
Naira's POV
Beberapa saat setelah aku kembali dari pinggiran kota.
Aku mendengar keributan di luar kamarku yang ternyata pintunya sudah terbuka lebar.
Ada apa, ya?!
Tanyaku dalam hati,
Kyuven dan aku mengendap-endap untuk mengintip keluar kamar.
Kulihat Anne dan Derrick juga beberapa pelayan lain tengah berlari dengan panik.
What the heck is going on there? (apa yang sebenarnya terjadi di sana).
Tanyaku lagi penasaran.
"Cepat kalian cari lagi dengan teliti di sebelah sana."
Kata Anne hampir dengan setengah berteriak.
"Lagi cari apa Anne?" tanyaku dengan polosnya di belakang Derrick.
Anne dan Derrick menoleh dengan kedua pasang mata mereka yang terbelalak sempurna.
Seolah melihat something yang unbelievable.
Aku yang tak paham, hanya menyunggingkan senyum dengan mengerjapkan mata innocent.
"NONA NAIRA!!!" seru Anne yang langsung menerjang untuk memeluk tubuhku.
"Anda kemana saja? Kenapa anda tiba-tiba tidak ada di dalam kamar?" tanya Anne panik dengan ekspresi ketakutan.
Aashoot ... sepertinya aku terlambat kembali ketika Anne ke kamar.
Apa yang sebaiknya kukatakan sebagai alasan?
"A ... ku ketiduran di bawah tempat tidur saat bermain dengan Kyuven?"
Kulihat bagaimana Anne dan Derrick tertegun dengan penjelasanku.
Ti-tidak masuk akal kah alasanku?
Tanyaku dalam hati.
Bibirku masih menunjukkan senyum garing yang masih kupaksakan.
"Begitu rupanya ... pantas saja kami tidak bisa menemukan anda. Kami benar-benar tidak menyangka kalau Nona Naira tengah bersembunyi di bawah tempat tidur bersama Kyuven ...." ujar Derrick yang entah kenapa membuat Anne dan aku menatapnya dengan ketidak-percayaan.
Aku hanya diam, memperhatikan bagaimana Derrick hanya tersenyum setelah mengatakan hal tersebut. Seolah membuktikan bahwa dirinya mempercayai perkataanku.
Yang mana malah tambah membuatku semakin tidak yakin bahwa Derrick mempercayainya.
Beberapa saat kemudian.
Derrick dan Anne yang mengumumkan pada Buttler dan Maid lain bahwa aku sudah kembali ke kamar. Seolah telah melakukan kejahatan, antara merasa bersalah dan menyesal ... aku yang teringat tentang peran dan tujuanku, berusaha sekuat tenaga untuk merasa cuek saja.
Hal ini benar-benar sangat sulit b-t-w ...
Kataku, ketika aku tengah terbaring di sofa panjang bersama Kyuven.
Kubelai punggung Kyuven yang berbulu lebat nan lembut.
Aku memang gak punya bakat untuk berbuat jahat anyway.
Membuat semua orang jadi panik dan secemas itu saja membuatku merasa bersalah luar biasa.
Sekarang saja aku sudah ingin berlari menemui semua orang dan meminta maaf.
Hhhh ...
Aku menghembuskan nafas berat.
Menggeleng-gelengkan kepala saking bingungnya harus berbuat apa.
Di satu sisi aku sudah benar-benar dihantui rasa menyesal.
Namun, di sisi lain aku ingin mempertahankan peranku sebagain pemain antagonis.
Aaaaaarrgh ... aku bisa gila kalau begini terus.
Knock knock!!
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, disusul dengan suara Derrick yang ingin meminta ijin untuk masuk. Aku terdiam sejenak.
Diijinkan gak, ya?!
Pikirku masih mendiamkan Derrick di luar sana.
Aku pun melangkah pergi meninggalkan sofa lalu beranjak mendekati pintu.
Derrick tertegun ketika melihat sosokku dari balik pintu yang terbuka lebar.
Aku sendiri bengong melihat orang-orang di belakang Derrick.
Ayahanda, ibunda, kak Roland, Diego dan juga Anne.
Great!! Sepertinya sesi introgasi sudah akan di mulai.
Dalam pandanganku Derrick dan yang lainnya sudah berseragam sipir.
Ku-paksa-kan senyum di bibir, walaupun aku sama sekali tidak merasa ingin tersenyum maupun berbicara, karena aku sangat BINGUNG LUAR BIASA.
AAARRRRRGH ... Please kasih aku cheat code.
Beberapa saat kemudian,
Aku sudah duduk berhadapan dengan Ayahanda, ibunda, kak Roland, dengan Diego, Anne dan Derrick yang berdiri di belakang sofa mereka.
Kesunyian dalam ruang kamarku ini seolah mampu menggemakan suara debaran jantungku.
Aku hanya mampu menata lurus ke arah kak Roland, walaupun sebenarnya tatapan mataku tertuju pada hal yang jauh di sana.
"Naira putriku ...."
Suara ibunda menyentakku kembali tersadar.
"Anne dan Derrick mengatakan kalau kamu bilang, waktu itu sedang bersembunyi bersama Kyuven di bawah tempat tidur ...."
Aku tidak bisa menangkap kalimat apalagi yang diutarakan oleh ibunda, karena aku tau dari hal itu saja sudah berarti bahwa, mereka menaruh curiga.
"... Aku tidak pernah bilang kalau aku lagi sembunyi dengan Kyuven di bawah tempat tidur."
"Aku bilang aku lagi bermain dengan Kyuven sampai ketiduran."
"Aku bahkan tidak tau kalau kalian mencariku, karena aku memang tidak ada di sana, atau lebih tepatnya ... aku tidak ada di kamar ini."
Penjelasanku rupanya cukup mampu membuat seluruh pendengar membelalak-kan mata.
"Aku mencoba sihir lain untuk pergi ke luar mansion, karena aku tau aku tidak bisa keluar tanpa pengawalan. Jadi aku memutuskan untuk mencoba sihir penyamaran dan teleportasi ...."
Jelasku pada seluruh pemilik telinga di hadapanku yang kini masih memberikan ekspresi ketidak-percayaan.
Aku sendiri?
Tidak perlu ditanya.
Saking groginya aku sampai merasa bahwa wajahku saat itu ekspresinya datar alias poker face.
"Sudah kuduga ...."
DEG!!
Kalimat yang terucap oleh kak Roland membuatku tersentak kaget.
Aku tau kalau aku sudah seolah me-reveal kenyataan bahwa aku bukan lagi Naira yang dulu.
Syiet!!
Umpatku dalam hati.
Kupejamkan mata erat-erat, berusaha menerima apapun yang terjadi berikutnya.
Namun, suatu pelukan hangat menyelimuti tubuh kecilku.
Saat kubuka kedua mataku, aku melihat ayahanda sudah memelukku erat.
"A-Ayahanda ... kenapa?" tanyaku heran.
"Kakak dan yang lainnya memang sudah sedikit curiga, sejak kau jatuh dari tangga hari itu."
"Sihir yang kau gunakan sejak hari itu. Nainai ...."
Kini ganti kak Roland yang beranjak pergi untuk mendekatiku, ia berlutut di samping ayahanda yang masih memelukku dengan tubuh bergetar.
"Kekuatanmu sudah terbangun. Kamu pasti kaget, kan?!" katanya lagi membelai kepalaku.
Kekuatanku terbangun?
Tanyaku pada diri sendiri.
"Kamu yang merasa diabaikan oleh pangeran."
"Kami yang selalu melarangmu dan membatasi duniamu dari luar."
"Kamu yang selalu merasa kesepian, pada akhirnya semua itu menjadi pemicu terbangunnya kekuatanmu."
"Kakak tau mungkin penjelasan kakak tidak bisa kamu mengerti."
"Tapi, satu hal yang ingin kakak sampaikan ... kamu tidak perlu merasa cemas."
"Bagaimanapun kamu, bagi kami Nainai tetaplah Tuan Putri kecil yang kami sayangi."
Jelas kak Roland panjang lebar yang membuatku tertegun,
Hanya itu yang bisa keluar dari dalam kepalaku.
Aku hanya mampu menatap kak Roland dengan rasa ketidak-percayaan.
"Ayahanda menyayangimu Naira. Jadi bisakah Ayah memohon padamu ... jangan sembunyikan perasaanmu dari kami."
Kali ini ayahanda melepaskan pelukannya untuk menatapku.
Kedua matanya berkaca-kaca seolah pada detik berikutnya, airmata itu akan mengalir seketika.
"Apapun yang kamu inginkan, apapun yang kamu rasakan, apapun yang ingin kamu lakukan, tolong katakan pada kami, ya?!" ucap beliau memohon.
... Aku terdiam sejenak.
"... Kalian ... tidak marah?" tanyaku ragu.
Bukan, lebih tepatnya aku ingin bertanya, apa kalian tidak curiga?
Tapi kuurungkan karena aku tau itu bukan ide bagus.
Kulihat guratan senyum terukir di bibir ayahanda, kak Roland, ibunda dan yang lainnya.
"Kami hanya cemas, Dear."
Kata ibunda kali ini, "kami tidak ingin terjadi apapun pada dirimu karena sihir itu."
Jelasnya.
"Aku ... tidak akan dihukum?" tanyaku polos.
"Tentu saja kamu akan kami hukum."
Jawab kak Roland yang membuatku kaget minta ampun.
"Hukumannya adalah mulai saat ini kamu harus mau terbuka pada kami."
"Kakak ingin kamu kembali jadi Naira yang egois yang semaunya sendiri. Karena bagaimanapun, kami tidak ingin hanya karena kamu menahan diri dan perasaan itu."
"Kamu jadi menggunakan sihir tanpa sepengetahuan kami, tanpa pengawasan kami."
"Nainai ... jika sesuatu hal yang buruk terjadi padamu ... kakak bisa mati."
Kata-kata kak Roland yang meskipun terdengar sangat berlebihan, masih mampu membuatku terharu.
Sekali lagi, perasaan Naira yang masih kecil mulai terpengaruh, aku menangis sejadi-jadinya sambil meminta maaf.
Walaupun, dalam hati aku tidak ingin berjanji bahwa aku akan melakukan sihir di luar pengawasan mereka. That's the Villain attitude for you b-t-w.
Setelah puas menangis dan meminta maaf, aku pun tersenyum kemudian.
Senyum terimut yang mampu mempengaruhi siapapun.
Ayahanda, ibunda dan kak Roland pun memelukku bersamaan.
Bisa kulihat bagaimana Anne, Derrick dan Diego menahan diri untuk tidak ikut berlari memeluk.
Melihat reaksi seperti itu, aku kembali memperlihatkan senyum bahagia yang luar biasa indah.
Sementara itu di tempat lain,
Third Person's POV
"Dari mana saja kau?" tanya Richardo yang sudah terlihat duduk dengan santai di sofa.
"Lagi-lagi kau menyamar dan pergi ke pinggiran kota tanpa sepengetahuan pengawal dan buttlermu, Paman Rey."
Ucap Richardo pada sosok yang saat itu di temui oleh Naira di pinggiran kota.
Pemuda yang saat itu mengaku bernama Remio, kini terlihat tengah berdiri di seberang sofa di dalam kamar Reynald.
Tatapan matanya yang tak menunjukkan emosi ketika menatap Richardo kini menyunggingkan senyum.
Yang mana pada detik berikutnya tubuh itu bersinar lalu berubah menjadi sosok yang memang sudah bisa di tebak oleh pangeran cilik Richardo, Reynald.
"Aku heran, apa sih yang sebenarnya Paman cari di luar sana?"
"Kalau kau memang ingin pergi keluar, bukankah kau selalu bisa meminta pengawal dan buttlermu."
"Lagipula ayahanda dan Paman Yasha juga tidak pernah melarangmu pergi keluar istana, kan?!"
Reynald hanya menyapu rambutnya yang berantakan dengan tangan.
Lalu duduk di sofa seberang pangeran Richardo.
"Hari ini aku bertemu dengan seekor burung Kujaku."
Ucap Pangeran Reynald dengan senyum menyeringai.
"Burung Kujaku?" tanya Richardo heran.
"Kau ngelantur, ya? Mana ada Burung Kujaku di pinggiran kota."
"Burung langka itu dilindungi oleh pemerintah Faireniyan di dalam hutan barat."
Jelas sang pangeran cilik menggurui.
"Aku tau itu."
Jawab pangeran Reynald.
"Lalu?"
Pangeran Richardo mengernyit penuh tanya.
Pangeran Reynald yang merebahkan punggungnya dengan santai pada bantalan sofa hanya menghembuskan nafas dengan main-main.
"Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti."
Oloknya pada pangeran Richardo yang terkejut.
"Hey!! Aku tau kalau usia kita terpaut delapan tahun."
"Tapi, jangan mentang-mentang hanya karena kau sudah melakukan Debutante kedewasaan, kau jadi merasa lebih dewasa daripadaku."
Ucap pangeran cilik kesal.
Pangeran Reynald hanya tertawa.
"Ya-ya aku minta maaf."
Katanya masih membuat Pangeran Richardo cemberut memalingkan wajah darinya.
"Lagipula, Burung Kujaku yang kumaksud tadi itu bukan benar-benar binatang lho."
Ujar Pangeran Reynald kembali mendapatkan perhatian dari pangeran Richardo.
"Kau juga tau, kan, kalau burung langka itu dilindungi oleh pemerintah."
"Ditambah lagi ayahandamu juga menempatkan banyak penjaga dan membentuk pasukan pelindung di hutan barat."
Jelas sang pangeran seolah memberikan pelajaran.
"Lalu?" tanya sang pangeran cilik penasaran,"maksudmu kau ingin bilang burung Kujaku itu hanya perumpamaan?"
Pangeran Reynald tersenyum penuh arti.
"Kau benar, itu adalah perumpamaan."
"Jadi ... kau bertemu dengan orang yang seperti burung Kujaku?" masih penasaran, Pangeran Richardo mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.
Di dalam otak pangeran Richardo tergambar seekor Burung Kujaku.
Mahluk mistis yang hidup sejak ratusan tahun sebelum peradaban manusia modern terbentuk.
Jumlahnya hanya sekitar tujuh belas ekor yang mampu dilindungi oleh pemerintah kekaisaran saat ini.
Burung legenda yang hampir punah itu memiliki bulu berwarna hitam keunguan, mata berwarna ungu dan ekor sepanjang satu setengah meter berwarna ungu keemasan.
Beberapa orang percaya bahwa Burung Kujaku adalah familiar para iblis sehingga dulunya sering diburu, untuk sekedar dibunuh atau bahkan ada yang menginginkan mereka demi penelitian kekuatan yang bersemayam di dalam tubuh burung tersebut.
Dalam benak pangeran Richardo, muncul sosok manusia yang ia coba samakan dengan penampilan burung Kujaku, bulu hitam keunguan itu sebagai rambut, mata ungu dan ekor berwarna ungu keemasan itu sebagai pakaian yang dikenakan.
Bagaimanapun penggambaran Pangeran Richardo terasa cukup tidak masuk akal dan mencolok.
Kalau seandainya benar ada manusia seperti itu di pinggiran kota faireniyan, tidak mungkin hal tersebut bisa terabaikan oleh orang-orang kekaisaran.
Tetapi, mungkinkah ada orang selain tuan Putri Naira yang memiliki mata ungu?
Begitulah yang saat ini tengah dipikirkan oleh sang pangeran.
Semakin ia pikirkan semakin ia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Reynald.
"Apa kau bisa menerangkan padaku tentang orang yang kau temui ini?" tanya Pangeran Richardo ragu-ragu.
"Sure."
Pangeran Reynal berdiri.
Lalu beranjak mendekati jendela kamarnya yang terbuka, memamerkan pemandangan indah taman di luar kamarnya.
Dalam bayangannya terlukis senyum Anara dan entah kenapa kemudian gadis yang tengah tersenyum itu berubah menjadi Naira.
Pangeran Reynald tersenyum sedikit tertegun dengan apa yang sekarang ada dalam pikirannya.
Anara, kah?!
Batinnya masih dengan senyum yang tertuju ke luar jendela.
NARATOR
Sampai jumpa di episode berikutnya :D