
Naira's POV
HEEEEEEE?!
Jeritku dalam hati yang hanya mampuku sampaikan lewat ekpresi bengongku.
"Aku akan bertanggung jawab, karena sudah dengan kurang ajar mengambil ciuman pertamamu."
Kata Pangeran Richardo lagi dengan wajahnya yang merah padam dan panik.
Melihat bagaimana seriusnya dia, membuatku ikutan bersemu merah.
"Itu ... tidak ...."
Kataku tergagap yang kemudian, terinterupsi oleh suara familiar yang kukenal.
"Kecelakaan seperti itu, sama sekali tidak perlu di pertanggung jawabkan."
Aku dan Pangeran Richardo pun menoleh ke arah suara, di sana terlihat Pangeran Reynald yang sudah berdiri di samping kami berdua.
Pada detik berikutnya, Pangeran Reynald sudah berlutut di sisiku, lalu dengan lembut membelai pipiku.
Tanpa sadar dan bisa kucegah, bibir pangeran Reynald sudah menempel dengan lembut di bibirku.
Aku yang hanya bisa mengerjapkan mata, karena belum bisa memproses kejadian yang baru saja menimpaku.
Akhirnya disadarkan oleh teriakan Pangeran Richardo.
"Pangeran Reynald, apa yang sudah kau lakukan pada Naira?!" serunya dengan wajah kesal.
Aku sendiri, baru menyadari kalau Pangeran Reynald dengan sangat amat sengaja mencium bibirku, I MEANT NAIRA!!!
Well, of course sekarang bibir ini adalah punyaku.
Tapi ...
"Eh?? EH???"
Aku benar-benar telat merespon hal itu, hingga membuat Pangeran Reynald mengecup pipiku yang kini sudah merona merah dengan gemas,
"Pa-Pangeran Rey!!" seruku memanggilnya dengan terbata-bata.
Pangeran Reynald hanya tersenyum ke arahku, lalu dengan sigap menggendongku di pelukannya.
"Uwah!!" seruku kaget ketika Pangeran Reynald tiba-tiba bangun dengan masih menggendongku di pelukannya.
"Kak Rey!!!" seru pangeran Richardo kali ini memanggil pangeran Reynald.
Pangeran Reynald berhenti, lalu menoleh untuk menatap ke arah Pangeran Richardo yang sudah ikut berdiri dengan wajah mengernyit kesal.
"Kejadian tadi hanya kecelakaan. Sudah kubilang, kan?!"
"Akulah yang berhak menikahi Nona Naira, untuk mempertanggung jawabkan kekurang-ajaranku yang dengan sengaja menciumnya."
Jelas Pangeran Reynald yang membuat wajaku kembali merona merah.
"kalian cuma sekedar sahabat, tidak ada hubungan pertunangan yang harus mewajibkanmu untuk, mempertanggung-jawabkan kecelakaan remeh seperti itu."
Ucap Pangeran Reynald lagi kini semakin erat mendekapku dalam pelukannya.
Aku yang bingung karena grogi setengah mati tidak menyadari adanya perubahan ekspresi Pangeran Richardo.
Wajah kesal itu berubah menjadi marah dan kecewa.
Seakan-akan tidak bisa menerima kenyataan bahwa ciuman pertama Naira yang sesungguhnya telah di rebut oleh Pangeran Reynald, saudara sepupunya.
Aku yang masih tidak begitu memahami arti dari ekspresi tersebut hanya bisa menatap Pangeran Richardo penuh tanya.
Pangeran Reynald tidak salah, aku dan Pangeran Richardo sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, selain hubungan persahabatan yang kujalin demi untuk menyelamatkan nyawaku.
Aku tau aku jahat dan egoist.
Tapi, bahkan orang jahat pun gak ingin mati, kan?!
Batinku.
Pangeran Reynald pun kembali berpaling, lalu beranjak pergi meninggalkan Pangeran Richardo yang masih berdiri mematung di sana.
Aku tak bisa melakukan apa-apa karena aku memang tidak tau harus bagaimana.
Aku tau ciuman itu hanya sekedar kecelakaan.
Aku juga sudah menggodanya seperti itu, wajar saja kalau Pangeran Richardo merasa harus bertanggung jawab.
Tanpa kusadari, sosok misterius yang semenjak tadi mengawasiku dan Pangeran Richardo mulai bergerak. Kali ini entah bagaimana, aku merasa seperti sedang diawasi.
Walaupun, aku tak yakin siapa dan entah mengapa aku tidak merasakan adanya bahaya, bahkan ancaman dari hal tersebut.
"Pangeran Reynald ... ano ... kita ... sebenarnya mau kemana?" tanyaku begitu sadar kalau posisiku masih berada dalam dekapan pangeran.
Pangeran Reynald masih membisu yang makin membuatku grogi setengah mati.
YA LORD tolong!!!
Aku belum pernah sekalipun digendong dengan cara seperti ini, bahkan oleh mantanku.
Tapi, ini Pangeran Reynald lho!!
Pangeran yang sudah lama jadi My Crush!!!
OMOOOOOO~ ijinkan hamba fangirlingan sebentar, ya?!
Aku harap, Pangeran Reynald tidak melihatku senyum-senyum sendiri, karena girangnya.
Aku pun melirik perlahan ketika kedua tanganku sudah menutupi pipiku yang mulai memanas.
DEG!!!
Pandangan mata kami bertemu dan bibirku masih menyunggingkan senyum seringai, yang kini perlahan-lahan sudah jadi semakin kikuk dan kaku.
AAAAARGGGH apakah ada black hole di dekat sini???
Aku ingin terjun kedalamnya.
Dengan segera, kututupi wajahku yang sudah merah padam dengan kedua tangan.
Aku merasakan pangeran Reynald membungkuk lalu menurunkanku.
Ketika aku kembali membuka kedua tanganku.
Dia mendudukkanku di atas batu besar di sebelah danau yang baru sekali ini kulihat.
Ketika tatapan mataku kini kembali mengarah kepada Pangeran Reynald.
Pemuda itu sudah berlutut di hadapanku.
Tatapan matanya yang intense benar-benar membuat jantungku tak berhenti berdetak dengan kencang.
Aku tau dia tampan, sangat tampan sampai-sampai aku baru sadar kalau ini adalah dunia fantasi di dalam Novel dan aku benar-benar bukan berada di Bumi lagi.
Aku bahkan tidak bisa membandingkannya dengan Boyband dan Artis Korea.
POKOKNYA kegantengan Pangeran Reynald bisa di bilang dua kali lipatnya.
Aku sampai tidak tau musti menghadapinya dengan cara bagaimana, karena sungguh kalau aku sedang gugup dan malu, aku malah ingin tertawa dan kurasa penyakit dari kehidupan masa laluku sudah mulai mempengaruhi Naira juga.
Tapi, belum sempat aku bereaksi kembali, Pangeran Reynald sudah mendekatkan wajahnya hingga nafas kami saling tertabrakan.
Begitu menyadari apa yang akan terjadi.
Tangan mungilku bergerak menutup bibir Pangeran Reynald yang sudah akan menyentuh bibir Naira lagi.
"A-apa yang Pangeran Reynald mau lakukan??" tanyaku dengan gugup dan wajah yang kembali memerah.
"Aku ingin menghapus jejak bibir Pangeran Richardo di bibirmu."
Katanya lagi terang-terangan, dengan wajah kalem itu yang malah membuatku makin grogi.
"Ti-tidak perlu ... sudah tidak ada lagi. Jejaknya sudah terhapus."
"Kan tadi sudah Pangeran Reynald cium."
Kataku dengan ugal-ugalan.
Kupejamkan mata erat ketika kedua tangan mungilku masih menekan bibirnya.
Kenapa aku harus merasa malu sendiri hanya karena ingin menerangkan hal semacam itu.
HADEEEEH padahal umur jiwa sudah setua ini tapi masih juga bisa gugup di depan cowok yang lebih muda sembilan tahun dariku.
Oke sepertinya jiwaku emang mengidap brocon (bronis compleks) alias suka brondong manis.
WELL WHATEVER!!
Yang jelas itu mata sesat mahluk ganteng bernama Pangeran Reynald mohon meleng ke tempat lain, ya!!
My kokoro sudah gak kuat, kalau nanti sampai jadi flat line siapa yang mau tanggung jawab ngelanjutin cerita ini??
Cerocosku pada diri sendiri.
Aku yang bingung setengah hidup tidak tau harus bagaimana selain masih menundukkan kepala.
Pangeran Reynald dengan tenang menggenggam kedua lengan mungilku lalu menariknya lembut menjauh dari wajahnya.
Aku yang masih tidak sanggup menengadahkan kepalaku, hanya mampu mendengar bisikannya di telingaku.
"Aku tidak suka melihat orang lain menyentuh apa yang seharusnya jadi milikku ...."
Katanya yang membuatku akhirnya membuka mata.
Sangat dekat sampai-sampai aku takut jikalau bibir kami akan saling bersentuhan lagi.
Namun, pada detik berikunya, Pangeran Reynald melepaskan lenganku.
Tetapi, sejurus kemudian dia menarik tangan kananku, lalu mengecup jari manisku dengan lembut.
"Sebelumnya sudah kukatakan, bukan?! Cuma aku yang boleh menjadikan Nona Naira sebagai tunanganku."
"Tidak akan aku biarkan orang lain mengambil si pemilik tato Kupu-kupu emas dari tanganku."
Terangnya yang membuat hatiku merasa berbunga-bunga.
Aku hanya mampu berpaling, setelah mendengar pengakuan itu lagi.
Karena terlalu sibuk dengan dunia kami berdua.
Aku tidak sadar kalau sedari tadi, kami sedang diawasi oleh seseorang.
Sosok seorang gadis yang sama, yang kini menatap kami dengan pandangan penuh tanya.
Ke esokan harinya, di lahan belakang sekolah.
Dimulailah pelajaran sihir yang mana anak perempuan dari seluruh clan nobility diperbolehkan untuk mempelajarinya.
Hanya saja bedanya di sini adalah setiap murid dari kalangan nobles itu, akan di ukur kemampuan sihirnya terlebih dahulu.
Apabila level mereka memenuhi standart level pengenalan sihir.
Maka mereka akan diperkenankan mengikuti kelas sihir.
Untuk mereka yang tidak lulus standart pengenalan sihir, akan diperbolehkan memilih pelajaran lain untuk mengisi kekosongan kelas sihir pada jam tersebut.
Satu per satu murid dari kelasku sudah diukur kemampuan sihir mereka.
Level yang mereka miliki cukup memenuhi standart pengenalan sihir.
Aku yang awalnya tenang-tenang saja, akhirnya tersadar.
Nah, lho??
Aku, kan, udah melakukan sihir sulit seperti memanggil mahluk Chimera, teleportasi dan menyamar .
Kalau mereka mengukur kemampuanku menggunakan Appraiser Level apa gak masalah, tuh???
Tanyaku dalam hati yang mulai merasakan keringat dingin di punggung.
Mampus aku kalau sampai levelku melebihi standart normal ... gimana dong entar??
Apa aku kira-kira bisa membajak sistem tersebut dengan sihir juga???
Tanyaku pada diri sendiri.
Dimana pada detik berikutnya, dimulailah giliranku untuk mendapatkan pengukuran level sihir.
Seorang Mage muda yang sekiranya seumuran dengan kakak-kakakku itu berdiri di hadapanku.
Satu tangannya terangkat di atas kepalaku.
Dimana kemudian, muncul suatu diagram sihir biru yang entah bagaimana aku mengerti kegunaannya.
Aku yang berharap dengan sungguh-sungguh.
Meskipun, tidak tau apakah akan benar-benar berhasil.
Mencoba untuk merusak diagram sihir tersebut hingga paling tidak mereka akan melihat bahwa level yang kumiliki benar-benar masih sangat standard.
Aku menatap lekat ke arah diagram sihir tersebut.
Namun, rupanya entah mengapa rasanya si kakak peng-appraiser itu ikutan menatap ke arahku.
Kedua pipinya sedikit bersemu merah ketika tatapan kami berdua saling beradu.
Aku pun menggunakan kesempatan itu untuk menaklukannya dengan Neko-stare no Jutsu.
Kalau memang merusak sistem appraiser level itu tidak mungkin.
Maka jalan satu-satunya adalah membuat kacau konsentrasi si kakak peng-appraiser itu.
"Hey!!"
Panggil guruku yang sedari tadi melihat kami berdua.
"Bagaimana dengan hasilnya?" tanyanya dengan kening berkerut.
Karena giliranku untuk dinilai terasa lebih lama dibandingkan dengan anak-anak lain.
"Eh ... ah ... itu, iya levelnya cukup memenuhi standart."
Ucapnya ketika diagram sihir appraiser itu sudah menghilang sejak kakak peng-appraiser itu di panggil oleh guru pembimbing sihir kami.
Aku menghela nafas lega dalam hati.
Paling tidak aku lolos kali ini.
Bagaimana pun, jika ada kejadian seperti ini lagi, aku harus mampu meningkatkan daya pikat dan pesonaku. Demi kelangsungan hidup damai seorang Villain.
Ujarku pada diri sendiri dengan kedua mata berapi-api.
Aku yang asik sendiri dengan pemikiranku, lagi-lagi tidak sadar kalau sedang diawasi.
Namun, kali ini tatapan penuh tanya dan curiga itu berasal dari seorang anak berambut hitam dan bermata merah, yang tengah berdiri di belakang guru pembina sihir.
Saat pelajaran pengenalan sihir dasar dimulai,
Seorang anak laki-laki berambut hitam, bermata merah tiba-tiba melangkah ke hadapan kami semua.
"Perkenalkan, beliau adalah Kayana Raz Delarion."
"Beliau adalah Wizage dari menara Mage di kerajaan Iztanha."
Begitulah, guru kami memperkenalkan seorang anak yang terlihat seumuran dengan Pangeran Richardo.
Untuk seorang guru yang usianya lebih dari ayahanda, memanggil anak sekecil itu dengan title 'Beliau', bisa dipastikan bahwa anak itu sangat dihormati dan disegani di Iztanha.
Aku yang lagi-lagi merasa tenang-tenang saja, pada detik berikutnya teringat dengan sesuatu yang berkaitan dengan anak itu.
Iya maksudku salah satu cerita dalam novel "My Precious Princess".
Wait, lho??
Oh My God!!
Dia, kan, Penyihir yang kumaksud ke kak Arvan waktu itu?!
Penyihir dengan rank SSS terkuat di menara Mage kerajaan Iztanha!!
KOG DIA BISA KEBETULAN ADA DI SINI, SIH?!
Jerit batinku yang mengutuk hal semacam ini.
Bagaimana bisa kebetulan sekali seperti ini, sih???
Aku heran.
Ini sebenarnya, hidup yang aku jalani sekarang apa memang sudah ada dalam buku Novel juga?
Cuman akunya saja yang gak tau atau bagaimana sih??
Kadang aku merasa seperti dipermainkan dan dibodohi, oleh hal-hal yang tak mampu kuprediksi.
Eh??
Oh iya ding.
Namanya juga hidup, ya.
Mana bisa di prediksi ... ahahahahaha ...
ucapku sambil tertawa garing.
Walaupun, pada saat ini bibirku tengah menyunggingkan senyum datar, sedatar jalan tol di duniaku yang dulu.
"Hey ... coba lihat itu, warna matanya merah ...."
"Menakutkan, ya ...."
"Katanya kalau ada yang punya rambut berwarna hitam dan mata merah itu artinya anak Iblis lho."
"Shht!! Jangan keras-keras."
"Hati-hati kalau bicara, karena dia adalah Penyihir."
Aku hanya mampu menghela nafas ketika mendengar bisikan-bisikan itu.
Kulirik anak-anak yang berbisik di belakang Tuan Kay.
Sepertinya tatapan dari mata unguku yang mereka anggap menakutkan, cukup mampu mendiamkan mereka. Aku kembali berpaling untuk mendengarkan penuturan dari si Penyihir Iztanha.
Dimana ternyata tanpa sengaja pandangan mata kami berdua bertemu untuk pertama kalinya.
BERSAMBUNG KE EPISODE BERIKUTNYA
:D Kira-kira apa yang akan terjadi ketika Naira melakukan sihir, saat berada di hadapan Si Penyihir dari menara Iztanha? Lalu, apa maksud dari tatapan tuan Kay yang sedari tadi memperhatikan Naira, ketika gadis itu tengah diukur level sihirnya??
IKUTI TERUS KISAH MEREKA ^-^