
Third Person's POV
Ini sudah hari ke tiga dan tinggal tiga hari lagi, Naira adiknya akan masuk sekolah khusus untuk para nobles. Namun, masalahnya Arvhein masih belum bisa menemukan cara membantu adik perempuan satu-satunya itu.
Meskipun, Arvhein berusaha mengulur waktu sekalipun, Naira tidak mungkin menyerah, Ia tau adiknya memiliki kekuatan yang tak mampu dijelaskan.
Mantra yang seharusnya baru bisa dikuasai dalam kurun waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Bagi Naira yang masih sekecil itu untuk bisa menguasai mantra sulit tersebut dalam sehari, hal itu bisa dikatakan sangat mengerikan.
Arvhein takut apabila Naira akan melakukan hal nekat lagi, jika dirinya tidak segera membantunya.
Arvhein menghela napas berat.
Tidak pernah dia sangka bahwa satu-satunya cara adalah dengan menemui penyihir berambut hitam di menara Mage kerajaan Iztanha, Kayana Raz Delarion.
Pasalnya, Kay dan Arvhein memang sudah lama menjadi musuh bebuyutan.
Tapi, Kay sebagai seorang Wizage-lah yang paling bisa membantu Arvhein untuk saat ini.
Hanya saja, bagaimana caranya Arvhein akan membawa topik tersebut?
Karena bagaimana pun, dia tidak mungkin mengatakan kalau mantra yang sedang ia cari itu adalah untuk membantu adiknya menyembunyikan sosok seekor Chimera.
Tapi, karena dirinya yang seorang Frostranger, mantra tersebut sangat tidak diperlukan.
Walaupun pada dasarnya dirinya juga seorang Mage.
Bagi Arvhein, menemui Kay saja sudah membuatnya enggan.
Apalagi, harus meminta bantuan pada cowok yang seusia Pangeran Richardo itu.
Tapi, demi adiknya Arvhein akan melakukan segala hal, walaupun yang paling di bencinya sekalipun.
Naira terlahir dengan warna Iblis yang tidak bisa dijelaskan.
Padahal dia dan Roland terlahir dengan warna rambut dan bola mata semirip ayahanda dan ibunda mereka. Arvhein bahkan masih ingat kalau dalam keluarga Archduke generasi sebelumnya tidak pernah ada yang memiliki warna Iblis seperti Naira.
Meski banyak yang mengatakan kalau Naira dikutuk, Arvan dan Roland tidak pernah menghiraukannya.
Ia tau, kalau dirinya dan Roland sangat menyayangi Naira, melebihi diri mereka sendiri.
Adik perempuan satu-satunya yang sudah membuat mereka jatuh cinta, bahkan sebelum anak itu lahir ke dunia.
Di Faireniyan. terdapat dua warna yang dikabarkan jika dia terlahir dengan kekuatan sihir, maka dirinya akan dikaruniai kekuatan Iblis.
Seperti halnya dengan Kay, yang terlahir dengan rambut berwarna hitam pekat dan mata semerah darah.
Lalu Naira yang terlahir dengan rambut dan bola mata berwarna ungu.
Mereka berdua terlahir dengan kekuatan sihir yang kehebatannya bisa terbilang mengerikan.
Hingga dianggap sebagai Iblis karena karunia tersebut.
Bedanya, Kay yang sejak awal adalah seorang yatim piatu, ditampung oleh kaisar yang mulia dan tinggal di menara Mage sebagai penyihir terkuat.
Hingga saat ini pun, tak ada Wizard, Mage, Cleric, Warrior, bahkan Ninja yang mampu mengalahkan Kay. Arvhein yakin, kalau Naira-lah satu-satunya yang mampu menandingi kekuatan Kay.
Tapi, Arvhein tidak ingin kalau sampai kekuatan yang dimiliki oleh adik perempuannya itu, terdengar sampai ke telinga sang kaisar.
Arvhein tidak ingin kehilangan Naira.
Maka dari itulah, Arvhein harus bisa meyakinkan Kay agar mau membantunya, tanpa harus mengatakan bahwa hal itu adalah untuk adiknya.
Kemudian, di perpustakaan menara Mage Kerajaan Iztanha.
"Kau ingin aku membantu temanmu?" tanya Kay dengan lirikan curiga.
"Benar ... kau tau bukan kalau aku hanya seorang Frostranger. Pada dasarya kemampuanku bukan untuk melakukan mantra sulit seperti itu."
Jelas Arvhein sedikit gugup.
"Lalu?" tanya Kay lagi tanpa ekspresi.
"Maka dari itu, aku datang padamu untuk meminta bantuan ...."
Jawab Arvhein lagi sedikit mengernyit.
"Kenapa aku harus membantumu dan temanmu itu? Apa ada untungnya buatku?" kata Kay sinis, berlenggang pergi meninggalkan Arvhein.
"Kay, tunggu!!" seru Arvhein mengikuti Kay.
"Kay ... please ...."
Pinta Arvhein menarik lengan Kay untuk menatapnya.
"Aku tau kau sangat membenciku, tapi hanya kaulah satu-satunya yang bisa kumintai tolong saat ini." Sambungnya lagi.
"Kalau kau sudah tau aku sangat membencimu, bukankah itu sudah cukup menjadi alasan jelas untukku tidak membantumu."
Ucap Kay dingin menampik tangan Arvhein dengan kasar.
Arvhein sebenarnya bisa saja menyerah dan menghajar Kay yang ia anggap menyebalkan saat itu juga. Ditambah dirinya sama sekali tidak ingin berurusan lebih jauh lagi dengan Kay.
Tapi, dia tidak bisa mengabaikan keinginan Naira.
Bagaimana pun caranya dia harus mendapatkan bantuan Kay demi Naira.
Atau adiknya itu akan melakukan sihir berbahaya lain lagi.
Beberapa saat kemudian,
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Kay kali ini mengernyitkan keningnya.
Ketika dirinya kembali ke rak buku dan melihat Arvhein masih berdiri di sana dengan buku sihir di tangannya.
"Karena tidak ada penyihir yang bisa menolongku selain dirimu."
Kata Arvhein lagi, menatap Kay lekat.
"Pergilah!! Sudah kubilang aku tidak ada kewajiban untuk membantumu dan temanmu itu."
Kata Kay sinis melewati Arvhein yang masih dengan santai bersandar rak buku.
"Sayang sekali, aku tidak akan pergi sebelum kau membantuku."
Ucap Arvhein lagi, tanpa senyum.
Kay yang sedikit tertegun ketika mendengarnya.
Benar-benar merasa kesal dengan bagaimna Arvhein masih juga gigih mengenai hal tersebut.
Walaupun Kay berusaha mengabaikan Arvhein, ada saja hal dilakukan Arvhein untuk mendapatkan perhatian Kay dan itu sangat membuatnya benar-benar kesal.
Hingga kemudian, Kay dengan jengkel menggunakan mantra pemindah pada Arvhein untuk mengusirnya keluar dari menara Mage.
"Brengsek ... beraninya anak itu mengusirku dengan mantra pemindah. Memangnya aku ini barang!!" caci Arvhein kesal.
Detik berikunya Arvhein kembali ke perpustakan menara Mage dan memohon kepada Kay berulang kali dan berulang kali pun Kay mengirim Arvhein keluar dengan mantra pemindah.
Begitu seterusnya hingga waktu sudah berganti lagi ke esokan harinya.
Hal tersebut berlangsung selama dua hari berturut-turut dan gangguan dari Arvhein semakin lama semakin intens saja.
Kay pun akhirnya menyerah.
Penyihir hebat itu sudah terlihat terduduk di samping kursi belajarnya dengan posisi berlutut dan kedua tangannya di atas lantai.
Arvhein terlihat ngos-ngosan dengan senyum lebar.
"Coba katakan alasan terkuatmu agar aku bersedia membantu apapun itu kemauanmu."
"Kalau tidak, aku akan melaporkan tindakanmu yang menyebalkan ini pada yang mulia kaisar."
Ke esokan harinya, sekitar pukul sembilan malam.
Di kamar Naira.
"Apa kak Arvan akan benar-benar bisa membantu kita, ya, Kyuven?" tanya Naira sedikit lesu.
Dia tau dirinya harus berusaha mempercayai sang kakak, lebih dari siapapun.
Tapi, hari sudah malam dan sampai sekarang sama sekali tidak ada kabar apapun dari kakaknya itu.
Naira mulai was-was dan hampir saja akan nekat melakukan sihir asal-asalannya itu, jika saja tidak ada suara ketukan dari luar jendela kamar Naira.
Karena penasaran, walaupun Kyuven sudah melompat turun dari tempat tidur dan mengerang ke luar kamar.
"Tidak apa-apa Kyuven. Sepertinya itu kak Arvan."
Ucap Naira dengan santai mengusap kepala Kyuven untuk menenangkannya.
Saat Naira membuka jendela kamarnya, Arvhein sudah terlihat tersenyum dengan kondisi yang terlihat letih. "Kak Arvan??"
Naira yang kaget langsung menopang tubuh kakak lelakinya itu yang sudah terhuyung.
Walaupun, pada akhirnya Naira ikut terjatuh karena tidak sanggup menopang berat kakaknya.
"Kak Arvan kenapa sampai berantakan seperti ini?" tanya Naira prihatin.
Arvhein yang masih tidak memiliki kekuatan untuk bersuara, hanya mampu menyodorkan sepucuk kertas untuknya.
Naira mengambil kertas tersebut dari tangan kakaknya.
Setelah dibuka, rupanya kertas tersebut berisi mantra yang entah kenapa, Naira mampu membaca dan mengerti artinya dengan sangat jelas.
"Kak Arvan ... ini?" kata Naira kali ini menetap wajah kakaknya yang sudah tersenyum bahagia.
"Seperti yang sudah Kakak pernah janjikan sebelumnya. Itu adalah mantra yang bisa menyembunyikan identitas Kyuven agar kamu bisa membawanya kemana pun."
Kata Arvan menjelaskan.
Naira yang terharu sudah terlihat akan siap menangis.
Dengan kedua lengan kecilnya itu, Naira memeluk kakanya erat.
Mengucapkan terima kasih dan bagaimana dia sayang menyayangi kakaknya tersebut.
Arvhein merasa perjuangannya untuk meyakinkan Kay sampai menjadi budak Kay, agar penyihir menyebalkan itu mau membantunya, sudah terbayar dengan cukup baik.
Pelukan Naira, senyum haru itu, serta ungkapan rasa sayang dan terima kasih, seolah menjadi obat penyembuh bagi Arvhein yang terlalu letih.
Sedangkan di tempat lain.
Tepatnya di kamar Kay.
Kay yang terlihat tengah termenung, rupanya masih mengingat tentang bagaimana Arvhein memohon dengan sangat memaksa, agar dirinya mau membantu Arvhein.
Kay merasa tidak habis pikir, dengan seorang Arvhein yang terkenal sangat tidak terlalu memperdulikan orang lain ketimbang keluarganya.
Berusaha dengan gigih dan bersedia melakukan hal yang Kay inginkan, walaupun Arvhein membencinya.
Kay ingat dengan bagaimana Arvhein mengatakan, kalau dirinya ingin membantu seorang anak kecil yang menemukan seekor Chimera dan ingin membawanya ulang ke rumah.
Arvhein menceritakan bagaimana gadis itu hanya ingin hidup dan menghabiskan waktunya bersama si Chimera kecil, tanpa orang lain tau.
Kay mengenal Arvhein, bawahan dari Hero Party yang berada dalam naungan Menara Mage Kerajaan Iztanha itu, sebagai sosok yang hanya lemah pada adik perempuannya.
Tapi, siapa sangka Arvhein akan mau dengan sepenuh hati dan mati-matian melakukan sesuatu demi anak kecil yang katanya, ia tak sengaja temui di pinggiran kota.
"Anak kecil yang menemukan Chimera? Seekor Chimera ada di Faireniyan?? Bagaimana bisa?" pikir Kay dengan kening berkerut.
Wajahnya yang tampan terlihat cemas dan terganggu akan suatu hal.
Sehingga ia memutuskan untuk mengambil sebuah buku dari rak di sudut ruang kamarnya.
"Menurut catatan dalam agenda Aiwond. Seekor *C*himera terakhir kali dilihat adalah di dalam hutan bagian tengah, tempat dimana dulunya para penyihir liar tinggal."
"Bagaimana bisa sekarang tiba-tiba, Arvhein menemukan Chimera di sekitar pinggiran Kota Faireniyan?"
Kay yang merasa ada yang aneh, dari mulai tingkah Arvhein yang memaksakan diri untuk meminta tolong pada orang yang dibencinya.
Lalu Arvhein yang membantu anak kecil selain adik perempuannya dan Arvhein yang peduli dengan masalah orang lain selain keluarganya.
Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arvhein dan hal tersebut sangat mengganggu Kay.
Ke esokan harinya di kediaman Archduke Van Vellzhein.
Naira yang sudah memakai seragam sekolahnya, tengah berdiri di tengah-tengah para anggota keluarga Van Vellzhein yang tengah mengagumi keimutan Naira.
Semuanya tak terkecuali dengan para Maid dan Butler.
Naira terlihat hanya bisa tersenyum malu dengan pujian-pujian tersebut.
Setelah memberi pelukan dan kecupan sayang pada SEMUA orang yang tambah membuat para butler dan maid terharu.
Naira pun berangkat dengan di dampingi oleh Anne dan Derrick sebagai Maid dan butler mewakili keluarga Van Vellzhein untuk menjaga Naira selama di akademi.
"Nona ... apa benar-benar tidak apa-apa membawa Kyuven ke sekolah?"
"Walaupun memakai sihir, saya khawatir jika sampai ada orang yang ternyata bisa mengetahui identitas asli Kyuven?' tanya Anne dengan wajah cemas.
"Saya juga berpikir begitu, Nona ... walaupun memang sekarang di mata kami Kyuven sama sekali tidak terlihat sebagai seekor binatang melainkan boneka."
"Tapi, bagaimana kalau ternyata ada murid dengan kemampuan sihir yang bisa melihat identitas asli Kyuven?" ucap Derrick yang dibalas dengan anggukan oleh Anne.
"Aku tau itu. Tapi, akan lebih berbahaya kalau Kyuven tidak bersamaku."
Ungkap Naira yang tengah membelai kepala Kyuven.
Binatang yang besarnya sudah hampir sebesar harimau dewasa itu tengah terbaring dengan manja di samping Naira.
Kepalanya yang terus menyondol Naira membuat gadis kecil itu semakin tidak ingin berpisah dari Chimera tersebut.
Naira's POV
Derrick dan Anne masih memperlihatkan ekspresi cemas yang ... okay, aku rasa ini terlalu berlebihan.
Aku percaya kak Arvan sudah benar-benar membawakan mantra yang tepat dari penyihir berambut hitam itu. Aku juga yakin kalau mantra ini tidak akan luntur hanya dalam sehari.
Aku tau ini kedengarnya sangat sulit dan mustahil.
Meminta kak Arvan untuk mendapatkan mantra sihir agar setiap hari Kyuven bisa terlihat seperti boneka di mata orang lain.
Aku sendiri bahkan tidak yakin hal ini akan berhasil dengan kekuatanku.
Hanya saja, entah kenapa aku yakin kalau aku tidak mengambil resiko seperti ini, Kyuven akan nekat kabur dan mencariku.
Kalau sampai hal itu terjadi dan diketahui oleh orang-orang kekaisaran.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga Archduke.
Aku sudah berjanji bahwa akan menjaga kehidupan kedua ini baik-baik.
Yang mana itu artinya aku tidak boleh gegabah, hingga membahayakan Naira dan keluarganya.
Oh ya, ngomong-ngomong lagi soal Akademi, kalau tidak salah Pangeran Richardo masih memiliki satu tahun lagi masa belajar di akademi.
Berarti nanti aku akan ketemu dia, dong?!
Emang bisa ketemu?
Tanyaku beragumen sendiri dalam hati.
BERSAMBUNG KE EPISODE BERIKUTNYA ^^