
"Mimpi?" tanya kedua pangeran yang kini menatapku dengan kening berkerut.
Aku hanya mengangguk perlahan sebagai ganti jawaban.
" Aku tau ini memang terdengar tidak masuk akal. Tapi, aku harap pangeran berdua masih bersedia mendengarkan ceritaku ini."
Kataku lagi dengan tatapan memelas.
Kedua pangeran saling menatap sejenak, sebelum mengiyakan dan setuju untuk kembali menjadi pendengar. "Terima kasih, aku tidak tau apa cerita ini akan cukup mampu membuat kalian berdua mengerti tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini."
"Mimpi ini terjadi ketika aku mengalami koma setelah terjatuh dari tangga dan tidak sadarkan diri selama berhari-hari."
"Dalam mimpi tersebut, aku melihat masa depan kita."
"Aku, Pangeran Reynald, Pangeran Richardo, serta nona Araya."
Ucapanku rupanya cukup mampu membuat wajah Pangeran Richardo menegang.
Pangeran Reynald nampak menahan nafas.
Namun, masih tidak kehilangan sikap tenangnya.
"Di dalam mimpi tersebut, kalian berdua sebenarnya telah jatuh cinta dengan nona Araya, sedangkan aku adalah seorang nona muda dari keluarga Archduke yang suka menjahati nona Araya."
Ujarku yang semakin membuat kening kedua pangeran menekuk dalam.
"Di dalam mimpi tersebut aku dan Pangeran Richardo sebenarnya telah bertunangan."
"Tetapi, karena saya bersikap terlalu kenak-kanakan dan egois, Pangeran Richardo mungkin menganggap saya kurang pantas untuk menjadi seorang calon permaisuri."
Terangku sekali lagi pada sosok pangeran yang saat ini berwajah terkejut dan tidak percaya.
"Lalu, bagaimana bisa aku dan Pangeran Richardo bisa tiba-tiba jatuh cinta dengan nona Araya?" tanya Pangeran Reynald seolah mewakili pertanyaan yang terpendam dalam hati Pengeran Richardo juga.
"Aku tidak tau, Pangeran."
"Dalam mimpiku itu, aku hanya melihat bagaimana aku tumbuh menjadi seorang lady yang benar-benar menyandang gelar Iblis."
"Bagaimana pangeran Richardo akhirnya memilih nona Araya yang lembut dan baik hati seperti malaikat. Lalu, menghukumku yang sudah melukai nona Araya."
Kataku hanya merunduk.
Tak ingin melihat bagaimana ekspresi kedua pangeran yang sudah sangat amat terkejut dan masih merasa tidak mampu mempercayai hal tersebut.
"Pangeran Reynald juga sepertinya tidak ingin mengalah soal nona Araya, jadi memutuskan untuk berduel dengan Pangeran Richardo."
"Namun, sebelum kejadiannya semakin parah, nona Araya datang menghentikan kalian dan memilih Pangeran Richardo."
Kali ini aku memberanikan diri untuk melihat ekspresi wajah bengong Pangeran Richardo, yang kedua alisnya masih juga saling merekat.
"Pangeran Reynald yang tidak bisa menerima hal tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali ke Caylon. Namun ...."
Kataku lagi kini menoleh ke arah Pangeran Reynald yang sedikit tersentak.
"Pangeran Reynald yang sudah di ambang keputus-asaan karena tidak bisa mendapatkan cinta nona Araya, memecahkan perang dimana-mana."
"Alasan mengapa aku tidak bisa membiarkan Pangeran Reynald jatuh cinta dengan nona Araya adalah ... karena saya tidak ingin melihat Pangeran Reynald terluka."
Jelasku yang membuat ekspresi Pangeran Reynald sedikit tertegun, lalu kemudian berubah menjadi haru.
"Terima kasih banyak Nona Naira."
"Anda bahkan sampai memikirkanku seperti ini. Nona Naira memang adalah seorang malaikat."
Pujinya dengan senyum tulus dan hangat.
"Nona Naira, lalu bagaimana dengan nasibmu sendiri? Dalam mimpi tersebut, apa yang terjadi padamu?" tanya Pangeran Reynald yang kembali memasang wajah cemas.
"Aku ...."
Aku merunduk lagi sebelum melanjutkan ceritaku.
"Aku menunggu hukuman di dalam dungeon kerjaan Iztanha."
Senyum penuh luka terukir di bibirku.
"... Katakan padaku, nona Naira ...."
"Apakah ... aku sendiri yang menghukummu? Di dalam mimpimu itu ...."
"Apakah aku yang akan memberimu hukuman??" tanya Pangeran Richardo yang menatapku tajam, raut wajahnya mengungkapkan ekspresi yang tak mampu kubaca, sedih, marah, terluka, kecewa.
Dan entah ekspresi apa lagi yang terlihat di wajahnya yang masih mengerutkan kening itu.
"Benar ... Yang Mulia ... aku menerima hukuman tepat di saat Pangeran Richardo menobatkan nona Araya sebagai permaisuri."
Jelasku lagi, tak mampu tersenyum.
Mengingat hal tersebut, rupanya cukup mampu membuat dadaku sakit.
Aku membuang pandanganku dari Pangeran Richardo.
Sampai kemudian,
BRAK!!!
Bunyi dobrakan di atas meja membuatku dan Pangeran Reynald cukup tersentak.
"BOHONG!!! Itu pasti bohong, kan?! Mana mungkin aku ... aku tidak mungkin menghukummu ...."
Aku benar-benar terkejut dengan bagaimana Pangeran Richardo merespon ceritaku.
Novel yang kurangkai sedemikian rupa agar ceritanya bisa kuanggap sebagai mimpi.
"Yang Mulia Pangeran Richardo boleh tidak mempercayai kata-kata saya ...."
"Tapi, itulah yang terjadi selama saya mengalami koma."
"Mimpi itu terus diulang hingga rasanya saya bisa gila."
Kataku lagi kini memegang kepala dan mencengkeram rambut dengan ditambahkan ekspresi tertekan yang cukup meyakinkan.
Paling tidak aku tidak perlu mengungkap jati diriku yang sebenarnya kepada mereka.
"Pangeran Richardo, alasan mengapa perasaanku pada Yang Mulia berubah, juga sikap dan tutur bicaraku, adalah karena aku mempercayai bahwa mimpi tersebut adalah pengelihatan masa depanku."
"Jika aku tidak berubah maka aku akan mati."
Kataku lagi dengan tatapan mengiba yang serius.
Yups, ini adalah sandiwara.
Drama yang kubuat dengan begitu mendadak agar para pangeran ini tau kalau sesuatu akan terjadi di masa depan, tanpa perlu aku mengungkap hal yang sebenarnya.
Yaaa ... walaupun harus kuakui, ini sama halnya dengan mengatakan kepada Pangeran Richardo.
"Udah kamu menyerah saja soal Naira, karena jodohmu sejak awal sampai nanti adalah Araya."
Akhir-akhir ini sepertinya aku baru menyadari kalau Pangeran Richardo juga mulai menaruh perasaan pada Naira.
Bisa kita lihat saat bagaimana dia dengan mudahnya mengatakan akan bertanggung jawab atas kecelakaan ciuman itu dan menikahi Naira.
See, hal yang terlalu berlebihan untuk dipikirkan oleh anak sesusianya.
Juga dengan bagaimana saat ini Pangeran Richardo melihatku.
Ekspresinya itu, lho, aslinya sumpah aku nggak tega.
Batinku menjerit.
"Jadi ... asal kau selamat, kau tidak peduli walaupun aku nanti akan menikah dengan Araya?" tanyanya menundukkan kepala.
Pangeran Richardo berdiri tegak dengan kepalanya yang sudah menggantung, kedua tangan itu mengepal dengan erat.
"Pangeran Richardo ...."
Gumamku yang melihat bagaimana akhirnya sosok pangeran yang selalu bersikap tenang dan dewasa itu kini terlihat begitu rapuh dan kecil.
"Kenapa bukan Pangeran Reynald saja yang menikah dengan Araya dan aku menikah denganmu!!!"
Protesnya lagi kini menatapku dengan kening mengerut kesal. kedua tangannya lagi-lagi menggebrak meja seolah tidak terima.
EH???
Tanyaku dalam hati setelah mendengar ucapan Pangeran Richardo tersebut.
Rupanya Pangeran Reynald pun juga ikut tertegun dengan apa yang sudah dikatakan oleh sepupunya tersebut.
"Kau sendiri bilang kalau Pangeran Reynald juga jatuh cinta pada Araya, bukan?!"
"Jadi kenapa aku yang harus bersama gadis itu dan malah menghukummu."
"Berikan saja Araya pada dia, jadi aku bisa menyelamatkanmu."
"Apa maksudmu dengan aku yang harus bersama Araya?"
Kini ganti Pangeran Reynald yang sewot, menampik telunjuk Pangeran Richardo yang tertuju tepat di depan wajahnya.
"Dalam mimpi Naira, kau itu sangat mencintai Araya sampai-sampai mengalami depresi dan pergi berperang."
"Aku hanya mau bilang kalau Araya menikah denganmu, sama saja artinya dengan aku menyelamatkanmu dan Naira."
Kata Pangeran Richardo kini dengan angkuhnya sambil berlipat tangan.
.... sebenarnya sih, kalau dipikir-pikir benar juga apa kata Pangeran Richardo.
Kalau aku menyerahkan nona Araya pada Pangeran Reynald yang lebih memiliki obsessi dengan gadis itu. Maka bukankah sama jadinya dengan aku dan Pangeran Reynald selamat dari Bad ending.?!
Akupun ikut bertopang dagu dan melipat tangan di dada.
Jadi selama ini apa aku salah ambil rute, ya?
Tany ku sendiri, bingung.
"Kenapa aku harus bersama gadis lain kalau aku sudah punya seseorang yang kucintai di sampingku."
Ucap Pangeran Reynald dengan santai sembari merangkulkan lengannya padaku.
Kaget, aku pun menoleh ke arah Pangeran Reynald yang memberi senyum ke arahku.
"Khg ...."
Pangeran Richardo yang masih terlihat tidak terima, sebenarnya ingin menyatakan another protest.
Namun, entah mengapa seolah ada yang menyumbat di kerongkongannya, hingga tak satu kata pun dapat keluar dari bibirnya.
"Pangeran Richardo ...."
Panggilku pelan.
"Jadi ...hanya karena alasan itu, kau merubah perasaanmu terhadapku dan menyarankanku agar tidak melanjutkan pertunangan kita?" tanyanya kini padaku dengan tatapan terluka.
Yak Jleb ...
Lagi-lagi tatapan itu membuat my kokoro bleeding.
The wound is so deep sampai-sampai aku gak tega mau lanjut bersandiwara.
"Maaf Yang Mulia ...."
Akhirnya aku memutuskan untuk nangis saja deh.
"Saya benar-benar minta maaf ... saya tidak bermaksud melukai anda ... saya hanya takut ... saya tidak mau mati saat saya jadi wanita jahat ...."
Ucapku dengan sesenggukan.
UN-TUNG-NYA~
Air mataku mengalir deras dengan sangat sempurna.
Keknya aku memang pantas dapat piala Oscar untuk nominasi Awards kategori artis terbaik di dunia Isekai.
"Maaf ... maaf karena sudah begitu egois mengorbankan perasaan Anda untuk menyelamatkan diri saya ... maaf, maaf ... tolong maafkan saya ...."
Pintaku yang membuat kedua pangeran semakin panik.
"Nona Naira, sudah ... sudah ... tidak apa-apa"
Ucap Pangeran Reynald yang berusaha menenangkanku.
Karena aku masih tidak bergeming dan malah menggelengkan kepala.
*Aku bilangin, nih, ya*.
Aku gak minta lho.
Tapi, Pangeran Reynald sudah menarikku kedalam pelukannya.
Mendekapku erat sambil mengusap-usap penggungku.
I didnt ask for this but i'm lovin it. parapapapa ...
Gurauku menutupi kenyatan kalau aku juga merasa malu.
"Richardo, berhentilah bersikap kekanak-kanakan dan terima saja takdirmu yang berjodoh dengan Araya." Kata Pangeran Reynald yang membuatku tertegun, sampai-sampai airmataku ikut berhenti.
"Kenapa aku harus mendengarkan ucapanmu?"
"kalau kau memang ingin menyelamatkan Naira, berikan dia padaku dan kau bisa menikah dengan Araya tanpa harus memecahkan perang dimana-mana."
Jawab Pangeran Richardo sewot dengan perkataan Pangeran Reynald.
"Aku sudah punya nona Naira, jadi kau tidak perlu mencemaskanku."
"Asalkan nona Naira bersamaku, aku yakin tidak akan merasa perlu memecahkan perang di mana-mana, kecuali bila itu menyangkut keselamatan nona Naira."
Kata Pangeran Reynald lagi yang entah kenapa sangat perlu memperlihatkan senyum menyeringai pada sepupunya tersebut.
"Lagipula, aku yakin alasanku jatuh cinta dengan gadis yang bernama Araya itu, karena di dalam mimpi nona Naira, aku tidak bertemu dengan nona Naira sama sekali."
"Nona Naira di dalam mimpinya adalah tunanganmu."
"Sebagai saudara sepupumu, aku tidak mungkin punya niat untuk mengambil calon permaisuri Kaisar Faireniyan, bukan?!"
Lanjut Pangeran Reynald lagi yang membuatku terdiam, karena ikut berpikir.
"Ditambah lagi, nona Naira di dalam mimpinya adalah seorang lady yang bersikap selayaknya bagaimana orang-orang selama ini menyebutnya."
"Secara logika, jangankan kau, aku pun tidak akan mau melirik gadis yang hanya bisa bersikap egois dan berperilaku buruk untuk kuangkat sebagai calon permaisuriku."
Aku yang disebut-sebut dari tadi entah kenapa merasa baik-baik saja.
"Tetapi, sekarang nona Naira sudah berubah karena dirinya tidak ingin mati di tanganmu."
Kata Pangeran Reynald kali ini terdengar cukup ...
How do i put it.
Menusuk.
"Aku tau kalau Naira sudah berubah karena ia tidak ingin prediksi dalam mimpi itu menimpanya."
"Tapi, bukan berarti kau ingin aku mengikuti alur dalam mimpi itu, kan?!"
Protes Pangeran Richardo yang menatap jengkel ke arah Pangeran Reynald.
"Naira sudah berubah."
"Dia berubah menjadi gadis baik dan aku menyukainya."
"Aku sangat menyukainya sampai-sampai aku tidak rela kalau hanya dianggapnya sebagai sahabat dekatnya saja."
Ungkap Pangeran Richardo yang membuat mataku terbelalak sempurna.
Daaaaaan~
Akhirnya dia pun mengungkapkan perasaannya pada Naira.
Padahal aku ingin dia mempertahankan perasaannya itu sampai aku merasa gemas.
Tapi, sepertinya situasi kali ini membuat Pangeran Richardo sudah tak mampu membendung perasaannya yang ia pendam dalam-dalam terhadap Naira.
Lalu, aku yang lagi enak-enak an karena masih ingin dipeluk sama Pangeran Reynald harus gimana b-t-w? Kalau misalnya aku tolak, Pangeran Richardo gak malah yang ganti mengibarkan bendera perang dengan Ceylon, kan?!
Tanyaku pada diri sendiri, kini yang sudah berkeringat dingin karena pusing memikirkan banyaknya kemungkinan.
"Aku tau kalau kau punya perasaan pada nona Naira, bahkan sebelum nona Naira berubah seperti ini."
Ucap Pangeran Reynald dengan tenangnya.
"Tetapi, dalam mimpi nona Naira, kau sepertinya sudah di takdirkan akan bersama nona Araya."
"Kejadian yang menimpamu bersamanya adalah bukti bahwa kau tidak bisa mengubah takdirmu itu, Ricky." Jelas Pangeran Reynald masih juga dengan senyumnya yang menyeringai senang.
Pengeran Richardo tertegun.
Sepertinya ia masih akan melakukan aksi protes lagi demi untuk membela diri dan masa depannya.
BERSAMBUNG :D
Jangan lupa nantikan kisah Naira Si Innocent Litle Villain berikutnya ^0^)/