
Naira's POV
Araya ada di sini!!
THAT PROTAGONIST GIRL IS FREAKIN HERE!!!
Jeritku histeris sendiri.
Sejak insident pertemuanku dengan gadis yang teryata bernama Araya itu bersama Pangeran Richardo, membuatku tak mampu berkonsentrasi pada sekitarku.
Pasalnya, aku tidak tau apa yang musti aku lakukan.
Sementara aku sudah dengan percaya dirinya yakin bahwa plot Pangeran Richardo dan Araya sudah kuhindari.
Aku sudah bukan lagi tunangan Pangeran Richardo, walaupun maharaja yang mulia masih juga menginginkanku untuk menjadi permaisuri bagi putranya.
Aku yang memang sengaja menjalin hubungan persahabatan dengan Pangeran Richardo adalah agar aku tidak mendapatkan hukuman mengerikan yang akan menjadi bad ending-ku.
Dimana nantinya, tanpa sengaja aku akan melakukan tindak kejahatan pada Araya.
Aku tau, aku tidak akan mungkin mampu menampar orang lain, bahkan menyakiti orang lain.
Kecuali orang itu sudah berbuat sangat amat jahat terhadapku.
Sebagaimana para mantan yang rasanya ingin kukuliti hidup-hidup.
... Ahem!!
Oke kita lupakan saja soal kehidupan pribadi di masa laluku itu.
Mari kita lanjutkan pembahasan soal Araya, ya pemirsa.
Kyuven hanya mampu melihatku mondar-mandir di dalam kamar asrama.
Karena capek mikir sendiri akhirnya aku duduk bersila di hadapan Kyuven.
"Apa yang harus kulakukan, ya Kyuven enaknya? Apa sekalian saja kucomblangin mereka berdua?" kataku bertopan dagu di atas lutut.
Kyuven hanya bisa menelengkan kepala, sampai-sampai aku pun ikut menelengkan kepala saking gak taunya harus bagaimana.
Tapi, ngomong-ngomong masalah Araya.
Entah kenapa, Pangeran Richardo sempat bilang agar aku tidak mendekati gadis tersebut.
Agar aku bisa menjauhi gadis itu dan berusaha untuk tidak berinteraksi dengan dia, bagaimanapun caranya. Aku benar-benar tidak bisa mengerti apa maksud Pangeran Richardo yang seolah tidak ingin aku berteman dengan gadis itu.
Sepertinya, Pangeran Richardo tengah menyembunyikan sesuatu.
Tapi, apa?
Apa aku sanggup menanyakannya pada Pangeran sendiri?
Apa dia akan menjawabnya?
Apa dia akan mau mengatakan yang sebenarnya?
Tanyaku bertubi-tubi pada diriku sendiri yang kini sudah memeluk Kyuven dan berbaring di atas tubuhnya yang so Fluffy itu.
Sepertinya, orang yang tepat untuk kutanyai adalah Araya.
"Bagaimanapun, besok aku harus menemuinya."
Gumamku lagi kali ini sudah merasa ngantuk dan memejamkan mata dengan masih memeluk Kyuven.
Ke esokan harinya,
di taman belakang sekolah.
Aku yang memang sengaja ingin ditinggal oleh Anne dan Derrick sendirian.
Tengah duduk di bawah pohon di belakang perpustakaan lama sekolah.
Tak berapa lama kemudian, aku mendengar suara familiar menyapaku.
"Hai!!" seru suara seorang gadis yang sosoknya kini sudah berdiri di sampingku.
Ketika aku menengadah untuk memastikan bahwa pemilik suara itu adalah Araya, gadis itu sudah berjongkok untuk kemudian duduk di sampingku.
"Maaf, apa aku mengganggumu?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Oh, tentu saja tidak."
Jawabku dengan tak kalah ramah.
"Bolehkah aku duduk di sini bersamamu?" tanyanya dengan senyum kikuk.
"Tentu saja, oh ya namaku Naira, Naira Van Vellzhein."
Kataku memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.
"Terima kasih banyak. Namaku Araya. Senang berkenalan denganmu, Nona Naira!!" sapanya menjabat tanganku dengan senyum ceria yang mengembang.
Aku sendiri tidak menyadari, bahwa aku dengan tanpa dibutuhkan ternyata menyebutkan nama lengkapku yang panjang itu.
Sedangkan Araya hanya menyebutkan namanya yang sesingkat itu.
Aku jadi tidak enak sendiri.
Walaupun, rasanya benar-benar penasaran dengan nama tengah dan keluarga Araya.
Tetap saja hal itu tak mampu membuatku menanyakan hal tersebut, kepada yang bersangkutan.
Aku juga tidak ingat bagaimana sosok Araya yang dijabarkan dalam novel "My Precious Princess".
Karena gadis yang ada di hadapanku saat ini terlihat tidak begitu cantik, jika dibandingkan denganku ...
Oops, i meant, Naira.
Araya gadis yang sangat manis, Imut dan terlihat sangat ceria.
Jika diibaratkan Naira itu seperti Maincoone, sedangkan Araya seperti Munchkin.
Despite of her face and height, ternyata Araya itu lebih tua setahun dariku.
Jika saja Pangeran Richardo tidak mengatakan soal Araya ada di kelas yang sama dengannya.
Aku mungkin akan masih berpikir sampai sekarang, bahwa Araya seumuran denganku.
Krik-krik-krik ...
Suara serangga seolah mewakili kami berdua untuk bercengkrama.
Aku tidak menyangka kalau kami berdua benar-benar tidak jago dalam membawakan topik pembicaraan. Sampai-sampai kami berdua hanya bisa saling pandang lalu tertawa seperti orang gila.
"Aku dengar dari Pangeran Richardo kalau Nona Araya berada di kelas yang sama dengannya?!" tanyaku memulai percakapan.
"Apakah Pangeran Richardo yang memberitahukannya pada Nona Naira?" tanyanya balik padaku.
"Ah, iya ... itu sebenarnya, secara tak sengaja waktu aku menanyakan tentang Nona Araya ...."
Jawabku ragu-ragu.
"Oh, Nona Naira bertanya soal aku pada Pangeran Richardo?" tanya Araya lagi penuh tanya.
"Ah, iya maaf ... aku bukannya bermaksud ingin mencari tahu soal Nona Araya, hanya saja pertemuan kedua kita waktu itu benar-benar membuatku penasaran."
Kataku lagi dengan senyum garing.
"Haha, jadi kesanku pada Nona Naira adalah rasa penasaran, ya?!" guraunya dengan tawa kecil.
Kami awalnya berkenalan dengan cara yang kikuk, hingga mulai mengobrol dengan sedikit keraguan, kini sudah mulai lancar berbincang-bincang seolah kami berdua adalah teman akrab.
Hal-hal yang kami perbincangkan adalah mengenai hal-hal sepele hingga pribadi, seperti keluarga, hobby hingga kebiasaan buruk kami.
Sampai kemudian,
"Naira!!!" seru suara seorang anak laki-laki yang berdiri tak jauh dari lorong sekolah di seberang sana.
Sosok itu adalah milik Pangeran Richardo, pangeran muda itu memperlihatkan wajah tidak suka, ketika menatap ke arah kami.
"Nanti kita ngobrol lagi, ya Nona Naira?!" kata Araya dengan senyum ramah sebelum pamit berdiri dan beranjak pergi meninggalkanku yang cuma mampu memberikan senyum simpul kepadanya.
Araya pergi dengan tergesa-gesa, seolah kemunculan Pangeran Richardo membuat gadis itu takut.
Walaupun tidak tampak dari ekspresinya.
"Kemarin sudah kubilang kan, aku tidak suka kalau kamu berdekatan dengan gadis yang bernama Araya itu." Ucap Pangeran Richardo kini sudah berjalan mendekat ke arahku.
What the ...?!
Again?
With the not-to-get-near-her warning?!
Seriously, Prince?
Eh itu b-t-w calon permaisurimu, lho.
Aku kok gak pernah inget ada paragraf dalam novel yang nyeritain Pangeran Richardo melarang Naira untuk menjauhi Araya.
"Memangnya ada apa dengan Nona Araya? Kenapa Pangeran Richardo sangat melarangku untuk dekat dengannya?" tanyaku yang ternyata kusampaikan dengan sangat jelas dan lancar.
Bukan di dalam hati, maupun batin karena itu adalah suara protes yang sebenarnya tak inginku sampaikan kepada orang yang bersangkutan.
Aku yang terkejut dengan kata-kataku sendiri, hanya bisa menutup mulut dengan kedua tanganku.
Kataku dengan sedikit merunduk takut.
Iya, aku bukannya takut beneran kok.
Cuman pura-pura takut dan memelas biar gak dimarahin.
Aku mendengar Pangeran Richardo menghela nafas berat.
"Aku bukannya marah padamu, Naira ...."
Katanya kali ini berjongkok di hadapanku.
"Aku hanya tidak suka melihatmu berada di dekatnya."
Katanya lagi yang makin tak kumengerti.
"Kenapa?" tanyaku padanya, "memangnya apa yang salah dengan Nona Araya?"
Pertanyaanku sepertinya cukup mampu membuat pangeran Richardo tertegun.
Pemuda tampan itu terdiam untuk beberapa saat.
Seolah tak mampu menjawab pertanyaanku atau bahkan tidak tau harus menjawab apa dan bagaimana.
"... Maaf, aku bukannya tidak mempercayaimu, hanya saja entah kenapa aku merasa gadis itu sangat berbahaya ...."
Terangnya terdengar ragu-ragu yang malah membuatku sangat heran.
Saking herannya sampai-sampai, tanpa sadar aku mengangkat satu alisku tinggi-tinggi.
Uhhh ... ehm ... aku gak lagi salah dengar, kan?!
Berbahaya??
Araya, calon permaisuri masa depanmu itu BER-BA-HA-YA???
Saking gak percayanya aku sampai memegang kening Pangeran Richardo, sehingga membuat pemuda tampan itu kaget.
"Ka ... sedang apa kamu?" tanyanya menarik kepala itu dengan wajah yang sudah terlihat memerah.
"Oh, maaf ... soalnya Pangeran Richardo wajahnya tiba-tiba memerah, sih, jadi aku kira Pangeran terkena demam."
Gurauku asal-asalan yang mana tak kusangka malah membuat kedua pipi itu masih tak mampu menghilangkan warna merahnya.
"Kau sengaja menggodaku, ya?" tanyanya kesal yang langsung mengusap-usap kepalaku dengan gemas.
Aku hanya bisa tertawa dengan bagaimana kesalnya Pangeran Richardo yang mencoba menyembunyikan ke-malu-annya, I meant, rasa malunya itu.
Tapi, bagaimanapun penjelasan Pangeran Richardo sangat tidak masuk akal dan beralasan.
Apa yang membuatnya berpikiran seperti itu.
Bagaimana dia bisa mengatakan dengan mudahnya kalau Araya si protagonist itu adalah orang yang berbahaya.
Oke-lah kalau kita lagi ada di dalam novel isekai lain, dimana pemeran protagonist ternyata diperankan oleh orang jahat dari dimensi yang sama denganku dan menjadi seorang Villain dalam novel ini.
Uh ... baiklah, aku tau omonganku ngawur.
Tapi, bukankah ini sama sekali tidak masuk akal.
Kalaupun memang benar Nona Araya adalah seorang tokoh Antagonist dalam cerita kali ini.
Apakah itu mungkin bagi Pangeran Richardo untuk menyadarinya.
Mengetahui bahwa gadis itu berbahaya?!
Tanyaku pada diri sendiri yang ternyata malah membuat ekspresi bengong.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pangeran tiba-tiba dengan raut wajah cemas.
"Ya?" tanyaku tidak fokus.
"Apakah dia melakukan sesuatu padamu? Apakah dia mengatakan sesuatu yang menyakitimu??" tanya Pangeran lagi padaku, yang kali ini mendapatkan seluruh perhatianku.
"Maaf ... apakah nona Araya sudah melakukan sesuatu pada Anda, Pangeran Ricky? Sampai-sampai Yang Mulia bisa bilang kalau Nona Araya itu berbahaya?" tanyaku benar-benar penasaran.
Kalau aku memang tidak bisa mendekati Nona Araya untuk mendapatkan jawaban yang kuinginkan, maka satu-satunya cara adalah berbuat jahat pada Yang Mulia Pangeran Richardo.
Bagaimana cara kerjanya?
Simple saja, aku hanya perlu mengeluarkan jutsu manja Naira ter-Shippu-shippu.
Kutatap kedua mata pangeran Richardo lekat-lekat, mata Naira yang bulat berwarna ungu itu bersinar-sinar di bawah cahaya pagi.
Tak bisa dipungkiri bahwa pesona Naira memang mampu menjinakkan kuda liar.
Nah sekarang tinggal menunggu sampai Pangeran Richardo mau menjawab pertanyaanku.
"Itu ... dia ...."
Katanya dengan sedikit gugup.
Masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua mataku yang meminta kejelasan.
Kedua pipi pangeran Richardo semakin bersemu merah.
"Akan kuceritakan asal kau berhenti menatapku seperti itu."
Ucapnya yang tiba-tiba saja menutup mataku dengan kedua tangannya.
"Wah!!" aku kaget dengan tindakannya yang tiba-tiba itu.
Aku pun berusaha menyingkirkan kedua tangannya dari wajahku, karena aku memang sengaja melakukan itu agar pesona Naira mempan terhadapnya.
Kami yang seolah sedang bergulat tangan, tidak menyadari bahwa ada dua sosok manusia yang tengah mengawasi gerak-gerik kami.
Salah satunya adalah seorang gadis yang terlihat begitu bahagia dengan apa yang kami lakukan.
Senyumnya terlihat semakin mengembang melihat kecerian di wajahku dan Pangeran Richardo.
Hingga kemudian tanpa sengaja, aku yang memang ingin bermaksud menampik kedua tangan Pangeran Richardo agar menjauh dari wajahku, malah membuat pemuda tampan itu kehilangan keseimbangannya.
Dan entah bagaimana ceritanya, Pangeran Richardo sudah terjatuh di atasku dan dengan posisi kedua bibir kami saling menempel.
Aku hanya bisa mendelik alias melotot sehebat-hebatnya.
Pangeran Richardo pun juga langsung beringsut bangun dan duduk membelakangiku.
Aku masih bengong menatap langit biru di balik rindangnya pohon.
OH LORD ... tadi itu apa??
Aku gak sengaja dicium sama cowok yang lebih muda belasan tahun daripadaku?!
I meant oke ini tubuh Naira yang cuman beda dua tahun lebih muda dari dia.
Tapi ... bukankah ini berarti ciuman pertama Naira diambil sama Pangeran Richardo?
"EHHHH???"
Kurasa sadarku terlalu telat.
Aku duduk di belakang Pangeran Richardo yang tersentak kaget dengan jeritanku.
Wajahnya masih berpaling, tangan kanannya masih menutupi bibirnya.
Rasanya aku bisa melihat telinga Pangeran Richardo berubah menjadi merah padam.
"Maaf ... aku tidak bermaksud."
Ucap Pangeran Richardo yang sepertinya masih tak mampu untuk berbalik menatap Naira.
"Ci-ciuman pertama Naira ...."
Gumamku dengan cukup jelas dan sengaja terbata-bata.
Melihat reaksinya yang seperti itu, membuat jiwa tante-tanteku tergelitik untuk menggodanya lagi. Mendengar hal tersebut, Pangeran Richardo langsung berbalik menghadapku.
Melihat bagaimana aku memalingkan wajah dengan bibir yang tertutup oleh kedua tangan, serta kedua mata yang sudah mulai terlihat sendu, membuat Pangeran Richardo langsung meraih kedua tangan Naira.
"Aku akan bertanggung jawab!!"
Serunya yang membuat ku terkejut.
Eh?!
Sepertinya aku salah dengar sesuatu deh.
"Yang Mulia Pangeran?"
Tatapku padanya mencoba memastikan lagi, apa yang barusan ia katakan padaku.
"Aku akan bertanggung jawab!! Aku akan menikahimu sebagai gangi ciuman itu!!!"
EEEEEEEEHHH???!!!!
Kalimat pangeran Richardo barusan benar-benar membuatku kaget setengah mati.
BERSAMBUNG UNTUK EPISODE BERIKUTNYA :D
Jangan lupa untuk selalu setia menantikan cerita Naira dan kehidupan Antagonisnya ^^