
Naira's POV
Di dalam perpustakaan akademi
Aku yang tengah duduk di bangku paling pojok ruangan, menatap damai keluar jendela yang menyuguhkan pemandangan danau dan taman belakang akademi.
Sejak kejadian bersama kedua pangeran itu, aku benar-benar tidak bisa tenang.
Nona Araya yang sepolos itu dianggap memiliki tujuan terselubung karena tiba-tiba mendekatiku, setelah melakukan hal yang dianggap aneh oleh mereka.
Ya, aku sih paham kalau ini dunia Isekai, bisa jadi ada kemungkinan sebenarnya nona Araya adalah orang dari dunia yang sama denganku.
Dan karena dia terlahir kembali sebagai tokoh utama, gak heranlah kalau dia membuat kedua pangeran terpengaruh olehnya.
Walaupun, nona Araya gak seberapa bisa dibandingkan jika dengan Naira, sih. Tapi, gadis itu sudah tercatat sebagai female heroine.
Sekeras apapun aku berusaha dan siapapun yang berhubungan dekat denganku saat ini.
Jika itu semua sudah ada dalam rute sang tokoh utama.
Maka sudah dipastikan semua akan berjalan sesuai yang ada dalam cerita.
Sayangnya, aku gak bisa bilang begitu ke mereka.
Tapi, aku benar-benar tidak ingin Pangeran Reynald menghadapi bad ending.
Aku tidak peduli dengan siapa dia akan mengakhiri cerita ini, asalkan aku bisa melihatnya bahagia, itu sudah cukup buatku.
Entah kenapa kalimat Pangeran Richardo waktu kemarin itu membuatku berpikir ulang lagi.
Sebenarnya, iya, bisa saja kalau aku tetap jadi Naira yang sekarang dan membiarkan Pangeran Reynald berakhir dengan Araya.
Lalu, aku dengan Pangeran Richardo.
Asalkan bisa mencegah mereka berebut saja, sepertinya sudah cukup mampu meloloskan Pangeran Reynald dari bad ending-nya.
Heee ... tapi, kok, ya, aku gak ada niat pengen kayak begitu?!
Soalnya emang aku gak tertarik sama dia, sih.
Batinku dengan tampang yang sudah menyunggingkan senyum garing.
Well, bagaimana pun sejak awal membaca novel, karakter Pangeran Reynald lebih menarik perhatianku.
Dia adalah karakter yang membuatku terinspirasi untuk membuat novel.
Sayangnya, aku udah mati duluan sebelum sempat menulisnya.
Cinta yang tak memandang usia dan derajat maupun kedudukan.
Itulah yang sebenarnya ingin kutulis dalam novelku nanti.
Memang,sih, tokoh utamanya waktu itu terispirasi oleh Araya.
Tapi, kalau sekarang aku jadi ingin membuat tokoh utamanya adalah Naira.
Ocehku sendiri yang sudah mulai bercabang kemana-mana.
Padahal seharunya aku memikirkan soal keanehan nona Araya dan kemungkinan besarnya, bahwa Nona Araya adalah orang yang bersal dari duniaku juga.
Batinku lagi mengeluh dengan bagaimana mudahnya pikiranku teralihkan.
Hingga tanpaku sadari, seseorang sudah berdiri di samping mejaku.
"Selamat pagi Nona Naira?" sapanya dengan ramah.
Suara sapaan itu berasal dari gadis yang sedang aku bicarakan dengan diriku sendiri.
"Oh, selamat pagi Nona Araya."
Balasku sedikit terkejut dengan kedatangannya yang selalu tiba-tiba.
Apa aku juga harus mencurigai cara datangnya yang luar biasa sangat kebetulan ini?
Tanyaku lagi membuatku menggeleng kepala dengan cepat.
Tidak-tidak aku bukan tipe orang yang suka menaruh curiga.
Kataku lagi.
Selama Nona Araya tidak melakukan hal yang membahayakan ke-innocent-anku rasanya tidak apa-apalah aku membiarkannya mendekatiku sebentar.
Ucapku seolah tengah menenangkan dan mencoba untuk meyakinkan diri sendiri, bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
"Apa saya boleh duduk di sini menemani Anda?" tanyanya dengan senyum hangat.
"Tentu saja, Nona Araya, silahkan."
Jawabku dengan senyum datar.
Namun, masih terlihat ramah kepadanya.
Kulihat dia melangkah menuju kursi di depan mejaku, kami pun kini sudah duduk saling berhadapan.
"Nona Naira sedang membaca buku tentang apa?" tanyanya lagi meletakkan bukunya di atas meja.
"Hanya buku pengetahuan tentang sihir."
Jawabku kini bertopang dagu memperhatikannya.
"Nona Naira bisa melakukan sihir?" tanya gadis itu yang membuatku sedikit terkejut.
"Ah tidak, saya tidak suka melakukan sihir ...."
Jawabku ngawur, bagaiamana bisa tidak suka melakukan sihir.
Tapi, bacaanku malah buku soal sihir.
Kelihatan banget gak sih bohongnya.
Aku hanya bisa melirik dengan tatapn aneh kesampingku.
"Kenapa Nona Naira tidak suka melakukan sihir? Bukankah hanya membaca saja, rasanya tidak akan seru?" tanyanya lagi yang membuatku tertegun.
Wow!!!
Rupanya nona satu ini sangat jeli sekali, aku rasa dia memang bukan anak kecil biasa yang bisa kubohongi dengan mudah.
Ya~ tentu saja aku suka melakukan sihir, sangat suka sampai-sampai aku bisa melakukan sihir tersulit dalam sekali coba.
Ungkapku dalam hati yang tak mampu kuutarakan padanya.
Aku hanya membalsa senyum nona Araya dengan anggun.
"Apa saya boleh bertanya pada Nona Araya sebelum menjawab pertanyaan Anda?" tanyaku balik dengan ramah dan sopan.
"Tentu saja Nona Naira, silahkan tanya apapun. Selama saya bisa menjawabnya."
Balasnya, yang membuatku kembali berpikir dan membenarkan, bahwa gadis ini memang adalah orang sepertiku.
Maksudku, orang yang berasal dari duniaku.
Karena entah kenapa aku merasa nona Araya juga bersikap sangat dewasa.
Terlalu dewasa untuk ukuran anak seusianya.
Bisa jadi jiwa yang mendiami nona Araya sebenarnya juga seumuranku.
Batinku mengarang cerita sendiri.
"Jadi, apa yang ingin Nona Naira tanyakan?" tanya gadis itu yang membuatku tersadar bahwa sedari tadi, aku malah sibuk melamun.
"Yang saya ingin sekali tanyakan sejak hari pertemuan kita adalah, apakah Nona Araya sama sekali tidak takut pada saya?"
Tanyaku yang rupanya sedikit membuat gadis itu terkejut.
"Saya adalah gadis yang terlahir dengan kekuatan Iblis, semua orang dari mulai anak kecil hingga orang tua takut pada saya."
"Tak ada yang berani mendekati saya, bahkan berbicara dengan saya dalam jarak sedekat ini."
Kataku dengan senyum lembut.
Aku bisa melihat bagaimana nona Araya sedikit bergidik.
Walaupun, aku tidak bermaksud menakutinya dengan senyuman.
"Apakah Anda sudah tau, kalau pemilik warna Iblis memiliki kemampuan sihir yang sangat tak terbatas?" kataku lagi-lagi mengarang, tanpa tau kebenarannya.
Wait, kenapa rasanya aku kayak lagi sengaja nakut-nakutin si Araya, ya?!
"Hahaha maaf-maaf nona Araya saya hanya bercanda."
Kataku lagi mengibas-kibaskan tangan dengan senyum lebar.
"Saya hanya ingin bilang kalau orang seperti saya akan jadi sangat berbahaya jika melakukan sihir."
Ucapku dengan senyum ramah padanya yang masih tertegun memandangiku.
"Jadi ... apakah itu berarti, sebenarnya anda tertarik untuk melakukan sihir?"
Tanyanya yang membuatku kini jadi tertegun.
Sepertinya dugaanku tepat, ini orang emang sama sepertiku yang datang dari duniaku.
Sebenarnya, dia mau apa, ya?
Kalau dari manga-manga isekai yang pernah kubaca, orang-orang seperti mereka ini sebenarnya hanya ingin merusak reputasi si villain yang gak mau berbuat jahat, dengan merencanakan something biar si villain sepertiku terlihat jahat.
Well, aku sudah dicap sebagai anak Iblis from the beginning, terus aku pura-pura jahat, biar Derrick dan Anne gak mempermasalahkan soal pertemananku dengan anak-anak di akademi.
Apa yang bakalan berubah dengan Araya yang mau menjebakku untuk terlihat lebih jahat?
Tanyaku masih menyunggingkan senyum, yang rupanya cukup mampu membuat Araya tertegun.
"Saya sebenarnya sangat menyukai sihir."
"Suka sekali sampai-sampai rasanya pasti menyenangkan bila bisa menjadi penyihir terkuat yang terlahir dengan warna Iblis."
Jawabku yang makin membuat gadis di hadapanku ini terkejut.
"Tidakkah menurut Nona Araya ini akan sangat mengagumkan."
"Bukankah akan sangat keren sekali, anak Iblis yang menjadi penyihir terkuat diseluruh Aiwond."
Sambungku lagi, kini bertingkah selayaknya anak kecil yang membanggakan cita-cita masa depannya kepada orang lain.
"Bagaimana dengan Anda Nona Araya?"
"Kalau bisa sih aku benar-benar ingin menjadi penyihir."
"Tapi, sayangnya aku tidak ingin lebih dibenci lagi setelah penampilanku yang seperti ini."
Kataku kini dengan senyum sedih.
Aku mencuri pandang ke arah Araya, gadis itu sepertinya sedikit terlihat kaget dengan bagaimana aku memberinya tatapan seolah akan menangis pada detik itu juga.
"No-nona Naira?" panggilnya sedikit ragu dan gugup.
"Saya membaca buku sihir, saya menyukai sihir, juga ingin sekali mencobanya."
"Tapi, bukan berarti saya akan melakukannya hanya karena saya berpotensi bisa menggunakannya."
Ungkapku kini berdiri dengan masih menatapnya yang sedikit terkejut.
"Jam istirahat saya hampir akan selesai."
"Jadi saya mohon untuk permisi terlebih dahulu."
Ucapku sedikit membungkuk memberi salam hormat seorang nobles.
Kulihat bagaimana Araya hanya mampu berdiri tanpa suara, maupun jawaban untuk salamku.
Aku hanya memberinya senyum terakhir sebelum berbalik pergi dengan buku, yang tadi sempat kubaca sejenak, yang kini sudah ada dalam pelukanku.
Apa aku perlu mengatakan hal yang kualami ini kepada para pangeran?
Terus, memangnya apa yang aku ingin mereka lakukan pada nona Araya?
Gadis itu hanya berbincang denganku.
Walaupun, dengan sedikit memancing.
Bukan berarti gadis itu sudah melakukan hal yang akan membahayakan nyawa Naira.
Tidak, aku tidak perlu memberitahukan hal ini pada pangeran.
Tidak sebelum aku mengetahui tujuan Araya dan siapa dia sebenarnya.
Kataku dalam hati.
Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya agar aku tidak perlu menggunakan sihir selama berada di akademi.
Walaupun, aku tidak bisa menyelamatkan level kemampuanku yang sudah diappraisal waktu itu.
Apa aku seharusnya meminta bantuan tuan penyihir Delarion lagi, ya?
Tanya ku lagi dalam hati.
Sekembalinya aku ke kelas, seperti biasa dan yang sudah pernah terjadi sebelum-sebelumnya, anak-anak yang tanpa sengaja mentap ke arahku langsung mengalahkan pandangannya.
"Ya ampun, kenapa aku bisa berada di kelas yang di penuhi dengan anak kecil, sih?!"
"Aku, kan, gak bisa banget kalau harus berhadapan dengan mereka."
Ucapku bergumam sendiri.
Dimana tanpa aku ketahui gumamanku itu masih bisa terdengar jelas oleh anak-anak di kelas.
Dengan santainya tanpa menyadari hal tersebut, aku melangkah kembali ke bangkuku yang terletak paling pojok di belakang kelas.
Tanpa teman sebangku, seolah kursi dan meja ini sangat terpaksa disediakan untukku di dalam kelas yang jumlahnya sudah genap ini.
"Apa maksudmu dengan anak kecil?"
Kata seorang anak perempuan yang aku lupa dari keluarga mana dan siapa namanya.
"Apa maksudmu dengan maksudku??"
Tanyaku balik dengan polosnya.
Masih tidak menyadari alasan kenapa gadis itu begitu kesal saat menatapku.
"Aku tidak peduli dengan kau yang seorang anak Archduke."
Katanya lagi yang berjalan dengan sedikit gemetar ke arahku, beberapa orang temannya sudah terlihat pucat berusaha menghentikannya.
"Hentikan itu, keluarga Anda bisa dapat masalah kalau berurusan dengan keluarga Archduke."
"Sudahlah, dia itu anak Iblis, jangan hiraukan dia."
Ucap teman-temannya berbisik, meskipun masih dengan jelas mampuku dengar dari jarak segini.
Aku hanya bertopang dagu, pura-pura tidak tau kalau teman-temannya sedang mengata-kataiku di telinganya.
"Aku tidak takut ...."
Kata nona itu yang bagaimana pun aku melihatnya, dia cukup hebat dalam menutupi kenyataan kalau dia gemetaran.
"Anda memang tidak perlu takut, kan, aku sama sekali tidak menggigit."
Kataku dengan senyum lebar.
"Padahal, aku sangat ingin berteman dengan kalian semua."
"Tapi, kalian sudah takut duluan hanya karena penampilanku."
Ucapku lagi menghela napas berat.
"Jadi sekalian saja aku pura-pura jadi sombong dan jahat."
Ungkapku kini memberikan tatapan sedih.
"Padahal seumur hidup aku belum pernah menjahati orang."
"Tapi, malah harus berpura-pura jahat agar tidak dijahati orang."
Aku menutupi bibirku dengan tangan dan mengatupkan kedua mata.
Kembali aku membuka mata untuk memberikan tatapan iba pada semua orang yang saat ini tengah menatap ke arahku.
"Apakah aku benar-benar terlihat sangat menakutkan?"
"Aku .. hanya ingin punya teman."
Tatapku dengan serangan Puppy eyes pada anak-anak yang sudah ... entah bagaimana perlahan-lahan kedua pipi mereka sudah bersemu merah.
Apakah pesona Naira cukup mempan menyerang mereka??
Tanyaku yang masih dengan mata berkaca-kaca.
Siangnya, begitu kelas telah usai lebih awal.
Aku meutuskan untuk kembali ke kamar sebelum ke kantin karena ingin melihat keadaan Kyuven.
Ketika aku membuka pintu kamar asramaku dan memanggil Kyuven.
"Selamat siang nona Naira."
Suatu suara familiar terdengar di seberang kamar.
Sosok yang cukup mampu membuat kedua mataku terbelalak sempurna dan aku yakin saat ini wajahku sudah memucat.
Sosok itu telah berada di sebelah Kyuven dan tengah membelai anak itu dengan penuh sayang.
Kyuven juga terlihat begitu nyaman saat disentuh olehnya.
Bukan hanya itu, aku melihat duplica-ku tengah berdiri di sebelah sosok itu.
Sosok yang sebenarnya tak ingin kupercayai telah ada di dalam kamarku.
Sosok itu kini telah mengetahui seluruh rahasiaku, kemampuan sihirku dan yang paling parah lagi, adalah terbongkarnya keberadaan Kyuven, yang adalah seekor Chimera di akademi ini di dalam kamarku.
BERSAMBUNG :D
jangan lupa baca epidose selanjutnya ^^