My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(session 2) Page 27: How To End This Villainous Route (5.0)



Third Person's POV


Di suatu tempat dimana Araya terlihat tengah berjalan sendiri menyusuri lorong akademi,


dengan langkah kaku dan ekspresi wajah datar, Araya memasuki suatu ruangan yang ternyata merupakan ruang kepala sekolah.


"Selamat siang pak kepala sekolah."


Sapanya dengan nada gembira.


"... Araya?"


Kepala sekolah Aedhira yang sesaat terlihat tak bergeming dengan kedatangan Araya kedalam ruangannya,


kini sudah berdiri dari tempat duduknya dan mulai berjalan mendekati gadis itu,


setelah melihat senyum mengembang Araya yang manis.


"Apa kiranya yang membuat keponakan angkatku datang kemari?"


tanya sang kepala sekolah yang kini sudah saling berhadapan dengan Araya.


Kedua tangannya terbuka, mengisyaratkan pada gadis muda itu untuk memberikan salam pelukan untuknya. Araya terdiam untuk sepersekian detik sebelum kemudian melompat untuk memeluk sang kepala sekolah.


"Ada apa Araya?"


tanya Aedhira lagi sembari mengusap kepala Araya dengan penuh sayang.


Araya menggigit bawah bibirnya sebelum kemudian mendongak dengan kedua mata berbinar bahagia.


"Aku senang bisa bersama dengan Pangeran Richardo,"


"Walaupun aku tau, pangeran masih belum bisa membenci Nona Naira sepenuhnya."


Ucapnya dengan senyuman.


Aedhira tersenyum, kedua mata rubahnya semakin terlihat menyipit.


"jangan cemas Araya, 'anak' itu tengah melakukan tugasnya dengan baik untuk kebahagiaanmu."


Katanya yang sudha mengecup puncak kepala Araya.


Araya tidak merespon, wajahnya berpaling sejenak sebelum kemudian menatap lekat kepada sosok tinggi dan tampan didepannya.


"Bagaimana dengan pangeran Reynald, Penyihir Kayana dan kedua kakak lelaki Naira??"


"Sampai pada detik ini pun mereka masih belum bisa tunduk di hadapanku."


Ungkap Araya yang kini sudah mengernyitkan kedua matanya.


Aedhira terdiam, wajahnya merunduk membalas tatapan Araya.


gadis muda itu masih memberikan tatapan kesal pada Aedhira yang kehilangan kata-kata.


sampai kemudian.


"Sudahlah, kalau memang kalian tidak bisa melakukannya bilang saja."


katanya yang sudah melepaskan diri dari rengkuhan lengan sang kepala sekolah.


"Aku tidak suka dibuat berharap oleh orang-orang yang mengaku berguna untukku."


jelasnya sebelum kemudian berbalik pergi meinggalkan Aedhira yang masih mematung ditempatnya berdiri.


Araya menutup pintu ruangan tersebut dengan cukup keras, diluar ... dirinya terlihat tengah bersandar pada pintu kembar berwarna putih itu sambil merunduk.


kedua matanya yang masih tertuju pada lantai dibawah kakinya mengatup rapat.


kedua alisnya bertaut


seolah menyembunyikan rasa kesal dan marah pada seseorang.


setelah beberapa detik kemudian


Araya kembali menegakkan tubuhnya lalu pergi dengan wajah tanpa ekspresi.


"Cih ..."


Di dalam ruangan,


kepala sekolah terlihat tengan memegang body pintu kantornya, beberapa detik kemudian matanya melirik ke arah datangnya suatu cahaya yang tiba-tiba saja muncul.


"Kau."


kepala sekolah menoleh ke arah sosok yang kini terlihat tengah duduk dengan santai di sandaran sofa dengan kedua tangannya yang bersedekap.


"Aku lihat Araya pergi dengan kesal, apa kau sudah mengatakan sesuatu hal yang tak berguna padanya?"


katanya dengan wajah kalem.


"Yang tidak berguna itu adalah kenyataan bahwa kau masih belum bisa membuat para Capture Target itu bertekuk lutut dihadapan Araya.


Radja memercingkan kedua matanya dengan tajam, seolah ucapan kepala sekolah sangat mengganggunya.


"Tujuan utamaku adalah untuk membuat nona dari keluarga Archduke itu dibenci oleh kelima pemuda yang diinginkan oleh Araya."


"Aku juga sudah memberikan Item untuk dia gunakan sebagai alat yang akan membantunya menguasai perasaan kelima pemuda itu."


"Alasan kenapa kelima pemuda itu masih belum bisa mencintai Araya, itu sama sekali bukan urusanku."


Ungkap Radja panjang lebar yang malah membuat kepala sekolah semakin menatapnya dengan tajam.


"Sepertinya aku harus mengingatkanmu mengenai posisimu."


"Jika bukan karena aku, kau tidak mungkin berada disini ..."


"dan jika aku menginginkannya ... aku bisa saja menyingkirkan eksistensimu sekarang juga."


katanya dengan kedua mata yang mampu membuat Radja sedikit merinding dibuatnya.


Radja terlihat hanya mempu menggigit bawah bibirnya, kemudian menghilang begitu saja.


Aedhira menghembuskan nafas berat sebelum kemudian menyandarkan keningnya pada pintu dihadapannya.


"Araya ..."


Dilokasi lain.


"Ricky!!"


panggil Pangeran Reynald dari belakang sosok yang kemudian berpaling menghadapnya.


"Kak Rey?"


"Apa kau punya waktu?"


tanya sang pengeran pada sepupunya.


"ada apa? katakan saja."


Jawab Pangeran Ricky sedikit dingin.


"Apa kau bertemu dengan nona Naira?"


"Ini sudah beberapa hari sejak kita berdua bertemu dengannya."


"Aku cemas ... apalagi perihal mahluk bernama Radja itu juga belum selesai."


Kata Pangeran Reynald panjang lebar, seolah sengaja ingin melihat reaksi apa yahg akan diberikan oleh Richardo.


Apabila dirinya membahas perihal nona Araya.


Reynald's POV


"Kenapa aku harus menemui gadis yang sudah berubah menjadi seperti iblis itu?" tanya Richardo yang membuatku sedikit tertegun.


terus terang saja, sebenarnya aku sangat bahagia mendengarnya.


Jika memang harus memilih, aku tidak ingin bersaing degan saudara sepupuku sendiri


tidak peduli meskipun perasaan Richardo hanyalah karena hipnotis buatan gadis itu.


selama hal itu bisa membuatnya melepaskan nona Naira


hal tersebut tidak masalah bagiku


Aku menahan diri agar tidak tersenyum bahagia karenanya.


"Kau benar ... gadis seperti dia memang sepertinya tidak pantas untuk kau temui."


kataku yang sepertinya tak mampu menyembunyikan kegembiraan yang saat ini kurasakan.


"Apa maksud, kak Rey?"


Tanya Ricky yang sepertinya sudah sedikit mengernyitkan kening, heran.


"Tidak ada apa-apa ... oh ya aku sampai lupa, aku ingin mengajakmu membahas masalah yang waktu itu pernah kita diskusikan."


Kataku mengalihkan pembicaraan.


"Soal yang mana?"


tanya Richardo masih terlihat tidak mengerti.


"Akan kujelaskan nanti, ajaklah nona Araya ... aku yakin dia akan bersemangat kalau kau mengatakan padanya akan mengunjungi kamarku."


Kataku dengan senyum sedikit menyeringai sebelum kemudian berbalik pergi meninggalkannya.


"Tunggu, hey, Kak Rey!! Apa maksud Kak Rey?"


suara richardo terdengar jauh dibelakangku.


aku memang sengaja mengacuhkannya,


karena aku tidak ingin Richardo semakin mencurigaiku dan tujuanku mengajaknya ke kamarku


ditambah lagi dengan statement


dimana aku mengijinkannya membawa Araya dengan sengaja.


Aku yang kembali kedalam kamar Asrama disambut oleh sosok Penyihir Kayana yang sudah berdiri anggung di dekat jendela.


"Bagaimana kondisi nona Naira saat ini?"


tanyaku dengan cemas.


"Roland dan Arvhein sedang menunggunya di kamarku."


"Aku juga sudah memasang sihir ilusi di kamar nona Naira, kamar kedua kakak lelaki nona Naira dan menara penyihir."


"Siapapun yang berusaha melihatnya akan menganggap bahwa Nona Naira, aku dan kedua kakak nona Naira sedang berada di kamar masing-masing dan melakukan aktifitasnya sendiri."


"Sekarang sudah waktunya kita menjalankan rencana kita."


Kata Kayana sembari menyodorkan suatu bungkusan berwana biru keunguan.


"berikan ini kedalam minuman kalian bertiga."


Kata kayana lagi yang membuatku mengernyitkan kening tidak mengerti.


"Kau mau aku meminum ini juga."


Kataku yang malah langsung membuat pemuda seumuran pangeran Richardo itu tersenyum.


"sebelum itu minumlah ramuan ini."


Ucapnya kini menyodorkan bungkusan berwarna putih.


jelasnya panjang lebar.


"Racun??"


"Apa kau berencana ingin meracuni Pengeran Richardo dan Araya?"


Tanyaku lagi dengan penuh tanda tanya dan keterkejutan.


"Tidak perlu cemas, racun ini hanya akan membuat peminumnya dalam keadaan koma."


"lagipula aku sudah punya antidote nya untuk pangeran Richardo."


"Aku hanya ingin mengancam dengan menggunakan Araya untuk menolong nona Naira."


Ujarnya lagi menjelaskan.


"Jangan bilang kalau anda tidak setuju dengan rencanaku ini?"


tanyanya dengan kedua alis bertaut.


Siapapun yang mendengarkan rencana ini tentu saja akan membuat Kayana dalam posisi berbahaya.


walau bagaimanapun membuat putra mahkota kerajaan meminum racun adalah hal terabsurd yang bisa


membuatnya dicap sebagai kriminal


yang ingin berusaha mencelakai keluarga kerajaan.


Tapi, bagiku ...


jika dengan mempertaruhkan hidup dan nyawa ini demi untuk menyelamatkan nona Naira adalah hal yang sangat diperlukan


maka pasti akan kulakukan.


Ditempat lain,


tepatnya di menara penyihir, yaitu kamar Kayana.


"Nainai ...?"


Panggilan Arvhein begitu lirih seolah berbisik.


Roland menepuk-tepuk lantai dengan alas sepatunya, tidak tenang dengan bagaimana mereka melihat kondisi sang adik tercinta yang seperti sekarat.


Naira sama sekali tidak bisa tertidur,


kesadarannya utuh, namun kepala, tubuh dan kedua matanya terasa sangat berat untuk digerakkan.


Naira masih mampu merasakan keberadaan kedua kakaknya. '


mendengar panggilan dan obrolan cemas mereka berdua.


Tapi jangankan membuka matanya.


Naira tak mampu mengeluarkan suaranya.


Semenjak tadi dirinya tengah berkonsentrasi untuk berkomunikasi dengan Kyuven


meminta bantuan mahluk kesayangannya itu untuk menyampaikan rencana kedua kakaknya yang sempat ia dengar.


Kyuven yang sebenarnya sangat merasa tidak tenang jika tidak bersama dengan Naira.


berusaha sebisa mungkin untuk tidak segera berlari ketempat masternya berada dan merusak segala rencana mereka.


Kyuven mengerti sekali bahwa perasaannya tidak boleh menguasai dirinya dan malah membahayakan hidup


master tercintanya.


Anne dan Derrick juga ikut berusaha memberi pengertian dan menenangkan Kyuven demi sang nona terkasih mereka.


Kemudian,


sore harinya.


"Pangeran Reynald ... Pangeran Richardo dan Nona Araya ingin menemui anda."


Kata Draco yang tengah menjaga di luar pintu kamarku sana.


"Persilahkan mereka masuk."


kataku dengan tenang.


mengingat semua rencana yang dikatakan Kayana sebelumnya padaku.


Third Person's POV


[Seperti yang anda sudah ketahui bahwa, saat anda menatap mata nona Araya, anda akan mulai kehilangan diri dan perasaan anda. 


Kemungkinan besar anda bahkan tidak akan mengingat alasan mengapa anda mengundang Araya dan Richardo ke kamar anda.]


[Ervan akan kuhipnotis mulai dari sekarang untuk membuatnya ikut melakukan rencana kita.


dia adalah salah satu dari beberapa orang terdekat kita yang sama sekali tidak memiliki perasaan mendalam pada nona Naira


jadi aku yakin keberadaan nona Araya tidak akan mempengaruhinya.]


[Anda sudah meminum antidotenya


jadi semuanya serahkan saja pada insting anda. 


aku akan berusaha membuat semuanya bekerja dengan baik.]


Reynald menghembuskan nafas panjang sebelum kemudian berdiri dari tempat dirinya tengah duduk di frame jendela kamarnya.


Aku percayakan semuanya padamu, Kayana. 


Reynald yang kemudian menatap kedalam bola mata Araya,


menyunggingkan senyum pada gadis itu,


Reynald terlihat bahagia menyambut kedatangan mereka berdua.


Tentu saja Richardo tidak merasa keberatan walaupun ketika melihat Kakak sepupunya merangkul mesra Araya


ketika mengantar mereka untuk duduk.


"ngomong-ngomong perihal obrolan yang ingin kau bahas tadi."


ucap Pangeran Richardo mengawali.


"Obrolan?"


tanya Pangeran Reynald heran.


"Soal apa?"


tanyanya lagi yang malah membuat Pangeran Richardo dan Araya tertegun keheranan.


"Kau tidak ingat??"


Tanya Pangeran Richardo lagi penuh tanya.


Pangeran Reynald menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku tidak yakin apa yang kau maksud."


ucapnya dengan senyum simpul.


"Jangan bilang kau juga tidak ingat perihal dirimu yang menanyakan soal kabar nona Naira padaku?"


tanya Richardo kini terlihat sedikit keki.


"Apa maksudmu dengan aku menanyakan perihal gadis yang sudah banyak membuat nona Araya sedih itu, kepadamu?"


Jawab Pangeran Reynald sedikit mengerutkan keningnya.


Araya yang melihat kedua pangeran berseteru akhirnya mencoba untuk melerai.


"Pangeran Reynald, Pangeran Richardo... saya sudah tidak apa-apa."


Katanya dengan senyum sendu.


"selama anda berdua bersama saya, apapun yang akan dilakukan oleh nona Naira kepada saya ..."


"Saya tidak akan merasa sedih."


Ungkapnya dengan senyum dan kedua pipi yang merona.


kedua Pangeran ikut tersenyum saat melihat gadis dihadapan mereka tersenyum.


"Yang Mulia Pangeran Reynald ...silahkan nikmati teh dan hidangannya selama kalian bersantai."


Butler sang pangeran datang dengan menyeret troli minuman dan camilan yang dihidangkan dengan sengaja untuk mereka.


Araya yang tidak sedikit merasa curiga dengan Butler sang pangeran ketika menyuguhkan secangkir minuman untuknya,


menoleh kearah sang Pangeran.


"Pangeran Reynald?"


Panggilnya pada sosok tampan yang tengah duduk dengan anggun di sampingnya.


Ditangannya terdapat secangkir teh yang sama seperti miliknya.


"Ya, Nona Araya?"


Pangeran Reynald membarikan senyum menawan saat menjawab panggilan tersebut.


Setelah sang butler memberikan cangkir terakhir pada Pangeran Richardo,


terlihat sosok anggun dan berwibawa itu pamit undur diri dari hadapan mereka.


Araya yang entah mengapa mendapatkan firasat aneh dan seolah merasa ada yang memang


tidak beres dengan Pangeran Reynald mencoba hal yang cukup membuat sang pangeran tersentak kaget dibuatnya.


"adakah yang ingin anda tanyakan, nona Araya?"


tanya sang Pangeran membuyarkan pikiran gadis itu.


"Saya memiliki permintaan yang saya harap anda bisa mengabulkannya."


katanya kali ini menghadap Pangeran Reynald dengan wajah serius.


"dan apakah gerangan permintaan tersebut?"


tanya sang Pangeran masih tidak kehilangan senyumannya.


"Kalau anda memang menyukai saya,"


"saya ingin anda meminumkan teh milik saya ini dengan bibir anda.'


Ungkapnya yang cukup membuat kedua bola mata pangeran Reynald terbelalak.


Dilain pihak pengeran Richardo hanya mampu melihat Araya dengan tatapan dingin.


kedua tangannya mengepal tanpa sadar.


"Nona Araya ... hal itu..."


"Saya ingin anda membuktikannya kepada saya, kalau anda memang sudah sepenuhnya menyukai saya."


Ujarnya lagi kali ini memperlihatkan tatapan mengiba.


BERSAMBUNG xD