My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(session 2) Page 26: How To End This Villainous Route (4.5)



Naira's POV


Aku benar-benar sudah tidak punya tenaga untuk berdebat dengan hal semacam ini.


Batin Naira yang masih menyunggingkan senyum menyeringai seorang villain.


"Ohh dan kalau aku ingat-ingat lagi, bukankah ada seseorang yang juga meski sudah mengetahui bahwa saya adalah tunangan Pangeran Richardo."


"dirinya masih dengan penuh percaya diri memberikan tatto cincin kupu-kupu emas."


kataku yang kini mengangkat tinggi-tinggi tangan kananku.


"coba lihat Kyo ... sekarang katakan, siapa yang sama sekali tidak bisa menjaga perilakunya."


ucapku dengan berat hati.


yang memang masih dengan tujuan untuk membuat para pangeran membenciku.


Aku bisa melihat bagimana kedua matanya yang tajam itu menatapku dengan penuh kebencian.


kedua kakinya yang jenjang itu melangkah cepat mendekati kami.


Tanpa bisaku cegah


tangan pangeran Reynald terjulur ke arahku dan menarik tubuhku kedalam pelukannya.


Kyuven yang terlambat beraksi malah terpental jatuh oleh sesuatu kekuatan yang tak terlihat dengan kasat mata.


"Kyuven!!"


jeritku yang malah membuat kepalaku semakin bertambah sakit.


"Pangeran Reynald ... turunkan saya sekarang juga."


Ucapku berusaha tegas.


"Kau pikir aku akan melepaskan orang yang sudah mengolokku?"


katanya yang langsung membuatku pucat pasi.


Mampus aku gak sengaja nginjak bom bunuh diri ...


padahal belum juga aku bisa tidur nyenyak gegara si si@l@n Radja itu sekarang aku malah sepertinya sudah mau dihukum gantung sama pangeran Reynald.


Batinku yang sudah membuat tubuhku gemetaran dan kepalaku semakin pening.


"Pangeran ..."


"sebaiknya anda diam saja sekarang."


Tegasnya memutus kalimatku.


Membuatku kehilangan kata-kata bahkan keberanian untuk menggerakkan tubuhku.


Aku yang hanya bisa pasrah kemudian memutuskan untuk memejamkan kedua mataku yang kembali mulai terasa lelah.


tidak peduli dengan kemana Pangeran Reynald akan membawaku,


toh tidak mungkin dia bakalan langsung menghukum mati aku tanpa membawaku ke pengadilan kerajaan.


Aku pun dengan tenang menyandarkan kepalaku yang sudah semakin berat ke dada Pangeran Reynald yang bidang.


.


.


.


" ... Ra ..."


" ... Aira ..."


" ... Nona Naira ..."


entah sudah berapa lama aku berkelut melawan rasa kantuk dan sakit dikepala serta pening dikedua mataku


hingga suara panggilan Pangeran Reynald yang menggema itu malah terdengar sayup-sayup di telingaku.


" ... huh?"


Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka kedua kelopak mataku yang seolah beratnya seperti sudah merekat kuat


habis di lem besi.


Pandanganku mengabur,


tak yakin apakah aku sebenarnya sudah pingsan dan sekarang memasuki alam bawah sadar,


wilayah kekuasaan si gila Radja itu.


Karena saat ini aku tengah melihat wajah Pangeran Reynald yang sudah terlihat seperti orang yang ingin menangis.


Pangeran Reynald?


gumamku dalam hati yang entah kenapa seolah mengatakan sesuatu adalah hal yang sulit kulakukan saat ini.


"Nona Naira ... apa anda baik-baik saja?"


tanyanya dengan tatapan cemas seolah-olah tengah menatap kekasihnya yang sedang terbaring sekarat.


Apa tatapan itu ditujukan untukku?


"Cepat panggilkan tabib akademi!!"


bentaknya pada seseorang yang entah siapa itu.


Aku bahkan tidak tau sedang berada dimana sekarang.


seingatku, Pangeran Reynald tengah menggendongku dan membawaku pergi tanpa kata.


...


Kyuven ...?


benar ... anak itu ... dia terluka karena mengikuti sandiwaraku ...


Aku harus ...


Kataku pada diri sendiri ketika berusaha bangun.


"Nona Naira ... sebaiknya anda jangan bergerak dulu ... kondisi anda saat ini---"


"Saya akan kembali untuk menerima hukuman saya ..."


"tapi saya harap anda bisa melepaskan saya sekarang, karena ada seseorang yang sedang menunggu kedatangan saya ..."


Ucapku panjang lebar memutus kalimatnya dengan kedua mataku yang sudah mengernyit kesal.


Aku bukannya marah pada Pangeran Reynald.


ini adalah ekspresiku yang tengah berperang melawan rasa sakit dikepala dan betapa tubuh ini sudah berkeringat dingin karenanya.


Namun, ketika aku memaksakan diri untuk melepaskan diri dari pelukannya.


Pangeran Reynald malah menarikku kembali dan mengurungku dalam rengkuhan kedua lengannya.


mengunci tubuh Naira dengan erat.


"Pangeran Reynald?"


...


tak ada suara, aku hanya bisa diam menunggu respon dari pemuda yang kini seolah menjadi patung,


pemuda tampan nan tinggi semampai sempurna itu membeku sembari memeluk tubuh mungil Naira.


"Pangeran---"


" ... maaf ..."


lirih, kalimat itu seakan nafas yang menyeruak keluar dari bibirnya yang semenjak tadi mengatup rapat.


" ... maafkan aku ... Nona Naira ... maafkan aku ... aku sama sekali tidak atau apa yang sudah merasukiku ..."


" ... maaf ... aku tidak bermaksud melukai anda ..."


katanya panjang lebar padaku.


Pangeran Reynald pun menengadahkan wajahnya,


terlihat bagaimana pemuda tampan itu berusaha sekuat tenaga untuk dapat membendung air matanya


yang sudah siap mengalir pada detik berikutnya.


Ahhh ... ini pasti hanya mimpi ...


si rese itu benar-benar sudah keterlaluan.


bisa-bisanya dia membuat ilusi Pangeran Reynald yang cengeng seperti ini.


Aku yang sudah tidak peduli lagi dengan apapun saat ini membiarkan saja tangan kananku yang tak bertenaga.


terangkat seolah reflek ingin menyeka sudut mata Pangeran Reynald.


" ... memangnya anda salah apa sampai harus minta maaf segala ..."


ucapku tersenyum simpul.


"tidak ada yang perlu anda sesalkan, Pangeran Reynald ... karena semua ini memang sudah seharusnya terjadi."


"Anda dan Pangeran Richardo sudah ditakdirkan akan jatuh cinta dengan nona Araya ..."


"walau bagaimanapun saya mencoba berusaha untuk mencegah hal itu agar tidak terjadi."


"semua itu hanya akan menjadi sia-sia saja."


Kataku panjang lebar seolah tengah mendongeng.


Aku bahkan tidak bisa berhenti mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan.


"cepat atau lambat aku juga pasti akan mati ..."


"Yang aku harapkan hanya kebahagiaan anda ... walau dengan siapapun anda akhirnya bersama untuk selamanya."


"hal itu bukan masalah bagi saya ..."


"yang terpenting adalah ... agar anda bisa mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang anda cintai ..."


Aku pun memberikan senyuman tertulus Naira sebelum kemudian memejamkan mata.


Third Person's POV


Pangeran Reynald yang melihat Naira jatuh tak sadarkan diri dipelukannya,


mulai panik dan hampir kehilangan akal sehatnya.


dirinya tak menghiraukan kedatangan Draco yang sudah membawa seorang tabib istana,


dalam pikiran Pangeran Reynald yang sudah ketakutan itu hanya ada satu orang yang bisa menolongnya.


Pangeran Reynald membuka portal ruang dan menujuk ketempat tersebut.


"KAYANA BUKA PINTUNYA!!"


Pangeran Reynald berteriak di depan pintu masuk menara penyihir akademi.


Pangeran Reynald bahkan tidak segan-segan menendang pintu yang tak dijaga itu.


Di kamar Naira,


kedua kakak lelaki Naira bahwa dirinya merasakan "Mana" milik Naira walaupun lemah.


Akhirnya ketiganya pun bergegas menuju kesana.


Di depan menara sihir Kayana melihat sosok yang masih berusaha mendobrak pintu masuk dengan kakinya itu meneriakinya.


"KAYANA KELUARLAH!! BUKA PINTUNYA!!


Bentak sang Pangeran.


"Pangeran Reynald?"


Panggil Roland,


Ketiga pemuda tersebut terkejut ketika melihat Pangeran Reynald yang berbalik menatap mereka


tengah menggendong Naira di pelukannya.


"NAINAI!!"


kedua kakak lelaki Naira beringsut mendekati sosok adik perempuannya yang tengah tak sadarkan diri


Roland merebut Naira dari pelukan Pangeran Reynald dengan paksa.


"Apa yang sudah anda lakukan pada Naira?"


Kali ini Arvhein tidak segan-segan sudah membidikkan pistolnya ke wajah Pangeran Reynald.


"Roland, Arvan, hentikan!! Kalian bisa di jerat hukum kerajaan jika ada yang melihat kalian seperti ini."


Ucap Kayana berusaha meredam amarah kedua kakak lelaki naira yang sudah akan meledak pada menit berikutnya.


"sebaiknya kita masuk ... kita tidak tau apakah kepala sekolah sedang memata-matai kita saat ini."


Ungkap Kayana yang kemudian membukakan pintu untuk ketiga pemuda lainnya masuk.


Roland membaringkan tubuh Naira ke ranjang Kayana.


"Nainai ...?"


Roland berjongkok membelai kepala Naira yang masih belum membuka matanya.


"Sekarang cepat katakan apa yang sudah anda lakukan pada Naira."


Arvhein kembali mengarahkan senapannya ke arah Pangeran Reynald yang sudah larut dalam lamunannya


ketika kedua matanya tertuju pada sosok yang tengah terbaring tak bergeming di atas ranjang Kayana.


"Beri aku penjelasan dan alasan agar aku tidak membunuh anda sekarang juga."


Kata Arvhein lagi dengan kedua mata yang menatap tajam dan mengancam.


"Aku tau ini semua salahku ..."


"dan aku tidak akan meminta maaf karena aku tidak ingin dimaafkan hanya dengan sebaris ucapan,"


"Siapapun ... tolong katakan padaku apa yang harus kulakukan untuk bisa menyelamatkan nona Naira."


Kata Pangeran Reynald panjang lebar,


wajahnya yang sejak tadi merunduk kini terangkat, memperlihatkan bagaimana wajah yang selalu terlihat tampan dan mempesona itu kini memudar.


kedua mata berwarna silver itu dipenuhi dengan ketidak berdayaan dan keputus asaan serta ketakutan yang luar biasa.


Arvan, Roland serta Kayana yang saat itu melihatnya merasa tidak percaya.


dan bahkan terkejut dibuatnya.


"Aku mohon, aku akan menebus semua kesalahanku pada nona Naira dengan cara apapun."


Katanya mengiba.


Arvhein melihat ketulusan di mata sang pangeran, dirinya pun menarik kembali senapannya sebelum kemudian menghela nafas berat.


"Meskipun anda turun tangan juga percuma saja."


"Rencana kami adalah membawa Araya untuk mengintrogasinya."


"Tapi selama anda memiliki perasaan pada nona Naira, hal tersebut akan sia-sia saja."


Ungkap Arvhein dan Kayana saling bergantian.


Pangeran Reynald paham akan hal tersebut.


Dirinya tau sebagaimana besarnya pengaruh sihir atau apapun itu milik Araya yang selalu mampu mempengaruhi kesadarannya.


Pangeran Reynald bahkan yakin kalau sekarang Pangeran Richardo juga masih dalam pengarus sihir Araya.


"sepertinya aku tau apa yang bisa kulakukan tanpa harus cemas terpengaruh oleh Araya."


Ucap Pangeran Reynald.


Bibir yang sesaat lalu tak mampu tersenyum kini tengah menyunggingkan seringai.


Ketiga orang lainnya bahkan sedikit merasa takut dibuatnya.


Beberapa waktu kemudian


Disuatu tempat di akademi.


Pangeran Richardo terlihat tengah bersama Araya.


gadis itu dengan senyum manisnya tengah membelai rambut pangeran Richardo yang tengah berbaring di pangkuannya.


"Pangeran Ricky ..."


panggil Araya dengan lembut.


"Ya?"


balas sang pengeran pendek.


"apa Pangeran tidak ada kesibukan atau rencana bersama Nona Naira?"


tanyanya dengan wajah cemas.


"Akhir-akhir ini anda selalu terlihat bersama saya ... saya jadi cemas nantinya akan ada yang menganggap saya sebagai gadis tidak tau diri, seperti yang dikatakan nona Naira."


Katanya lagi kini membuang pandangannya dengan wajah sedih.


Pangeran Richardo mengernyit sebelum kemudian bangun dan meraih wajah Araya.


dengan lembut ia menarik wajah yang manis itu untuk menatap kearahnya.


kedua mata itu terlihat sendu, Pangeran Richardo pun dengan berani memegang kedua pipi Araya sebelum kemudian tersenyum lembut kepadanya.


"Kamu tidak perlu mencemaskan apapun, selama aku bersamamu tidak akan ada yang berani menyakitimu."


"Bahkan jika itu Naira sekalipun."


Ucapnya yang membuat Araya kemberikan senyum bahagia padanya.


"Sungguh?"


tanyanya dengan polos


"Tentu saja."


Jawab Pangeran Richardo singkat.


mendengar hal tersebut membuat Araya kembali bertanya dengan tatapan cemas.


"Tetapi ... bagaimanapun juga orang-orang melihatnya."


"Anda adalah tunangan resmi nona Naira sedangkan saya hanya gadis biasa yang selalu dianggap bahkan lebih rendah daripada rakyat jelata."


"hanya karena saya tidak memilki nama keluarga."


Terangnya pada sang pangeran yang saat ini tengah memperhatikannya dalam diam.


"Apakah menurut anda, saya masih pantas bersama anda?"


tanyanya yang pada detik berikutnya membuat sang pangeran tersenyum lembut padanya.


"tentu saja."


Jawabnya kemudian membuat Araya seketika saja memeluknya.


Pangeran Richardo yang terkejut, hanya terdiam sesaat sebelum kemudian membalas pelukan itu.


"Bolehkah saya menyukai anda, Pangeran Ricky?"


tanya Araya.


"Tentu saja."


jawab sang pangeran.


"Apakah anda juga menyukai saya?"


Tanya Araya lagi kali ini menengadahkan wajahnya untuk memandang sang pangeran.


Bibir yang sesaat itu mengatup pada detik berikutnya mengembangkan senyum.


"Tentu saja."


Kata Pangeran Richardo.


"lebih daripada nona Naira?"


tanya Araya lagi


"Tentu saja."


kembali pangeran Richardo menjawabnya dengan kata-kata yang sama.


Namun bagi Araya tidak ada hal yang aneh dengan itu.


semuanya tampak normal baginya.


tidak masalah walau apapun yang dikatakan semua orang terhadapnya.


selama dia memilki Pangeran Richardo di sisinya.


Dia merasa seolah mampu membuat siapapun yang ia inginkan menjadi miliknya.


semuanya akan berjalan sesuai dengan alur cerita yang seharusnya.


Araya kembali menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tengah tersipu di dada sang pengeran.


Sementara itu, Pangeran Richardo yang kembali menatap sosok gadis di dalam pelukannya itu dengan tatapan kosong masih juga membalas pelukan Araya dengan hangat dan erat.


***BERSAMBUNG ***


Maaf ya T_T) Author habis vaksin langsung sakit*****makanya semua project jadi terbengkalai soalnya g boleh beraktifitas dulu setelah pulang kerja**


Q: katanya sakit kok masih kerja Thor? (g ada yang tanya gt btw)***


***Iya soalnya selama masih bisa jalan ya tetap disuruh kerja sama yang punya kantor ***


Jadi ini Author lagi nyicil  dikit-dikit pelan-pelan


itu juga webtoon di mangatoon udah banyak yang nanyain kapan up TuT) sobs


***Gomene ***But i hope you still support this story and please enjoy it <3