
Naira's POV
Keringat dingin seolah sudah mengalir deras bercucuran di wajahku yang masih merunduk.
Pada detik berikutnya.
"Nainai ... shhh sudah tidak apa-apa, jangan menangis, ya?!."
Kulihat kak Arvan sudah berlutut di hadapanku, memegang kedua pipiku dan mengangkat wajah senduku perlahan untuk menatap ke arahnya.
Cowok Isekai memang gantengnya luar biasa, aku sampai-sampai merasa kalau wajah tampan kak Arvan tengah disentrong dengan bantuan lampu di belakang kepalanya.
Sebab, ketika menatap wajahnya yang menggalau karena melihatku sedih saja sudah membuatku silau
Apalagi kalau dia senyum, bisa-bisa buta aku nanti. Aku hanya bisa tersenyum garing dalam benakku akibat pemikiran itu.
"Ayahanda tidak bermaksud membuatmu merasa bersalah ... iya, kan Ayah?"
"Apa?? Tentu saja tidak, bukan begitu maksud Ayah ... Naira, Ayah hanya cemas. Kamu masih begitu kecil. Tapi, sihir yang kamu lakukan sudah melampaui sihir dasar untuk seorang pemula."
Kini giliran ayahku yang tak kalah tampan berlutut di hadapanku.
Beliau memegang kedua telapak tanganku dengan lembut.
Matanya yang seolah mengiba mencoba meyakinkanku bahwa beliau sama sekali tidak bermaksud menyalahkanku.
"Ayah takut kalau sampai terjadi sesuatu pada dirimu ... kamu anak perempuan kesayangan Ayah. Satu-satunya harta Ayah yang paling berharga. Naira mengerti maksud ayah, kan?"
Kali ini dengan lembut ayah membelai wajahku.
Kubalas senyum memelas di wajahnya itu dengan senyum bahagia.
Syukurlah YA TUHAN!!!!
Mereka bukannya curiga padaku ... semoga ke depannya mereka akan tetap menganggap Naira yang sekarang juga sama seperti Naira yang sebelum kuambil alih tubuhnya.
Setalah itu, kami pun memulai perbincangan santai yang sama sekali tidak menyangkut-pautkan kecurigaan mereka tentang kemampuan sihirku.
Well, terkadang hal seperti ini yang malah semakin membuatku cemas.
Walaupun, aku sendiri juga sedang kehabisan akal untuk mengelabuhi mereka saat ini.
Aku tidak tau apa yang harus kukatakan apabila mereka nanti melempariku dengan segudang pertanyaan.
Tapi, melihat mereka yang sama sekali sudah tidak lagi membahas perihal sihirku dan Kyuven, membuatku grogi. Apa yang sedang mereka pikirkan sebenarnya.
15 menit kemudian
Setelah Derrick pergi menemani Naira bersama Anne, kembali anggota keluarga Van Vellzhein membicarakan perihal yang sangat serius mengenai tuan putri tercinta mereka.
"Apa kau benar-benar yakin kalau binatang yang di-summon oleh Nainai adalah seekor Chimera?" tanya Roland pada Arvan yang berdiri di samping single chair-nya.
"Bagaimanapun kau melihatnya, mahluk itu bukan mahluk sihir biasa. Kau sendiri tidak bisa mengenal jenis binatang apa itu, kan?" ucap Arvan pada saudaranya.
"Awalnya aku yakin kalau itu hanya seekor Kakhis 'kucing sihir', tapi setelah kuperhatikan lagi sosoknya juga mirip seperti Blaid, srigala sihir."
"Tidak pernah sebelumnya aku melihat mahluk campuran seperti itu di Faireniyan. Menurutmu kalau binatang yang di-summon oleh Nainai kita bukanlah Chimera ... lalu, apa?" ungkap Roland dengan kening berkerut.
"Kau pikir ... bagaimana bisa tuan putri kita memiliki kemampuan memanggil mahluk Chimera yang belum pernah ada sebelumnya?"
"Menurutmu ... darimana dia bisa memiliki kemampuan seperti itu?"
Roland dan Arvan melihat bagaimana cemasnya ayahanda dan abunda mereka ketika mengetahui bahwa tuan putri tercinta mereka memiliki kemampuan yang hanya dimiliki oleh penyihir dengan rank SSS di Faireniyan.
Keluarga Van Vellzhein yang memiliki sedikit kemampuan sihir dari nenek moyang mereka, hanya sebatas mampu menjadi penyihir kerajaan.
Kini tanpa sepengetahuan mereka, salah satu anggota keluarga termuda.
Seorang gadis kecil yang bahkan tidak pernah belajar sihir karena dilarang oleh petinggi istana, malah telah menciptakan seekor Chimera dengan tanpa membuat kesalahan.
Di kamar Naira,
Naira's POV
*Oke... baiklah, kita move on *saja langsung ke masalah berikutnya, yang masalah tadi biarin ajalah dulu.
Soal Naira Van Vellzhein.
Mari kita review kembali peran dan plot cerita seperti apa yang diperankannya.
Pertama, kita akan bahas tentang Naira sendiri tokoh seperti apa
Hmmm ...? Duduk di meja belajar. Kugali kembali memoriku dan milik Naira tentang karakter yang saat ini tengah kuperankan.
Putri tunggal dan anak bungsu dari tiga bersaudara di keluarga Archduke Van Vellzhein...
Tiba-tiba saja ingatanku berhenti sampai di situ saja.
Tanganku yang semenjak tadi menulis pun ikut berhenti.
Kedua bola mataku berputar dari kanan, ke atas, ke kiri lalu ke bawah seolah mencari sesuatu yang tak mampu kutemukan dalam ingatanku.
SERIUSAN?! Kenapa sama sekali tidak ada deskripsi mengenai Naira yang jahat.
Gadis ini hidup dalam kasih sayang dan cinta tak terbatas.
Kedua kakak lelaki, orang tua serta para maid dan buttler di Mansion Vallzhein sangat amat menyayangi Naira.
Tidak ada satupun ingatan Naira yang memperlihatkan bahwa gadis ini pernah mengalami hal yang membuatnya HARUS menjadi jahat.
Akupun hanya bisa *f*acepalm setelah menyadarai bahwa ucapan Jok-beep- yang mengatakan kalau orang jahat itu sebenarnya orang baik yang diperlakukan dengan jahat hingga merubahnya menjadi 'monster'.
Terus? Jadi apa kau mau bilang kalau Naira ini jahatnya udah dari janin?? Kagak mungkinlah.
Kini aku mulai melipat kedua tanganku di dada, kembali mengorek ingatan tentang keluarga Naira yang lain.
Oke, mari kita coba lanjut ke saudara Naira yang pertama.
Kak Roland Van Vellzhein putra ke dua dan anak tengah yang sudah menjabat sebagai kepala/ketua pemimpin ksatria kerajaan termuda sejak berumur lima belas tahun.
Dia juga satu-satunya ksatria kerajaan yang memilki skill magic walaupun sedikit, seperti Magiclopedy yaitu kemampuan mengenali kemampuan lawan, jenis binatang dan tumbuhan, recover MP, dan life steal.
Rasanya seperti game King's-beep- yang sering kumainkan dulu.
Oke next, wajah tampan, tubuh tinggi dan walaupun tidak terlalu berotot seperti kebanyakan bentuk badan para ksatria perang.
Kak Roland termasuk yang terkuat dan bergelar jenius. hmmm~ keren~
Lalu, berikutnya Arvhein Van Vellzhein yang lebih akrab disapa Arvan oleh keluarganya adalah penyir kedua terkuat yang bekerja dalam kerajaan Iztanha.
Setelah, si penyihir berambut hitam yang entah bernama siapa itu.
Aku hanya mampu sweatdrop dengan bagaimana parahnya kemampuan mengingatku. hwe-hwe ...
Dengan skill dan kejeniusannya dia sudah menjabat sebagai penyihir kerajaan di Menara Mage yang biasanya ikut berpartisipasi menjadi salah satu anggota Kelompok Hero.
Kedua kakak bertampang Ikemen itu sangat menyayangi Naira, bahkan bisa dibilang sangat overprotective dan hmmm ... posesif.
Kedua orang tua Naira, yaitu Archduke Rakha Van Vellzhein dan Duchess Mary Van Vellzhein, lalu ada Anne Sakura seorang maid yang berasal dari keluarga Viscount juga Derrick Hounraine Buttler yang juga berasal dari keluarga Viscount, serta Diego Clovenheit kepala pelayan yang berasal dari keluarga Marquis.
Kini kedua telapak tanganku menopang dagu, mataku tertuju pada nama-nama penghuni Mansion Van Vellzhein.
Sama sekali tidak ada yang salah maupun aneh dengan mereka.
Lalu bagaimana bisa anak se-adorable Naira berubah jadi se-annoying dan semenyebalkan dalam novel. Demi kucing dikampung, plis deh terus apa ini yang namanya plot holes?
Argh terserahlah ... sekarang coba kita cari tau sejak kapan Naira berubah jadi villain begitu ...
Tik-tok-tik-tok ... bunyi detik pada jam dinding kamarku terdengar merdu mengisi kekosongan yang ada di dalam otakku.
Duuung!!!
Aku seolah mendengar bunyi gong yang menandakan bahwa waktu berpikirku sudah habis. Tapi, apa iniiiiiiiiii?
Mengapa tidak ada ingatan dalam novel yang menyebutkan kapan pastinya Naira berubah menajdi jahat!! ARRRRGH!!!
Kembali aku mengacak-acak rambut ungu indahku itu, kesal.
Oh well, thats the villain for you.
Aku gak bisa protes dong kalau Novel "My Precious Princess" itu emang cuman berfokus ke tokoh protagonis dan semua itu diambil dari sudut pandang si narator alias orang ke tiga.
Thaaaaaanks aku kan jadi gak tau isi hati para tokoh protagonis itu.
Lagi-lagi aku cemberut dengan kenyataan menyebalkan yang tengah kualami saat ini.
Tidak ada satupun ingatan maupun gambaran yang mampu memberikanku sedikit petunjuk mengenai peranku. Aku pun menyerah, facedesk dengan hal tersebut.
Aku menelengkan kepalaku di atas meja, kulihat Kyuven masih duduk dengan tenang menungguku di samping meja. Kembali aku menghela nafas.
Satu-satunya hal yang kuingat adalah ketika Naira menampar si tokoh utama ... aduh namanya siapa sih kog disaat seperti ini, ketika lagi serius menaratori cerita malah lupa ...
Dengan kesalku cengkeram kepalaku dengan kedua tangan, berpikir keras.
A-Araya ... kalau gak salah, ya ...?!
Kedua bola mataku sudah melirik seolah mengintip jawaban di sebelahku.
Oke mari kita rewind ke narasi sebelumnya.
Waktu Naira menampar si protagonis Araya ... alasannya?
Araya waktu itu memuji warna mata dan rambut Naira yang berwarna ungu.
Tapi, hal tersebut malah membuat Naira murka sampai menampar Araya dan sang pangeran yang kebetulan melihatnya dari kejauhanpun akhirnya, memutuskan pertunangan dengan Naira dan memberi hukuman padanya.
Nah ... loh ... wait??? Emang sejak kapan si pangeran tunangan dengan Naira B-T-W?? Aku kog gak ingat pernah baca bagian itu???
Akupun kembali bertopang dagu di atas lenganku yang terlipat di dada, BERPIKIR.
Sambil ber-hmm-hmmm aku memejamkan kedua mataku, menggali kembali memori dan ingatan Naira serta novel yang kubaca.
Daaaaan bisa kalian tebak ... karena ini adalah novel yang diperuntukkan kepada si protagonis ya... jadinya gak ada alasan buat seorang villain seperti aku untuk diangkat kisahnya di dalam novel selengkap itu.
Tapi, si Kiky-beep- sama Nara-beep- yang juga seorang villain di Anime InuYa-beep- aja diangkat kog kisahnya.
Nih, yang ngarang Novel My Precious Princess siapa sih ... pelit banget jadi orang kalau mau ngembangin karakter, cuman para tokoh di sekitar Main Heroes doang.
Aku pun cuman bisa memutar mataku dengan perasaan annoyed pake banget.
Well, ya sudah yang penting aku punya data cukup untuk mengatasi peran Villain yang nantinya kumainkan ini. Hmmm ... kalau dipikir-pikir lagi, bukankah di dalam novel dikatakan kalau gelar Archduke diberikan kepada Ayahanda oleh sang Maharaja Iztanha sendiri, hal itulah yang membuat ayahandaku sangat dihormati sekaligus disegani.
Bahkan, ada pula yang merasa takut saat berhadapan dengan pemilik gelar tersebut, karena ayah merupakan orang kepercayaan Maharaja yang mulia.
Apakah itu juga penyebab alasan mengapa Naira bisa bertingkah seenaknya?
Hmmm ... apa aku coba saja ya sekali-kali ikut peran villain, he-he-he-he ...
Oke mulai dari mana, nih? Dengan semangatnya aku pun turun dari kursi belajar lalu berdiri tegak dengan kedua tangan berkacak pinggang, menghadap ke arah Kyuven.
"Hei kau Kyuven ... mulai hari ini kau adalah pengikutku. Karena aku adalah master yang menciptakanmu, jadi kau harus menuruti semua perintahku. Apa kau mengerti?"
Dengan sedikit mengernyitkan kedua alis serta senyum menyeringai yang kubuat seseram mungkin.
Kyuven yang mendengarnya seolah mengerti dan membalasnya dengan suara Aun-Aun Sambil menegakkan tubuhnya yang besar itu.
Aku yang gemas melihat tingkah Kyuven malah langsung melompat memeluk tubuh berbulu lebat itu dengan penuh sayang.
Binatang menggemaskan itu mengeluarkan suara purr-purr seperti seekor kucing yang tengah menikmati saat-saat lagi dimanja sama majikannya.
"Oke Kyuven ... mulai hari ini kamu akan membantuku menjalankan peran jahat, kan?" ucapku sembari menatap wajah sumringah Kyuven.
"Etto ... walaupun aku kurang tau kejahatan seperti apa yang musti kuperbuat diusia sekecil ini, sewajarnya." Kataku lagi sambil menggaruk-garuk pelipis kananku dengan ujung telunjuk.
NARATOR
Sampai di sini rupanya Naira merasa tertantang untuk menjadi seorang villain. Apakah Naira akan benar-benar serius akan menjalankan peran jahat yang dulu sempat ia benci? Mampukah kiranya Naira melakukan hal tersebut ? Dimana dirinya yang dulu tidak pernah sekalipun berbuat jahat kepada orang-orang di sekelilingnya. Kira-kira hal jahat apa yang akan dicoba oleh Naira nantinya?
Ikuti terus kelanjutannya ^-^