
Naira’s POV
Beberapa bulan sejak saat itu. Aku yang benar-benar sudah bekerja
keras dan berusaha sebaik mungkin memerankan peran jahat sebagai nona
Villainess Naira, seperti yang tertulis dalam original novelnya.
Berprilaku
kasar, arrogant dan sangat menyebalkan.
Terutama jika hal tersebut menyangkut soal
nona Araya.
Aku juga sudah berhasil menggunakan dengan baik authoritasku yang seorang anak Archduke agar orang-orang takut terhadap apapun ancamanku.
Tapi entah kenapa, kedua kakak-kakak Ikemen-ku itu sama sekali tidak
terpengaruh, terutama para pangeran dan tuan penyihir Delarion.
Padahal aku
yakin tidak ada yang salah dengan aktingku.
Aku bahkan yakin mereka sangat mempercayai bahwa aku telah
berubah pada hari-hari pertama.
Tapi, entah sejak kapan mereka jadi tambah
gencar menepis semua perilaku “Jahatku” dengan masih bersikap lembut dan
hangat.
AAARRRRRGGGHHH!!!
Jeritku dalam hati kesal.
Kenapa sih
mereka semua tidak juga membenciku?
Keluhku kesal sendiri sembari memeluk
guling di atas tempat tidur.
“Aku sudah melewati tahun ajaran pertama sebagai seorang
Villain. Tapi, kalau sampai harus melakukan hal ini selama dua tahun kedepan
lagi … aku benar-benar bisa jadi gila!!”
Protesku yang kini memeluk Kyuven.
“Mungkinkah sebenarnya mereka berlima sudah mengetahui akan
kondisi Nona Naira?”
Tanya Derrick yang tengeh berdiri di sebelah tempat
tidurku.
“Saya juga merasa seperti itu … mungkin saja mereka bersikap
seperti itu karena mereka percaya sebenarnya Nona Naira bukanlah anda yang
bersikap seperti sekarang ini.
Dan mereka berharap agar Nona bisa menyerah dan berhenti ….”
Jelas Anne kali ini yang tengah duduk di sebelah tempat tidurku.
“Maksudmu … mereka semua ingin supaya aku mengaku kalah dan
mengatakan yang sebenarnya pada mereka?”
Tanyaku sedikit ragu pada Anne.
Derrick dan Anne hanya mengangguk perlahan.
“Mana mungkin
aku bisa melakukannya ….”
Gumamku dengan kedua mata sayu.
Anne dan Derrick hanya mampu memandang satu sama lain dengan
ekspresi cemas.
Bagaimana tidak, kalau mereka berdualah yang pertama kali tahu
mengenai kondisi yang menimpaku.
Kejadian itu berawal kira-kira dua bulan yang lalu.
Setelah dengan susah payah selama tiga bulan berturut-turut
aku menjadi tokoh antagonist.
Aku yang pernah sekali ingin memecat Anne karena
sudah tidak tahan melihat bagaimana gadis muda itu melihatku dengan kecemasan.
Akhirnya mencoba bunuh diri, dia bahkan mengancam tepat di depan mataku bahwa
akan mengakhiri hidupnya kalau aku bilang tidak menginginkannya lagi sebagai
Maid pribadiku.
Aku yang panik langsung meneriakkan nama Derrick seraya
menghentikan aksi Anne yang sudah meraih pisau roti pada meja di sebelahnya, dengan
sihir waktu.
Agar cewek yandere itu tidak memotong lehernya sendiri.
Setelah Derrick
berhasil menyingkirkan pisau tersebut dari tangan Anne yang sudah menempelkan
ujung pisau tersebut ke lehernya.
Sihirku pun lenyap.
Kedua kakiku yang sudah lemas membuatku jatuh ke lantai berkarpet
tebal di kamar.
Derrick yang masih memeluk Anne untuk menenangkannya akhirnya
membuatku sadar.
Aku tidak akan menang melawan seorang yandere.
Walaupun begitu,
aku tidak mungkin terus-terusan membuktikan pada semua orang bahwa aku sudah
berubah menajdi jahat dan pentas dibenci.
Sampai kemudian saat tanpa sengaja Anne dan Derrick
melakukan kesalahan dengan membiarkan nona Araya masuk ke kamarku lagi dengan
tanpa ijin.
Walaupun aku tau itu bukan kesalahan mereka.
Tapi aku mengambil
kesempatan itu untuk membuat mereka sadar akan bagaimana telah berubahnya aku
dan ingin mereka membenciku.
“Inikah cara kalian membalas kebaikanku? Aku membiarkan
kalian melayaniku walaupun aku tidak mau dan begini cara kalian membuktikan
seberapa pantas kalian untuk menjadi pelayan pribadiku?”
Kataku dengan angkuh.
“Aku tidak menyangka sebegitu tidak bergunanya kalian sampai
bisa membiarkan orang asing masuk ke kamarku lagi tanpa ijin.”
Tatapku dengan
tajam
“Kalian pikir dengan mengancam bunuh diri seperti itu, aku
akan tetap membiarkan pelayan-pelayan tidak berkompeten seperti kalian tetap
bekerja di bawah naunganku? Tidakkah kalian cukup arrogant dengan berpikir
kalau aku tidak akan memberikan konsekuensi?!”
Ujarku tegas.
“Coba katakan padaku, hukuman apa yang cocok buat
pelayan-pelayan bodoh seperti kalian agar bisa kumaafkan?”
Kataku lagi yang
entah kenapa, membuat perasaanku sendiri merasa sakit Ketika mendengarnya.
Kubekukan hati dan mentalku agar bisa memerankan tokoh jahat
ini. Tetapi, ucapan mereka kemudian membuat penjagaanku runtuh.
“… Nona Naira boleh
mencambuk saya sebanyak yang Nona Naira mau.”
Kata Derrick mentapku dengan
senyum sedih
“Tapi, tolong jangan potong kedua tangan dan kaki kami, atau
mencongkel kedua bola mata kami.”
Kata Anne kali ini
“Hooo? Memangnya kenapa tidak boleh?”
Tanyaku masih mencoba
berusaha angkuh dan tidak peduli.
“Karena pelayan anda yang bodoh ini, masih ingin melayani
anda … masih ingin melakukan semua perintah anda … dan masih ingin mengabdikan
diri pada anda …”
Jelas Anne dengan senyum bangga.
Aku pun sudah tidak kuat membendung perasaanku lagi.
Pada saat
itu aku langsung jatuh berlutut di hadapan mereka, aku menangis sejadi-jadinya
sambil meminta maaf pada mereka.
Setelah mereka bedua berhasil menenangkanku,
pada akhirnya kuceritakan perihal yang sebenarnya.
Anne dan Derrick yang mengerti
duduk perkaranya memelukku dengan berlinang airmata.
Seperti yang sudah kuduga, malam harinya Ketika aku pada
akhirnya tertidur karena ngantuk, si gila itu datang lagi dan bilang kalau aku
sudah melanggar kesepakatan dengan dia.
[“Kan, aku sudah bilang kalau tidak ada yang boleh tau
mengenai perihal ini selain aku, nona Araya dan kepala sekolah~”
Katanya
tersenyum seolah menyukai kelalaian yang kubuat.]
[“Aku kan juga sudah bilang padamu kalau Anne dan Derrick
itu maid dan buttler yang paling bisa kupercaya.”
Belaku dengan tatapan kesal
ke arahnya.]
Si gila yang kini dalam versi dewasanya sudah mulai berjalan
cepat mendekatiku.
Walaupun aku sudah berusaha melarikan diri dari dia.
Dengan cekatan
tangannya yang panjang itu sudah berhasil meraih pinggangku dan menarik tubuhku
yang kini sudah ia ubah menjadi dewasa, ke dalam pelukannya.
[“Mau apa kau?” tanyaku dengan paniknya]
[“Tidakkah kau merasa bahwa kita berdua sangat serasi?”
Katanya lagi yang kini sudah mendekatkan wajahnya ke arahku.]
[“Hentikan kelakuanmu yang kurang ajar ini!!” selorohku
dengan sangat kesal mendorong wajah itu menjauh dengan kedua tanganku.]
Dengan mudahnya, si gila itu mencengkeram kedua pergelangan
tanganku dengan satu telapak tangannya yang besar.
[“Well~ sudah kubilang, kan?! Kamu tidak sedang berada dalam
posisi bisa menawar keinginanku~”
Jelasnya yang membuatku jengkel sampai
kemudian men-jedug-kan kepalaku ke wajahnya sampai si gila itu terpaksa
melangkah mundur agar tidak terjungkal.
[“Oowch~ inilah yang paling kusuka darimu Nona Naira.”
Ujarnya sembari mengusap-usap dagu dan bibirnya yang sedikit lecet.]
Senyumnya yang seolah menikmati rasa sakit yang kuberikan
itu, membuatku pokerface.
Sepertinya selain si gila itu selain sadist dia juga
punya sisi masochist.
Aku hanya bisa menghela nafas capek dengan tingkahnya
yang tidak mau mengalah seperti anak kecil.
[“Aku janji padamu, kalau rahasia ini tersebar oleh kedua
orang itu.
Tegasku
dengan tatapan tajam ke arahnya.]
Entah bagaimana aku harus bersyukur karena si gila itu
kemudian mempercayai ucapanku dan membiarkanku pergi.
Anne dan Derrick yang hampir
tidak tidur semalaman karena takut aku tidak bangun lagi.
Menangis lega Ketika pada
pagi harinya aku terbangun pada panggilan mereka berdua.
Setelah itu. Aku, Anne dan Derrick berusaha sebisa mungkin
untuk memainkan peran sebagai pelayan yang teraniaya dan master yang jahat.
Kami
bertiga berusaha sebisa mungkin agar orang selain mereka tidak mengetahui
rahasiaku.
Hal ini berhasil berlangsung berbulan-bulan setelahnya tanpa ada
masalah.
Hanya saja, entah kenapa kedua kakak, kedua pangeran dan
tuan Kayana seolah tidak memperdulikan tingkah lakuku.
Daripada memilih untuk diam,
menjauhi atau membalas perbuatanku.
Mereka berlima malah seolah menganggap aku
sedang bercanda.
Yang mana malah membuatku stress berat.
Pasalnya, jika aku tidak bisa membuat mereka berlima, para
target cinta si protagonist sampai hari yang ditentukan, maka si gila itu akan
menarik jiwaku dengan paksa dan memenjarakannya ke dalam mimpi.
Aku tidak
mungkin membiarkan hal itu terjadi.
Tidak sebelum aku berhasil membangkitkan
seluruh kekuatan sihirku.
Asalkan aku bisa menjadi kuat, aku rasa walaupun
aku harus terserek ke dunia mimpi, aku pasti bisa mengalahkannya.
Kataku dalam
hati.
“Nona … apa benar-benar tidak apa-apa? Bagaimana kalau kita
coba menceritakan hal ini pada para pangeran, para tuan muda dan tuan penyihir
Delarion?” tanya Anne lagi dengan wajah cemas.
Ini sudah yang ke lima kali Anne menanyakan dan menyarankan
hal tersebut.
Aku tau, mereka berdua sangat cemas.
Tapi, aku tidak bisa semudah
itu mengatakan hal ini pada mereka tanpa kesiapan.
Aku bahkan melarang dengan
tegas pada mereka berdua untuk tidak mengatakan apapun selain bahwa aku memang
sudah berubah menjadi sangat jahat.
Satu-satunya yang bisa menyelamatkanku dari hal ini adalah
dengan membuat para target cinta si protagonist jatuh cinta pada Araya.
Tapi,
jangankan membuat mereka menyukai Araya.
Aku masih belum sanggup membuat mereka
berlima untuk berlari menolong Araya saat gadis itu aku bully dan aku kasari
secara verbal.
Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu di lorong kantin.
“Selamat siang Nona Naira ….” sapa Araya padaku yang tanpa
sengaja berpapasan dengannya.
“Ya ampun, baru sekali ini aku melihat sendiri dengan mata
kepalaku kalau kantin sekolah nobility juga ternyata menyediakan makanan rakyat
jelata dan bahkan membiarkan mereka berkeliaran untuk membeli makanan di sini.”
Kataku dengan angkuhnya.
Bisa terdengan tawa dan gunjingan para murid yang memang
sama sekali tidak menyukai Araya maupun diriku.
Mereka mengira perbuatanku yang
sangat keterlaluan itu pantas ditujukan pada Araya yang dianggap sebagai
pengganggu.
Apalagi sudah terdengar kabar kedekatan Araya dengan para Capture Target.
“ … ma-maafkan saya …” katanya menunduk malu mendengarkan
bagaimana para murid menertawakannya yang sedang kuolok-olok.
“Hhh~ benar-benar keterlaluan deh.
Padahal aku sudah
bersusah payah untuk menahan diri saat haru makan bersama anak-anak yang sama
sekali tidak se-level denganku ini.
Sekarang aku malah harus melihatmu berkeliaran di sekitarku saat aku makan?” ujarku lagi yang kini membuat semua
murid di sekeliling kami terdiam dengan bagaimana aku juga mengolok mereka
tanpa terkecuali.
“Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang Nona Naira
ikut makan bersamaku.”
Suara merdu itu datang dari belakang.
Saat aku berusaha untuk tidak menoleh, aku merasakan
sentuhan lembut di tangan kananku.
Wajah tampan pangeran Reynald sudah mejeng
dengan santainya ketika mengecup jari manis ber-tattoo emas itu.
Aku yang menahan
rasa kaget dan malu itu hanya bisa berusaha menarik tangan kurusku dari
genggaman pangeran Reynald.
“Hooo~ apa pantas seorang pangeran dari negara lain
mengundang calon tunangan sepupunya sendiri?”
Kataku dengan kening berkerut.
“Kenapa tidak? Kalau Nona Naira terlalu grogi bila hanya
berduaan dengan saya. Maka saya akan dengan sangat terpaksa mengijinkan kakak
Nona Naira untuk bergabung dan ikut makan dengan kita berdua.”
Ucapnya Panjang lebar
yang malah membuatku mengangkat satu alis saking herannya.
“Huh!! Bukankah seharusnya anda yang bukan siapa-siapa saya
ini sepantasnya meminta ijin kepada Pangeran Richardo yang adalah calon
tunangan saya?”
Kataku lagi sedikit kasar.
“Kalau Kak Reynald tidak keberatan, maka aku lah
yang akan ikut menemani Nona Naira.”
Kali ini Pangeran Richardo dengan santainya
terlihat berjalan bahkan melewati Araya, seolah gadis itu bukan siapa-siapa.
Bukan hanya aku yang semakin dibuat bingung dan terkejut,
seluruh pasang mata yang berada di sekeliling kami saat itu juga seolah
kehilangan kesadarannya.
Ketika melihat bagaimana Pangeran Richardo kini dengan
lembut meraih tangan kiriku lalu mengecupnya.
“Apakah kami boleh mengajak anda untuk ikut makan bersama?” tanya
mereka dengan senyum yang siapapun penontonnya pasti sudah merasa berbunga-bunga.
Aku yang sudah speechless tidak tau mau bilang kasar apalagi
akhirnya memutuskan untuk melarikan diri.
Tidak hanya berhenti sampai disitu.
Aku
juga masih ingat dengan bagaimana Ketika aku tanpa sengaja berpapasan dengan nona
Araya dan Tuan Delarion Ketika tengah berada dalam suatu perkumpulan sihir.
Dimana
beberapa kelas digabungkan untuk mempertunjukkan kekuatan sihir yang telah
mereka pelajari.
Dengan system kelompok, entah dengan cara bagaimana kepala
sekolah menyatukan aku, pangeran Richardo dan nona Araya dalam satu kelompok.
Hingga
kemudian kesempatan untuk membuli nona Araya dan membuktikan pada semuanya bahwa
aku ini adalah orang jahat akhirnya datang juga.
Tanpa sengaja nona Araya yang bertugas untuk melepaskan
sedikit sihir api agar matera yang aku dan pangeran Richardo berfungsi, kusabotase
hingga terlihat seperti nona Araya sengaja melukaiku.
“Kyaaa~”
Jeritku pura-pura
terjatuh.
“Nona Naira!!”
Araya dan Pangeran Richardo terlihat panik Ketika
aku sudah terlihat memegangi telapak tanganku.
“Nona Araya!! Apa kamu sengaja ingin membakarku dengan sihir
api itu??”
Kataku dengan kedua mata yang sudah akan menangis, “saya paham kalau
anda sama sekali tidak menyukai saya, tapi … melukai saya hingga jadi seperti
ini … saya ….”
Ucapanku langsung terputus Ketika Pangeran Richardo sudah
menggendongku kepelukannya.
“Ap-apa yang anda lakukan?!” tanyaku bingung dan kalang
kabut sendiri, melihat bagaimana para murid di sekitar kami sudah ikutan
blushing.
“Sebaiknya kita cepat-cepat mengobati tanganmu yang terbakar
itu.”
Kata Pangeran Richardo yang sudah melangkah pergi meninggalkan lapangan.
“Tu-turunkan saya sekarang.”
Perintahku padanya yang malah
dengan cuek dan santainya menjawab dengan NOPE!
“Saya bisa melakukan healing jadi percuma saja anda
menggendong saya jauh-jauh ke infirmary.”
Kataku lagi dengan tegas, berusaha
untuk tidak merasa malu dengan perlakuannya yang kelewat berlebihan ini.
“Aku tau kok.”
Jawabnya enteng, “aku hanya ingin berduaan
dengan Nona Naira, makanya aku sengaja membawamu pergi seperti ini.”
Sambungnya
lagi yang kini sudah menempelkan keningnya padaku.
Senyum yang terpamer di
bibir tipisnya itu cukup membuat kokoro sang tante ikut merasa doki-doki.
BERSAMBUNG