
Third Person's POV
Setelah Araya berpamitan karena hari sudah mulai sore,
dan dia tidak ingin ada yang meras curiga dengan keberadaannya di asrama Naira.
Araya memutuskan untuk pergi menggunakan teleportasi.
Naira terlihat menghela nafas panjang,
Banyak hal yang terasa janggal dan benar-benar diluar perkiraannya.
Perihal nona Araya yang ternyata memiliki orang yang disukai,
yang mana orang tersebut bukanlah tokoh pendamping si tokoh utama.
Soal Nona Araya yang ternyata mampu melakukan sihir dasar seperti teleportasi.
Juga perihal dirinya yang juga sebenarnya merasa terhipnotis setiap kali berada di tempat yang sama dengan kedua pangeran.
Naira masih bisa mengingat penjelasan yang diberikan oleh Araya mengenai bagaimana dia juga menyadari bahwa dia mengatakan hal-hal diluar kewenangannya.
"Aku juga pada awalnya tidak yakin dengan apa yang sebenarnya terajdi."
"Dimana setiap kali aku bertemu dengan para pangeran."
"Tubuhku seolah memiliki pikirannya sendiri."
"Aku mengucapkan hal-hal yang sama sekali tidak kuinginkan."
"Namun, entah mengapa perasaanku sama sekali tidak merasa aneh dan malahan aku seolah tengah bersama orang yang aku sukai."
Naira kemudian mengingat betapa manga-manga Isekai yang selama ini ia telah baca,
meyampaikan bahwa alasan mengapa adanya ketertarikan para tokoh utama kepada sang heroine adalah karena memang sudah sesuai dengan plot yang seharusnya.
Naira kembali menghela nafas panjang.
Bukan karena dia kecewa dengan kenyataan yang ia dapat.
Tetapi lebih karena dirinya tidak tau apa yang sebaiknya ia lakukan.
Selama membaca manga-manga Isekai yang berlatar belakang dunia otome game.
Akan ada saat dimana Naira harus strugling dalam melawan alur cerita yang sudah dirancang di dalam sistem tersebut.
Dengan kata lain adalah melawan takdir.
Naira juga mengingat bagaimana Araya meminta tolong Naira untuk dapat membantunya.
"Soal apa?"
Tanya Naira sedikit aware.
"Sebenarnya aku sekarang tengah mencari sakusha."
Kata Araya.
"Sakusha??"
Tanya Naira memiringkan kepalanya bingung.
"Itu adalah istilah seorang pencipta dalam dunia ini."
"Dimana maksudku adalah pengarang Otome Game yang menjadi dunia kita saat ini."
"Ada di dunia ini juga."
Terangnya membuat Naira benar-benar terkejut dengan kedua mata indahnya yang sudah membelalak lebar.
"Maksudmu?"
"Pengarang Otome Game itu juga mati dan terlempar ke dunia ini??"
Tanya Naira lagi masih tidak bisa mempercayai ucapan Araya.
"Aku tidak tau."
"Tapi ... sebenarnya, hari dimana aku meninggal karena kecelakaan itu."
"Orang itu juga ada di sana bersamaku."
"Dia bahkan berusaha untuk menolongku."
Terangnya pada Naira.
"... Apa anda yakin bahwa pengarang Otome Game ini juga ikut mati bersama anda?"
Tanya Naira lagi dengan satu alis terangkat.
Araya seolah memperlihatkan wajah desperate pada Naira.
"AAAAAAARGH aku tidak tauuuuuu ... lalu aku harus bagaimana dong??"
Tanya Araya yang malah membuat Naira sweatdrop.
"Aku tau ini gak boleh dan sangat keterlaluan."
"Sebenarnya mengenai orang itu ikut mati bersamaku dan terlempar ke dunia ini hanyalah sebatas dugaan saja."
"Aku bahkan gak tau bagaimana nasib orang itu."
Terangnya lagi menarik rambutnya sendiri.
"Apa Nona Araya berharap kalau orang itu mati saja?"
Tanya Naira sedikit menggoda.
"Ehh bukan-bukan begitu, sebenarnya sih, ya ... agak berharap sedikit."
"Tapi, enggak kog, kalau dia masih hidup ya nggak apa-apa ...."
Katanya lagi bingung sendiri.
Naira terkikih dengan bagaimana polosnya anak yang dianggap berbahaya oleh para pangeran itu.
Naira kini tengah memikirkan langkah apa yang sebaiknya ia ambil.
Bukan sekedar untuk menyelamatkan pangeran Reynald dari bad ending-nya.
Tetapi, mengungkap seperti apa sebenarnya game otome yang tengah ia lalui sebagai takdirnya saat ini.
Karena jika benar dunia ini bukanlah novel melainkan game otome yang sama sekali belum ia ketahui,
bahkan baru saja ia dengar dari Araya.
Maka semuanya sudah berbeda jauh dari apa yang direncanakannya.
Naira merebahkan tubuh mungilnya ke tempat tidur,
wajah cantiknya menoleh ke arah jendela,
di sana rupanya langit berubah menjadi jingga.
Dia tidak menyangka bahwa pada usia semuda ini Naira harus hidup dengan otak,
perilaku serta problematika wanita dewasa.
Naira's POV
Tidak bisakah sekali saja aku hidup secara bebas di dunia ini.
Sebebas Naira di dalam Novel?
Eh tapi ntar aku bisa mati kalau gitu caranya
Hhff
Keluhku ngedumel sendiri dalam batinku.
ARRRRRRRGH!!!
Saking sebelnya aku menjerit tertahan di dalam kepalaku.
Seperti anak kecil yang tak berhasil mendapatkan mainan kesayangannya,
tanpa kusadari aku sudah memukul-pukulkan kedua tangan dan kakiku ke ranjang.
Knock-knock-knock
Suara ketukan pintu kamar asrama disusul oleh suara Anne membuatku tersadar dari lamunan.
Kyuven sudah terlihat berjalan masuk dan bersembunyi di dalam kamar mandi.
Mahluk menggemaskan yang sekarang sudah tumbuh sebesar Harimau dewasa itu masih mengingat trick lama tersebut.
Gelagat Kyuven cukup mampu untuk membuat mood-ku kembali.
"Masuklah Anne."
Panggilku dengan sedikit keras,
yang sekarang sudah beranjak untuk menuju ke meja rias.
Anne membuka pintu kamar dan terlihat berjalan masuk dengan selembar kertas di tangannya.
"Nona Naira ... anda mendapatkan pesan dari pangeran Reynald."
Kata maid-ku yang cantik itu lagi dengan senyuman.
"Terima kasih banyak Anne."
Kertas yang hanya terlipat sekali itu kubuka dengan mudah,
di dalamnya terdapat tulisan tangan Pangeran Reynald yang menyalakan bahwa pemuda tampan itu akan datang menjemputku.
Aku senang sih, tapi sekarang bukan saatnya berkencan.
Kataku dalam hati dengan bibir yang ternyata tanpa sadar dan bisa dicegah sudah menyunggingkan senyum tipis.
"Anne ... bisakah aku meminta tolong padamu untuk memanggil Derrick untukku?"
Tanyaku dengan senyum datar.
"Ada perihal apa Nona?"
"Apakah ada yang anda butuhkan?"
"Saya bisa melakukannya untuk anda."
Tanya Anne dengan tatapan sedih dan sedikit mengiba.
Aigooo sepertinya maid yandere-ku yang satu ini memang sangat sensitif apabila sudah menyangkut soal kebutuhan Naira.
Keluhku dalam hati tertawa sendiri.
"Tidak ada hal yang serius Anne ... aku tau kaupun bisa melakukannya untukku."
"Aku hanya ingin Derrick menyampaikan pada Pangeran Reynald kalau aku tidak bisa mengabulkan permintaannya, malam ini."
Ungkapku padanya.
"Kalau hanya begitu saja, biar saya yang melakukannya untuk anda Nona Naira."
Ucapnya dengan senyum bangga.
"Iya, sih ... tapi kamu, kan, maid-ku Anne."
"Jadi aku ingin kamu menemaniku di sini saat Derrick tidak ada."
"Apalagi, kan, sebentar lagi sudah waktunya mandi."
Kataku yang sudah sedikit memperlihatkan wajah cemberut sedih,
"atau kamu mau Derrick yang memandikan aku?"
Tanyaku agak sedikit usil.
"Ma-mana mungkin saya akan membiarkan Derrick melakukan kegiatan sakral seperti itu."
"Apalagi membiarkan pemuda itu melihat tubuh suci Nona Naira."
Ujarnya dengan kedua mata yang membara.
Aku hanya bisa senyum garing dengan bagaimana cara Anne mengekspresikan rasa sayangnya pada Naira.
Aku memang kurang mengenal Naira yang ada dalam Novel.
Benarkah gadis ini memang sangat amat dicintai sampai seperti ini oleh orang-orang selain keluarganya. Karena selama aku mendiami tubuh Naira.
Dalam ingatan gadis kecil ini,
hanya keluarga Van Vellzhein-lah yang mencintai nona Naira tanpa batas.
Hingga aku menganggap bahwa penolakanku kali ini,
sebagai nona Naira pada pangeran Reynald akan mengakibatkan pemuda penuh pesona itu bertindak lebih jauh lagi dan pada level yang tak mungkin dapat kuprediksi.
Jangan sampai deh ... masa iya masalah sepele seperti ini bakalan bikin pemuda dewasa itu senewen.
Kataku lagi yang tengah memperhatikan bayangan Anne.
Wanita muda itu tengah terlihat meminta Derrick untuk melaksanakan amanat dariku.
Derrick terlihat menatap ke arahku sekilas, lalu mengangguk.
Sepertinya dia tau kalau aku sedang memperhatikan mereka.
Setelah itu Derrick berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar.
Anne kemudian berbalik dan berjalan menghampiriku.
Aku tau ... aku mengerti sekali dengan bagaimana anehnya kelakuanku sejak Naira yang asli terjatuh dari tangga beberapa tahun yang lalu.
Ditambah lagi, orang-orang di dalam keluarga Van Vellzhein sudah mengetahui isi hatiku yang sebenarnya terhadap pangeran Reynald.
Tetapi, sekarang malah aku menolak ajakan orang yang benar-benar aku sukai.
Yah ... mau bagaimana lagi.
Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan para pangeran itu apalagi dengan bagaimana bingungnya aku saat ini.
Dunia ini sebagaimana menurut nona Araya adalah dunia di dalam otome game.
Walaupun tidak ada yang berbeda dengan setting dunia dalam novel,
hanya saja aku yakin alur dan plot kali ini akan sangat jauh berbeda dengan yang ada di dalam Novel yang pernah aku baca.
Aku kembali tenggelam dalam pikiranku,
tidak memperdulikan bagaimana Anne dengan senangnya memandikanku,
mengganti pakaianku lalu mengganti pakaianku sebelum menyiapkan makan malam.
Keesokan harinya,
"Selamat pagi Nona Naira."
Sapa beberapa anak di dalam kelas yang baru saja aku masuki,
sedikit kaget,
aku melihat bagaimana beberapa wajah familiar, terlihat tengah tersenyum ke arahku.
Tentu saja aku yang masih belum sepenuhnya keluar dari dalam maze pikiranku sendiri,
hanya bisa mengerjapkan mata dengan penuh tanya.
Sampai kemudian,
sapaan innocent datang dari seorang gadis yang aku ingat pernah crash denganku beberapa hari yang lalu.
Beberapa detik kemudian akupun memahami situasiku pada saat ini.
"Nona Naira, apakah anda baik-baik saja?"
Tanyanya yang melihatku masih tertegun.
"Oh ya ... tentu saja Nona Vinerra."
Jawabku dengan senyum manis yang langsung terpamer dengan tergesa-gesa.
"Apa anda yakin Naira-sama?"
Tanya seorang anak kecil cowok di sebelah nona Vinerra.
Aku hanya tersenyum lembut kepada mereka berdua sebagai pengganti jawaban dari pertanyaannya tersebut.
Namun, sekali lagi aku kembali tenggelam dalam pikiranku.
Sampai kemudian beberapa anak di kelas satu-persatu menghampiriku dan menanyai keadaanku.
Aku yang sedikit tertegun dengan bagaimana berubahnya suasana di dalam kelas dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu.
Anak-anak di kelas yang sebelumnya takut dan bahkan terlihat dengan sengaja menjauhi Naira,
bahkan ada yang suka membicarakan "diriku" yang sebagai Naira ini dari belakang.
Sekarang terlihat sangat ramah bahkan ada yang dengan polosnya mempersembahkan wajah cemas.
Aku memang ingat pernah melakukan sesuatu pada mereka semua,
i meant,
bukan berarti aku menggunakan sihir atau apalah itu sampai mengubah perasaan mereka terhadap Nona Naira.
But well,
memang tidak ada salahnya membiarkan anak-anak yang sebelumnya membenci dan takut pada Naira, sekarang terlihat seperti sangat ingin berteman dengan "diriku".
Tetapi, apakah tidak apa-apa?
I meant,
apakah ini adalah salah satu plot yang memang ada dan harus berjalan dalam otome world ini?
Aku tidak tau ... apakah perubahan mereka memang karena asli pengaruh dari Nona Naira,
ataukah ada suatu "hal lain" yang mempengarui jalan cerita di dunia ini...
NARATOR
HALLO GUYS I AM BACK AGAIN, SORRY UDAH LAMA GAK UPDATE, SOALNYA SIBUK BANGET DENGAN PEKERJAAN DI DUNIA NYATA, KENYATAAN BAHWA AUTHOR BUKAN FULLTIME WRITER (CURCOL) HAHA
BUT PLEASE TETAP DUKUNG NONA NAIRA
DAN BUAT PARA READERS TERSAYANG YANG SUDAH MENJADI SUBSCRIBERS SETIA NONA NAIRA
TERIMA KASIH BANYAK ^-^)/
LOVE YOU GUYS