My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(Session 2) Page 11: The Ridiculous Fact 1



Naira’s POV


[Hei kau!!] panggilku dengan kening bertaut.


”Namaku bukan hey kau~ bukankah aku


tadi sudah ngasih tau kamu nama aku.”Katanya dengan senyum lebar.


Kedua mata belo unguku memercing


kesal melihat wajah anak cowok dihadapanku ini yang masih tertutupi oleh


hoodienya yang berwarna hitam kebiruan. Aku yang entah bagaimana sedang duduk


di dalam cradle (ranjang bayi) di dalam kamar asing yang hanya mendapatkan


penerangan dari bola di tengah ruangan yang sinarnya seterang rembulan.


Wajah yang sangat ku kenal ini


sekarang sok jadi sosok misterius dengan tidak membuka hoodienya sama sekali.


Cowok yang sekarang tengah duduk manis mengamatiku dari balik terali kayu


cradle ini makin membuat urat marah ku mencuat.


[Aku tau siapa kau, tapi aku gak


mau memanggil namamu lagi sekarang] jawabku dengan kesal. Kulihat sidia sedikit


terkejut dengan cara berbicaraku yang mungkin dulu dia kenal tidak pernah


seangkuh dan sekasar ini.


Tapi bagaimanapun. Di aini sudah


berani menculikku dari keluarga Naira yang baru. Dan alasan kenapa aku bisa


double marah padanya sampai seperti ini. Adalah karena dia muncul disini


sebagai karakter asing.


Karakter yang tak seharusnya


berada dalam pararel universe ini. “Kalau kamu marah begitu, wajah baby mu jadi


makin imut lho~ Aku jadi makin ingin menggodamu lagi.” Jawabnya yang


benar-benar membuat urat kepala ku mencuat keluar.


Akhirnya kuhembuskan nafas Panjang


untuk meredam kekesalanku. [Katakan padaku, apa sebenarnya maksud dari semua


ini… kenapa kau bisa berada di dunia ini dan kenapa kau…]. Kalimat tanyaku


terputus saat ujung jemari tangannya menyentuh bibir mungil Naira.


“Kita masih punya banyak waktu. Tidak


perlu terburu-buru seperti itu, tenang saja. Aku pasti akan menjawab pertanyaan


dari rasa penasaran mu satu persatu.” Jawabnya yang kini sudah berdiri beranjak


meninggalkan Cradel ku.


“First thing first (pertama-tama)


apa kamu tau di dunia mana sekarang kamu dan aku berada?” Tanyanya balik


kepadaku.


Pertanyaannya itu membuatku


speechless (kehilangan kata-kata)bagaimana enggak, emangnya aku harus


menjawabnya bagaimana???? Masa iya kau bilang ini dunia pararel berjudul


doujinshi kan ya gak mungkin banget.


[Don’t tell me (jangan bilang


padaku) kalau ini adalah dunia pararel??] jawabku dengan sok serius.


“Pfft~” walaupun samar, aku masih


bisa mendengar sidia mengendus lucu seolah menahan ketawa atas jawabanku.


Ya iyalah siapapun pastinya


bakalan ketawa dengan jawabanku barusan. Tapi… kenapa dia tertawa? Apa karena


dunia pararel itu tidak ada?? Kalau begitu… ini dunia apa??? Batinku bertanya


pada diri sendiri bertubi-tubi.


Melihatku kebingungan seperti


itu, sidia mulai Kembali mendekati Cradel dan duduk dihadapanku lagi. Seolah ingin


melihat dengan jelas ekspresi apa yang sedang kubuat saat ini.


“Awww~ kamu lucu banged sih kalau


lagi kebingungan gini.” Pujinya padaku, sampai sampai Ketika membuka mulutnya


aku seolah bisa melihat bentuk hati di lidahnya dan kedua matanya yang seolah


bersinar dari dalam hoodinya itu.


[Stop with the joke (hentikan


bercandanya)sekarang coba katakana padaku, sedang berada di dunia mana kit aini?] Tanyaku


dengan tegas padanya.


“Sen~ (mimpi)” Jawaban tersebut


sungguh membuatku sangat amat terkejut. Aku bisa melihat seringai sinis seorang


pesikopath terbentuk di bibirnya saat kedua mata dingin itu melihat ekspresiku


kali ini.


[Kau…pasti bohong…kan…] Kataku mencoba untuk tidak


terdengar bergetar.


“Sayangnya aku tidak bohong. Nona


Naira Van Vellzhein.” Jawabnya yang makin membuatku pucat.


“Mengirim seseorang kedunia mimpi


yang kuinginkan lalu memenjarakan jiwanya adalah salah satu dari kekuatanku.”


Ungkapnya tanpa ragu.


[Why…(kenapa)?] Tanyaku pada sosok yang sampai


saat ini masih menyunggingkan senyum jahatnya kearahku.


“Karena aku menginginkanmu.” Jawabnya


lagi yang kini sudah mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Naira.


“Kalau aku membiarkanmu berada di


‘tempat itu’ lebih lama… ‘mereka’ akan mengambilmu dariku.” Jelasnya yang


semakin tidak dapat kumengerti.


[Apa maksudmu?] Tanyaku lagi.


“Asalkan aku bisa Bahagia bersamamu,


didunia manapun aku tidak akan keberatan.” Ungkapnya lagi masih memegangi


pipiku yang sudah mendingin.


“Bukankah kau juga berpikir


begitu?” Tanyanya yang membuatku tertegun, “Kau juga sebenarnya ingin keluar


dari segala problematika yang ada di ‘tempat itu’, kan!?”


“Kamu juga sebenarnya,


berkali-kali berharap untuk bisa hidup normal menikmati masa kecil hingga


remaja dan tuamu nanti sebagai Naira Van Vellzhein yang jauh dari masalah para


Pangeran dan Nona Araya?!” Jelasnya Panjang lebar yang makin membuatku membisu.


[Siapa…kamu sebenarnya…??] tanyaku terbata-bata, masih


dengan ekspresi syok yang tak mampu kusembunyikan.


“You guys here, called me…


Shakusa (Kalian semua disini menyebutku ‘Pencipta’)


Bagaikan disambar petir dimalam


bolong. Aku gak menyangka bakalan mendengar lagi sebutan itu selain dari bibir


Nona Araya. “Just kidding (tapi bohong)!!” Katanya lagi yang membuatku


tersentak dari keterkejutan.


[Coba sini berikan aku satu buku


besar. Ingin aku lempar itu barang ke mukamu yang nyebelin itu] Ucapku kesal pada sidia yang


dengan innocent-nya (polos-nya) malah berpose imut sambil tersenyum setelah


mengatakan bahwa ia berbohong.


“Tapi, satu hal yang perlu kamu ketahui, Nona Naira~ Bahwa aku mengetahui rahasiamu.


Ahh bukan, lebih tepatnya, rahasia kalian berdua.” Katanya lagi yang sempat


membuatku tertegun.


[Kau bohong lagi, kan!?] Kataku yang masih terdengar seperti pertanyaan.


“Well, if you say so (ya kalau kamu bilang begitu) tidak masalah buatku.” Katanya masih


dengan senyum yang tidak terpatahkan, “yang jelas, aku tidak akan melewatkan


jiwa seindah dirimu yang datang dari dunia lain.”


Satu


kalimat itu yang akhirnya mampu membuatku percaya dan yakin bahwa cowok yang


sok imut dan berlagak harmless (tidak berbahaya) ini menyimpan banyak rahasia


yang aku nggak tau. Wait…kenapa aku gak pernah merasa ada karakter dia di dalam


novel sama sekali. oh right (oh benar) dunia yang waktu itu adalah otome


game bukan.


Jadi


adanya tokoh tambahan seperti dia, bukan hal yang… tiba-tiba pemikiranku itu


terhenti seketika. Tidak… di aini bukan karakter tambahan, dia juga bukan tokoh


yang ada dalam otome game version. Dia… tau soal aku dan nona Araya… juga


mungkin perihal mengenai asal muasal kami sebelum terlempar ke dunia ini.


Apakah


soal dia yang bilang bercanda mengenai dirinya adalah Shakusa itu benar?!


Pikirku dalam hati.


“Apa kamu


lagi mikirin tentang sebenarnya aku ini siapa? Dan sedang memerankan karakter


apa?” Tanyanya dengan polos padaku yang malah tambah bengong dibuatnya.


“Aku sih


nggak keberatan buat ngasih tau kamu. Tapi, musti ada syaratnya.” Sambungnya


lagi dengan senyum lebar.


Ke esokan


harinya.


“Kau ini


sudah gila ya?” Kataku lagi pada cowok yang sekarang tengah menyisir rambut


ungu bergelombangku dengan senyum dan wajah sumringah. Seolah anak kecil


“Kalau


kau emang mau nikah sama orang yang berasal dari dunia lain, bukankah Nona


Araya…” Ujarku yang langsung diputus dengan cepat oleh kalimatnya.


“NOPE!!(tidak)”


Katanya cepat yang membuatku kesal.


“Paling


enggak biarin aku selesai ngomong dulu.” Ucapku lagi yang sudah melupakan gaya


bahasa kerajaan dan kembali pada style (gaya) bicaraku di kehidupanku sebelum


menjadi Naira.


“Aku tau


kog, kamu mau bilang apa. Makanya aku jawab tidak!! Karena mau bagaimanapun,


yang aku mau itu kamu.” Katanya yang kini sudah mencium rambutku ditangannya.


Aku hanya


mampu menghela nafas panjang. Mencoba menghentikan kedua pipiku yang sempat


akan bersemu merah karena perbuatannya.


“Aku


masih gak percaya kalau kau bisa menciptakan dunia mimpi dari harapan terdalam


seseorang…” Kataku lagi bergumam, “aku gak tau sebenarnya waktu kau bilang


bahwa kau itu Shakusa adalah bohong…” sambungku lagi, masih merunduk,


memperhatikan jemari tanganku yang sudah kembali ke waktu ketika aku pertama


kali tersadar sebagai Naira.


“Padahal


aku benar-benar yakin bahwa aku terlahir kembali kedunia lain. Semua inderaku


berfungsi dengan baik… walaupun awalnya aku memang mengira bahwa semua ini


hanyalah mimpi… tetapi…” Gumamku lagi kini mengernyit.


“Pernahkah


kamu mendengar soal lucid dream?” Tanyanya yang membuatku mengangkat kepala.


“Didalam


mimpi dimana semua panca inderamu berfungsi dengan sempurna, hingga kamu merasa


bahwa apa yang sedang terjadi padamu adalah kenyataan.” Jelasnya


padaku yang tengah menatapnya dari pantulan cermin dihadapanku, “hingga kamu


merasa jika kamu terluka atau mati di sana, maka kamu akan merasakan hal yang


sama di dunia nyata.”


Ahh…I see (aku mengerti) pantas


saja, tidak heran jika semua yang dia katakana itu benar. Maka ini bukanlah


dunia lain.


Tiba-tiba


saja perasaan lega mengalir di dalam diriku tanpa sadar. “Jadi… sebenarnya aku


masih hidup, kan?!” Kataku lagi yang setengah bertanya padanya. Tanpa sadar


sangking senangnya dengan pemikiran itu, aku menoleh untuk menatapnya. Dari


posisi dudukku saat ini aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang tertutupi


oleh hoodie itu.


Untuk pertama


kalinya dalam hidupku, aku melihat mata seindah gemstone yang berkilau  walaupun dalam kegelapan. Aku piker dia yang


tak menyangka bahwa aku akan dengan tiba-tiba berbalik menghadapnya seperti ini


jadi terkejut. Bisa kulihat bagaimana dia berusaha menutupi wajahnya yang sudah


terlihat memerah karena malu.


Manisnyaaaa~


Batinku tiba-tiba menjerit Kyun~ begitu. “Aku bukannya membencimu, tapi aku


hanya gak suka dengan cara kotormu yang membuatku jadi seperti ini. Kalau kau


bisa memberikan alasan paling masuk akal kepadaku, aku mungkin akan bisa


memaafkanmu dan akan memperlakukanku sama seperti saat kita pertama kali


bertemu.” Ucapku padanya, kali ini dengan senyum ramah.


Awalnya bisa


kulihat bagaimana dia tertegun dengan tawaranku. Namun pada detik berikutnya,


saat ia membungkukkan tubuhnya untuk melekatkan pandangannya padaku. “Aku bisa


saja melakukannya, tapi…jika hanya maaf darimu saja yang kudapatkan. Bukankah itu


sama sekali sangat tidak sepadan dengan bagaimana berharganya penjelasanku ini.”


Ungkapnya dengan senyum menyeringai.


“aduduh


duh aw ow auch…” jeritnya kesakitan ketika dengan gemasnya aku cubit dan tarik


kedua pipinya itu sekuat tenaga.


“Aku tuh


ya paling sebel kalau sudah lihat senyummu yang kayak gini, tau!!” Selorohku


masih tidak memberinya ampun.


Beberapa saat


kemudian.


“Jadi


begitulah~” Katanya mengakhiri penjelasan yang panjang nan lebar. Aku yang


sekarang sudah duduk di single chair ditengah ruangan yang dia design khusus


menyerupai dan mirip sekali dengan kamar Naira di kediaman Archduke.


Dengan sidia


yang sekarang tengah duduk di kursi seberang mejaku dan tengah menyeruput teh


dengan santainya. Seolah kami berdua memang sedang menghadiri acara minum the.


“Kau ini benar-benar ingin kuhajar yah.” Kataku


lagi yang entah mendapat keberanian darimana sejak mengetahui bahwa sidia


adalah sosok yang amat sangat kukenal di dunia Otome game atau novel apalah


itu.


Sekali


lagi aku menghela nafas panjang. Berusaha menekan kembali amarah dan rasa


kesalku padanya. “jadi intinya sekarang, kalau aku nolak lamaranmu, kau bakalan


menjarain aku dimimpi ini selamanya?” Tanyaku dengan wajah serius kali ini.


“Benar~”


Katanya dengan penuh percaya diri. Aku hanya mampu facepalm (tepuk jidat)


dengan cara dia menjawab.


Menurut dari apa yang sudah ia


jelaskan kepadaku. Aku yang sudah ia culik dan bawa alias seret dengan paksa


masuk kedalam dunia mimpi, masih seratus juta persen hidup. Hanya saja tubuhku


saat ini tengah tertidur pulas alias dalam keadaan koma berhari-hari.


Dia juga menjelaskan seluruh


keadaan didunia nyata kepadaku. Tentang perihal keluargaku, dan kedua keluarga


kerajaan yang tengah panic karena kondisiku yang tidak wajar. Tuan penyihir


Delarion juga sangat cemas karena belum mampu menemukan cara untuk


membangunkanku yang sudah tertidur lebih dari sebulan.


“Soal Kyuuven kamu gak perlu


kuatir. Dia ikutan tertidur disebelahmu sebagai boneka plushy. Dan aku sudah


membuatnya jadi tidak bisa terpisahkan darimu. Bukankah aku sangat pengertian~”


Terangnya


yang membuatku sangat kesal adalah ketika dia membanggakan dirinya sendiri.Tapi,


paling tidak aku bisa bernafas lega asal Kyuuven tidak kenapa-kenapa, juga


kenyataan bahwa alasanku dalam situasi saat ini bukanlah karena jiwa nona Naira


yang asli sudah kembali. Sepertinya alasan aku mendiami tubuh nona Naira,


karena memang sudah fix bahwa nona Naira yang asli sudah mati. Dan untuk


membantunya melewati ending terburuk, Tuhan memberikan kesempatan keduaku untuk


hidup menggantikan dirinya.


Untuk


alasan itulah yang cukup membuatku tersenyum lega. Walaupun, aku tidak bisa


mengabaikan kenyataan bahwa ada orang-orang terdekatku yang sedang tenggelam


dalam keterpurukan dan kesedihan karena kondisiku saat ini.


Kenyataan


bahwa ternyata benar nona Naira ada hubungannya dalam hal ini membuatku sedikit


kecewa dan sedih.


“Kamu


dalam sehari ini udah menghela nafas lebih dari lima kali lho~” Ucapnya yang


langsung membuat helaan nafasku nyendat ditengah-tengah. Ya ampun… masa sih,


aku aja gak segitunya sampai ngitungin. Batinku dalam hati.


“Itu


karena aku sangat-sangat perhatian sama kamu. Karena aku sangat amat suka sama


kamu, makanya aku merhatiin kamu terus.” Jelasnya dengan senyum menggoda yang


malah membuatku merinding.


“Kau itu


punya fetish lolicon ya?” Tanyaku yang langsung to the point (ke intinya)


“Eh~ tapi


bukannya kamu itu umurnya sudah bukan anak kecil lagi.” Katanya yang langsung


membuatku tersadar lagi, kalau dia ini sudah mengetahui rahasiku dan nona


Araya.


“Jadi aku


tidak salah, kan kalau bilang suka sama kamu. Dan kalaupun aku bilang ingin


menikah sama kamu.” Lanjutnya yang langsung membuat bulu kudukku berdiri.


BERSAMBUNG <3