
Third Person’s POV
Jawaban Naira barusan sontak membuat Anne terhenyak. “Kenapa
kau berhenti? Cepat selesaikan tugasmu!!” Ucap Naira yang Kembali pada
posisinya.
“I…iya… nona…” Anne yang masih ragu-ragu Kembali menggerakkan
kedua tangannya yang bergetar. Setelah beberapa saat Anne selesai membersihkan
tubuh Naira. Masih dalam balutan handuk mandi. Naira Kembali duduk di atas bathube
nya.
“Anne, coba kalu lihat apa semua orang sudah pergi dari
kamar? Kalau belum, suruh Derrick untuk membantumu mengusir mereka semua.” Kata
Naira tegas tanpa keraguan dimatanya.
“…Tetapi… Nona Naira…” Ucapan Anne terputus oleh satu
kalimat Naira yang kesal. “Anne Sakura Shirenade!! Sejak kapan aku mengijinkan
mu untuk membalas ucapanku?” Tanya Naira dengan tatapan angkuh, “Kau itu
pelayanku, pekerjaanmu hanyalah untuk melakukan apapun yang aku suruh!!” Sambungnya
lagi yang makin membuat Anne kehilangan kata-kata.
“Kalau kau memang keberatan dengan caraku, silahkan kau
pergi dan tinggalkan posisimu sebagai maid pribadiku. Aku tidak memerlukan maid
yang tidak mengerti akan posisinya.” Tegas Naira dengan tatapannya yang tajam.
Anne yang mendengarnya langsung merasa lemas seketika, Kedua
kakinya lunglai, seolah menyembah meminta pengampunan Naira, Anne menundukkan
kepalanya kelantai. “Maafkan saya Nona Naira… saya berjanji tidak akan
melakukannya lagi. Jadi saya mohon… jangan pinta saya untuk meninggalkan anda…”
katanya bergetar seolah berusaha untuk menahan airmata nya.
“Kalau kau memang tidak menginginkan hal itu terjadi padamu,
mulai sekatang jadilah pelayan yang menuruti semua perintahku tanpa
pertanyaan!!” Tegas Naira kini menatap kosong kea rah Anne yang masih
membungkuk dengan tubuh gemetar di lantai.
“Baik… nona Naira…”
Beberapa saat kemudian.
“Nona Naira… saya mendapat kabar dari Butler Derrick. Kalau
Nona Naira diharapkan datang ke ruangan Kepala Sekolah Nanti sore.” Kata Anne dengan
berhati-hati Ketika membantu Naira merapikan Rambutnya.
Naira terdiam, Anne yang seolah sudah mendapatkan pukulan
dan trauma oleh sikap dan ucapan Naira barusan berusaha sekua tenaga untuk
tidak mengulangi hal yang sama. Naira masih tidak berkata apa-apa. Walaupun Ketika
Anne mencoba mengintip ekspresi Naira dari cermin di hadapannya.
Naira nampak seperti boneka sempurna yang kecantikannya
makin bersinar walau tanpa senyuman. “Katakan pada Derrick untuk menyampaikan
bahwa aku mungkin akan datang terlambat.” Jawabnya yang disambut dengan senyum
oleh Anne.
“Baik, Nona Naira~” balasnya dengan senyum sumringah. Saat ini bagi Anne, asal Nona Naira yang ia
kasihi itu masih mengijinkannya untuk berada disisinya sebagai maid pribadi.
Anne tidak memperdulikan perihal apapun, bahkan Anne sudah tidak ingin
mempertanyakan atau lebih tepatnya mengabaikan alasan atas berubahnya sikap
Naira yang tiba-tiba.
Keesokan harinya.
Reynald terlihat tengah melamun di beranda kamarnya.
Walaupun butler dan Kesatrianya sudah mencoba memanggil Reynald berulang kali,
Tuan muda mereka seolah tengah berada di dunia lain. Reynald sendiri tidak
mampu menghentikan otaknya yang terus memikirkan Naira. Pertemuan kemarin sore
di ruang kepala sekolah, yang dihadiri oleh Kayana, kedua kakak lelaki Naira,
kedua pangeran putra mahkota, Kedua orang tuan Naira dan tentu saja kepala
sekolah Fairan Aedhira Zaephiroth.
Naira yang datang terlambat dengan gayanya yang elegan dan anggun,
menghapus kesannya yang dulu sangat lembut dan manis. Gaya bicara Naira selama
perbincangan itu juga sudah berubah 180 derajat. Seolah-oleh telah terjadi
sesuatu pada Naira semenjak gadis itu tersadar dari tidur panjangnya.
[“Yang mulia pangeran Reynald Von Versoine…”] Kata Naira
yang saat itu tengah berhadapan dengan sang pangeran di koridor akademi Ketika dirinya
berniat Kembali ke asrama. Pangeran Reynald yang terkejut dengan cara Naira menyebut
Namanya hanya mampu tertegun.
Naira menutupi Sebagian wajahnya dari bibir hingga hidungnya
dengan kipas lace berwarna hitam keunguan. Reynald yang dipaksa melihat kedalam
tatapan mata Naira yang sedingin es, membuat Pangeran muda itu terdiam terpaku.
Sampai saat Ketika Naira menyambung Kembali kalimatnya. [“Taukah anda bahwa
saya masih merupakan tunangan Pangeran Richardo? Tidak sepantasnya anda bertingkah
laku seolah-olah saya adalah tunangan anda.”]
Ucapan Naira tersebut cukup mampu mengejutkan kedua pangeran
yang saat itu keluar Bersama untuk mengejar kepergian Naira. [“Walaupun saya
harus akui bahwa saya sangat menyukai lamaran anda dan tattoo kupu-kupu emas
ini.”] Katanya lagi sembari mengangkat jari manis tangan kanannya.
Tentunya hal itu sangat mengejutkan kedua kakak lelaki Naira
dan Pangeran Richardo yang baru mengetahui perihal tattoo kupu-kupu emas
sebagai bukti lamaran pangeran Reynald. [“Melamar seorang gadis yang masih
terikat perjodohan dengan sepupu anda sendiri… saya jadi penasaran. Bagaimana
pendapat kedua kaisar yang masih berstatus saudara itu.”] Ujarnya lagi dengan
tatapan dingin
Sampai kemudian, kemunculan Araya di belakang mereka membuat
Naira tersenyum semakin sinis di balik kipas lacenya. [“Apa yang terjadi? Apa
kalian semua, baik-baik saja??”] Sapa gadis manis itu dengan wajah cemas, perhatian
kelima pemuda tersebut akhirnya tertuju pada sosok Araya.
[“Nona Araya… ini adalah permasalahan diantara kami para
nobility. Kau yang bahkan tak memiliki nama keluarga, sama sekali tidak punya
tempat untuk ikut campur masalah kami.”] Ungkap Naira dengan tegas.
[“Naira!!”] Seru Roland yang tidak menyangka bahwa adik
perempuannya bisa mengucapkan kalimat rasisme seperti itu.
[“Apa aku salah? Aku hanya mengoreksi perilaku nona berambut
cinnamon itu agar dia sadar akan posisinya yang bahkan lebih rendah dari rakyat
jelata di AiWond.”] Ungkapnya lagi, sembari menunjuk Araya dengan kipasnya.
[“NAIRA!!”] Bentak Arvhein kali ini yang membuat Naira
sedikit tersentak kaget.
[“Well (baiklah) sepertinya kalian lebih memilih untuk membela
gadis yang bahkan asal-usulnya tidak jelas itu.”] Kata Naira lagi kali ini
berpaling pergi meninggalkan keenam orang tersebut. [Aku permisi kalua begitu.”]
Anne mengikuti dari belakang.
Reynald menghela nafas Panjang, di pegangnya kening yang
sudah seperti akan terbelah menjadi dua. Selama Naira tertidur Reynald sama
sekali tidak bisa beraktifitas bahkan beristirahat dengan tenang. Bagi Pangeran
Reynald, yang terpenting adalah Naira bisa segera bangun dari tidur panjangnya.
Satu-satunya harapan Reynald saat Naira terbangun nanti
adalah senyum manis yang terukir di bibir lembut Naira, itu tertuju untuknya. Reynald
masih mengingat dengan jelas, bagaimana dingin dan angkuhnya Niara bersikap
untuk pertama kali semenjak dirinya terbangun.
Aku yakin ada yang tidak beres… batin Reynald yang kemudian
menoleh kearah cahaya di seberang tempat tidurnya. Cahaya tersebut merupakan
Portal gate sihir milik Pangeran Richardo.
“Ada yang ingin kutanyakan.” Katanyanya singkat.
Reynald’s POV
“Apa yang dikatakan oleh nona Naira itu benar?” Tanyanya padaku yang masih tak mengerti
akan maksudnya, “Soal tattoo kupu-kupu emas yang kau berikan padanya.” Jelasnya
yang kemudian membuatku harus menoleh ke arahnya.
“Memangnya kenapa?” Tanyaku acuh.
melamarnya, juga sudah menandainya?” Sergahnya lagi dengan raut wajah kesal.
“Apa kau pikir melamarnya saja sudah cukup, disaat kau dan paman sudah terlanjur lama
mendahuluiku…” Ungkapku padanya.
“Apa maksudmu…?” Tanyanya lagi padaku.
“Bukankah sudah jelas…waktu itu Naira juga mengatakannya kepadamu, kan?! Kalau kau sudah
ditakdirkan akan bersama dengan Nona Araya. Jadi aku punya hak untuk mengambil
apa yang bukan milikmu.” Kataku dengan tenang dan dingin.
“Kalau kau memang sebegitu inginnya melamar menikah dengan Naira. Kenapa tidak
langsung kau katakan pada ayahanda mengenai hal itu.” Ujarnya padaku seolah
menantang.
Sebenarnya saat itu juga ingin kukatakan iya padanya. Tetapi, tiba-tiba saja aku teringat
akan perubahan yang terjadi pada nona Naira. Bukannya aku berubah pikiran atau
perasaanku jadi berubah setelah melihat perubahan nona Naira. Hanya saja aku
merasa ada yang perlu aku selidiki terlebih dahulu.
“Kau benar…aku pasti akan melakukannya setelah aku berhasil mengetahui alas an nona
Naira tiba-tiba berubah jadi seperti ini.” Kataku yang kini sudah beranjak dari
jendela tempatku sedari tadi duduk melamun.
“…huh…apa sekarang perasaanmu sudah berubah setelah melihat perubahan nona Naira?”
Tanyanya dengan senyum mengolok.
“…aku hanya percaya satu hal… orang yang terbangun dari tidurnya kemarin. Bukanlah
nona Naira yang sebenarnya.” Ujarku yang kemudian berjalan meninggalkannya
Tanpa menghiraukan panggilan Richardo, Aku melangkah pergi keluar kamar. Bahkan,
disaat kedua butler dan Knight (kesatria)ku memanggil. Tubuhku tak bergeming.
Seolah indera pendengaranku telah lama tuli.
Bagaimana pun, saat ini hal yang ingin kulakukan adalah mengkonfirmasi perihal perubahan
yang terjadi pada nona Naira.
Walaupun aku masih belum mengetahui bagaimana caranya. Kakiku yang melangkah tanpa arah
membawaku ke lahan terlarang.
Sampai ketika aku tersadar oleh suara teriakan seseorang. “Kyaaa!!” Aku setidaknya mengenali
suara itu. “Nona Araya!!” Seruku yang melihatnya sudah jatuh ketanah. Tiba-tiba
saja tubuhku bergerak mendekatinya. “kau baik-baik saja?” Tanyaku sembari
mengulurkan tangan padanya.
“Iya, saya baik-baik saja…” tersadar, aku menoleh kearah sosok yang kulihat berlari
meninggalkan kami. Pancaran sinar sang rembulan memberikan bias pada helaian
rambut berwarna ungu yang terlihat berkilauan seolah benang yang terbuat dari
berlian.
Nona Naira…? Pikirku, tidak mungkin…kan?! Tanyaku pada diri snediri.
Masih belum mempercayai sosok yang kuliaht seolah tengah berlari melarikan diri. Aku yang
membantu nona Araya bangun, berusaha mengejar sosok tersebut. Namuin, “Aouwh…”
jerit kecil dari bibir nona Araya memaksaku untuk berhenti dan berpaling ke
arahnya.
“…Nona Araya… tidak apa-apa?” Tanyaku lagi, tanpa sadar. Keinginanku untuk mengejar
sosok yang kurasa adalah nona Naira itu, terlupakan sudah. Terutama ketika nona
Araya menatapku dengan raut wajah sedih saat memegangi pergelangan kakinya.
Seolah terhipnotis tubuhku bergerak dengan sendirinya.
“Sebaiknaya kita pergi ke infirmary (Ruang kesehatan) untuk memeriksa kaki anda.” Kataku
kini sudah menyunggingkan senyum hangat untuknya.
“…Eh ja… Yang mulia pangeran Reynald saya baik-baik saja… jadi tolong jangan bawa saya
ke infirmary…” Ucap Araya yang sudah menutup kedua matanya rapat-rapat ketika
aku menggendungnya.
Akupun menurunkan nona Araya untuk kemudian dengan hati-hati menurunkannya agar bias duduk
di atas batang pohon besar yang sengaja ditumbangkan sebagai pembatas jalan.
Aku berlutut dihadapan nona Araya, sebelum kemudian dengan hati-hati memegang
pergelangan kakinya. “Ya-yang mulia pangeran… a-apa yang anda…” Tanyanya
terbata-bata, bias kulihat bagaimana terkejutnya dia pada tindakanku yang
bahkan tak kusengaja.
“Nona Araya…” Panggilku kalem
“i…iya… yang mulaia?” Jawabnya yang malah terdengar seperti bertanya
“Bukankah seharusnya anda sebagai murid akademi fairan sudah mengetahui tentang tempat
ini yang merupakan lahan terlarang?!” Tanyaku padanya.
Araya terdiam, ekspresinya yang kebingungan seolah mencari jawaban itu membuatku
semakin penasaran. “Apakah ada hal yang membuat anda sampai melanggar
peraturan? Apalagi keluar dari kamar asrama pada jam-jam malam seperti ini.
Inikah alas an kenapa anda tidak ingin saya bawa ke infirmary?” Tanyaku
bertubi-tubi yang malah membuatnya semakin kalangkabut.
“Ma-maafkan saya yang mulia… saya benar-benar tidak bermaksud untuk melanggar peraturan
sekolah… hanya saja, saya tidak bias tidak pergi ke tempat ini…” jelasnya yang
membuatku semakin merasa penasaran.
“Apakah anda kemari karena demi untuk bertemu orang tadi?” Tanyaku lagi padanya yang
kini terlihat mengalihkan pandangan, “apa boleh saya tahu, siapakah orang yang
barusan anda temui itu?” Tanyaku lagi padanya.
Dalam hati, sebneranya aku sudah berkata, bahwa jika seandainya nona Araya mengatakan bahwa
sosok tadi adalah nona Naira. Aku benar-benar tidak akan memaafkannya. “…i..soal
itu…” jawabnya semakin terlihat bingung.
Sampai kemudian satu suara menginterupsi dari balik pepohonan tak jauh dari tempat kami berada
saat ini.
“My..my lihat apa yang kita temui saat ini…” suara yang dulu terdengar merdu kini
terasa sangat dingin dan menusuk. Suara familiar yang dulu ku kenal sangat
hangat dan lembut. Kulihat bagaimana nona Naira menatapku dengan ketus, saat
kedua pasang mata kami saling bertemu pandang.
“No…nona Naira…” Araya memanggil seolah terheran-heran atas kedatangan Naira bersama
butlernya.
“Yang mulia pangeran Reynald… saya tahu sekali bagaimana perasaan anda yang
sebenarnya terhadap nona Araya. Tetapi, apakah pantas seorang calon kaisar Negara
Ceylon, berduaan dimalam seperti ini bersama seorang gadis yang bertelanjang
kaki?” Tanyanya dengan senyum yang teramat sangat sinis itu.
Aku yang dibuatnya terkejut sampai kehilangan kata-kata, hanya mampu menatap dinginnya
ekspresi wajah nona Naira. “A-anda salah paham… nona Naira, sa-saya baru saja
terjatuh dan pangeran yang tidak sengaja bertemu dengan saya…” Ucap nona Araya
yang bersaha menjelaskan duduk perkaranya.
Namun, hal tersebut terpatahkan oleh kata-kata nona Naira yang sengaja memutus kalimat
tersebut. “Aku tidak perduli dan tidak perlu tahu alas an kenapa kalian berdua bias
berada ditempat seperti ini.” Katanya dengan tegas.
“Jangan hanya karena anda adalah seorang putra mahkota kerajaan Ceylon dan kau yang
diakui oleh kepala sekolah sebagai sepupunya, bias dengan mudah melanggar
peraturan akademi Fairan.” Sambungnya lagi dengan kening mengerut.
“well, aku paham jika itu adalah anda, yang mulia pangeran Reynald. Sejak tanah ini memang
adalah milik Negara kekuasaan ayah anda. Tapi, kau… nona yang tak jelas asal
usulnya.” Nona Niara kembali menunjuk nona Araya dengan angkuhnya.
“Know your place or you will regret it soon. (Ketahuilah tempatmu atau kau akan
menyesalinya nanti).” Katanya lagi, sebelum kemudian berpaling pergi.
Aku yang semenjak tadi tidak mampu berbuat apapun, atau bahkan untuk membalas ucapannya.
Hanya mampu menggerakkan tubuh yang semenjak tadi membeku untuk dapat segera
pergi mengikutinya. Namun, disaat dimana ingatanku kembali lagi. Nona Naira
sudah tidak terlihat dibalik rimbunya pohon dibelakang gedung lahan terlarang.
Dan ketika nona Araya kembali meraih pergelangan tanganku. Tubuhku seolah kembali tak
sadarkan diri. Dan dengan penuh kasih, aku berlutut memeluk nona Araya yang
sudah meneteskan airmatanya dalam keterdiaman. “Jangan cemas, nona Araya…akan
ku pastikan bahwa nona Naira tidak akan melakukan hal yang buruk terhadapmu.”
Kataku
BERSAMBUNG