
Naira's POV
Apa yang terjadi sebenarnya, sih?
Batinku dengan ekspresi ketidak percayaan, ketika melihat sosok pemuda tampan yang tentu saja dari aura kedewasaan-nya, dia memiliki daya tarik dan kharisma berkali-kali lipat jauh dibandingkan dengan si pangeran cilik.
Tentu saja ekspresiku yang sangat terlihat sekali, membuat si pangeran cilik dan pemuda tampan, yang namanya saja aku belum tau, itu sedikit tertegun dan entah kenapa seolah berusaha untuk tidak tertawa.
"Ma-maafkan ketidak-sopanan hamba Yang Mulia."
Kataku sedikit membungkuk untuk memberi salam hormat.
"Aku juga minta maaf karena tiba-tiba orang ini ikut datang, walaupun tidak diundang."
Ucap sang pangeran cilik yang memperlihatkan ekspresi annoyed.
"Dia adalah putra mahkota dari kerajaan Negara Caylon. Kaisar dari negara tersebut adalah adik kandung ayahanda, jadi bisa dibilang kalau dia ini adalah sepupuku."
Jelas si Pangeran cilik padaku yang masih bengong memperhatikan si pemuda tampan, yang namanya masih aku cari dalam memori ingatanku sendiri sebagai seorang reader novel ini.
"Namanya adalah Reynald Von Versoine."
Bagai disambar geledeg.
Akhirnya aku mengingat siapa pemuda tampan di hadapanku ini.
Dalam Novel "My Precious Princess" dia adalah tokoh yang paling menarik perhatianku.
Walaupun, tentu saja dia tidak bisa berakhir bahagia dengan sang tokoh utama.
Tetapi, perjuangannya dalam mengambil hati si main hero sangat membuatku cemburu.
Di masa mendatang ketika cerita dalam novel ini mulai berlangsung.
Reynald Van Versoine adalah seorang kaisar berdarah dingin yang jatuh cinta pada sang tokoh utama.
Dia yang sangat terobsesi ingin memiliki Araya, melakukan segala cara agar gadis itu mencintainya.
Namun, cinta Araya yang memang hanya teruntuk si male main-lead, akhirnya menumpahkan perang. Dimana kemudian berujung pada kematian Reynald di tangan si pangeran cilik kita, Richardo.
Kenanganku akan cerita tersebut, rupanya membuat kedua putra mahkota di hadapanku terkejut setengah mati.
?!
Aku sendiri terkejut dengan mengapa mereka memberiku ekspresi seperti itu.
Sampai kemudian Pangeran Reynald beranjak dari sofanya dan menghampiriku.
Barulah aku sadar bahwa aku telah menitikkan airmata.
"Ma-maafkan hamba Yang Mulia."
Kataku masih tidak mampu membendung airmataku yang masih mengalir deras ketika mengenang hal tersebut.
Pangeran Reynald yang masih bingung harus berbuat apa akhirnya memelukku.
"Sudah tidak apa-apa ... aku tau ini pasti sulit bagimu."
Ucapnya yang tidak kupahami, "kamu sebenarnya tidak ingin pangeran membatalkan pertunangan kalian, bukan?" katanya padaku yang kini menatapnya dengan ekspresi tertegun.
Begitu rupanya.
Dia pikir aku menangis karena tidak kuat membendung perasaan takut akan kehilangan pangeran.
Padahal, dimana sebenarnya bukan itu maksudku.
Kupaksakan senyum di bibirku dan kemudian menggelengkan kepala berusaha mengusir rasa sedihku.
"Maafkan hamba Yang Mulia. Tapi, sungguh saya sedih bukan karena hal itu. Maaf sudah membuat kalian semua bingung."
"Tujuan saya datang kemari adalah memastikan bahwa Pangeran Richardo akan benar-benar membatalkan rencana pertunangannya denganku."
Jelasku kini dengan sorot mata jernih yang kusampaikan pada Pangeran Richardo.
Aku tidak mengerti kenapa pangeran Richardo seolah terlihat shok dengan ucapanku.
Walaupun, kemudian dia menutupinya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Apa kau benar-benar serius dengan ucapanmu, Nona Naira?" tanya Pangeran Reynald padaku, yang kini bertatapan dengannya, yang masih berlutut di hadapanku.
"Ma-maaf apa saya salah bicara? Maaf?!" kataku panik yang malah membuat kedua pangeran tertegun.
"Kau sendiri yang ingin aku agar membatalkan rencana pertunangan ini. Kenapa kau malah minta maaf?"
Tanya Pangenran Richardo yang seolah terkesan annoyed.
DEG!!
Aku benar-benar tidak bisa berhadapan dengan orang sedingin ini.
Tapi, aku adalah seorang putri keluarga Archduke. Jadi aku harus lebih merasa percaya diri lagi.
Kedua tanganku mengepal di atas lutut, aku menggigit bibir bawah karena grogi.
Sifat inferiority-ku di kehidupan sebelumnya masih ada dan terbawa.
Apa aku akan baik-baik saja?
Aku sudah mendoktrin diriku sendiri bahwa aku harus menjaga kehidupan ke duaku ini baik-baik.
Menjauhi masalah dengan para protagonis paling tidak hingga berusia 17 tahun.
Dimana Itu artinya aku harus bersikap selayaknya seorang villain, yang juga tentu saja, DENGAN BAIK.
Kuhirup napas dalam-dalam untuk sesaat sebelum kuutarakan isi hatiku pada pangeran.
Aku yakin beliau akan mengerti kenapa tiba-tiba aku berubah seperti ini dan mau menerima alasanku ini dengan hati terbuka.
"Maafkan atas kelancangan hamba Yang Mulia. Satu-satunya alasan hamba meminta maaf seperti tadi adalah karena, hamba takut permintaan egois hamba kali ini akan menempatkan keluarga Van Vellzhein dalam masalah."
Kataku mengawali.
"Kau takut kalau keluargamu akan mendapatkan masalah karena kau ingin pangeran membatalkan rencana pertunangan kalian?!"
Tanya Pangeran Reynald yang seolah mengulang kalimat dan maksudku.
Aku mengangguk untuk membenarkan hal tersebut.
"Kalau kau cemas mengenai hal tersebut lalu kenapa kau mengusulkan hal itu pada Pangeran?" tanya Pangeran Reynald lagi yang masih tidak percaya dengan ucapanku.
Harus kah aku mengatakan bahwa aku sudah tidak lagi mencintai Pangeran Richardo?
Bolehkah aku mengatakan hal tersebut tanpa perlu menyakiti perasaan beliau?
Apa yang sebaiknya kukatakan pada si pangeran?
Apa kalimat yang ada di dalam kepalaku saat ini cukup sopan?
Kembali kebiasaan lama di kehidupanku sebelumnya muncul.
Perasaan tertekan untuk menjelaskan alasan atas tindakanku membuatku kehilangan kata-kata.
Hingga kemudian Pangeran Reynald angkat bicara.
"Apa kau merasa sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Yang Mulia Pangeran Richardo? Atau kau memilki perasaan lain sehingga kau ingin sang pangeran membatalkan rencana pertunangan yang dulu sangat kau dambakan?"
Ucapan Pangeran Reynald rupanya cukup mampu membangun keberanian dalam diriku.
Akhirnya aku memantapkan diri untuk mengungkapkan isi hatiku pada pangeran Richardo yang kini terlihat upset dengan keterdiamanku.
Benar.
Aku dulunya mungkin mencintai Pangeran Richardo tanpa alasan.
Tapi, maafkan aku Naira, sekarang ini dalah hidupku.
Jadi, aku berhak memilih jalanku dan orang yang kupilih untuk kucintai.
"Sebelumnya sekali lagi hamba meminta maaf yang sebesar-besarnya pada anda Yang Mulia. Saya harap anda bersedia mendengarkan alasan saya."
Melihat bagaimana teguhnya pendirianku akhirnya Pangeran Richardo mempersilahkan aku untuk bicara.
Singkatnya, aku mengatakan pada yang mulia pangeran bahwa aku telah sadar sudah membuat kesalahan fatal dengan berbuat seenaknya dan bersikap egois hingga menyulitkan posisi sang pangeran.
Aku juga mengatakan pada yang mulia pangeran bahwa setelah insiden kecelakaan yang kualami tersebut adalah bukti bahwa aku memang masih kekanak-anakan.
Dengan alasan yang sama seperti yang kuberikan pada Anne.
Sehingga pada akhirnya aku mendapatkan hukuman seperti itu, untuk bisa introspeksi diri.
"Yang Mulia Pangeran Richardo. Hamba sungguh sangat menyesal. Hamba tau permintaan ini sangat keterlaluan, mengingat bagaimana hamba bersikap seenaknya dengan memaksa Anda untuk menjadikan hamba sebagai tunangan yang Mulia."
"Tetapi sekarang saya sadar dan sebelum semuanya terlambat. Saya ingin meminta kemurahan hati Yang Mulia Pangeran agar Anda bersedia membatalkan rencana pertunangan kita."
Jelasku yang masih membuat kedua pangeran tertegun, bahkan mungkin speechless dengan kata-kataku. Melihat bagaimana reaksi kedua pangeran masih terdiam seolah kehilangan kata-kata.
Kembali membuatku berpikir, apakah aku sudah salah memilih kalimat yang tepat?
" ... Benarkah itu yang kau rasakan sekarang?" tanya sang pangeran cilik.
"Ya?" tanyaku seolah tak mendengar pertanyaannya.
"Jadi intinya kau sudah tidak menyukaiku lagi? Kau sudah tidak menginginkanku lagi seperti dulu?" tanya si Pangeran cilik lagi yang malah kini membuatku dan Pangeran Reynald tertegun.
"Maksud Yang Mulia?" tanyaku benar-benar tak memahami apa maksud ucapannya.
"Katakan saja apa benar kau sudah tidak memiliki perasaan apapun padaku?" tanya si Pangeran cilik lagi terdengar upset.
"Tentu saja bukan berarti saya sudah tidak menyukai Pangeran Richardo sama sekali. Tetapi, perasaan kali ini, bukalah perasaan yang ingin memiliki Anda sepenuhnya."
"Saya menyukai Anda, Yang Mulia."
"Anda adalah sosok yang akan dan selalu dicintai seluruh penduduk Faireniyan."
Jelasku dengan senyum manis.
"Lagipula entah kenapa saya merasa yakin bahwa suatu saat nanti, Yang Mulia Pangeran Richardo akan bertemu dengan seorang gadis."
"Gadis yang akan membuat anda jatuh cinta."
Kataku lagi yang kembali membuat kedua pangeran tertegun luar biasa.
Oops!!
Cara bicaraku mulai terdengar dewasa.
Aku rasa sampai di sini saja dan aku harus diam sampai Pangeran menyuruhku bicara lagi.
Batinku dalam hati.
Okee ... aku rasa mereka sudah mulai menaruh curiga dengan perubahanku ini.
Gimana, nih??
Masih menyunggingkan senyum yang kali ini dipaksakan.
Aku seolah bisa merasakan keringat dingin mengucur di punggungku karena tatapan mereka yang semakin menusuk relung jantungku.
Third Person's POV
Beberapa saat setelah nona Naira beserta Buttler-nya pergi meninggalkan ruang tamu Istana Iztanha.
Pangeran Reynald yang masih mengawasi kepergian nona kecil Naira dari balik jendela ruangan tersebut.
Mengajukan pertanyaan pada pangeran kecil Richardo yang masih terdiam sambil bertopang dagu pada single sofa-nya.
"Apa kau benar-benar yakin akan keputusanmu itu, Ricky?"
Pangeran Richardo hanya melirik dengan ekspresi datar.
"Kau dengar sendiri kalau dia sudah benar-benar tidak memiliki perasaan terhadapku, kan?! Jadi untuk apa aku harus memaksanya melanjutkan pertunangan ini?" ujarnya lagi berpaling.
"Kau bukannya sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, kan?" ungkap Pangeran Reynald yang membuat Richardo tertegun sejenak.
"Aku bukannya membenci Naira. Dia memang manja, egois, kekanak-kanakan dan seenaknya."
Kata Richardo.
Membuat Pangeran Reynald merasa bahwa sepupunya itu sama sekali tidak bisa melihat satu pun atau berusaha mencari hal baik dalam diri Naira.
"Aku merasa tidak ada hal baik tentang anak itu yang bisa membuatku menyukainya."
Jelas sang pangeran lagi
"Tapi, entah kenapa setiap ia melakukan hal-hal yang egois seperti itu. Dia terlihat sangat manis ketika tersenyum begitu dirinya telah mendapatkan apa yang ia inginkan."
"Dengan senyum mengembang dia mengucapkan terima kasih ...."
Gumam Pangeran Richardo yang masih dengan sangat jelas terdengar oleh Pangeran Reynald.
Melihat bagaimana sepupunya mengungkapkan hal tersebut sambil melamun.
Ia tau bahwa sebenarnya Richardo sedikit banyak menaruh perasaan pada Nona kecil Naira.
Itulah sebab mengapa dirinya sangat terkejut ketika mengetahui alasan Naira datang adalah untuk memastikan bahwa Pangeran Richardo benar-benar akan membatalkan rencana pertunangan mereka.
Itu pulalah yang menjadi alasan mengapa Pangeran Richardo melontarkan pertanyaan seputar perasaan yang dimiliki Nona kecil Naira terhadapnya.
Reynald kembali teringat akan sepenggal kalimat yang diucapkan oleh Richardo waktu itu.
" ... Benarkah itu yang kau rasakan sekarang?" tanya sang Pangeran cilik.
"Ya?" tanya Naira seolah tak mendengar pertanyaannya.
"Jadi intinya kau sudah tidak menyukaiku lagi? Kau sudah tidak menginginkanku lagi seperti dulu?" tanya si Pangeran cilik lagi yang malah membuat Naira dan Pangeran Reynald tertegun.
"Maksud Yang Mulia?" tanya Naira benar-benar tak memahami apa maksud ucapannya.
Dalam benak Reynald.
Sepupunya mungkin syok setelah mengetahui bahwa perasaan Naira yang dulu sangat besar untuknya kini sudah tidak ada lagi.
Kemungkinan besar Sepupunya sadar bahwa sikap dingin dan tidak pedulinya pada Naira-lah yang mengakibatkan semua ini terjadi.
Reynald tau bahwa Richardo memang sengaja melakukan hal tersebut.
Walau bagaimanapun, ia dengan atau tanpa sengaja menyakiti perasaan Naira.
Ia yakin bahwa gadis itu tidak akan pernah meninggalkannya.
Reynald menyangka bahwa Richardo merasa terlalu percaya diri bahwa Naira tidak akan pernah berubah dan hanya akan mencintainya apapun yang terjadi.
Namun, kenyataannya sekarang gadis itu malah dengan terang-terangan menyatakan bahwa dirinya telah sadar bahwa dia tidak pantas mendampingi sang pangeran.
Kalimat Naira waktu itu tentunya merupakan pukulan yang cukup keras bagi Richardo yang mengira bahwa Naira hanya akan mencintai dia selamanya.
"Saya menyukai Anda, Yang Mulia."
"Anda adalah sosok yang akan dan selalu dicintai seluruh penduduk Faireniyan."
Jelas Naira dengan senyum manis.
Reynald kembali mengingat hal tersebut.
Senyum Naira dan bagaimana cara gadis itu menatap Pangeran Richardo.
Sama sekali tanpa keraguan.
Reynald sendiri waktu itu seolah melihat sosok dewasa dalam diri Naira.
Entah kenapa, senyum Naira waktu itu membuat Reynald merasa sedikit berdebar.
"Dia bilang dia masih akan tetap datang di pesta ulang tahunmu."
Kata Pangeran Reynald.
"Kalau kau memang tidak menyesal dengan keputusanmu. Maka, lakukan seperti apa yang gadis itu harapkan."
Pangeran Richardo kembali mengingat ucapan Naira sebelum gadis itu berpamitan pergi.
"Yang Mulia Richardo. Saya benar-benar berterima kasih atas kebaikan dan pengertian Anda. Saya harap setelah ini pun hubungan kita tidak berubah.
"Saya tau ini terdengar sangat egois. Tapi, saya ingat sekali bahwa anda lah satu-satunya teman yang saya miliki selama ini ... mungkin itu sebabnya saya sangat-sangat menyukai anda sampai jadi seperti itu."
Ungkap Naira tanpa beban yang malah membuat Richardo terkejut setengah mati.
NARATOR
Satu masalah Naira sepertinya sudah teratasi. Namun, kenapa Pangeran kecil kita merasa sedih?
Setelah ini apa rencana Naira dalam menjalani kehidupannya sebagai seorang Villain? Apakah Naira akan benar-benar mencoba menjadi orang jahat?
Nantikan kisah selanjutnya :D