My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(Session 2) Page 10: Another Story Part Four



Third Person's POV


Dipertengahan acara pesta ulang tahun Naira, Kaisar Iztanha, yang mulia Rakha menyuruh Anne dan Derrick untuk


mengantar tuan putri mereka tersebut dengan pangeran Richardo, Reynald dan kedua Putra Mahkota untuk beristirahat atau mungkin bahkan bermain di kamar Naira.


"Bisakah kau berhenti menempeli adik perempuanmu itu seperti hantu?!" Kata Reynald dengan wajah datar saat melihat bagaimana kedua pangeran yang sebaya dengannya itu masih tidak mau meninggalkan sisi Naira.


"Bilang saja kalau kau cemburu." Jawab Roland dengan sedikit sinis.


"Look!!" Kali ini Arvan mengangkat tubuh mungil Naira dan memamerkan keimutannya itu


pada Reynald.


“How adorable our princess is. Munafik kalau kau sampai bilang tidak cemburu pada kami  yang memiliki adik se imut dan se cantik Naira.” Kata Arvan seolah memanas-manasi Reynald yang sudah menahan urat kesal di pipinya.


Reynald mengendus lucu menanggapi perkataan Pangeran Arvan. “Kenapa aku harus merasa cemburu pada kalian berdua?”


“Kau tidak ingin memiliki adik seperti Naira??” Tanya Pangeran Roland dengan polosnya.


“Tidak sama sekali.” Kata Reynald tegas.


“Bohong!!” Timpal Pangeran Arvan seolah tidak terima.


“Kenapa aku harus bohong pada perasaanku sendiri?!” Katanya lagi.


“Tidak mungkin kau tidak menginginkan Naira sama sekali.” Sambung Pangeran Arvan lagi.


“Well, of course Aku sangat menginginkan Naira.” Ucap Reynald, “tapi bukan sebagai adikku…” Dengan sengaja dirinya memutus kalimat tersebut sampai kemudian, “melainkan sebagai istriku.” Sambungan


kalimat sebelumnya membuat siapapun pemilik telinga dikamar Naira hamper saja menjatuhkan Rahangnya.


Tentu saja minus pangeran Richardo yang masih balita dan belum mengerti apa-apa. Sedangkan, Naira, tidak perlu dipertanyakan lagi. Sweatdrop besar sudah menggantung di atas kepalanya. Seolah mengerti namun juga masih  tertegun dengan pernyataan Reynald barusan. Naira mungkin bahkan tidak menyangka bahwa Reynald dalam versi doujin ini memiliki perasaan yang sama besarnya dengan yang ada di duni Game otome atau novel apapun itu.


“Enak saja!!” “Tidak boleh!!” Ucap kedua pangeran hamper bersamaan


“Langkahi dulu mayatku kalau kau ingin mengambil Naira sebagi istrimu!!” Kali ini Pangeran Arvhein sudah berdiri


dan menghunus pedang yang tersummon dari telapak tangannya.


Naira yang menatapnya semakin tidak sanggung menutup bibirnya yang semakin menganga. “Kalahkan kami dulu baru kau bisa membawa Naira!” Kali ini Pangeran Roland menambahkan.


“Tenang saja, aku tidak akan membawanya sekarang walaupun aku yakin bisa mengalahkan kalian berdua.” Kata


Reynald penuh percaya diri.


“Aku lebih suka melakukan cara lama.” Sambungnya lagi kali ini memberikan perhatiannya pada Naira.


“Apa maksudmu?” Tanya Pangeran Arvhein penasaran.


“Aku akan membuat Nona Naira jatuh cinta kepadaku sampai dirinya sendiri yang akan menyerahkan diri untuk


menjadi istriku.” Jelasnya yang kali ini membuat kedua pipi Naira tanpa sadar jadi bersemu merah.


Kedua pangeran yang panik dengan konyolnya mengerubungi Naira, bahkan Pangeran Arvhein sudah memegangi kedua pipi Naira serta menatapnya lekat-lekat.


“Nainai!! Ingat kata-kata kakak ini dengan baik, kamu tidak boleh sama sekali jatuh cinta dengan Reynald.” Katanya yang membuat Naira harus menahan ekspresi pokerfacenya.


“Tidak bukan hanya dengan Reynald, dengan pangeran Richardo dan siapapun yang berusaha mendekati kamu.” Kali ini Pangeran Roland menyambung.


“Oy-oy… kalian sadar gak sih, adik kalian itu masih balita. Dia mana mungkin mengerti apa maksud dan ucapan


kalian.” Kata Reynald menatap aneh perilaku kedua sahabat karibnya tersebut.


“Kau tidak akan mengerti sama sekali. Adik perempuanku ini sangat amat sepesial. Dia mengerti setiap ucapan


dan keinginan kami. Jadi aku yakin kali inipun dia akan memahami maksud perkataanku.” Seloroh Pangeran Arvhein dengan kedua manik matanya yang sudah membara menatap ke arah Reynald.


“Yah kalau memang begitu, coba saja. Toh nanti aku juga akan melakukan segala cara agar Nona Naira jatuh cinta


kepadaku. Aku juga akan mencoba sekuat tenaga sampai Nona Naira mau meninggalkan kalian berdua.” Goda Reynald dengan jahilnya.


Kedua Pangeran sudah terlihat sangat pucat, hingga pada detik berikutnya Roland menyerahkan Naira kepada Anne sebelum kemudian berbalik menghadap Reynald yang masih dengan santai duduk di karpet lantai kamar Naira.


Roland juga tiba-tiba sudah mensummon senjatanya yang berupa pistol dari telapak tangannya.


“Apa boleh buat…tidak ada cara selain meng-exterminate keberadaan mu dari bumi Aiwond ini.” Kata pangeran


Roland yang kini sudah berdiri berdampingan dengan Pangeran Arvhein. Reynald dengan santainya berdiri dengan anggun lalu mensummon pedangnya dari telapak tangan.


“Well. Kalau kalian sudah menghendaki untuk berpisah dengan Nona Naira sejak dini. Aku tak keberatan.” Jawab Reynald dengan angkuhnya.  Anne yang tengah menggendong Naira dan Derrick yang sudah berdiri disebelah Anne dengan Pangeran Richardo di pelukannya. Tak bergeming bahkan dengan mencuatnya Aura membunuh ketiga pemuda tersebut.


Naira yang panik sudah melayangkan kedua lengan kecilnya itu dan berteriak-teriak dengan logat bayi demi untuk bisa menarik perhatian ketiga cowok gak jelas tersebut dan agar mau berhenti melakukan hal-hal konyol hanya untuk memperebutkannya. Hingga kemudian upaya dan kerja keras Naira membuahkan hasil.


Beberapa saat kemudian,


Naira terlihat sudah tertidur pulas di cradle-nya. Ketika yang mulia kaisar Ceylon dan Kaisar Rakha mendatangi kamar Naira. “Dia sedang tertidur?” Kata Kaisar Yasha yang sudah berada disisi ranjang bayi Naira dan berusaha membelai pipinya.


Namun, tangan lentik itu di tepis oleh yang mulia Kaisar Rakha, dengan tanpa ekspresi berarti. “Jangan sentuh


tuan putriku.” Katanya dingin.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Kaisar Yasha malah menanggapinya dengan senyum sinis. “Lihat saja nanti.” Jawabnya singkat.


Naira’s POV


Aku membuka mata pada langit-langit kamarku yang sudah gelap. Sepertinya aku tadi ketiduran, ya? Saking capeknya melerai ketiga bocah lolicon itu. Batinku mengeluh, walaupun pada akhirnya aku tak mampu menghentikan tawa dan kedua pipi yang kembali bersemu merah.


Aku yang sudah merasa tidak mengantuk sama sekali pada akhirnya memutuskan untuk bangun. Karena usia badan bayiku ini sudah satu tahun dan aku sering berlatih bangun untuk duduk di atas pantatku sendiri. Kali ini tidak ada yang tersa sulit bagiku.


Ku edarkan pandangan keruangan yang hamper penuh dengan hadiah ulang tahun. Ya~ walaupun dari apa yang kudengar, sisa kado ulang tahun dari para nobility itu ditempatkan di Gudang yang memang sudah di bangun khusus untuk menampung semua kadoku.


Ini kali ya, yang dirasain sama si Ariad-beep. Tapi aku beneran gak menyangka kalau di dunia doujin ini, keberadaan Naira tidak semengenaskan dalam Novel dan Otome game. Sedikit banyak aku bersyukur pada


keadaanku saat ini. Tapi jujur saja, walau tanpa kuperintahkan pun, otakku masih memikirkan tentang nasib orang-orang terdekat Naira di dunia sebelumnya.


Padahal kak Arvan sudah susah payah mengusahakan agar aku tidak perlu lagi memikirkan soal apapun itu yang


membuatku sedih hingga menangis. Kugeleng-gelengkan kepalaku, berusaha untuk tidak terbawa oleh perasaan yang tertinggal untuk keluargaku di dunia lain sana. Tapi, percuma, kenangan ku bersama kak Arvan, kak Roland terutama Kyuuven, terlalu membekas sampai-sampai aku kembali menitikkan airmata.


aku masih belum sanggup mempercayai kalau aku sudah mati. Kalau seandainyadugaanku benar, bahwa alasanku terlempar kedunia pararel ini karena Nona Naira yang asli sudah mengambil alih Kembali raganya.


Seperti yang terjadi pada Chloe dan Nona princess yang Namanya selalu kulupakan itu di webco-beep kesayanganku itu. Pikiranku yang sedang kusut nampaknya cukup mampu membuat airmataku berhenti seketika.


Sepertinya yang bisa kulakukan saat ini adalah berharap bahwa Nona Naira yang asli bisa bertahan dan tidak


berakhir mengenaskan seperti yang ada di dalam Novel. Kataku meragukan diri. Another thought menggangguku yang masih belum mempercayai bahwa dunia pararel memang benar-benar ada.


Lalu… bagaimana dengan dunia ini? Bagaimana dengan tuan Penyihir Delarion, Nona Araya dan…Kyuuven. Aku berbaring Kembali melamun, memandangi langit-langit kamar yang temaram. Sampai kemudian, hembusan


angin dari luar jendela kamar menyadarkanku.


Ketika aku Kembali duduk, kulihat bayangan yang terpantul oleh bantuan rembulan semakit terlihat membesar,


mendekat masuk ke kamar. Auuun… suara rengekan familiar yang sangat ku kenal. “Ubhen!!” Seruku yang langsung berdiri di dalam Cradel.


Badan bayiku berjingkrak-jingkrak senang Ketika melihat sosok dewasa Kyuuven yang masih sama seperti di dunia


sebelumnya.


Senyum mengembang di bibir mungilku Ketika mahluk sebesar singa dewasa itu menghampiriku. Namun,


perhatianku kemudian tertarik pada sosok di belakang Kyuuven yang kini sudah berada di dekat Cradel.


“Selamat malam Nona Naira… sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Sapa seorang pemuda yang sosoknya kini


membuatku termangu.


Sementara itu dilokasi lain.


Arvhein terlihat berjalan dengan santai di Lorong istana, wajahnya terlihat senang selama dirinya melangkah


menyusuri jalan menuju ke kamar Naira. Sampai kemudian, dirinya berpapasan dengan Roland di pertigaan jalan.


“Kau?? Sedang apa kau malam-malam begini masih belum tidur?” Tanya Roland heran.


“Memangnya kenapa? Inikan di istanaku sendiri, ya terserah aku dong aku mau kemana malam-malam begini.” Jawabnya santai, “kau sendiri?” Tanya Arvhein pada Roland.


“Aku mau menemui Naira.” Katanya dengan bangga, “kau juga sebenarnya mau menemui Naira, kan??” Ucap Roland yang langsung membuat Arvhein berpaling malu.


“Bukan urusanmu.” Kata Arvhein menyembunyikan pipinya yang agak bersemu merah, sampai kemudian. “WAAAAAA!!!” Suara jeritan Naira terdengar oleh mereka berdua. Tanpa piker Panjang lagi, kedua


pangeranpun langsung berlari menerjang masuk ke kamar Naira.


“NAINAI!?” Seru kedua pangeran bersamaan. Mereka terkejut mendapati Anne dan Derrick sudah pingsan di lantai


dekat cradle Naira. “LEPASKAN NAIRA!!” Ucap Pangeran Arvhein geram, “mau apa kau dengan Naira??” Sambung Pangeran Roland.


Yang mana kini kedua pangeran sudah bersiap dengan kedua senjata di tangannya. Jeritan Naira rupa-rupanya


juga berhasil membangunkan Kaisar Rakha.


“Apa-apaan ini sebenarnya??” Tanya yang mulia Rakha Ketika melihat kedua putra mahkotanya terdorong keluar dari kamar Naira.


Yang mulia Rakha dengan kekuatannya menerobos masuk ke kamar Naira yang kini tengah bersinar kebiruan. Dengan sekali ayunan tangan, sinar tersebut sirna. “Kau!?” Ucap yang mulia Rakha pada sosok yang tengah menggendong Naira dipelukannya.


“Berani sekali kau menyentuh putriku dengan tangan kotormu itu!!!” Ujar yang mulia dengan penuh amarah.


“segera lepaskan dia dan menghilang dari hadapanku sebelum aku mencabik-cabik tubuhmu.” Sambungnya lagi.


Aura membunuh yang mencuat keluar dari tubuh yang mulia Rakha membuat kedua pangeran harus mundur apabila mereka tidak ingin terluka. Sosok misterius dengan Naira yang tengah tertidur dipelukannya. Meskipun dengan aura membunuh yang mulia Rakha. Sosok berjubah hitam di samping mahluk yang dipanggil Naira dengan nama Kyuuven itu, hanya berdiri dengan tenang.


Senyumnya tersungging dibibir tipisnya. Sosoknya yang terlihat lebih dewasa beberapa tahun dari kedua


pangeran itu hanya menanggapinya dengan santai. “Aku kemari hanya ingin mengambil apa yang sempat aku titipkan.” Ucapnya memecah keheningan yang sesaat sangat menegangkan.


“Kau tau?! Jiwa gadis yang bersamayam dalam tubuh ini adalah milikku. Jadi, hanya ada dua pilihan yang


bisa ku berikan pada kalian. Yang pertama… aku hanya mengambil jiwa yang ada dalam bayi ini, dimana artinya aku harus terpaksa membunuhnya, atau yang kedua…kalian biarkan aku pergi membawa tuan putri kalian ini.”


Katanya lagi Panjang lebar yang malah membuat yang mulia Rakha murka luar biasa “Hanya ada satu pilihan untuk


penyusup sepertimu.” Kata yang mulia Rakha, “yaitu mati ditanganku atau kedua putraku.” Sambungnya lagi mengancam.


Mendengar penuturan tersebut. Si pemuda berjubah hitam misterius itu hanya tertawa. Tawa yang seolah mengejek kepada yang mulai Rakha dan kedua putra mahkota. “Coba saja kau bunuh aku disini.” Katanya.


“Aku tidak akan segan-segan membunuh putri kalian yang berharga ini juga.” Sambungnya lagi yang membuat


kedua pangeran dan yang mulia Rakha mengernyitkan dahi mereka.


“Sosokku saat ini hanyalah cerminan dari diriku yang sebenarnya. Kalian mungkin bisa menghancurkanku, tapi


bukan berarti kalian berhasil membunuhku.” Ujarnya yang kemudian dengan satu tangannya melilitkan kelima jari tangannya itu ke leher mungil Naira.


Kedua pangeran dan kaisar Rakha yang terkejut setengah mati, tidak mampu bergerak lebih jauh saat si sosok


misterius itu sudah memperingatkan mereka bertiga. “Akan ku kembalikan tuan putri kalian ini setelah aku berhasil memisahkan jiwa seseorang yang ku inginkan ini dengan nyawa bayi Naira yang sebenarnya.”


Ungkapan yang barusan diutarakan oleh si penyusup misterius itu benar-benar tidak dapat dimengerti oleh


orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Apa jaminannya jika kau akan mengembalikan Naira dalam keadaan utuh dan hidup?” Tanya Kaisar Rakha yang


berusaha untuk tidak menghabisi nyawa pemuda misterius itu saat ini juga.


“Kyuuven aka nada disini bersama kalian.” Jawabnya yang kemudian, mahluk sebesar malamute dewasa itu melangkah maju mendekati ketiganya. “Kalian boleh membunuhnya kalau aku berbohong pada kalian.” Sambungnya lagi masih membuat Kaisar Rakha dan kedua pangeran tidak mengerti.


BERSAMBUNG KE EPISODE BERIKUTNYA


Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia menanti up nya Nona Naira. 


Masih banyak kejutan lain yang semoga masih dapat membuat kalian terhibur 


^^)/