
Naira’s POV
[Hei kau!!] panggilku dengan kening bertaut.
”Namaku bukan hey kau~ bukankah aku
tadi sudah ngasih tau kamu nama aku.”Katanya dengan senyum lebar.
Kedua mata belo unguku memercing
kesal melihat wajah anak cowok dihadapanku ini yang masih tertutupi oleh
hoodienya yang berwarna hitam kebiruan. Aku yang entah bagaimana sedang duduk
di dalam cradle (ranjang bayi) di dalam kamar asing yang hanya mendapatkan
penerangan dari bola di tengah ruangan yang sinarnya seterang rembulan.
Wajah yang sangat ku kenal ini
sekarang sok jadi sosok misterius dengan tidak membuka hoodienya sama sekali.
Cowok yang sekarang tengah duduk manis mengamatiku dari balik terali kayu
cradle ini makin membuat urat marah ku mencuat.
[Aku tau siapa kau, tapi aku gak
mau memanggil namamu lagi sekarang] jawabku dengan kesal. Kulihat sidia sedikit
terkejut dengan cara berbicaraku yang mungkin dulu dia kenal tidak pernah
seangkuh dan sekasar ini.
Tapi bagaimanapun. Di aini sudah
berani menculikku dari keluarga Naira yang baru. Dan alasan kenapa aku bisa
double marah padanya sampai seperti ini. Adalah karena dia muncul disini
sebagai karakter asing.
Karakter yang tak seharusnya
berada dalam pararel universe ini. “Kalau kamu marah begitu, wajah baby mu jadi
makin imut lho~ Aku jadi makin ingin menggodamu lagi.” Jawabnya yang
benar-benar membuat urat kepala ku mencuat keluar.
Akhirnya kuhembuskan nafas Panjang
untuk meredam kekesalanku. [Katakan padaku, apa sebenarnya maksud dari semua
ini… kenapa kau bisa berada di dunia ini dan kenapa kau…]. Kalimat tanyaku
terputus saat ujung jemari tangannya menyentuh bibir mungil Naira.
“Kita masih punya banyak waktu. Tidak
perlu terburu-buru seperti itu, tenang saja. Aku pasti akan menjawab pertanyaan
dari rasa penasaran mu satu persatu.” Jawabnya yang kini sudah berdiri beranjak
meninggalkan Cradel ku.
“First thing first (pertama-tama)
apa kamu tau di dunia mana sekarang kamu dan aku berada?” Tanyanya balik
kepadaku.
Pertanyaannya itu membuatku
speechless (kehilangan kata-kata)bagaimana enggak, emangnya aku harus
menjawabnya bagaimana???? Masa iya kau bilang ini dunia pararel berjudul
doujinshi kan ya gak mungkin banget.
[Don’t tell me (jangan bilang
padaku) kalau ini adalah dunia pararel??] jawabku dengan sok serius.
“Pfft~” walaupun samar, aku masih
bisa mendengar sidia mengendus lucu seolah menahan ketawa atas jawabanku.
Ya iyalah siapapun pastinya
bakalan ketawa dengan jawabanku barusan. Tapi… kenapa dia tertawa? Apa karena
dunia pararel itu tidak ada?? Kalau begitu… ini dunia apa??? Batinku bertanya
pada diri sendiri bertubi-tubi.
Melihatku kebingungan seperti
itu, sidia mulai Kembali mendekati Cradel dan duduk dihadapanku lagi. Seolah ingin
melihat dengan jelas ekspresi apa yang sedang kubuat saat ini.
“Awww~ kamu lucu banged sih kalau
lagi kebingungan gini.” Pujinya padaku, sampai sampai Ketika membuka mulutnya
aku seolah bisa melihat bentuk hati di lidahnya dan kedua matanya yang seolah
bersinar dari dalam hoodinya itu.
[Stop with the joke (hentikan
bercandanya)sekarang coba katakana padaku, sedang berada di dunia mana kit aini?] Tanyaku
dengan tegas padanya.
“Sen~ (mimpi)” Jawaban tersebut
sungguh membuatku sangat amat terkejut. Aku bisa melihat seringai sinis seorang
pesikopath terbentuk di bibirnya saat kedua mata dingin itu melihat ekspresiku
kali ini.
[Kau…pasti bohong…kan…] Kataku mencoba untuk tidak
terdengar bergetar.
“Sayangnya aku tidak bohong. Nona
Naira Van Vellzhein.” Jawabnya yang makin membuatku pucat.
“Mengirim seseorang kedunia mimpi
yang kuinginkan lalu memenjarakan jiwanya adalah salah satu dari kekuatanku.”
Ungkapnya tanpa ragu.
[Why…(kenapa)?] Tanyaku pada sosok yang sampai
saat ini masih menyunggingkan senyum jahatnya kearahku.
“Karena aku menginginkanmu.” Jawabnya
lagi yang kini sudah mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Naira.
“Kalau aku membiarkanmu berada di
‘tempat itu’ lebih lama… ‘mereka’ akan mengambilmu dariku.” Jelasnya yang
semakin tidak dapat kumengerti.
[Apa maksudmu?] Tanyaku lagi.
“Asalkan aku bisa Bahagia bersamamu,
didunia manapun aku tidak akan keberatan.” Ungkapnya lagi masih memegangi
pipiku yang sudah mendingin.
“Bukankah kau juga berpikir
begitu?” Tanyanya yang membuatku tertegun, “Kau juga sebenarnya ingin keluar
dari segala problematika yang ada di ‘tempat itu’, kan!?”
“Kamu juga sebenarnya,
berkali-kali berharap untuk bisa hidup normal menikmati masa kecil hingga
remaja dan tuamu nanti sebagai Naira Van Vellzhein yang jauh dari masalah para
Pangeran dan Nona Araya?!” Jelasnya Panjang lebar yang makin membuatku membisu.
[Siapa…kamu sebenarnya…??] tanyaku terbata-bata, masih
dengan ekspresi syok yang tak mampu kusembunyikan.
“You guys here, called me…
Shakusa (Kalian semua disini menyebutku ‘Pencipta’)
Bagaikan disambar petir dimalam
bolong. Aku gak menyangka bakalan mendengar lagi sebutan itu selain dari bibir
Nona Araya. “Just kidding (tapi bohong)!!” Katanya lagi yang membuatku
tersentak dari keterkejutan.
[Coba sini berikan aku satu buku
besar. Ingin aku lempar itu barang ke mukamu yang nyebelin itu] Ucapku kesal pada sidia yang
dengan innocent-nya (polos-nya) malah berpose imut sambil tersenyum setelah
mengatakan bahwa ia berbohong.
“Tapi, satu hal yang perlu kamu ketahui, Nona Naira~ Bahwa aku mengetahui rahasiamu.
Ahh bukan, lebih tepatnya, rahasia kalian berdua.” Katanya lagi yang sempat
membuatku tertegun.
[Kau bohong lagi, kan!?] Kataku yang masih terdengar seperti pertanyaan.
“Well, if you say so (ya kalau kamu bilang begitu) tidak masalah buatku.” Katanya masih
dengan senyum yang tidak terpatahkan, “yang jelas, aku tidak akan melewatkan
jiwa seindah dirimu yang datang dari dunia lain.”
Satu
kalimat itu yang akhirnya mampu membuatku percaya dan yakin bahwa cowok yang
sok imut dan berlagak harmless (tidak berbahaya) ini menyimpan banyak rahasia
yang aku nggak tau. Wait…kenapa aku gak pernah merasa ada karakter dia di dalam
novel sama sekali. oh right (oh benar) dunia yang waktu itu adalah otome
game bukan.
Jadi
adanya tokoh tambahan seperti dia, bukan hal yang… tiba-tiba pemikiranku itu
terhenti seketika. Tidak… di aini bukan karakter tambahan, dia juga bukan tokoh
yang ada dalam otome game version. Dia… tau soal aku dan nona Araya… juga
mungkin perihal mengenai asal muasal kami sebelum terlempar ke dunia ini.
Apakah
soal dia yang bilang bercanda mengenai dirinya adalah Shakusa itu benar?!
Pikirku dalam hati.
“Apa kamu
lagi mikirin tentang sebenarnya aku ini siapa? Dan sedang memerankan karakter
apa?” Tanyanya dengan polos padaku yang malah tambah bengong dibuatnya.
“Aku sih
nggak keberatan buat ngasih tau kamu. Tapi, musti ada syaratnya.” Sambungnya
lagi dengan senyum lebar.
Ke esokan
harinya.
“Kau ini
sudah gila ya?” Kataku lagi pada cowok yang sekarang tengah menyisir rambut
ungu bergelombangku dengan senyum dan wajah sumringah. Seolah anak kecil
“Kalau
kau emang mau nikah sama orang yang berasal dari dunia lain, bukankah Nona
Araya…” Ujarku yang langsung diputus dengan cepat oleh kalimatnya.
“NOPE!!(tidak)”
Katanya cepat yang membuatku kesal.
“Paling
enggak biarin aku selesai ngomong dulu.” Ucapku lagi yang sudah melupakan gaya
bahasa kerajaan dan kembali pada style (gaya) bicaraku di kehidupanku sebelum
menjadi Naira.
“Aku tau
kog, kamu mau bilang apa. Makanya aku jawab tidak!! Karena mau bagaimanapun,
yang aku mau itu kamu.” Katanya yang kini sudah mencium rambutku ditangannya.
Aku hanya
mampu menghela nafas panjang. Mencoba menghentikan kedua pipiku yang sempat
akan bersemu merah karena perbuatannya.
“Aku
masih gak percaya kalau kau bisa menciptakan dunia mimpi dari harapan terdalam
seseorang…” Kataku lagi bergumam, “aku gak tau sebenarnya waktu kau bilang
bahwa kau itu Shakusa adalah bohong…” sambungku lagi, masih merunduk,
memperhatikan jemari tanganku yang sudah kembali ke waktu ketika aku pertama
kali tersadar sebagai Naira.
“Padahal
aku benar-benar yakin bahwa aku terlahir kembali kedunia lain. Semua inderaku
berfungsi dengan baik… walaupun awalnya aku memang mengira bahwa semua ini
hanyalah mimpi… tetapi…” Gumamku lagi kini mengernyit.
“Pernahkah
kamu mendengar soal lucid dream?” Tanyanya yang membuatku mengangkat kepala.
“Didalam
mimpi dimana semua panca inderamu berfungsi dengan sempurna, hingga kamu merasa
bahwa apa yang sedang terjadi padamu adalah kenyataan.” Jelasnya
padaku yang tengah menatapnya dari pantulan cermin dihadapanku, “hingga kamu
merasa jika kamu terluka atau mati di sana, maka kamu akan merasakan hal yang
sama di dunia nyata.”
Ahh…I see (aku mengerti) pantas
saja, tidak heran jika semua yang dia katakana itu benar. Maka ini bukanlah
dunia lain.
Tiba-tiba
saja perasaan lega mengalir di dalam diriku tanpa sadar. “Jadi… sebenarnya aku
masih hidup, kan?!” Kataku lagi yang setengah bertanya padanya. Tanpa sadar
sangking senangnya dengan pemikiran itu, aku menoleh untuk menatapnya. Dari
posisi dudukku saat ini aku dapat melihat dengan jelas wajahnya yang tertutupi
oleh hoodie itu.
Untuk pertama
kalinya dalam hidupku, aku melihat mata seindah gemstone yang berkilau walaupun dalam kegelapan. Aku piker dia yang
tak menyangka bahwa aku akan dengan tiba-tiba berbalik menghadapnya seperti ini
jadi terkejut. Bisa kulihat bagaimana dia berusaha menutupi wajahnya yang sudah
terlihat memerah karena malu.
Manisnyaaaa~
Batinku tiba-tiba menjerit Kyun~ begitu. “Aku bukannya membencimu, tapi aku
hanya gak suka dengan cara kotormu yang membuatku jadi seperti ini. Kalau kau
bisa memberikan alasan paling masuk akal kepadaku, aku mungkin akan bisa
memaafkanmu dan akan memperlakukanku sama seperti saat kita pertama kali
bertemu.” Ucapku padanya, kali ini dengan senyum ramah.
Awalnya bisa
kulihat bagaimana dia tertegun dengan tawaranku. Namun pada detik berikutnya,
saat ia membungkukkan tubuhnya untuk melekatkan pandangannya padaku. “Aku bisa
saja melakukannya, tapi…jika hanya maaf darimu saja yang kudapatkan. Bukankah itu
sama sekali sangat tidak sepadan dengan bagaimana berharganya penjelasanku ini.”
Ungkapnya dengan senyum menyeringai.
“aduduh
duh aw ow auch…” jeritnya kesakitan ketika dengan gemasnya aku cubit dan tarik
kedua pipinya itu sekuat tenaga.
“Aku tuh
ya paling sebel kalau sudah lihat senyummu yang kayak gini, tau!!” Selorohku
masih tidak memberinya ampun.
Beberapa saat
kemudian.
“Jadi
begitulah~” Katanya mengakhiri penjelasan yang panjang nan lebar. Aku yang
sekarang sudah duduk di single chair ditengah ruangan yang dia design khusus
menyerupai dan mirip sekali dengan kamar Naira di kediaman Archduke.
Dengan sidia
yang sekarang tengah duduk di kursi seberang mejaku dan tengah menyeruput teh
dengan santainya. Seolah kami berdua memang sedang menghadiri acara minum the.
“Kau ini benar-benar ingin kuhajar yah.” Kataku
lagi yang entah mendapat keberanian darimana sejak mengetahui bahwa sidia
adalah sosok yang amat sangat kukenal di dunia Otome game atau novel apalah
itu.
Sekali
lagi aku menghela nafas panjang. Berusaha menekan kembali amarah dan rasa
kesalku padanya. “jadi intinya sekarang, kalau aku nolak lamaranmu, kau bakalan
menjarain aku dimimpi ini selamanya?” Tanyaku dengan wajah serius kali ini.
“Benar~”
Katanya dengan penuh percaya diri. Aku hanya mampu facepalm (tepuk jidat)
dengan cara dia menjawab.
Menurut dari apa yang sudah ia
jelaskan kepadaku. Aku yang sudah ia culik dan bawa alias seret dengan paksa
masuk kedalam dunia mimpi, masih seratus juta persen hidup. Hanya saja tubuhku
saat ini tengah tertidur pulas alias dalam keadaan koma berhari-hari.
Dia juga menjelaskan seluruh
keadaan didunia nyata kepadaku. Tentang perihal keluargaku, dan kedua keluarga
kerajaan yang tengah panic karena kondisiku yang tidak wajar. Tuan penyihir
Delarion juga sangat cemas karena belum mampu menemukan cara untuk
membangunkanku yang sudah tertidur lebih dari sebulan.
“Soal Kyuuven kamu gak perlu
kuatir. Dia ikutan tertidur disebelahmu sebagai boneka plushy. Dan aku sudah
membuatnya jadi tidak bisa terpisahkan darimu. Bukankah aku sangat pengertian~”
Terangnya
yang membuatku sangat kesal adalah ketika dia membanggakan dirinya sendiri.Tapi,
paling tidak aku bisa bernafas lega asal Kyuuven tidak kenapa-kenapa, juga
kenyataan bahwa alasanku dalam situasi saat ini bukanlah karena jiwa nona Naira
yang asli sudah kembali. Sepertinya alasan aku mendiami tubuh nona Naira,
karena memang sudah fix bahwa nona Naira yang asli sudah mati. Dan untuk
membantunya melewati ending terburuk, Tuhan memberikan kesempatan keduaku untuk
hidup menggantikan dirinya.
Untuk
alasan itulah yang cukup membuatku tersenyum lega. Walaupun, aku tidak bisa
mengabaikan kenyataan bahwa ada orang-orang terdekatku yang sedang tenggelam
dalam keterpurukan dan kesedihan karena kondisiku saat ini.
Kenyataan
bahwa ternyata benar nona Naira ada hubungannya dalam hal ini membuatku sedikit
kecewa dan sedih.
“Kamu
dalam sehari ini udah menghela nafas lebih dari lima kali lho~” Ucapnya yang
langsung membuat helaan nafasku nyendat ditengah-tengah. Ya ampun… masa sih,
aku aja gak segitunya sampai ngitungin. Batinku dalam hati.
“Itu
karena aku sangat-sangat perhatian sama kamu. Karena aku sangat amat suka sama
kamu, makanya aku merhatiin kamu terus.” Jelasnya dengan senyum menggoda yang
malah membuatku merinding.
“Kau itu
punya fetish lolicon ya?” Tanyaku yang langsung to the point (ke intinya)
“Eh~ tapi
bukannya kamu itu umurnya sudah bukan anak kecil lagi.” Katanya yang langsung
membuatku tersadar lagi, kalau dia ini sudah mengetahui rahasiku dan nona
Araya.
“Jadi aku
tidak salah, kan kalau bilang suka sama kamu. Dan kalaupun aku bilang ingin
menikah sama kamu.” Lanjutnya yang langsung membuat bulu kudukku berdiri.
BERSAMBUNG <3