My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(The Hidden Page) Naira's Family POV: 1



Ini adalah kisah yang diambil dari sudut pandang anggota keluarga Naira,


Saat Naira untuk pertama kalinya terbangun dari komanya setelah terjatuh dari tangga dua hari yang lalu.


Apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan oleh para anggota keluarga Naira,


Di kamar Naira.


Terlihat Roland tengah duduk di atas ranjang di sebelah Naira,


tangannya yang besar dan hangat tengah membelai lembut kepala adik perempuan satu-satunya yang paling ia sayangi di dunia.


Mimik mukanya jelas terlihat tengah dirundung kekhawatiran.


Sudah dua hari sejak Naira tidak sadarkan diri ... walaupun memang ayahanda-lah yang meminta agar berita ini tidak sampai terdengar keluar


dan meskipun ayahanda jugalah yang memang lebih memilih agar Pangerang Richardo tidak mengetahui tentang perihal ini.


Entah kenapa rasanya agak kesal juga ...


Kembali Roland menghembuskan nafas berat.


Karena sebenarnya dia juga tau bahwa kejadian yang menimpa Naira bukan dikarenakan oleh Pangeran Richardo.


Walaupun memang alasannya adalah karena Naira ingin menemui sang pangeran di istana,


hanya gegara tidak bertemu dengannya selama beberapa hari.


Naira memutuskan, atau mungkin bisa dibilang sebenarnya merengek, memaksa keluarganya untuk mengijinkannya pergi ke istana Iztanha.


Meskipun Roland, ayahanda dan ibundanya sudah berusaha melarang bahkan merayu Naira dengan berbagai cara agar gadis imut nan cantik itu tidak jadi pergi


Tapi, hasilnya malah membuat Naira saat ini tengah terbaring tak sadarkan diri di kamarnya.


Awalnya mereka pikir bahwa apa yang terjadi pada Naira hanya kecelakaan kecil dan putri kecil merika agar segera tersadar dari pingsannya.


Tapi sudah hampir memasuki hari ke tiga Naira belum terbangun juga.


tentu saja hal tersebut cukup membuat Roland dan ayahandanya panik luar biasa.


sudah puluhan dokter hebat di Faireniyan diundang ke kediaman Archduke sejak hari pertama Naira belum sadarkan diri.


Tentu saja dengan embel-embel ancaman untuk bungkam agar keadaan putri tunggal mereka tidak sampai tersebar.


Roland juga sudah mengirimkan pesan darurat pada saudara kembarnya Arvhein yang rupanya tengah berada dalam keadaan yang mana membuatnya tidak bisa menerima pesan tersebut.


Cklek


Terdengar suara pintu kamar Naira terbuka, Roland menoleh ke arah datangnya suara.


Di sana terlihat sang Archduke, ayahandanya, memasuki ruangan dengan wajah yang terlihat sangat kelelahan.


Tak kalah berantakannya dengan Roland.


Walaupun kadar ketampanan diwajah mereka sama sekali tidak berkurang karenanya.


"Ayahanda?"


Roland sudah terlihat berdi untuk menyambut sang Ayah.


Archduke kemudian berjalan mendekat lalu duduk di samping tubuh Naira yang terbaring, menggantikan posisi Roland.


"Bagaima dengan pesanan potion waktu itu?"


tanya Roland pada Ayahandanya.


"Tidak bisa tanpa bantuan penyihir dari menara akademi."


Jawabnya menggeleng lemah.


"Maksud ayahanda, si penyihir Kayana?"


tanya Roland lagi memastikan.


"Benar ... ayah tidak mungkin bisa mengancam anak itu sama seperti ayah melakukannya pada para dokter Faireniyan lainnya."


"Dia tidak akan takut melawan balik dan hal itu akan sangat merepotkan."


Jelas sang Archduke menghembuskan nafas berat.


Walaupun aku ingin mengamuk dan meminta pertanggung jawaban pada sesuatu yang bahkan sang pangeran tidak ketahui hanya akan membuat nama Naira semakin tercemar.


Archduke tahu sekali bahwa tidak ada yang benar-benar mencintai Naira sama seperti dirinya dan keluarga terdekatnya.


Orang-orang di sekitar mereka di luar sana hanya berusaha agar tidak menyinggung sang Archduke dan beracting seperti menyukai Naira dan sudah menerima keberadaannya seperti gadis biasa.


Mengesampingkan kenyataan bahwa putri tunggal Archduke terlahir dengan warna iblis.


knock knock knock


Suara pintu kamar Naira diketuk dari luar.


"Master ... Duchess Mary ingin bertemu dengan anda."


Meskipun setelah mendengar ucapan sang kepala Butler, Archduke tak langsung bergegas pergi.


Melihat hal tersebut, Roland angkat bicara untuk kembali mengulang ucapan sang kepala Butler.


Roland yakin bahwa ayahandanya hanya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh sang kepala Butler karena terlalu cemas memikirkan Naira.


dan bukan karena Archduke tidak memperdulikan ibundanya karena Naira.


"Ayahanda, Kepala Butler barusan bilang kalau ibunda ingin ayah menemuinya."


"Aku juga akan pergi menemui ibunda."


"Kita bertiga bisa bicarakan lagi tentang apa yang sebaiknya kita harus lakukan untuk Naira."


Rayunya pada Archduke yang kemudian dengan terpaksa beranjak dari tempatnya.


Sebelum berdiri meninggalkan Naira, Archduke menyempatkan dirinya untuk mencium kening putri tunggal tercintannya itu sepenuh kasih.


Di luar kamar Naira.


"Apa masih belum ada kabar dari Arvan?"


Tanya Archduke pada putranya.


"Aku dengar Arvan sedang membasmi monster liar di wilayah Rottenbroke."


"Wiyah itu sudah terkenal dengan tingkat bahayanya,"


"Itu adalah wilayah hitam sangat terisolasi dari dunia luar."


"Sehingga tidak ada kabar yang mampu mencapai Arvan disana."


"Kita terpaksa harus menunggu sampai Arvan dan regunya kembali ke HQ."


jelas Roland panjang lebar pada sang ayah.


Archduke menghembuskan nafas berat.


Walaupun, bukan berarti Arvan bisa membuat potion tersebut bila pemuda tersebut datang setelah menerima pesan mereka.


Potion yang mereka maksud adalah semacam obat yang dibuat dengan sihir untuk mencegah agar Naira tidak mengalami keadaan koma berkepanjangan.


Serta untuk dapat segera memulihkan kondisi Naira seperti semula.


"Selamat pagi, Master, selamat pagi tuan muda."


Sapa seorang maid pada Archduke dan Roland.


Setelah melihat kedua masternya pergi menjauh.


Anne, maid yang sudah merawat Naira semenjak kecil hanya bisa menghela nafas berat.


memikirkan nona ciliknya masih juga tak sadarkan diri dan terbaring lemah di kamarnya.


Di dalam kamar Naira.


Anne membasuh wajah Naira dengan lembut menggunakan handuk dingin.


Nona Naira ...


Panggil Anne dalam batinnya.


Andaikan saja anda tidak bertemu dengan pangeran Richardo, jika saja pertunangan ini tidak terjadi.


Anda tentu tidak akan mengalami hal ini.


Batin Anne lagi dalam benaknya.


Anne adalah orang yang sangat mencintai nona kecilnya sama besarnya seperti keluarga Naira.


Meski Naira memang terkenal manja dan sangat egois, dirinya percaya bahwa dibalik semua tingkah lakunya itu ada alasan kuat kenapa gadis secantik malaikat tersebut bertindak seperti itu.


Meski terkadang hal itu malah membuat Anne barada di posisi yang mana membuat orang lain menaruh ibu kepadanya dan malah menganggap bahwa Anne sudah berada di bawah pengaruh "Iblis" Naira.


Hal tersebut tentunya membuat Anne semakin tidak tenang.


Dia merasa seolah tidak ada seorang pun yang mau berusaha mengerti tentang situasi dan keadaan tuan putri ciliknya ini.


"Nona Naira ..."


"Apa yang sebaiknya kami lakukan agar anda bisa kembali pulih?"


Tanya Anne kini sudah bersujud di samping tempat tidur Naira.


Menyandarkan kedua lengannya sebelum kemudian mengatupkan kedua tangannya, berdoa.


Kedua kelopak matanya memejam erat, meemohon dengan sangat kepada sang maha pencipta demi Naira.


"Atashi-sama ... saya mohon ... kabulkanlah permintaan saya ini."


"Saya akan melakukan apapun itu perintah anda ... jadi saya mohon dengan sangat, Atashi-sama."


"Tolong selamatkan nona Naira."


"Saya berharap ... suatu saat nanti semua orang tak akan lagi menganggap nona Naira sebagai keturunan Iblis."


Ucap Anne panjang lebar.


Meskipun dia tau bahwa suaranya cukup jelas terdengar.


Anne memang sengaja melakukannya secara terang-terangan, berharap Naira juga bisa mendengar harapannya.


Hingga mungkin hal tersebut mampu membuat Naira tersadar.


Meski setelah Anne selesai melantunkan doa dan harapannya pada Atashi-sama pun Naira masih belum dapat membuka matanya kembali.


Anne yang terlihat kecewa dan hampir menitikkan airmata memutuskan untuk pergi mengganti air kompresan.


Lalu


.


.


.


"Ngh ..."


Anne dikejutkan oleh suara rengekan yang sangat familiar ditelinganya.


Ketika dirinya menoleh ke arah Naira.


Terlihat kelopak mata Naira bergerak.


"Nona Naira!!!"


Seru Anne memanggil nama nona kecilnya, mencoba untuk memastikan bahwa dirinya memang tidak salah dengar maupun salah lihat.


"Ngh ..."


rengekan lembut kembali terengar dari bibir mungil Naira.


Kedua kelopak mata yang tertutup itu bergerak-gerak seolah tengah bermimpi buruk.


Anne yang melihatnya teringat akan sesuatu.


Dirinya pun kemudian memutuskan untuk pergi keluar meninggalkan kamar Naira.


Buru-buru gadis itu berlari untuk menginformasikan kepada keluarga inti dikediaman Archduke bahwa anak perempuan mereka satu-satunya sudah sadar.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Archduke dan Roland yang kebetulan berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Duchess Mary, terkejut dan tanpa pikir panjang lagi mereka langsung bergegas untuk pergi ke kamar Naira.


Di dalam, sudah terluhat Derrick dan kepala butler yang tengah berdiri di samping ranjang Naira.


"Bagaimana?"


Tanya Archduke kepada kepala Butler yang sudah datang lebih dahulu setelah mendapatkan kabar dari Anne saat mereka berpapasan di jalan.


"Nona Naira ..."


belum sempat kepala butler menjawab pertanyaan Archduke, suara ringikan kembali terdengar yang mana kali ini dibarengi dengan kedua kelopak mata Naira yang sudah bergerak membuka matanya perlahan.


melihat hal tersebut tentu saja membuat seluruh pemilik mata di sekeliling Naira merasa campur aduk, antara cemas dan bahagia.


"MILADY NAIRA!!"


"Milady apa anda baik-baik saja?"


"Nainai?"


"Anakku apa ada yang sakit?"


Semuanya hampir berseru bersamaan saat mereka sekali lagi melihat pergerakan tubuh Naira.


kedua kelopak mata itu kini sudah terbuka dengan sempurna.


Memamerkan warna seindah permata cheldony walaupun tidak terlalu bersinar.


Karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.


Semua yang melihat hal tersebut tentunya merasa lega dan bahagia.


beribu pertanyaan menghujani Naira yang baru saja siuman.


Gadis cilik itu terlihat kebingungan yang mana semakin membuat kedua orang tua Naira dan kakak lelakinya merasa cemas.


Ditambah lagi ketika Naira menatap mereka seolah melihat orang asing yang sama sekali tidak ia kenal.


Roland's POV


"Maafkan Naira, Naira masih sedikit pusing, jadi ... bisakah Naira kembali beristirahat?"


Katanya dengan wajah memelas.


hal tersebut tentunya membuat kami semua terkejut, Naira tidak pernah berbicara dengan gaya bahasa seperti itu sebelumnya.


yang mana membuatku tanpa sengaja mengerutkan kening.


Naira yang menatapku dengan kedua mata indahnya itu terlihat seperti gadis yang malah bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi kepadanya.


Melihat hal tersebut yang tentu saja membuatku merasa aneh dan memutuskan untuk meminta semua orang untuk pergi bersamaku meninggalkan Naira.


Sepertinya Naira hanya sedikit linglung karena shock. 


Apalagi dengan kondisinya yang sudah tak sadarkan diri selama dua hari penuh.


Tentunya bahkan untuk orang dewasa pun akan membuat kemampuan otak sedikit melemah. 


Batinku mencoba berpikir logis dan berusaha mengerti akan kondisi Naira,


" ..., baiklah kalau begitu. Naira ... kalau ada apa-apa tolong beritahu kami, oke? Kami akan membiarkanmu beristirahat kembali."


Ucapku yang kemudian bersama yang lainnya berjalan keluar kamar Naira.


"Syukurlah ... syukurlah Naira akhirnya sudah sadar."


Ibunda yang tak lagi mampu membendung kesedihan dan air matanya akhirnya menangis di pelukan Ayahanda.


Tidak hanya aku yang juga mengucap puji dan syukur atas kondisi Naira yang sudah semakin membaik. 


Meski beberapa dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar Naira tidak akan sadar selama beberapa hari kedepan. 


Entah keajaiban apa yang telah diberikan Atashi-sama pada Naira,


Apapun itu ... aku senang bisa melihat adik perempuanku satu-satunya kembali membuka matanya lagi. 


"Apakah kita hanya akan menunggu di sini saja?"


tanya ibunda lagi kepada ayahanda.


"Tentu saja tidak ... tapi mungkin sebaiknya kita biarkan Naira untuk beristirahat lagi sebelum kita menjenguknya."


Kata ayahanda sambil mengusap bahu ibunda dipelukannya.


Aku memang sangat mengerti kecemasan mereka. 


Diego, Derrick dan Anne juga terlihat sama-sama tidak bisa menahan kesabaran mereka untuk menjenguk Naira dan memastikan kembali kondisinya. 


"Tidak usah terburu-buru ..."


Kataku menyambung.


"Naira baik-baik saja, dia akan baik-baik saja ... jadi sebaiknya kita tunggu saja sebentar lagi."


"Kalau kalian lelah, kalian boleh kembali aku yang akan menunggu Naira di sini."


ucapku panjang lebar.


"Sa- ijinkan saya juga untuk menunggu nona Naira di sini."


Kata Anne.


"Saya juga, tuan muda."


"Saya pun ingin menunggu sampai nona Naira bersedia untuk dijenguk kembali."


Kata Diego dan Derrick hampir bersamaan.


Aku hanya tersenyum melihat bagaimana kepala Butler dan maid Naira masih memperlihatkan kasih sayang dan kecemasan yang sama terhadap nona kecil mereka.


"Ibu juga akan menunggu Naira bersama ayahmu di sini."


Ucap Ibunda kali ini yang membuatku sedikit lega.


Beberapa saat kemudian. 


"ANNE!!! DERRICK!!!"


Suara panggilan terdengar dari dalam kamar Naira di susul dengan pintu yang kini sudah terbuka lebar.


Kami sontak terkejut sebelum kemudian mengerubungi Naira dan menghujaninya dengar berbagai macam pertanyaan mengenai kondisinya.


Aku yang berada paling dekat dengannya tak lagi mampu menahan keinginan untuk tidak memeluknya saat ini juga.


Dengan lembut kuangkat tubuh kecil dan rentan itu ke pelukanku dan untuk kugendong.


"Syukurlah ... syukurlah kamu baik-baik saja."


kataku lagi menyandarkan kepalaku kepadanya.


Senyum mengambang Naira membuat kami sedikit tertegun,


Seolah memberitahukan pada kami lewat tawanya bahwa sudah tidak ada yang perlu di cemaskan.


Kupeluk erat tubuh mungil adikku bersama ayahanda dan ibunda.


Kami menyayangi anak perempuan ini ... tidak peduli dengan cara orang lain menilainya.


Naira adalah sosok yang tak akan bisa digantikan oleh apapun dan siapapun.