang sosoknya sudah terlihat duduk di sisi ranjangku.


"Kau...!?" tanyaku yang tidak menyangka bahwa si gila yang waktu itu akan muncul disini dengan sosok tersebut.


But Wait. Kataku dalam hati, Dimana aku ini sedang berada sekarang? Tanyaku pada diri sendiri.


Aku melemparkan seluruh pandangan kepenjuru ruangan yang dari segi dan sisi manapun, ini adalah ruangan tempat aku tinggal di akademi. Apa ini bukan di dalam mimpi buatan si gilia ini? Tanyaku lagi yang kini sudah menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal.


Radja, dia adalah si gila yang menyamar sebagai rajanya para peri. Entah siapakah sosok dia yang sebenarnya hingga mampu mengelabuhi Kyuven yang sangat sensitive dengan orang-orang selain diriku.


sosok yang sekarang sudah sebesar pangeran Reynald itu malah dengan polosnya merangkak ke atas tempat tidurku.


"Pergi dari hadapanku atau aku akan terika!" Kataku mengancamnya.


"My dear princess, sudah aku bilang, kan? Kamu bukan seseorang yang tengah dalam posisi bisa mengaturku, memerintahku, bahkan bernegosiasi denganku." Katanya dengan senyum penuh percaya diri.


Aku melirik ke arah kyuven, namun ternyata, mahluk fluffy itu tidak berada di sana. Aku baru mengingat kalau Kyuven tengah bersama dengan para kakak, pengeran dan tuan penyihir.


Aku hanya mampu menghela nafas panjang, si gila satu ini memang tidak pernah memberikanku kesempatan untuk melawannya. "Lalu sekarang kau mau apa?" tanyaku dengan ketus padanya.


"Apa kamu masih bisa mengingat kejadian sebelumnya." Katanya yang membuatku sedikit mengernyit.


"Maksudmu mimpi barusan?" tanyaku padanya sedikit ragu.


Radja tersenyum, senyum yang penuh arti walaupun aku tidak mengerti apa maksud dari senyum tersebut.


"Itu bukan mimpi, my dear, itu adalah fragment dari ingatan Naira yang sebenarnya." Jelasnya yang makin membuat keningku mengkerut.


"Apa maksudmu dari ingatan Naira yang sebenarnya. bukankah naira yang sebenarnya masih..." kalimatku terhenti disana.


suatu ingatan tiba-tiba tergambar jelas di dalam memori otakku, walau sedikit hal itu bukan merupakan visualisasi dari scene di dalam novel maupun otome game.


"Naira memang mati dan digantikan olehmu, tetapi... hidupnya berakhir bukan pada saat dirinya berusia lima tahun seperti perkiraanmu."


"Apa yang barusan kamu lihat adalah akhir dari takdir Naira dan begitulah kamu seharusnya, berakhir sama dengan dia. Aku ingin kamu mengalami hal yang sama dengan Naira. Maka dari itulah aku memperlihatkan ingatan-ingatan itu kepadamu melalui mimpi."


"Agar kamu bisa belajar dan menirunya dengan sempurna. Bukankah aku sangat bermurah hati dengan membantumu seperti itu." Katanya panjang lebar yang semakin membuatku menatapnya dengan sepenuh benci.


"benar...benar seperti itu... aku ingin melihatmu dengan tatapan seperti ini, indah benar-benar cantik..." Katanya yang kini sudah memegang kedua pipiku dan menengadahkan wajahku padanya.


"Perlihatkan padaku lebih lagi, tatapan penuh benci dan dendam yang mampu membekukan bahkan iblis sekalipun." ucapnya seolah tengah melihat dan mengagumi suatu mahakarya


BERSAMBUNG <3