My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(Session 2) Page 9: Another Story Part Three



Third person's POV


Selang beberapa hari setelah kejadian tersebut. Arvan berusaha keras agar Naira, adik perempuan tercintanya, itu tidak memiliki waktu untuk melamun dan tenggelam dalam dunianya. Dirinya meminta kepada seluruh penghuni istana yang berhubungan dengan Naira secara langsung, agar mengajak gadis itu bermain dan membuat gadis itu sibuk. Hal yang menjadi kewajiban bagi Anne dan Derrick yang merupakan babysitter Naira untuk melaksanakan mandat tersebut.


Dalam pengamatan Arvan, yang teramat sangat mencintai Naira, sampai pada tahap terobsesi itu. Menyatakan bahwa kesedihan Naira yang selalu mendadak muncul dan membuatnya sampai menangis itu karena Naira sering melamun. Walaupun Arvan tidak mengetahui alasan sebenarnya Naira melamun. Tetapi, paling tidak bagi Arvan, asal bisa membuat Naira sibuk bermain.


Dia tidak akan lagi melihat Adik perempuan terkasihnya itu sedih hingga menangis. Rencana Arvan berhasil dengan sukses. Didukung sepenuhnya oleh Yang mulia Maha Raja, Queen Mary, Roland dan seluruh pegawai istana Iztanha yang mana dengan sukarela mendaftarkan diri untuk menjadi teman bermain Naira.


Di kamar Naira.


"Tinggal dua hari lagi, acara ulang tahun nona Naira akan dilangsungkan." Kata Anne dengan wajah sumringah,"saya jadi benar-benar tidak sabar untuk bisa dengan seger mendandani nona Naira." Sambungnya lagi kini memegangi kedua pipinya yang sudah bersemu merah.


Naira yang tengah bermain dengan papan gambarnya dipangkuan Anne hanya mampu memberikan senyum imut dan berpura-pura polos pada maidnya itu. Anne yang hampir saja wasted karena nosebleed itu akhirnya tersadar dengan suara ketukan diluar pintu kamar Naira.


Suara merdu Arvan akhirnya membuat Anne dengan terpaksa harus menurunkan Naira di karpet lantai untuk membukakan pintu bagi sang pangeran. Pada detik berikutnya, saat Anne telah membukakan pintu kamar Naira, Arvan terlihat berlari menerjang tubuh Naira yang kemudian sudah berakhir dalam pelukannya.


"Hei, tidak bisakah kau hentikan kelakuanmu yang terlalu berlebihan itu?" Tanya Roland yang berjalan memasuki ruangan.


"Apa maksudmu?" Tanya Arvan dengan seringainya.


"Tidakkah kau merasa puas sudah memonopoli Naira sejak kemarin?" Tanya Roland lagi kali ini dengan tatapan kesal.


"Makanya kan aku tanya, maksudmu apa? Memonopoli Naira seharian penuh adalah hadiah bagi siapapun yang memenangkan duel latihan. Kita berdua sudah setuju bukan?" Jelas Arvan panjang lebar, masih dengan seringai yang mengembang di bibir tipisnya.


Roland hanya berdecak kesal dengan kenyataan bahwa dirinya memang sudah kalah telak dalam duel latihan bersama Arvan sejak kemarin. Melihat bagaimana depresinya Roland membuat Naira jadi memiliki ide jahil. Dengan berlagak merengek ala bayi, Naira berusaha melepaskan diri dari pelukan Arvan yang masih memanjakan diri pada keimutannya.


"Uweeh... uwhh...uhk..."


Tak hanya Arvan, Roland dan Anne yang berada di belakang mereka, ikutan terkejut mendapati Naira sudah seperti akan siap menangis pada detik berikutnya.


Roland masih terlihat ragu untuk mendekati adik perempuannya itu yang masih dalam penjara pelukan Arvan. Namun, ketika melihat bagaimana Naira yang kemudia merentangkan kedua tangan mungilnya. seolah ingin meraih Roland. Membuat pangeran muda itu melangkah menghampiri Naira.


Setelah merasa cukup dekat, dengan ragu-ragu Roland mengulurkan kedua telapak tangannya pada Naira, dimana kemudian pada detik berikutnya Naira menggenggam kedua telapak tangan yang hangat tersebut erat dan menariknya. Seolah mengisyaratkan pada Roland bahwa ia ingin digendong olehnya.


Roland yang seakan mengerti bahasa tubuh dan ekspresi Naira, dengan wajah sumringah langsung mengangkat tubuh bayi Naira dan meloloskannya dari pelukan Arvan. "Na-Naira...?" Tanya Arvan yang seolah mendapati dirinya telah ditinggal pergi oleh sang kekasih.


"See, Naira sendiri bahkan sudah merasa bosan terhadapmu." Kata Roland yang langsung membuat Arvan syok seketika.


Melihat bagaimana oniichan tertuanya itu sudah seperti akan tumbang saat itu juga, membuat Naira jadi tak tega untuk menggodanya lebih lama.


"Akak... Aphan...tuka." Katanya dengan logat bayi dan senyum semanis gula pada Arvan yang kini sudah kembali terlihat ceria.


Roland yang agak kesal mengetahui bahwa Naira masih juga membela saudaranya yang menyebalkan itu, membiarkan saja Arvan dibelakang punggungnya, berusaha menggoda Naira untuk kembali ikut bersamanya.


Beberapa hari berikutnya.


Naira's POV


Gak disangka-sangka, hari ulang tahunku yang pertama selama terlahir kembali menajdi bayi akhirnya datang juga. Anne yang paling antusias dan bersemangat mendandaniku dibantu oleh beberapa maid istana terperanga dengan bagaimana cantik dan imutnya penampilan Naira.


Meskipun masih balita, paras Naira sudah terlihat sangat menawan. Bahkan aku tidak akan merasa heran kalau sampai Naira diculik karena keimutannya. 


(Aigooo) Batinku yang kini tengah menatap ke arah cermin dihadapanku. (Tak bisakah mereka mendandani bayi secara normal? Walaupun iya sih aku paham, kalau Naira di sini itu satu-satunya putri mahkota kesayangan kaisar. Tapi aku meras dandanan kek gini benar-benar terlalu berlebihan bagi BA-YI)


Gerutuku, yang hanya mampu memberikan senyum terimut dan termanis, pada sederetan sosok dengan wajah yang terpesona dipantulan cermin dinding kamarku.


"Naira!?" Kali ini kak Arvan masuk tanpa mengetuk pintu.


Langkah kakinya yang cepat seolah sudah menunjukan bahwa pangeran arogant itu sudah sangat tidak sabar untuk menjemputku. "Arvan!!" Seru kak Roland yang tiba-tiba saja langsung membuat kak Arvan, yang barusan sempat ingin menggendongku, jadi berhenti.


Aku yang hanya bisa mengerjapkan mata sambil menatap kak Arvan dengan wajahnya yang sudah terlihat sangat kesal. "Kau tidak sedang berpura-pura lupa, kan?! Kalau akulah yang menang. Jadi akulah yang berhak menggendong Naira untuk pergi ke Hall istana." Jelas Roland tegas.


Wajahnya yang tampan itu sudah menyeringai senang. Arvan hanya mampu berdecak kesal ketika melihat saudara lelakinya yang juga oniichan bishounenku itu, menggendongku, lalu berjalan keluar kamar disusul oleh kak Arvan dan Anne kemudian.


Bahkan dari jarak 100meter di dalam hallway menuju ballroom pun, kemeriahannya masih mampu terdengar. (Aku gak tau pasti seberapa banyak orang yang sudah Ayahanda Naira undang dalam pesta bayi ini). Batinku yang sudah menelan ludah.


"Pangeran Arvhein Val Delavaro, Pangeran Roland Val Delavaro dan Putri Naira Val Delavaro memasuki ruangan!!!" Seru pengawal penjaga pintu sebelum kemudian membukakan pintu kepada kami bertiga.


Sonta seluruh pengunjung yang hadir didalam ruangan seluas lapangan sepak bola itu menatap kearahku. Saking gugupnya aku yang tiba-tiba diperhatikan seperti itu. Mencengkeram kerah pakaian Kak Roland erat-erat. Hal yang kutakutkan adalah tanggapan orang-orang tentang Naira di dunia ini.


Namun, pada detik berikutnya, ketika kami bertiga sudah menuruni tangga dan menuju singgahsana Ayahanda. Bukanlah keheningan maupun bisikan-bisikan mengganggu dari mulut orang-orang. Melainkan sanjungan, pujian, bahkan ada yang sudah tidak sadar meneriakkan keterkagumannya pada pesona Naira.


Aku makin bengong, tidak sadar bahwa mata belo ungu Naira makin membuat para tamu diruangan itu kena lovestruck, (Inikah kekuatan dunia doujinshi?) tanyaku dengan konyol namun serius. I swear, (Aku ngiranya di dunia inipun Naira masih dibully, dihina, dicemooh, walau hanya dibalik punggungnya saja). 


Setelah dengan enggan kak Roland memberikanku pada Ayahanda, beliau menggendongku di pelukannya sebelum kemudian berdiri untuk memberi sambutan. Sorak sorai dan ucapan selamat menggema didalam ballroom istana, para maid dan butler satu persatu menerima hadiah dari para keluarga nobility tersebut.


Bahkan tidak segan-segan beberapa dari mereka dengan percaya diri dan terang-terangan mengenalkan anak laki-laki mereka kepadaku melalui Ayahanda. Well of course tentu saja hal itu ditanggapi dengan dingin oleh para kakak dan Ayahanda Naira.


THE HECK WAS THAT??? (seriously bro?? Kamu ngenalin putra mahkota kaisar ceylon kek begitu???? Bukannya nyebut nama????) Batinku triple kesal, apalagi aku benar-benar sangat kepo sekali tentang siapa yang menjadi putra mahkota Ilankai tersebut.


Aku hanya mampu menghela nafas panjang sambil menunggu sosok pangeran misterius itu untuk datang menghampiri kami. Namun tak lama kemudian, datang sosok mantan Kaisar Iztanha dari dunia novel tempat aku hidup sebelumnya.


"Semoga berkas Atashi-sama bersama seluruh keluarga Iztanha." Sapa tuan Archduke Yashura yang tengah


membungkuk dengan hormat saat memberi salam kepada kami.


Ayahanda mengangkat tangannya, menandakan bahwa tuan Yashura diijinkan untuk berdiri tegak pada posisinya. Aku yang baru menyadarinya jadi mengalihkan seluruh perhatianku pada sosok anak cowok di sebelah Tuan Yashura. Cowok seusia kak Roland dan kak Arvan itu akhirnya ikut memperhatikan ke arahku.


Mata unguku yang belo semakin membulat saat mendapati wajah tampan yang tak menyunggingkan senyum itu melekat pada kedua bola mataku. Pangeran Reynald?? Batinku yang pada detik berikutnya kembali tersadar. Lho, wait?! Di dunia doujin ini pangeran Reynald itu, anaknya tuan Yashura?? Bukan kaisar Yasha??


Sampai kemudian pertanyaanku terjawab oleh kedatangan sosok kaisar Ceylon bersama sang permaisuri dan putra


mahkotanya. Ayahanda, ibunda dan kedua kakak-kakakku pun turun dari singgahsananya untuk menyambut kedatangan sang kaisar negara Ceylon itu.


“Selamat datang di Iztanha, Yasha!” Sapa Ayahanda pada Kaisar Yasha, tangan kanannya yang bebas menyambut uluran tangan sang kaisar.


“Sudah lama aku tidak berkunjung keistana mu sejak hari kelahiran Naira.” Jawab sang kaisar yang kemudian


membuang seluruh perhatiannya kini padaku.


Aku yang masih mengerjapkan mata karena heran dengan bagaimana akrabnya Ayahanda dengan Kaisar Yasha, akhirnya dipaksa focus oleh bagaimana tampan dan berkharismanya kaisar Ceylon yang kini sudah tersenyum menatap ke arahku.


“Tuan putri kita sudah tumbuh semakin dewasa dan menawan. Say Rakha, apa aku boleh mengadopsi tuan putri mu, sebagai anakku juga?” Tanya Kaisar Ceylon yang membuatku semakin melongo, rupanya kak Arvan dan kak Roland juga sama melongonya sepertiku.


Suara terkekeh Ibunda dibalik kipas beludrunya, rupanya cukup mampu untuk memecahkan ke-awkward-an


situasi kami saat ini. “Anda selalu saja mengulang candaan yang sama semenjak Naira lahir, yang mulia Yasha, bukankah anda dan Queen Yurika sudah mempunyai putra mahkota yang tak kalah adorablenya dengan putri kami!?” Ungkap Ibunda yang kemudian menyadarkanku bahwa sedari tadi ada sosok kepala dibalik Pundak


kaisar Yasha.


Sang Kaisar pun sedikit menyingkir dari pandanganku untuk memberikan tampilan penuh pada sosok yang


tengah berada dalam dekapan yang mulia Queen Yurika. Pangeran Richardo… Ujar batinku lagi kini yang terheran heran dengan sosok imutnya yang juga masih balita.


Wajah arrogant dan soknya itusepertinya memang sudah dari janin. Aku yang gemas dengan bagaimana adorablenya baby boy itu akhirnya memberikan senyum terimut padanya. “Tehehe…a babee boii.” Kataku sambil merentangkan tangan seolah ingin menyentuh sosok bayi imut yang berjarak satu meter dariku itu.


Pada detik berikutnya aku terdiam, suasana tiba-tiba menjadi tegang dan entah bagaimana kulit bayiku yang


sensitive ini mampu merasakannya. Saat aku mengedarkan pandangan keseluruh wajah yang berada dekat di sekelilingku.


Aku bisa melihat bagaimana mereka seolah bengong dan membatu dengan kedua mata membelalak lebar. Namun, kemudian tiba-tiba saja aku seolah mampu melihat bunga-bunga berwarna pink dengan background effect berbentuk hati di seluruh ballroom.


“Ahh aku jadi semakin bingung kalua seperti ini… antara harus mengadopsi Naira, atau mengangkatnya menjadi calon istri pangeran Richardo.” Kali ini Queen Yurika berkomentar.


“Yang manapun itu, aku tidak akan memberikan Putriku satu-satunya ini kepada siapapun. Tidak akan!!” Jawab


Ayahanda kini dengan wajah dingin, yang didukung oleh gestur kak Roland dan kak Arvan yang tiba-tiba saja maju untuk melindungi kami.


Aku hanya mampu tersenyum datar dengan wajah poker face, saat melihat bagaimana kedua kaisar wonderland ini


terlihat seolah tengah berseteru memperebutkan ku, I meant, Naira.


Perhatianku kemudian tertuju pada sosok anak cowok sepantaran kakak-kakakku itu yang berdiri di sebelah tuan


Yashura, tak jauh dari kami. Kedua mata kami saling mengunci, seolah ingatan pada kehidupan di unia sebelumnya mengalir pada ingatan kami berdua. Namun, tiba-tiba saja pandanganku menjadi gelap.


Ternyata sebuah tangan memblokir pengelihatanku. “Naira gak boleh meleng kearah lain.” Ucap kak Arvan yang


wajahnya sudah mejeng dihadapanku setelah berhasil menginterupsi momentku tadi Bersama pangeran Reynald. Aku hanya mampu menghela nafas Panjang dalam hati. Rupanya penyakit Naira di dunia doujin ini sudah parah sekali.


Aku yang sok innocent hanya bisa memberikan senyum gemas, sembari mengusap-usap wajah kak Arvan. Hampir saja kakak lelakiku itu nosebleed kalau bukan karena Pangeran Reynald yang


tiba-tiba datang menyapa kami. “Semoga berkah Atashi-sama Bersama anda, my dear beloved princess Naira-sama.” Sapanya dengan berani mengangkat tangan kananku sebelum kemudian mengecupnya.


Aku seolah bisa merasakan api kemarahan dan urat kesal sudah menyelubungi kedua oniichanku itu dan Ayahanda.


BERSAMBUNG DI EPISODE BERIKUTNYA


Terimakasih bagi kalian yang sudah memberikan komentar menyenangkan dan menghangatkan hati. buat subscriber baru selamat datang dan buat reader lama. Mohon maaf karena jarang update. dan upload epsnya seenak jidat


tapi semoga kalian tetap terhibur dengan kelakuan Nona villaines Naira bersama para followersnya <3