
Richardo's POV
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang kulakukan dengan kedua orang menyebalkan ini.
Gerutuku yang saat ini tengah duduk bersama Pangeran Reynald dan Kayana.
Hanya karena panggilan Pangeran Reynald yang mengatakan soal nona Naira sedang dalam bahaya, makanya aku bergegas kemari.
Tapi, apa-apaan ini.
Bukan saja aku tidak melihat nona Naira, aku malah bertemu dengan anak menyebalkan yang harus kuanggap sebagai adikku sendiri, karena ayahanda dan ibunda menginginkannya.
"Jadi, bahaya macam apa yang sebenarnya sedang mengincar nona Naira?" tanyaku menahan kesal.
"Pangeran Richardo, coba jelaskan pada tuan muda Delarion mengenai perasaan yang Anda rasakan pada Nona Araya."
Ucap Pangeran Reynald yang membuatku langsung melotot saat mendengarnya.
"Apa maksudmu dengan perasaan yang kurasakan terhada Araya?"
"Aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa terhadap gadis itu."
"Jadi, berhentilah mengatakan hal yang tidak-tidak apa lagi di depan orang lain."
Kataku dengan tatapan kesal ke arah Pangeran Reynald.
"Bukankah kau merasa berdebar-debar dan tiba-tiba saja menjadi ramah pada Araya ketika kau bertemu dengan gadis itu?!" katanya lagi yang membuatku semakin jengkel.
"Memangnya kenapa dengan perasaan rancu seperti itu?"
"Bukankah kau sendiri juga sama saja?
"Kau juga menjadi begitu baik dan perhatian pada gadis yang bahkan tidak pernah kau lirik sama sekali."
"Kau berubah drastis saat gadis itu bersamamu, kan?!"
ucap ku dengan dahi berkerut pada kak Rey yang saat ini tengah tersenyum padaku.
Aku benar-benar tidak menyukai senyumnya itu.
Membuatku ingin sekali meninju wajahnya yang benar-benar tampan itu, paling tidak hanya sampai salah satu matanya bengkak.
Kataku geram dalam hati.
Deheman dari Kayana rupanya menyadarkanku, bahwa masih ada orang menyebalkan lain yang tengah bersamaku kali ini.
Aku hanya mampu mengeluh lalu menghela napas panjang.
"Aku tidak tau kenapa kalian berseturu seperti ini.
Padahal kalian adalah saudara sepupu.
Tapi, paling tidak aku bisa memahami maksud kalian berdua."
Katanya yang bilang padaku, seolah mengetahui sesuatu yang sangat tak mampu kupahami.
"Seperti yang dipertanyakan oleh Pangeran Reynald, mengenai kemungkinan adanya penggunaan kekuatan sihir hipnotis oleh Araya pada kalian."
Jelas Kayana yang sedikit membuatku mengerti.
"Kalian berdua berubah, seolah menjadi orang lain ketika gadis itu ada bersama kalian."
"Kalian melakukan hal-hal yang tak inginkan seolah dikendalikan ...."
Jelasnya yang tanpa sadar membuatku mengangguk paham.
"Sayangnya aku tidak pernah mendengar ada sihir semacam itu."
"Karena dari yang aku dengar, kalian sadar sedang dikendalikan."
"Tetapi, tidak mampu berbuat atau berkata sebaliknya ketika menatap gadis itu."
Katanya lagi.
"Apa maksudmu dengan sihir hipnotis seperti itu tidak pernah ada??" tanyaku dengan kening mengerut.
Aku tidak tau kenapa dia mengatakan hal tersebut.
Tapi, jika sekali lagi ada pepatah soal jodoh itu, aku benar-benar akan menghancurkan sekolah.
Kataku yang sudah mengepalkan kedua tangan.
"Maksudku adalah sihir hipnotis itu ada dua macam, menghipnotis secara menyeluruh atau sementara."
"Kedua sihir itu cara kerjanya juga berbeda."
"contohnya seperti sihir menyeluruh yang menghasut lawan atau korban mereka lewat tatapan mereka."
"Mereka akan mengatakan atau melakukan hal-hal yang diinginkan atau diperintahkan oleh si penghipnotis, tanpa bisa dilawan oleh si korban."
"Kebanyakan korban tidak akan sadar saat dihipnotis, selama dihipnotis dan setelah terhipnotis."
Jelasnya panjang lebar yang membuatku sedikit tertegun
"Anehnya dalam kasus kalian."
"Kalian sadar saat dihipnotis, selama dihipnotis dan setelah terhipnotis."
"Walaupun, kalian berusaha untuk melawan dan tidak bisa."
"Kalian merasakan hal lain selama terhipnotis."
Ucapn Kayana yang kubenarkan dengan anggukan.
"Maka dari itulah aku bisa bilang kepada kalian kalau, sihir hipnotis semacam itu tidak ada."
"Aku sama sekali tidak pernah mengetahui sihir semacam itu sama sekali."
Ucapnya lagi yang membuatku tertegun.
"Jadi bagaimana kau bisa menjelaskan soal kami berdua yang tiba-tiba berubah ramah, pada gadis yang sama sekali tidak kami kenal?" tanyaku dengan alis bertaut.
"Pangeran Richardo, bukankah Anda sendiri yang mengatakan kalau Araya sama sekali tidak memiliki kemampuan sihir dan level-nya adalah zero?" tanyanya yang membuatku sedikit terkejut.
"Lalu bagaimana bisa Anda bilang kalau Araya mengipnotis kalian, sedangkan hipnotis adalah salah satu bentuk sihir dasar?"
Ungkap Kayana yang membuatku tertegun.
"Aku memang belum tau pasti mengenai kekuatan Araya yang mampu mengendalikan kalian, tanpa membunuh kesadaran kalian."
"Aku harus tau, apakah sihir ini juga berpengaruh pada orang lain di sekitar, selain kalian berdua."
Ucapan Kayana seolah mengatakan bahwa dia akan mencoba mendekati Araya, untuk membuktikan bahwa gadis itu memang menggunakan sihir atau tidak.
Aku sendiri yang memang mengatakan pada mereka bahwa hasil appraisal level kemampuin sihir Araya adalah zero.
Tak heran jika Kayana meragukan kami yang bilang kalau gadis itu menggunakan hipnotis kepada kami berdua.
Apalagi kami berdua sudah jelas-jelas memiliki level yang lebih besar dibandingkan dirinya.
Jikalau memang level Araya adalah benar zero.
"Setelah kau memastikannya, memang apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu."
Tanyaku yang tiba-tiba jadi penasaran.
"Anda benar-benar suka sekali menanyakan sesuatu yang belum diketahui kepastiannya."
Jawabnya dengan ketus.
Aku sedikit tertegun dengan jawaban Kayana tersebut.
Memang benar, Kayana sama sekali belum mengetahui kepastian atas kekuatan yang dimiliki Araya.
Hanya saja, entah kenapa aku tidak ingin membuang-buang waktu memikirkan orang lain, saat nona Naira dalam bahaya.
"Bukankah Anda sendiri yang bilang, kalau Anda hanya bersedia mengajar kelas beginer, karena itulah Anda tidak memiliki akses memasuki akademi intermediate."
Ucap Pangeran Reynald yang tiba-tiba membuat Kayana berpikir sejenak.
"Well, mengenai soal akses."
Katanya yang tiba-tiba saja menunjuk ke arahku dengan telapak tangannya, "akses itu sekarang sedang bersama saya."
Jawabnya yang membuatku tersentak kaget, kak Reynald hanya tersenyum penuh arti lalu mengangguk dengan mata terpejam puas.
Aku yang masih tidak mengerti apapun tiba-tiba saja merasa seperti akan dimanfaatkan.
Tak lama setelahnya, perbincangan kami selesai tanpa hasil memuaskan.
Karena bagaimanapun, menurut kak Rey dan Kayana, hal yang perlu di selediki untuk pertama kali adalah Araya.
Mengenai kekuatan misterius yang dimiliki gadis itu.
Kekuatan yang mampu mengendalikan orang sekuat aku adan kak Rey.
Kayana juga ingin memastikan level kemampuan sihir Araya dengan skill appraisalnya.
Maka dari itulah dia memerlukanku sebagai bahan penyelidikan dan alasan untuk menjadikanku akses masuknya ke dalam akademi Intermediate.
"Pangeran Reynald bilang, kalau Anda merasakan perasaan bahagia dan senang tanpa Anda inginkan setiap kali bertemu dengan Araya?"
Tanya Kayana tiba-tiba yang membuatku harus segera keluar dari dunia lamunan.
Kataku sewot begitu memikirkan apa yang akan Kayana katakan sebagai jawaban.
"Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu."
Katanya dengan sebelah alis terangkat, yang membuatku sadar bahwa aku terlalu merasa paranoid semenjak pepatah jodoh yang dikatakan Naira, waktu itu.
Karena merasa malu sendiri akhirnya aku pun berpaling dari Kayana.
Ketika aku menoleh kearah lain, aku melihat sosok gadis yang bernama Araya itu sedang berjalan di lorong sekolah.
Langkahnya yang terlihat ragu-ragu itu benar-benar menarik perhatian kami berdua.
"Apakah aku perlu memanggil gadis itu?" tanyaku berbisik pada Kayana.
"Tidak perlu. Tapi, kecuali kalau Pangeran ada perlu pribadi dengan gadis itu."
Katanya lagi dengan senyum sinis.
"Apa maksudmu itu, aku membawamu kemari adalah untuk menginvestigasi."
"Bukannya malah untuk menghakimiku."
Jelasku keki pada wajahnya yang sok sekali itu.
Kayana's POV
Pangeran Richardo menunjuk ke arah seorang gadis yang berjalan menuju lorong akademinya.
Hanya saja sentah kenapa langkah gadis itu seolah dia meragukan arah yang sedang ia tuju.
Dengan mengendap-endap, aku pun berhasil mendekatinya dalam jarak satu meter tanpa ketahuan olehnya. Saat akan melakukan Appraisal level padanya, gadis itu tiba-tiba saja menoleh ke arahku.
Mata berwarna merah bata itu benar-benar senada dengan warna rambutnya yang dicepol ke belakang kepalanya.
Pandangan kami bertemu untuk sesaat sebelum ia merunduk.
"Maaf ...."
Katanya angkat bicara, yang malah membuatku tak mengerti arti dari kata maafnya itu.
Tetapi, tiba-tiba saja sihir *A*ppraisalku tidak berhasil.
Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan diagram Appraisal begitu Araya menoleh ke arahku.
"Tuan Penyihir, suatu kebetulan yang menyenangkan, bisa bertemu Anda di sini."
Ucanya basa-basi.
Senyum gadis itu terpamer dengan indah di bibir mungilnya.
Entah kenapa aku merasa sangat familiar dengan pesona itu.
Benar ... aku merasakan hal yang sama ketika menatap senyum nona Naira.
Tanpaku sadari, muncul perasaan aneh dalam hatiku.
Jantungku mulai berdetak dalam irama yang tak karuan.
Kedua pipiku pun rasanya sudah mulai menghangat.
Aku merasa senyum gadis yang tengah kupandangi ini sangat cantik dan menawan, seperti senyum milik nona Naira dan aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya.
Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Gadis ini bukan nona Naira, tapi aku terus menerus melihatnya seperti itu.
Inikah yang mereka maksud dengan kekuatan sihir hipnotis yang di miliki gadis ini?
Padahal aku sadar apa yang sedang terjadi padaku.
Tapi, tubuhku tak mau bergerak sesuai perintahku dan aku tak bisa mengatakan hal-hal yang ingin kusampaikan.
Seolah-olah, semakin aku menatap gadis ini, semakin aku akan kehilangan kendali akan diriku.
Namun, tetap saja aku tak mampu mengalihkan pandanganku darinya.
Hingga kemudian suara Pangeran Richardo terdengar lantang di belakangku, memanggil.
"KAYANA!!!"
Hal itu pun rupanya tak cukup mampu membuatku bergeming.
Tetapi, pada detik berikutnya, perhatian gadis ini teralihkan.
Setelah melihat siapa yang sudah memanggilku, dia bergegas untuk berbalik dan meninggalkanku berdiri sendiri, mematung sembari memperhatikan sosoknya yang semakin menjauh.
Aku tidak tau, tapi aku merasa ekspresi yang diperlihatkan gadis tadi sebelum pergi adalah keterkejutan dan ... sedikit ketakutan?
Seakan-akan, sosok yang ia lihat telah memanggilku tadi adalah orang yang sangat tidak ingin di temuinya.
Aku yang masih sibuk mengamati kepargian gadis itu dan tenggelam dalam asumsiku, tak menyadari bahwa Pangeran Richardo sudah mulai berjalan menghampiriku.
"Apa yang terjadi padamu??" tepuknya di bahuku.
Aku pun menoleh ke arahnya yang melihatku dengan penuh tanya dan cemas.
Kemudian, kami yang sudah berada di kamar asrama Pangeran Richardo.
"APA KATAMU?? Kau juga baru saja terhipnotis oleh Araya??"
Tanya pangeran Richardo dengan wajah panik, hampir saja menyemburkan teh hangat yang diminumnya.
"Aku juga sangat terkejut saat menyadari hal tersebut."
"Tapi, setidaknya aku memahami apa maksud kalian dan apa yang kalian rasakan mengenai gadis itu saat menatapnya."
Kataku dengan tenang mengaduk teh dalam cangkir di tanganku.
"Apa yang kau pahami?" tanya Pangeran Richardo penasaran.
"Kalian yang sama sekali tidak mengenal gadis itu dan merasa tidak tertarik dengannya."
"Perasaan hangat dan berbunga-bunga yang muncul ketika melihatnya."
"Sebenarnya, itu adalah perasaan yang kalian rasakan terhadap nona Naira, bukan?!" jelasku pada pangeran Richardo yang kini terlihat sangat tertegun.
Sudah kuduga.
Batin ku.
Para pangeran terhipnotis oleh gadis itu karena mereka punya hubungan dengan nona Naira.
Tapi, kenapa aku juga ...?
Memangnya apa hubunganku dengan nona Naira sampai-sampai aku bisa ikut terhipnotis oleh gadis itu?
Tanyaku pada diri sendiri.
Hingga tanpa kusadari, tatapan Pangeran Richardo sedikit demi sedikit berubah.
"Apa ... kau merasakan hal yang sama terhadap nona Naiar?" tanyanya yang membuatku melempar pandanganku padanya.
"Apa maksud Anda?" tanyaku yang benar-benar tak memahami maksudnya.
"Alasan kenapa kau bisa dengan mudah terhipnotis oleh Araya."
"Apakah karena kau memiliki perasaan yang sama seperti kami terhadap Nona Naiar??" tanyanya lagi yang membuatku tersentak.
"Ini mungkin terdengar tidak masuk akal."
"Tapi, entah kenapa aku merasa penjelasanmu barusan mengenai alasan kenapa kami memiliki perasaan aneh ketika menatap gadis itu."
"Perasaan itu adalah milik kami yang hanya tertuju untuk nona Naira."
"Apakah kau juga memiliki perasaan seperti itu terhadap nona Naira??"
Pertanyaan Pangeran Richardo benar-benar membuatku membisu.
Aku tidak tau apa yang bisa kukatakan sebagai jawaban.
Karena aku sendiri tidak mengerti.
Sebenarnya apa yang kurasakan terhadap Nona Naira yang merupakan calon tunangan saudara angkatku sendiri.
Apakah benar, perasaan hangat dan menyenangkan itu seharusnya tertuju pada nona Naira?
Karena itukah aku dengan mudah terpengaruh oleh hipnotis gadis itu?
Berbagai pertanyaan muncul memenuhi isi kepalaku.
Tetapi, tak ada satupun yang mampu terjawab dan aku masih membisu menatap Pangeran Richardo yang kini telah menatapku dengan tajam penuh kecemasan.
Aku paham sekali kenapa dia menatapku seperti itu, karena sepertinya aku sudah melakukan sesuatu yang tak seharusnya kulakukan.
BERSAMBUNG LAGI
Ikuti terus dan baca kelanjutannya di episode mendatang :D