My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
Page 28: Love And Lie part five



Third Person's POV


Pangeran Reynald terlihat sudah berjalan keluar ruangan kepala sekolah dan mengikuti kemana arah penyihir berambut hitam itu pergi.


Namun, seolah telah menyadari bahwa dirinya sedang diikuti, si penyihir berambut hitam pun berhenti sebelum menengok ke belakang.


Melihat Pangeran Reynald yang ikut berhenti dan menatapnya, membuat penyihir berambut hitam itu akhirnya berbalik dengan tatapan dingin menyerang sang pangeran.


"Ada perlu apa Putra Mahkota Caylon mengikuti saya?" tanya Kayana masih menatap dingin sang pangeran.


"Apakah Tuan penyihir Kayana Raz Delarion, bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi mengenai nona Naira dengan saya?" tanya Pangeran Reynald balik yang malah membuat Kayana mengerutkan kening.


Kayana yang awalnya tidak ingin menuruti kemauan Pangeran Reynald.


Pada akhirnya mengikuti keinginan Putra Mahkota Caylon itu, setelah melihat bagaimana seriusnya tatapan mata sang pangeran saat mengatakan soal nona Naira.


Kayana yang akhir-akhir ini sering memikirkan soal Naira dan apa yang sebenarnya ia rasakan tentang calon Putri Mahkota Kerajaan Faireniyan membuat pemuda itu sedikit berubah.


Dirinya yang dulu tidak ingin berurusan dengan para Nobles, sekarang jadi sangat mempedulikan keselamatan seorang gadis, putri satu-satunya seorang Archduke dan yang terpenting adalah gadis itu merupakan calon putri mahkota.


Kayana sama sekali tidak ingin merusak hal yang berhubungan dengan keluarga angkatnya.


Tapi, entah mengapa dengan Naira, Kayana sama sekali tidak bisa berdiam diri.


Gadis itu memerlukan bantuannya.


Walaupun, orang yang bersangkutan tidak atau belum mengatakan apapun kepadanya.


Tetapi, dengan bagaimana cara Pangeran Reynald yang seolah ingin menyembunyikan kekuatan Naira dari orang lain itu.


Cukup mampu membuat Kayana yakin bahwa ia harus melindungi gadis itu.


Kemudian, di gazebo danau dekat menara hitam Kerajaan Iztanha.


"Jadi, sampai sejauh mana Tuan Muda Delarion mengetahui soal level kekuatan sihir nona Naira?"


Tanya sang pangeran mengawali perbincangan.


"Apakah saya bisa mempercayai Anda?"


Tanya Kayana yang seolah tidak bisa mempercayai siapapun selain dirinya untuk melindungi Naira.


"Saya tidak ingin membuang-buang waktu saya yang berharga hanya untuk mendapatkan kepercayaan Anda."


"Sebenarnya dengan atau tanpa bantuan Anda saya tetap akan melindungi nona Araya."


"Hanya saja, untuk saat ini kekuatan saya saja belum cukup untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang mengincar nona Naira."


Terang sang Pangeran yang dengan tenang menjelaskan alasannya pada Kayana.


Mendengar hal tersebut, Kayana pun akhirnya mau berusaha mempercayai sang pangeran.


Dihelanya nafas panjang sebelum memulai ceritanya.


"Infinite."


Ucapnya yang membuat Pangeran Reynald mengerutkan keningnya.


"Itu adalah rare symbol yang dimiliki oleh pengguna kekuatan di Aiwond."


"Sayangnya, Nona Naira adalah satu dari yang pernah tercatat memiliki Infinite level."


Terang Kayana lagi yang semakin membuat kening Pangeran Reynald berkerut.


"Meskipun, kami berdua sama-sama terlahir dengan warna Iblis, tapi level-ku masih setingkat triple s, yang mana masih ada beberapa orang dengan level yang sama denganku di Aiwond, walaupun jarang."


"Karena pemilik level triple s biasanya adalah mereka yang memiliki warna mata dan rambut yang senada atau yang terlahir dengan warna Iblis sepertiku."


Entah kenapa, pernyataan Kayana membuat Pangeran Reynald sedikit terkejut.


"Anda juga adalah salah satunya.


Si pemilik level triple s yang mampu menandingiku."


Jelas Kayana lagi dengan tatapannya yang begitu datar dan serius.


"Sayangnya, nona Naira bukanlah lawan kita."


"Jika seandainya nona Naira berhasil membangkitkan kekuatannya dan mengembangkan kemampuan sihirnya."


"Maka diperlukan lebih dari lima orang seperti kita untuk dapat mengalahkannya."


Mendengar hal tersebut membuat Pangeran Reynald benar-benar kehilangan kata-kata.


Seseorang tengah mengincar kekuatan Naira.


Orang yang selain dia dan Kayana yang mengetahui level kemampuan sihir Naira yang sebenarnya.


Dalam hati Pangeran Reynald tengah mengalir begitu banyak pertanyaan dan kemungkinan.


"Lalu,bagaimana dengan Anda? Apa yang anda ketehui mengenai kekuatan Nona Naira?"


Tanya Kayana balik yang mengacaukan kesibukan Pangeran Reynald untuk melamun.


Pangeran Reynald melirik sekilas sebelum menjawab.


"Sepertinya nona Naira sudah lama membangkitkan kekuatannya."


Ucapnya mengawali, "selama yang kutau, nona Naira sudah bisa menguasai sihir penyamaran dan teleportasi."


Katanya lagi yang membuat Kayana melipat kedua tangannya di dada untuk berpikir.


"Kapan tepatnya pangeran mengetahui hal tersebut?"


Tanya Kayana lagi memastikan.


"Lima tahun yang lalu."


Jawabnya dengan tenang.


"... Ini benar-benar gawat ...."


Ujar Kayana yang membuat Pangeran Reynald tertegun.


"Maksud anda?" tanyanya penasaran.


"Diusia sedini itu, nona Naira sudah membangkitkan kemampuan sihirnya hingga mencapai level dimana dia mampu berteleportasi dan menyamar dengan sangat sempurna."


Ucap Kayana yang sudah mengernyit cemas.


"Hal tersebut saja sudah bisa menjadi pemicu tumbuh kembang kekuatan nona Naira."


"Dia akan dengan segera mencapai level infinite, bahkan tanpa kita berdua sadari."


Katanya lagi kali ini membuat Pangeran Reynald membelalakkan kedua matanya.


Jika, seandainya saja, hal yang barusan disampaikan oleh si penyihir berambut hitam adalah benar, maka kemungkinannya adalah kepala sekolahlah yang paling patut dicurigai.


Karena orang itulah yang memiliki wewenang terkuat dalam masalah pendidikan di Fairan.


Para pembimbing dari departemen sihir tidak akan berani melakukan tindakan tanpa persetujuan kepala sekolah.


Tapi, untuk apa?


Apa keuntungan yang bisa kepala sekolah dapatkan dalam memanfaatkan Naira?


Menguasai Aiwond??


Tanya Pangeran Reynald pada dirinya sendiri yang kemudian disambutnya dengan sweatdrop raksasa di kepalanya.


Ini bukan dunia fantasy yang ada di dalam buku cerita anak-anak.


Pangeran Reynald pun menghela nafas berat.


Dia tidak ingin memikirkan sesuatu yang tak mungkin.


Inilah alasan kenapa dia membutuhkan Kayana, karena dia ingin segera mengungkap tujuan si pengincar Naira.


"Kalau begitu, menurut Anda, Tuan muda Delarion, siapa kiranya yang bermaksud mengincar kekuatan nona Naira dan apa yang sebenarnya ia ingin dapatkan dengan kekuatan tersebut?"


Tanya Pangeran Reynald pada Kayana seolah menguji seberapa mampukah penyihir berambut hitam itu dalam menganalisa situasi nona Naira saat ini.


"Bagaimana kalau saya bilang itu adalah kepala sekolah Fairan?"


Tanya Kayana balik seolah ingin melihat reaksi Pangeran Reynald akan jawaban yang ia berikan.


"Saya juga memikirkan hal yang sama."


"Tapi, jika menurut Anda pribadi, apakah yang sebenarnya diinginkan oleh kepala sekolah Aedhira?"


Tanya sang pangeran lagi.


"Bukankah hal itu karena dia ingin menguasai Aiwond?"


Ucap Kayana yang membuat keseriusan sang pangeran jatuh tersungkur, "apakah jawaban saya sangat aneh?"


Tanya Kayana dengan polosnya.


"Ti-tidak, saya hanya berpikir, kenapa kita berdua memiliki cara berpikir yang sama mengenai hal ini ...."


Ucap sang pangeran memegangi keningnya dan tersenyum garing.


"Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini, Pangeran Reynald."


"Anda terlalu naif jika menganggap cara berpikir kita mengenai hal ini terlalu tidak masuk akal."


"Apa yang bisa ia dapatkan dan apa keuntungannya yang memanfaatkan kekuatan infinite nona Naira?"


Tanya Kayana balik yang membuat Pangeran Reynald tertegun sejenak.


Ia pun berpikir, jika memang dia harus membayangkan untuk berada dalam situasi yang sama, dengan seseorang yang telah mengetahui tingkat level kekuatan sihir Naira.


Maka tentu saja dia akan menggunakannya untuk menguasai Aiwond.


Memecahkan perang di wonderland dengan kekuatan seperti itu, Pangeran Reynald rasa tidak akan sulit. Apalagi dengan ambisi yang membara seperti itu, dia merasa akan sangat sia-sia saja apabila kekuatan Naira tidak digunakan untuk kepuasan pribadi yang ingin menaklukan seluruh wonderland.


Pikiran Reynald melayang jauh, hingga suara deheman dan Kayana menyeret sang Pangeran kembali ke alam sadarnya.


"Maaf, aku masih tidak bisa mempercayai hal itu dengan mudah."


"Maksudku, memang benar ... kalau kekuatan nona Naira hanya cocok digunakan untuk hal tersebut."


"Tapi, yang lebih ingin saya curigai adalah sejak kapan kepala sekolah Fairan yang merupakan orang kepercayaan Kaisar Faireniyan, ingin menaklukan Aiwond dengan memanfaatkan calon putri mahkota mereka?"


Tanya Pangeran Reynald lagi pada Kayana yang juga tengah ikut berpikir.


"Pangeran Reynald, apa saya boleh bertanya akan sesuatu?"


Ucap Kayana kini menatap Pangeran Reynald dengan sedikit ragu-ragu.


"Pertanyaan ini sebenarnya ada sedikit kaitannya dengan pertanyaan anda."


Jelasnya yang membuat Reynald tertegun.


"Tentu Tuan muda Delarion, silahkan."


Kata sang Pangeran basa-basi.


"Apakah Anda mengenal gadis yang bernama Araya?"


Tanya Kayana yang kini lagi-lagi membuat kedua mata Pangeran Reynald terbelalak sempurna.


"Sebenarnya, hal itu pulalah yang ingin saya tanyakan pada Anda."


Kata Pangeran Reynald yang cukup mampu membuat Kayana yang tenang sedikit terkejut.


"Saya tidak begitu mengenal gadis itu."


"Tetapi, akhir-akhir ini gadis itu sering muncul di sekitar saya dan Pangeran Richardo."


Jelas Reynald.


Penuturannya mengenai Araya membuat Kayana membuka bibirnya, hanya sedikit.


Namun, tidak ada suara atau kata-kata yang keluar dari bibir yang sedikit terbuka itu.


Seolah kalimat yang ingin ia utarakan telah lama menghilang bersama hembusan napasnya.


"Coba ceritakan mengenai gadis itu kepada saya."


"Saya ingin mendengar pendapat Anda mengenai gadis itu."


Ujar Kayana yang awalnya di sambut oleh pangeran dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Seolah tidak bisa mempercayai bahwa Araya memang ada hubungannya dengan kepala sekolah dan gadis itu sepertinya memang mengincar Naira.


"Dari apa yang pernah saya dengar."


"Gadis itu diakui sebagai saudara sepupu jauh kepala sekolah."


"Maka dari itulah gadis itu bisa masuk ke akademi dengan mudah."


"Walaupun statusnya bukan seorang Nobles."


Jelas Reynald yang tengah ditatap dengan serius oleh Kayana.


"Gadis itu juga hanya memiliki nama lahir, tanpa nama tengah yang merupakan 'Tanda Pemberkatan' sebagai seorang Nobles dan nama belakang, yaitu nama keluarga nobility yang ia genggam."


Terang Pangeran Reynald.


"Gadis yang hanya memiliki satu suku nama, tidakkah itu mengingatkan Anda pada penggunaan nama Iblis di Aiwond?" tanya Kayana lagi.


"Itulah yang saya Maksud."


"Karena kepala sekolah mengatakan bahwa gadis itu adalah keluarganya."


"Mereka menganggap nona Araya adalah sekelompok orang pantas digolongkan dengan nona Naira, familiar Iblis."


"Sehingga, tidak ada yang terlalu memperdulikan kenyataan mencurigakan tersebut dan hanya mengabaikannya."


Jelas Pangeran Reynald.


Kayana melirik ke sampingnya, seolah mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Ada sesuatu yang tak beres dengan kepala sekolah yang tiba-tiba saja membawa gadis misterius bernama Araya itu ke sekolah, lalu dengan mudahnya mengatakan pada seluruh murid di akademi, bahwa gadis itu adalah saudara sepupu jauhnya.


Pikirnya kali ini yang rupanya mendapat perhatian dari Pangeran Reynald.


"Oh ... dan lagi, hal yang saya tidak bisa mempercayainya sama sekali adalah ketika Pangeran Richardo mengatakan, bahwa Araya sama sekali tidak memiliki level kemampuan sihir."


"Padahal gadis itu memiliki warna mata dan rambut yang senada, sama halnya seperti kita."


Ungkap Pangeran Reynald.


Kayana kembali memikirkan kemungkinan lain, bahwa sepertinya ada alasan lain mengapa kepala sekolah begitu bersih keras menginginkan Naira, untuk ikut mendapatkan pengajaran sihir.


Seperti yang telah Pangeran Reynald katakan.


Pemilik warna mata dan rambut yang senada seperti dirinya dan pengeran, tidak mungkin jika tidak memiliki level dalam kemampuan sihirnya.


Sama halnya dengan tidak bisa dipercayanya si pemilik warna Iblis tidak memiliki level kemampuan sihir sama sekali.


"Antara gadis yang bernama Araya itu sama sekali belum membuka kekuatannya, atau malah kepala sekolah-lah yang memanipulasi hasil tersebut."


Jelas Kayana.


"Jadi, apakah kita mulai memikirkan hal yang sama lagi kali ini?"


Tanya Pangeran Reynald memandang dengan Ragu-ragu ke arah Kayana.


"Yang saya cemaskan adalah sebenarnya bukan kepala sekolah Aedhira yang ingin menguasai dunia."


"Tetapi ...."


Kata Kayana yang sengaja tidak dituntaskan.


"Gadis yang bernama Araya-lah sebenarnya mengincar nona Naira?"


Tanya Reynald lagi dengan kening mengerut.


"Apa ada keanehan lain selain background gadis itu yang belum jelas?" tanya Kayana lagi.


Pangeran Reynald kembali menyandarkan punggungnya dengan santai pada kursi.


Ia kembali berpikir, hal aneh yang dia ketahui perihal Araya selain nama dan background-nya adalah.


"Apakah anda pernah bertemu dengan gadis itu secara langsung?" tanya Pangeran Reynald kali ini dengan kening mengerut.


"Saya hanya bersedia mengajar murid-murid akademi yang usianya lebih muda dibandingkan dengan saya. Jadi, saya sama sekali tidak memiliki alasan dan waktu untuk mendatangi akademi level Intermediate, seperti kelas Pangeran Richardo."


Jawab Kayana dengan wajah kalem.


"Jadi begitu?" ucap Pangeran Reynald lagi kini mengalihkan pandangannya lagi ke tempat lain.


Seolah ada hal yang mencurigakan di sana.


"Lalu, apakah Anda pernah mendengar atau mengetahui sihir hipnotis?"


Tanya Pangeran Reynald lagi yang kini membuat Kayana bingung.


"Sihir hipnotis seperti apa yang Anda maksud?" tanya Kayana Balik.


"Sihir hipnotis yang mampu mengendalikan dan mengontrol kesadaran orang lain, yang menatap mata si pengguna sihir."


Jelasnya yang semakin membuat Kayana bertanya-tanya.


"Apa sebenarnya yang ingin Anda katakan, Pangeran Reynald?" tanya Kayana sedikit kesal.


"..."


Pangeran Reynald terdiam, kini kedua pemuda tampan itu saling menatap satu sama lain, tajam.


"Pangeran Richardo dan aku merasa bahwa gadis itu sudah melakukan sihir pada kami berdua."


Terangnya.


"Sihir dimana kami tidak mampu melawan keinginannya yang berniat mendekati kami."


Ungkap Pangeran Reynald yang membuat Kayana tertegun.


 


BERSAMBUNG ^^


 


terima kasih sudah mampir dan jangan lupa untuk baca episode berikutnya