My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
Page 21: How to Life As a Villain, Naira's Version part two



Reynald's POV


"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain."


Ucapku yang sudah mulai kesal dengan situasi ini.


Nona Naira dan si Penyihir Rambut hitam itu memberikan perhatiannya padaku,


"Aku sudah bilang sebelumnya, bukan?!"


"Kalau aku tidak suka melihat ada orang lain yang bermaksud ingin mengambil milikku."


Tatapku padanya dengan dingin.


Pemuda berambut hitam itu hanya memandangku diam dengan mata merahnya.


"Mulai hari ini pendidikan sihir, nona Naira akan menjadi urusanku."


Ucapku lagi sebelum berpaling pergi dengan Naira yang masih kugendong.


Selama dalam perjalanan, aku yang terlalu sibuk dengan pikiranku yang kusut.


Tak menyadarai bahwa sedari tadi nona Naira menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mungil.


Aku tidak peduli meski harus melawan dan mengubah peraturan.


Jika memang nona Naira tidak menginginkannya, maka sudah tugasku untuk mengabulkan keinginannya.


"Nona Naira?" seru seorang gadis yang lagi-lagi muncul di hadapanku.


"Nona Araya?" tanya nona Naira yang sudah menurunkan kedua tangannya.


"Apa Anda baik-baik saja? Apa anda sakit?" tanya gadis bernama Araya itu mendekati kami.


"Iya ... saya baik-baik saja, terima kasih sudah mencemaskan saya."


Jawabnya dengan senyum yang teramat manis.


Aku tau kalau Naira itu sangat baik, terlalu baik hingga rasanya seperti melihat malaikat tak bersayap yang menyamar dibalik warna Iblis.


"Begitukah? Baiklah, Pangeran Reynald tolong jaga nona Naira baik-baik, ya?! Sampai jumpa lagi."


Ucapnya kali ini, melambaikan tangannya sebelum berjalan pergi menjauh meninggalkan kami berdua. "Bagaimana Nona Naira bisa mengenal Araya?" tanyaku penasaran.


Nona Naira hanya menatapku sekilas.


Seolah sadar akan sesuatu, dia pun merunduk lagi dengan kedua pipinya yang memerah.


"Saya ... tidak sengaja bertemu dengan nona Araya, saat sedang membaca buku sendirian di belakang perpustakaan lama."


Terangnya dengan gugup.


Begitu gugup, sampai-sampai aku seakan-akan mampu mendengar suara detak jantungnya.


"Aku harap Nona Naira bisa berhenti berhubungan dengan gadis itu."


Kataku lagi yang kini membuatnya menengadahkan kepalanya dengan sebelah alis terangkat.


Ekspresi yang pertama kali kulihat dari wajah cantik nona Naira adalah dengan bagaimana dirinya mempertanyakan ucapanku.


Aku tidak paham apa yang aneh dengan kalimatku itu.


Araya memang terlihat seperti gadis biasa.


Tetapi, bagaimana bisa seseorang dengan status yang bukan dari kalangan nobles bisa masuk ke akademi ini dengan mudah.


Dia bahkan tidak memiliki nama tengah ataupun nama keluarga yang dimiliki oleh orang-orang.


Jangankan seorang nobles, orang-orang dari kalangan rakyat biasa pun, mereka masih mempunyai nama keluarga di belakang nama lahir mereka.


Tapi gadis itu hanya memiliki satu nama, Araya.


Mengingatkanku pada penggunaan nama Iblis di Aiwond.


"Pokoknya gadis itu sangat berbahaya."


Kataku lagi pada Naira yang kini mengerutkan keningnya.


"Kenapa ucapan Anda terdengar seperti Pangeran Richardo?"


"Apa sebenarnya maksud kalian berdua, dengan mengatakan kalau nona Araya itu berbahaya?" tanyanya bertubi-tubi padaku.


Tatapan kedua bola mata ungunya yang kini melihatku dengan ketidak percayaan, membuatku sedikit tersentak.


Aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya.


Entah mengapa, aku merasa seolah sudah mengecewakan seseorang yang sangat berharga bagiku dan telah dengan sengaja menyakitinya.


Dada di sekitar jantungku rasanya seperti ditusuk oleh suatu benda tajam dan aku sama sekali tidak menyukai sensasi ini.


"Maaf ...."


Aku yang tidak suka meminta maaf pada orang lain.


Karena selalu menganggap bahwa diriku  dan keputusanku benar, kali ini mengucapkan maaf pada nona Naira untuk pertama kalinya.


Entah mengapa aku merasa bahwa aku sudah melakukan suatu kesalahan besar, hingga membuat gadis cantik yang ada di dalam pelukanku saat ini menunjukkan ekspresi seperti itu.


"Akan kujelaskan semuanya pada Nona Naira. Jadi saya minta maaf."


Kataku lagi yang rupanya kali ini membuat nona Naira tersentak kaget.


"Tidak-tidak, bukan begitu ... maksud saya ... Pangeran Reynald tidak salah, saya hanya penasaran. Itu saja kok, sungguh ...."


Ujarnya dengan terbata-bata, seolah tidak tega mendengarku yang seorang putra mahkota kaisar Caylon ini meminta maaf padanya.


"Tidak ... bagaimanapun, memang sebaiknya, aku harus mengatakan segalanya pada Nona Naira."


"Karena aku tidak ingin Nona Naira berpikiran buruk terhadapku."


Jelasku yang sepertinya mendapatkan tatapan prihatin darinya.


"Asalkan Yang Mulia Pangeran Reynald bersedia, saya akan sangat berterima kasih."


Tatapan prihatinnya kemudian berubah menjadi tatapan ceria dan senyum yang mengembang dengan indahnya.


Asalkan aku bisa mendapatkan senyum dan tatapan secantik itu setiap saat.


Aku bersedia melakukan apapun bahkan jika harus mengacaukan seluruh negeri.


"Maukah Nona Naira memberikan seluruh waktunya hari ini untukku?" tanyaku dengan tatapan mengiba.


Aku sendiri tidak pernah menyangka sekalipun, akan datang waktu dimana aku meminta sesuatu pada seseorang dengan tatapan mengiba.


Aku yang seorang putra mahkota kaisar Caylon.


Kekaisaran kedua yang menguasai separuh Aiwond, setelah Faireniyan.


Satu-satunya penerus tahta kekaisaran Caylon, apapun yang kuinginkan pasti akan dengan sangat mudah kudapatkan.


Tanpa harus mengiba, tanpa harus meminta.


Karena hal yang aku inginkan pasti akan datang dan jatuh ketanganku dengan sendirinya.


Tetapi, entah mengapa aku merasa nona Naira itu seperti rare item yang hanya akan mampu kumiliki dengan usaha dan perjuangan.


Sebaliknya, jika aku hanya berdiam diri untuk menunggu nona Naira datang padaku, aku cemas orang lain akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan nona Naira dan menjauhkannya dari jangkauanku.


"Tentu saja Yang Mulia."


Balasnya dengan senyum hangat yang membuat hatiku berbunga-bunga.


"Terima kasih."


Kata-kata yang dulunya sangat sulit kuucapkan, karena merasa tidak ada orang lain yang pantas mendapatkannya selain anggota keluarga kekaisaran.


Namun, semenjak setelah aku bertemu dan mengenal nona Naira, aku merasa sedikit demi sedikit mulai berubah.


Aku menyukai perubahan itu.


Perubahan manis yang mampu membuatku mengubah dunia untuknya.


Tanpa mengulur waktu lagi, aku pun segera bergegas untuk melangkah pergi menuju kamar asrama, dengan masih bersama nona Naira yang ada di dalam pelukanku.


"Pa-Pangeran Rey ... bisakah kita berjalan berdua secara Normal saja?" tanyanya dengan gugup dan bingung.


"Aku merasa cara berjalan kita sudah cukup Normal."


Balasku menggodanya.


Pintanya sembari membungkus wajah menggemaskannya yang memerah itu dengan kedua tangan mungilnya.


"Maaf, tolong bertahan saja sebentar lagi hingga kita sampai di tujuan nanti."


Kataku dengan senyum, masih menggodanya.


"Kalau begitu tolong berjalan lebih cepat lagi ...."


Ungkapnya yang semakin membuatku tak tahan untuk menggodanya lebih lagi.


"Sayang sekali, karena aku tidak mau waktu yang kuhabiskan bersama Nona Naira berlalu begitu saja dengan cepat. Terutama pada momen-momen seperti ini."


Jelasku yang sepertinya sudah membuatnya speechless.


Sesampainya kami di dalam kamar asrama yang dulu kupakai selama masa sekolah di akademi ini.


Meskipun, aku sudah lama lulus dari sekolah ini, aku masih punya hak dan akses masuk kapan pun aku mau. Serta, bagi para lulusan dipersilahkan untuk melanjutkan pendidikan atau hanya sampai pada jenjang itu saja.


Awalnya aku yang tidak tertarik untuk melanjutkan pendidikan di Fairan karena sudah berencana akan mengambil sekolah lanjutan ke Caylon, berubah pikiran sejak mengetahui bahwa nona Naira akan masuk ke akademi.


Beberapa saat kemudian,


Aku dan nona Naira sudah duduk saling berhadapan.


Ervan dan Dragon sudah meninggalkan kami sendirian atas perintahku, setelah menyuguhkan hidangan seperti minuman dan makanan ringan.


Walaupun, enggan karena harus membiarkan tuan mereka bersama the Still-a-fiancee-candidate-nya Pangeran Richardo.


Mereka berdua tetap saja tidak bisa berbuat apa-apa untuk menentangku.


"Jadi, kalau aku boleh mengulang kata-kata Nona Naira lagi, Pangeran Richardo juga sudah pernah mengatakan hal yang sama tentang gadis yang bernama Araya itu?" tanyaku dengan santai bersandar pada sofa.


"Benar Yang Mulia. Karena itulah saya tidak bisa memahami maksud dari hal tersebut."


"Karena walaupun, aku juga baru saja mengenal nona Araya, aku tidak merasakan sedikit pun ancaman maupun perasaan bahaya, selama saya bersama nona Araya."


Jelasnya panjang lebar dengan mata sedih.


Aku tau kalau nona Naira bukanlah tipe orang yang akan begitu saja mempercayai perkataan orang lain, sebelum dia melihatnya sendiri.


Tapi aku tidak mau terjadi sesuatu padanya, hanya karena dia ingin memastikan sendiri hal tersebut. Meskipun, aku juga tau dia punya kemampuan sihir yang luar biasa, bukan berarti dia akan baik-baik saja. Dengan atau tanpa kekuatan itu, entah kenapa aku ingin tetap melindunginya.


"Jadi begitu rupanya ...."


Gumamku kembali menganalisa perkataan nona Naira seputar Araya.


"Mungkin ini hanya asumsiku saja, tapi kemungkinan besar Pangeran Richardo juga merasa bahwa gadis yang bernama Araya itu punya tujuan terselubung."


Terangku padanya yang masih membuat nona Naira menatap penuh tanya.


"Maksud Pangeran Reynald? Saya masih tidak mengerti."


Tanyanya lagi.


Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini karena aku tidak suka ada orang lain yang mengganggu waktuku bersama nona Naira.


Tetapi, jika untuk membuat nona Naira mengerti adalah dengan cara mengikut sertakan Ricky dalam perbincangan kami.


Then so be it.


Aku memanggil Ricky dengan sihir komunikasi.


Aku tau dia tidak akan mau datang jika aku tidak menyebutkan nama nona Naira kepadanya.


Tak lama kemudian, suatu diagram portal sihir muncul di ruanganku, tepatnya di samping kami.


Aku tak perlu melihat karena aku sudah tau bahwa itu adalah Ricky.


Aku bangun dari tempatku duduk, lalu berpindah ke sisi nona Niara.


Kupersilahkan Pangeran Richardo untuk mengambil kursiku yang kosong.


Aku melihat bagaimana canggungnya nona Naira yang duduk dengan kaku di sampingku dan wajah tertegun Ricky saat ia berjalan menuju kursi yang kusediakan.


"Mari kita langsung bahas saja perbincangan yang tadi sempat tertunda."


Ucapku tanpa basa-basi.


"Kau sama sekali tidak mengatakan apa-apa selain untuk datang kemari, Paman Rey."


Olok Pangeran Ricky padaku.


"Ini mengenai Araya. Kau bilang pada nona Naira kalau gadis itu berbahaya bukan."


Ucapku memandang ke arah Pengeran Richardo yang sudah duduk dengan enggan.


"Memangnya kenapa dengan gadis itu?"


Tanyanya yang kemudian, entah kenapa membuatnya sedikit tersentak.


"Apa gadis itu melakukan sesuatu padamu, Nona Naira?" tanya Pangeran Richardo yang menatap cemas pada nona Naira.


"Iya? Aku baik-baik saja Pangeran, terima kasih banyak sudah mencemaskanku."


Balas nona Naira dengan senyum ramah.


"Hhh ... syukurlah."


Ricky tersenyum lega.


"Mengenai gadis yang benama Araya itu, aku tidak tau bagaimana harus memulai cerita ini."


"Tetapi, jika Nona Naira bersedia mendengarnya ...."


Tanya Pangeran Richardo yang kemudian dijawabnya dengan anggukan cepat yang menggemaskan.


"Gadis itu datang sekitar tiga bulan setelah aku memasuki akademi."


"Awalnya tidak ada yang aneh pada gadis itu selain namanya yang tidak memiliki nama tengah dan nama keluarga."


Terang Richardo mengawali.


"Karena dia diperkenalkan langsung oleh kepala sekolah sebagai sepupu jauhnya."


"Anak-anak akademi tidak ada yang memperdulikan keanehan tersebut."


"Namun, seminggu setelahnya, entah disengaja ataukah kebetulan gadis itu selalu muncul dimanapun aku berada."


"Di koridor, di perpustakaan, di taman, dia selalu ada di sana seolah menungguku."


"Jika tidak begitu, seolah dia tidak sengaja berada di sana dengan cara menabrakku."


Aku dan nona Naira mendengarkan penuturan Pangeran Ricky dengan tenang.


Nampaknya apa yang terjadi padaku juga terjadi pada Pangeran Richardo.


Gadis yang bernama Araya itu entah kenapa selalu muncul di saat yang tepat ketika aku ada di sana.


Awalnya, aku yang bertemu dengan gadis itu seolah aku melihat bayangan nona Naira dari dirinya.


Tidak banyak penduduk Aiwond yang memiliki warna rambut dan bola mata yang sama atau senada. Seperti halnya nona Naira dan Aku.


Awalnya aku hanya berpikir bahwa hal tersebut hanya suatu kebetulan.


Tetapi, mendengar Richardo juga mengalami hal yang sama, berarti aku tidak salah bila mengatakan bahwa gadis yang bernama Araya itu Berbahaya.


Dia memang masih belum menunjukkan tanda-tanda yang lebih mencurigakan daripada menjadi seorang stalker.


Tapi, bukan hanya denganku dan Pangeran Richardo, nampaknya dia sudah menargetkan nona Naira juga.


"Apa kamu masih ingat, waktu kita berdua ada di koridor sekolah dan tiba-tiba saja dia muncul menabrakku dari belakang?" tanya Pangeran Richardo.


Sepertinya itu juga baru saja terjadi padaku saat bersama dengan nona Naira.


"Apakah, Yang Mulia menganggapnya bukan sebagai suatu kebetulan?" tanya Naira dengan polosnya.


"Nona Naira, bayangkan saja bagaimana bisa hal tersebut menjadi suatu kebetulan saat terjadi kembali pada anda saat bersamaku di koridor waktu itu."


Ucapku yang kini mendapatkan seluruh perhatian dari nona Naira.


"Bukankah masih bisa dianggap sebagai suatu kebetulan?" tanyanya lagi yang membuatku dan Pangeran Richardo facepalm.


BERSAMBUNG


 


IKUTI TERUS KELANJUTAN KISAH LADY NAIRA BERIKUTNYA :D