
Naira's POV
"Jadi, apa Nona Naira berniat ingin membalas dendam pada Araya atas apa yang telah terjadi anda?"
"Anda bahkan tidak bisa memberikan bukti kongkrit yang bisa menyatakan bahwa semua ini adalah kesalahan Araya."
Jelas sang kepala sekolah padaku dengan wajah tenang.
Aku yang masih dalam perlindungan kedua pangeran membuatku merasa bisa melakukan apapun dan melawan siapapun.
Dengan penuh keberanian aku menatap balik tatapan mengintimidasi kepala sekolah.
Dan entah kenapa aku merasa ingin bertingkah, sedikit bertingkah, seperti seorang villainess yang dengan baik memanfaatkan status dan kedudukannya.
"Eh ... apa semua yang saya katakan mengenai tuan Xelvet sama sekali tidak bisa menjadi bukti kongkrit?"
"Well, tidak masalah, toh, mantranya sudah terlanjur diucapkan."
"Atau ... anda dan nona Araya masih belum sepenuhnya percaya bahwa saya baru saja memberikan kutukan pada nona Araya?"
"Kutukan yang sama dengan yang pernah kalian berikan padaku sebelumnya."
Ucapku panjang lebar yang cukup mampu membuat wajah nona Araya memucat.
Meski begitu kepala sekolah masih terlihat cukup tenang.
Dengan lembut dirinya mempererat pelukan di tubuh nona Araya.
"Apa mau kubuktikan sekarang juga?"
Tanyaku dengan senyum lebar sembari mengangkat tangan kananku ku atas secara perlahan.
"Hentikan!!"
Jerit Araya memejam takut.
Melihat reaksi nona Araya yang seperti itu, rupanya cukup mampu membuat kepala sekolah kembali naik pitam.
"Beraninya, kau ..."
Katanya menatap tajam padaku sudah membuang semua sikap formalitasnya.
"Kau pikir aku tidak berani?"
Balasku lagi tidak kalah sinis.
Seringai mengembang terpampang jelas di wajahku.
"Kau dan semua orang yang menganggapku sebagai keturunan Iblis ... pastinya tau seberapa jauh aku bisa melakukan hal yang diluar nalar kalian."
"Dengan kekuatan yang disama ratakan dengan para iblis ini."
"Aku bisa saja menghancurkan semua hal yang tidak aku sukai."
"Tidak terkecuali apapun dan siapapun itu."
Ujarku panjang lebar kali ini menatap sang kepala sekolah dengan penuh percaya diri.
Tidak menyadari bagaimana semua orang yang berada di sekelilingku bereaksi dengan pernyataanku ini.
"Nona ... Naira ..."
Panggil suatu suara lembut di telingaku yang mana berasal dari pangeran Reynald.
Aku yang kembali sadar bahwa tingkah *Villainess-*ku sepertinya agak terlalu kelewatan memutuskan untuk menarik nafas dalam-dalam dan berusaha tenang.
Walaupun sebenarnya aku masih ingin sok bersikap jadi penjahat lagi kalau sudah berhadapan dengan orang-orang yang mau mencelakai Naira.
Yang mana pada dasarnya di dalam Novel dia memang seorang antagonist yang diperlakukan seperti penjahat.
"Ah~ sepertinya saya harus mengatakan hal ini pada anda."
"Saya ingin menyampaikan pesan dari tuan Xelvet pada kalian berdua."
"Dia bilang kalau dia akan berbalik memihakku dan akan dengan senang hati membantuku dalam rencana ini."
"Bukankah ini luar biasa?"
Ujarku panjang lebar, tidak menyadari bahwa aku kembali berekspresi seperti tokoh antagonis yang lagi mengancam si protagonis.
"Kalau kalian berdua masih tidak percaya dengan apa yang kukatakan silahkan saja tanyakan hal itu langsung pada yang bersangkutan."
Kataku yang kemudian menoleh ke belakang.
Tampak seorang pemuda seumuran pangeran Reynald dan kedua kakak lelakiku itu berjalan keluar dari ruangan yang sebelumnya kosong tersebut.
"Kau ..."
Pemuda tampan dengan rambut berwarna platinum purple dengan mata berwarna lavender, tentu membuat semua yang ada diruangan selain aku dan Raja Peri terkejut
Xelvet tersenyum ketika tatapan kami bertemu dan dia mengulurkan tangan kanannya berharap untuk kusambut.
Aku yang teringat akan kesepakatan kami hanya bisa tersenyum garing sebelum melepaskan kedua tanganku dari para pangeran dan berjalan menghampiri Xelvet.
"Lady and Gentlemen, aku perkenalkan pada kalian, Sir Xelvet."
Kataku kini kembali menatap ke arah kepala sekolah dan Araya yang terlihat sangat terkejut.
Ekspresi tersebut tentu saja membuat perasaanku puas, sangat puas sampai-sampai aku harus berusaha sekuat tenaga untuk tidak melepaskan tawa.
"Nah ... bagaimana? Apa kehadiran tuan Xelvet di sini juga masih belum bisa membuat kalian berdua --"
"Beraninya kau menghianatiku ... Xelvasiliac!!!"
Seru sang kepala sekolah memutus ucapanku.
Tentunya hal tersebut membuat para pendengar dalam ruangan ini tertegun.
Ditambah lagi dengan nama yang baru saja kepala sekolah teriakan.
Xelvasiliac adalah nama mahluk yang terlahir dari darah manusia dan iblis terakhir di Aiwond.
Keberadaannya yang memang disembunyikan oleh Atashi-sama demi untuk melindunginya.
Singkat cerita, karena satu dan lain hal, Xelvasiliac atau kini mengubah namanya menjadi Xelvet mengikuti kepala sekolah yang menjanjikan sesuatu padanya.
Setelah berhasil memancing Xelvet untuk mau mengatakan apa yang sebenarnya telah dijanjikan pada si kepala sekolah padaku.
Aku pun mampu memutar kesempatan itu hingga membuat Xelvet setuju untuk berpihak kepadaku.
"Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang-orang yang kau percayai, sir Aedhira?"
"Rasanya sekarang aku paham bagaimana perasaan anda saat aku melihat orang-orang yang paling aku percayai tak lagi memihakku."
Senyum lebar nan jahat terpahat diwajah Naira yang imut.
"Kau tau, kan, apa jadinya jika kau membuatku murka, Xelvet."
Ancamnya yang cukup mampu membuat Xelvet terkesiap.
Namun, dengan tenang aku menggenggam erat tangannya, aku menoleh dan memberikan senyum hangat untuk memberikan keberanian padanya.
"Aku tau ... tapi, aku juga baru mengetahui bahwa dengan menyatukan kekuatanku dan nona Naira, kau pun tak akan mampu berbuat apa-apa jika kami berdua berbalik melawanmu."
"Setelah mendengarkan penjelasan nona Naira, entah kenapa aku merasa sangat bodoh karena baru bisa menyadarinya sekarang."
"Kau bukan lagi ancaman bagi keberadaanku."
jelasnya panjang lebar, walaupun senyum sinisnya masih terlihat canggung.
"Nah ... Pak Kepala Sekolah Aedhira~ bagaimana kalau sekarang anda berikan mantra penghapus kutukan itu kepada saya."
"Saya janji akan menghapuskan kutukan pada nona Araya juga."
kataku kini dengan tatapan serius, melunturkan senyum di bibirku.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"
Ucapnya dengan tatapan yang membuat urat sabarku putus saat itu juga.
"HANYA KARENA AKU TERLAHIR DENGAN WARNA IBLIS, KENAPA AKU HARUS DIPERLAKUKAN SAMA SEPERTI MEREKA."
"seumur hidup aku bahkan belum pernah melukai apapun apalagi membunuh seseorang."
"Aku sudah berusaha hingga sejauh ini hanya agar aku tidak ditakuti, agar aku bisa dihargai sebagai manusia juga, agar tak ada lagi yang mencap diriku sebagai keturunan iblis."
"Tapi kau dan orang-orang sepertimulah yang sepertinya mampu menjadi alasan utamaku untuk benar-benar menjadi apa yang kalian cemaskan."
Kataku panjang lebar dengan tatapan penuh amarah, kesal dan terluka.
"Apa aku harus membunuh gadis yang ada dipelukanmu itu sekarang juga agar kau mau mengerti bahwa aku saat ini sedang bermurah hati dengan mengampuni segala perbuatan yang telah kau lakukan padaku selama ini?"
"Untuk bisa membuatmu paham bahwa aku tengah berbelas kasihan pada kalian berdua, haruskah aku menjadi iblis yang selama ini kau takuti."
Ucapku lagi yang mana pada detik berikutnya berakhir dalam pelukan pangeran Reynald.
Pelukannya yang hangat dan erat hampir membuatku menangis.
Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan kuat-kuat untuk menahan airmata yang sudah akan menetes pada detik berikutnya.
Ku cengkeram erat pakaian di belakang punggung pangeran Reynald yang masih dengan mudah menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang.
"Kepala sekolah ... tolong turunkan aku."
Lirih ucapan Araya terdengar olehku,
Kucoba mencuri pandang ke arahnya yang kini sudah berdiri disamping kepala sekolah.
"Nona Naira ... aku ingin berbicara empat mata dengan anda."
Ajaknya padaku yang tentu saja membuat semua yang mendengarnya tertegun tak terkecuali si kepala sekolah dan Xelvasiliac.
"Araya ..."
Araya berbalik, lalu menggelengkan kepalanya seolah mengisyaratkan pada kepala sekolah bahwa dirinya tidak akan kenapa-kenapa.
"Saya tau bahwa mungkin sekarang anda benar-benar sudah sangat membenci saya."
"Tapi, paling tidak saya ingin berbicara dengan anda ... sendirian saja."
Pintanya yang tentu saja membuat para pangeran, kedua kakak dan penyihir Kayana sedikit tidak terima.
Aku pun melepaskan pelukan Pangeran Reynald untuk kemudian menatap ke arah Araya yang sudah berdiri tak jauh dariku.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku punya ide jahil yang mungkin malah akan dianggap jahat oleh orang-orang seperti kepala sekolah Aedhira.
Seperti kepala sekolah kepada Araya, kedua pangeran pun ikutan berusaha menghentikanku yang akan melangkah mendekati Araya.
Aku hanya bisa tersenyum lucu dengan tingkah keduanya.
Setelah mereka berdua membiarkanku pergi aku pun kini sudah berhadapan dengan Araya.
Aku bisa melihat bagaimana takutnya gadis manis yang ada di hadapanku ini walaupun dia cukup tinggi beberapa centi daripadaku.
Namun, kedua bola mata berwarna russet itu tak mampu menyembunyikan kecemasan dan kekhawatiran.
palagi ketika aku kembali mengambil satu langkah lagi mendekati Araya yang sudah sedikit terkesiap.
Aku pun memberikan senyum termanis Naira pada gadis manis yang terlihat polos dihadapanku saat ini.
Dengan cepat aku meraih kedua tangan Araya dan menggenggamnya erat namun lembut.
Kutatap dalam-dalam kedua bola mata yang senada dengan warna rambut auburnnya itu.
"Saya tau Nona Araya sebenarnya adalah anak yang baik."
"Nona Araya tidak mungkin mencelakaiku hanya karena alasan yang bodoh dan sangat sepele, bukan?!"
tanyaku yang mana malah sepertinya semakin membuat Araya gemetar ketakutan.
"Saya ... tidak pernah bermaksud untuk mencelakai anda Nona Naira."
Ucapnya lirih hampir seperti berbisik.
"Ehh tentu saja, saya tau itu, kok, lagipula ... Nona Araya, bukankah kita berdua adalah teman?!"
kataku lagi dengan nada tanya.
"Ya?"
jawabnya yang malah seperti bertanya balik padaku.
"Karena itulah, aku rasa ... aku punya ide dengan bagaimana kita berdua bisa ngobrol dengan tenang tanpa gangguan semua orang."
Kataku lagi kini semakin mencondongkan wajah imut Naira pada Araya.
"Apa anda mau pergi berdua bersama saya?"
rayuku pada Araya yang sepertinya juga tidak begitu kuat menahan betapa menggemaskannya wajah imut Naira yang sedang tersenyum manis padanya.
"I-iya ..."
Jawabnya lirih sembari mengangguk.
"Wah senangnya~"
"Kalau begitu, ayo pergi kesana~"
"Aku akan menyusulmu nanti~"
Ucapku sembari memeluknya dengan wajah ceria sebelum membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Tidur yang nyenyak, Nona Araya."
Kalimatku tentu saja membuat Araya terbelalak sebelum kemudian mendorongku sekuat tenaga untuk melepaskan diri dariku.
Aku yang hampir jatuh tersungkur dibantu oleh kedua pangeran yang sudah dengan sigap menopang tubuhku.
Araya kemudian jatuh tak sadarkan diri pada detik berikutnya.
Melihat hal tersebut tentu saja membuat siapapun yang ada di dalam ruangan ini terkejut.
tak terkecual kepala sekolah Aedhira yang sudah dengan panik kini memeluk tubuh Araya.
"Kau!!!"
Serunya dengan tatapan murka.
Suatu serangan tak terduga ditujukan kepadaku.
Namun hal tersebut dengan mudah terpatahkan oleh mantra pelindung yang memang sudah sengaja dipasang sejak awal oleh tuan penyihir Kayana.
Aku menatap dengan angkuh kepala sekolah Aedhira yang sedang terduduk dengan Araya dipelukannya.
"Seharusnya saya mengatakan hal ini sebelum anda menyerang saya."
Kataku memberikan seringai sinis padanya.
"Mencoba membunuhku yang sudah memberikan kutukan pada nona Araya tidak akan bisa mengembalikannya."
"Jadi sebaiknya anda tidak usah bertingkah atau gadis yang paling anda kasihi itu tidak akan pernah terbangun lagi untuk selamanya."
Ucapku mengakhiri kalimat dengan kedua mata melotot tajam.
Third Person's POV
Di tempat lain
Dimana ini?
Tanya Araya yang kebingungan saat dirinya tengah berada di suau tempat yang sangat asing baginya.
Tempat itu seperti suatu kamar para nobility yang mewah.
Araya yang tengah mengagumi kemegahan ruangan itu dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka.
"Hallo nona Araya~ apa kabar?"
sapa Naira dengan polosnya mengintip dari balik pintu, senyum ceria terpasang diwajahnya yang imut.
"Nona Naira??"
"Apa yang anda lakukan di tempat ini?"
"tunggu dulu ..."
Tanya Araya yang kebingungan sebelum kemudian menyadari apa yang sebelumnya tengah terjadi padanya.
Mengetahui hal tersebut, kembali Araya diserang rasa takut dan cemas saat Naira sudah mulai mendekatinya.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Tanyanya kini tak lagi menggunakan bahasa formal.
Kedua matanya yang melotot takut seolah melihat iblis membuat Naira memiliki perasaan yang sedikit bercampur aduk.
Antara kesal dan kecewa.
Dirinya tidak menyangka bahwa Araya adalah tipikal tokoh utama yang malah memanfaatkan statusnya sebagai seorang protagonist untuk berbuat semaunya seperti para tokoh yang ada dalam webt**n atau manga isekai yang sering dibacanya.
Padahal selama ini Naira percaya bahwa Araya berbeda, bahwa mungkin Araya hanya khilaf dan tidak akan memperlakukannya seperti para penduduk Faireniyan yang menganggapnya sebagai iblis.
Bahwa sebagai sesama transmigator/reincarnator dari dunia lain mereka akan memiliki simpati yang sama.
Namun, pada kenyataannya kini Araya tengah menatapnya seperti bagaimana orang-orang menatap takut pada Naira yang ada dalam Novel.
Naira tersenyum menyambut pertanyaan Araya sebelum berjalan mengitari gadis itu dengan ekspresi riang,
"Mau apa kau?"
Tanya Araya lagi masih memperlihatkan tatapan kesal dan takut.
"Aku hanya mau kau mendengarkan tawaranku."
Ucap Naira yang sudah berhenti dibelakang Araya yang kini sudah kembali berbalik mengfhadapnya.
"Aku sudah mengatakan pada kepala sekolah Aedhira kalau melarikan diri dari menara sihir adalah hal yang sia-sia."
"Aku sudah meminta Radja peri dan tuan penyihir Kayana untuk membuat mantra yang akan menjebak siapapun yang masuk kedalam menara sihir dan tidak akan membiarkan mereka keluar dari sana dengan mudah."
"Satu-satunya yang bisa menghancurkan mantra sihir tuan Kayana hanyalah aku seorang."
"jadi kalau aku sampai kenapa-kenapa."
"Kau juga tidak akan bisa keluar dari dalam dunia mimpi ini untuk seterusnya."
Ujarku panjang lebar yang semakin membuat wajah Araya memucat.
"Omong kosong ... kepala sekolah Aedhira memiliki mantra yang bisa menghapus kutukan tidur itu."
"Dia pasti bisa membangunkanku tanpa harus--"
"Benar ... aku tidak pernah bilang kalau kepala sekolah aedhira tidak bisa melakukannya."
Kataku memotong ucapannya dengan sengaja.
"Tapi taukah kau bahwa mantra yang kau dan aku gunakan sebenarnya adalah kutukan?"
"Dan hanya orang-orang yang terlahir dengan warna iblis sepertikulah yang mampu menghapusnya dengan sangat amat mudah."
"Atau kalau aku boleh menyombongkan diri, aku bisa melakukannya dalam sekali coba."
Kataku berpangku tangan dengan tatapan angkuh pada Araya yang mencoba untuk membangun keberanian dan rasa percaya dirinya.
BERSAMBUNG