
Richardo's POV
"Yang Mulia Pangeran Richardo, hamba perkenalkan pada Yang Mulia Putri saya yang paling berharga. Satu-satunya harta karun yang saya miliki di keluarga Van Vellzhein."
Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana untuk pertama kalinya Aku dan Naira bertemu pada hari itu.
Aku yang seorang pangeran sama sekali belum memiliki seorang teman.
Ibunda meninggal saat melahirkanku.
Ayahanda yang kemudian menikah lagi dengan seorang putri Archduke dari wilayah Ceylon, Ratu Yurikawa Val Ikeydia.
Beliau yang saat itu masih mengandung adik pertamaku.
Tentu saja itu pulalah yang menjadi alasanku tidak memiliki teman untuk kuajak bermain.
Namun, entah mendapat ide dari mana.
Ayahanda meminta Archduke Van Vellzhein untuk membawa putrinya dan memperkenalkannya sebagai teman bermainku.
Gadis kecil itu masih berusia dua tahun di bawahku yang berusia tujuh tahun.
Aku masih ingat bagaimana reaksi takut-takut dan malu Naira, bersembunyi di belakang ayahandanya.
Waktu itu aku benar-benar merasa bahwa gadis itu sangat cantik, imut dan menggemaskan.
Rambut panjang bergelombang yang berwana ungu.
Lalu, kedua bola mata cantiknya yang juga berwarna ungu.
Walaupun, aku pernah mendengar kalau warna ungu adalah warna iblis.
Tetapi, melihat Naira aku merasa bahwa gadis itu lebih tepat disebut Malaikat.
Aku tau, kalau aku terlalu cepat berasumsi bahwa gadis pemilik warna iblis itu adalah seorang malaikat.
Sifat egoisnya dan sikap semaunya sendiri itu memang terkadang sangat mengesalkan.
Tetapi, aku tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa Naira memang gadis yang imut dan sangat cantik.
Dan di balik ke-egoisan-nya gadis itu sangat penyayang.
Dia baik dan selalu peduli dengan sekitarnya.
Ketika kemudian dia mengajukan permintaan untuk menjadi tunanganku, sebenarnya aku sendiri sama sekali tidak keberatan.
Aku memang tidak menyukai gadis itu sebesar rasa yang ia tunjukkan kepadaku.
Tetapi, melihatnya merengek seperti itu, entah kenapa membuat ayahanda dan juga aku terenyuh. Dengan syarat pertunangan tersebut akan dilaksanakan tepat pada hari ulang tahunku.
Aku yang berpikir bahwa perasaan gadis cengeng dan manja itu tidak akan pernah berubah walau bagaimanapun aku memperlakukannya.
Telah melakukan kesalahan besar.
Aku terbaring dengan tatapan kosong di atas ranjang dalam kamarku.
Entah kenapa, aku merasa malam ini aku tidak bisa merasakan apa-apa.
Setelah kejadian hari itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan Naira.
Aku ... apa aku sudah mulai memiliki perasaan khusus terhadap gadis manja itu?
Perasaan ini ... benar-benar sangat menyebalkan.
Gerutuku dalam hati, kesal.
Aku masih terlentang di atas tempat tidur membuang pandangan dan seluruh pikiran yang tengah kusut di dalam kepalaku ini keluar jendela.
Langit malam yang temaram, bersih tak berawan.
Memamerkan keindahan kilau bintang yang tengah mengerumini rembulan.
Melihat bagaimana bulan penuh itu dikelilingi oleh para bintang seolah menertawakanku.
Aku bangkit lalu berlari ke arah jendela untuk menarik korden, agar aku tak lagi perlu melihat pemandangan yang membuatku kesal.
"Menyebalkan ...."
Gerutuku lagi kini dengan suara yang cukup keras.
Wajah Naira kembali muncul dalam kepalaku.
Kali ini bukan wajah anak manja dan cengeng yang selalu mengikuti kemana aku pergi.
Tapi wajah yang tersenyum anggun, tatapan mata yang jernih dan tutur katanya yang dewasa.
Perubahan Naira yang sangat drastis itu, semakin membuatku tertarik.
Haruskah kuabaikan permohonan Naira dan tetap melanjutkan rencana pertunangan kami, di pesta ulang tahunku nanti?
Apakah dia tidak akan merasa kecewa dan membenciku?
"Dia ... tidak akan membenciku, kan?" tanyaku ragu pada diri sendiri.
Tidak ... aku tidak boleh bersikap egois dan kekanak-kanakan seperti itu.
Tidak ... biarpun aku tidak ingin kehilangan dia.
Tapi, aku tidak boleh menghancurkan harapannya.
Kuhembuskan napas berat, seolah beban di dalam dada dan kepalaku mampu untuk keluar, agar aku bisa merasa sedikit lega.
Naira ...
Di tempat lain, Mansion Archduke Van Vellzhein. Di kamar Naira.
Naira's POV
Hhhh ... ini sudah yang ke tiga kalinya aku menghela nafas panjang.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur empuk dan menggulung tubuhku dengan selimut.
Aku tidak mengira akan bertemu Yang Mulia Pangeran Reynald di kediaman Pangeran Richardo.
Parahnya lagi ketika aku harus membicarakan perihal pembatalan pertunangan dengan Pangeran Richardo.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, merasa malu sendiri.
Oh God why?????
Kenapa aku tidak ingat kalau Pangeran Reynald adalah sepupu Pangeran Richardo.
Beliau sering berkunjung dan datang menetap di Iztanha untuk belajar tentang politik kekaisaran Faireniyan.
Wajahku yang masih memerah karena malu, kembali teringat akan plot dalam cerita Novel "My Precious Princess".
Mengenai akhir yang dialami oleh Pangeran Reynald.
Lagi-lagi aku menitikkan airmata tanpa kusadari.
Maaf Naira ... harus kukatakan padamu.
Bahwa sesungguhnya orang yang ingin kucintai di dunia ini adalah Pangeran Reynald.
Aku ... ingin menyelamatkannya dari akhir yang mengenaskan.
Walaupun, aku tau itu mustahil.
Tetapi, paling tidak ... aku ingin melihat Pangeran Reynald bahagia sampai akhir hayatnya.
Bisakah aku melakukan hal itu?
Aun-Iung ...
Kyuven mengeluarkan suara sedih ketika dia memanjat ke tempat tidur untuk berbaring di sisiku.
Dengan lembut ia menjilat sudut mataku yang berair.
"Kyuven ...."
Gumamku kini memeluk tubuhnya dengan lembut.
"Bagaimana caranya agar aku bisa menyelamatkan Pangeran Reynald?"
"Bagaimana caranya aku bisa mencegah Pangeran Reynald agar tidak jatuh cinta pada Araya?"
Uuung-Aung
Aku tersenyum mendengarkan suara imut yang dikeluarkan oleh Kyuven.
Seolah-olah dia mengerti ucapanku dan berusaha memberi jawaban yang kuinginkan.
"Terima kasih Kyuven. Let's do it in our way." Kembali kupeluk erat tubuh Kyuven lalu berangkat tidur.
Ke esokan harinya.
"Selamat pagi Nona Naira!!" sapa Anne dan Derrick dengan semangat menyambut pagi untukku.
Namun, yang kudapat adalah wajah bengong, panik dan pucat bercampur jadi satu.
Mereka berdua yang sempat membeku di ambang pintu kamarku langsung berhambur masuk, begitu melihat sosokku yang sudah berpakaian rapi dan menyisir rambutku sendiri.
"Nona Naira apa yang Anda lakukan?" tanya Anne solah aku telah melakukan kesalahan fatal.
Yah aku langsung ikutan panik dong.
"Kenapa Anne? Apa aku salah? Apa ada yang salah?" tanyaku bertubi-tubi dengan gugup.
"Tenangkan dirimu itu Anne. Kau membuat Nona muda kita ketakutan."
Ucap Derrick mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana aku bisa tenang. Aku tau kalau Nona Naira sudah berubah sedikit lebih dewasa. Tapi, sampai pekerjaanku pun dikerjakan olehnya sendiri. Apa Anda sudah menganggap saya tidak berguna lagi?" cerocos Anne yang sesaat lalu menyembur Derrick dengan amarahnya.
Kini sudah terlihat seakan mau menangis di depan mataku.
Ketika melihat Anne merunduk sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Benar-benar membuatku tak enak hati.
"Maaf ya Anne ... aku tak bermaksud merebut pekerjaanmu kok."
Kataku sambil berjinjit untuk megusap kepala Anne yang masih tertunduk.
"Aku hanya terlalu bersemangat. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi."
Ucapku mencoba menenangkan perasaan hati Anne yang terguncang.
Ya bagaimana tidak, memandikan, mengganti pakaian, menyisir rambut dan bahkan berdandan adalah tugas mutlak yang dikerjakan oleh maid pribadi para bangsawan.
Tidak peduli seberapa tua usia mereka.
Tentu saja aku yang hidup di era lain awalnya merasa risih ketika Anne berusaha memandikanku.
Aku tau sih kalau ini bukan tubuh asliku.
Jadi aku tidak perlu takut mengenai bentuk dan apalah yang tak ingin orang lain melihatnya.
Naira gadis yang cantik baik diluar maupun dalam.
Dengan kesempurnaan ini, aku berjanji aku akan menjaganya.
Kerenanya, aku harus membiasakan diri untuk mau dimandikan oleh maidku sendiri.
"Benarkah itu Nona?" tanya Anne yang kujawab dengan anggukan
"Sungguh? Anda tidak akan bohong lagi kan?" tanyanya yang langsung menusuk ingatanku.
Aiaaa ... benar ini sudah yang kedua kalinya aku mandi sendiri tanpa bantuan Anne dan itu benar-benar membuatnya panik setengah mati.
"Aku janji, Anne."
Kataku lagi dengan senyum mengembang yang manis.
Beberapa saat kemudian,
"Oh iya Anne ... apa hari ini aku ada acara?" tanyaku penasaran ketika Anne tengah membantuku menata rambut.
"Hmmm ... apa hari ini anda ingin pergi ke suatu tempat, Nona? Atau anda ingin melakukan sesuatu?" tanya Anne balik.
Yang mana kuartikan bahwa jadwalku hari ini adalah MENGANGGUR. Great!!!
Hmmm ... kalau aku harus memikirkan sesuatu yang ingin kulakukan adalah ... aku ingin berbuat jahat!! Seruku dalam hati yang kemudian membuatku tertawa.
Bisa kulihat dari pantulan cermin bagaimana Derrick dan Anne tertegun saat melihatku tertawa tanpa alasan.
"Maaf-maaf ... aku hanya tidak tau apa yang ingin kulakukan hari ini."
Kataku mencoba untuk tidak terlihat mencurigakan.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kota?" kataku yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Kulihat wajah Anne dan Derrick sedikit menegang.
Aku tidak mengerti ada apa sebenarnya.
Mereka tampak cemas dan saling memandang satu sama lain.
Aku yang berpura-pura tidak tau kembali berakting innocent sambil mengusap-usap kepala Kyuven yang tengah meletakkan kaki depannya di pangkuanku.
"Ijinkan hamba meminta ijin pada tuan besar, Nona ... saya permisi dulu."
Ucap Derrick sebelum dirinya beranjak pergi meninggalkan kamar.
Aku yang terlalu bengong tidak sempat mengucapkan terima kasih dan kembali diam dalam pikiranku sendiri.
"Anne?" panggilku yang dijawabnya dengan sedikit terbata-bata seolah gugup.
"Kalau memang aku tidak boleh keluar, tidak apa-apa kog ... aku tidak akan memaksa."
Ucapku pada Anne yang jadi tertegun mendengarnya.
Aku pikir kehidupanku sebagai seorang pemeran antagonis di dalam Novel ini, bisa sedikit lebih bebas daripada kehidupanku sebelumnya.
Tapi rupanya, bahkan Naira pun memiliki keterbatasan dunia.
Apakah ini ada hubungannya dengan warna bola mata dan rambut Naira?
Disaat itu pulalah aku teringat akan satu kalimat yang dilontarkan Naira sebelum dirinya mendapatkan hukuman karena sudah menampar Araya yang bermaksud memujinya.
"TAU APA KAU DENGAN WARNA YANG KAU ANGGAP CANTIK INI, HUH?! KAU PIKIR AKU AKAN MERASA SENANG SAAT KAU BILANG WARNA IBLIS INI SANGAT INDAH DAN COCOK UNTUKKU? KAU PIKIR AKU AKAN SENANG MENDENGARNYA? PEREMPUAN SEPERTIMU MEMANGNYA TAU APA!!!"
Teriakan Naira yang menggema sampai kerelung hatiku yang terdalam.
Kembali membuat airmataku mengucur deras.
Anne yang melihatnya langsung panik dan beringsut untuk segera berlutut di hadapanku yang masih berusaha mengusap air yang terus menerus keluar dari mataku.
Benar ... sekarang aku mengerti kenapa Naira bisa menjadi sejahat ini.
Dia anak polos yang merasa tertekan akan dunianya yang sempit.
Sorotan orang-orang yang menganggapnya sebagai anak iblis.
Aku yang masih terus menerus mengingat alasan Naira dan akhir kisahnya semakin tidak bisa menghentikan tangis ini.
Anne yang semakin panik, walaupun sudah berusaha menghentikan dan menenangkanku dengan pelukan dan usapan lembut di punggung, tak mampu membuatku berhenti terisak.
Derrick yang kemudian datang bersama ayahanda dan kak Arvan ikutan panik melihatku menangis di pelukan Anne.
Melihat bagaimana mereka begitu cemas dan seolah akan ikut menangis bersamaku saat melihat kondisiku. Malah membuatku menangis kencang sambil meminta maaf.
Beberapa saat setelahnya,
Third Person's POV
Arvhein terlihat tengah duduk di atas tempat tidur dengan Naira yang tengah terlelap di pangkuannya setelah menangis hebat.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Nainai, Anne?" tanyanya pada Maid Naira yang masih berdiri di samping tempat tidur Nona kecilnya tersebut.
"Saya juga tidak sepenuhnya mengerti Tuan Muda ... setelah Nona Naira bilang bahwa dirinya ingin pergi jalan-jalan keluar. Beliau terlihat seperti melamun untuk sejenak."
"Tak lama kemudian, Nona Muda bilang bahwa tidak apa-apa jika dirinya tidak diijinkan keluar dan setelahnya ... tiba-tiba saja beliau manangis."
Jelas Anne yang masih berwajah sendu.
"Apakah ... Nona Muda sudah mulai merasa kesepian?" tanya Derrick yang juga beraut wajah sedih.
"Padahal selama ini dia baik-baik saja ... aku tau kalau dia sudah banyak berubah dan sedikit lebih dewasa dibandingkan dirinya yang dulu."
"Tapi kenapa sekarang ...."
Tanya Arvhein yang masih membelai lembut rambut bergelombang Naira yang berwarna ungu.
Tuan Archduke Van Vellzhein menatap putri tunggalnya dalam diam.
Seolah menjadi patung penjaga, dirinya hanya mampu berdiri di sisi ranjang.
Wajahnya yang menyiratkan kesedihan seolah tengah mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu melihat atau bahkan menyadari, bahwa tuan putri mereka selama ini telah cukup bersabar.
Bahwa selama ini Naira sudah berusaha menekan perasaannya.
Merahasiakan perasaannya yang terus menerus dimakan oleh rasa kesepian.
Archduke Van Vellzhein mengigit bibir bawahnya dan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Arvan ... Ayah ingin meminta sesuatu padamu."
Ucap Tuan Archduke Van Vellzhein pada putranya yang tertegun ketika melihat sudut bibir ayahandanya mengalirkan darah.
NARATOR
Apa yang ingin diminta oleh Tuan Archduke pada putranya? Bagaimana rencana Pangeran Richardo selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Naira setelah ia mengingat alasan kenapa tubuh yang ia ambil alih harus menajdi seorang tokoh antagonis?
Nantikan episode berikutnya xD