
Reynald's POV
(Lima hari sejak kejadian hari itu.
Aku sama sekali belum bertemu dengan nona Naira.
Bukan hanya merasa seolah waktu kami tidak pernah tepat.
Entah mengapa aku merasa nona Naira memang sengaja menjauhiku.
Dua hari yang lalu, aku sempat merasa frustasi.
Dalam benakku, aku merasa bahwa telah terjadi sesuatu dengan nona Naira.
Hal yang saat itu ada dalam pikiranku adalah...)
(Semua ini ada hubungannya dengan Pangeran Richardo, Kayana atau bahkan Araya.
Orang pertama yang menjadi target investigasiku waktu itu adalah Pangeran Richardo).
(Aku masih ingat bagaimana waktu itu dia mengatakan kalau dirinya pun sama sekali belum bertemu dengan nona Naira.
Selama tiga hari).
"Kau tidak bohong, kan?!"
Tanyaku meragukan jawaban Richardo, karena aku tahu anak itu masih sangat mencintai nona Naira.
Sampai-sampai tidak peduli kalau harus bersaingan denganku.
"Kenapa aku harus mengatakan kebohongan padamu?
Aku memang mencintai nona Naira tapi, kenyataannya, aku memang belum bertemu dengannya sama sekali selama tiga hari ini."
Jawabnya lagi dengan keki.
"Ini benar-benar aneh, padahal menurut Dragon, nona Naira masih mengikuti pelajaran di asrama dengan normal.
Dia bukannya sakit atau tidak menghadiri kelas di akademi."
Kataku pada Ricky.
"Tapi bagaimana mungkin, kita berdua sama sekali tidak bisa menemuinya?"
Katanya penasaran.
"Apa kak Rey sudah menanyakan perihal nona Naira pada tuan penyihir Kayana?"
Tanyanya lagi.
"Dia-lah orang ke dua yang ingin aku introgasi mengenai keberadaan nona Naira."
Ujarku yang kemudian mengundurkan diri.
(Namun, walau sedikit agak menyebalkan,
Kayana juga pada akhirnya memberikan jawaban yang sama sekali tidak berbeda jauh dengan Pangeran Richardo.
Dia juga sama sekali belum bertemu dengan nona Naira selama tiga hari itu).
(Pelajaran Sihir memang tidak dilakukan setiap hari.
Jadi pada waktu itu, ketika nona Naira akan menghadiri kelas sihir, dirinya meminta ijin tidak bisa menghadiri kelas karena sedang tidak enak badan.
Awalnya Kayana tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
Hingga dua hari kemudian, nona Naira juga meminta ijin untuk tidak menghadiri kelas sihir karena tidak enak badan).
"Pelajaran sihir nona Naira adalah sepenuhnya menjadi tanggung jawabku."
"Kalau seandainya pesan tersebut ditujukan pada kepala guru, itu wajar saja."
"Masalahnya, pesan tersebut ditujukan padaku."
Terangnya.
"Awalnya aku kira, aku bisa mencoba membantu nona Naira mengenai kondisinya."
"Tetapi, ketika aku menyampaikan pesan balasan untuk nona Naira."
"Datang balasan penolakan atas tawaranku."
"Beliau bilang kalau dirinya tidak ingin merepotkan aku dan akan segera mengikuti kelas sihir, karena nona Naira bisa melakukan healing se-level tabib kerajaan."
Ungkapnya padaku yang makin mengerutkan kening.
"Tetapi, dua hari berikunya, nona Naira lagi-lagi tidak menghadiri kelas sihir dan menujukan pesan yang sama lagi kepadaku."
"Di saat itulah aku merasa ada yang tidak beres."
(Aku dan Pengeran Richardo sudah cukup mendengar penjelasan dari tuan Penyihir Kayana.
Kami bertiga saat itu yakin, bahwa orang terakhir yang ingin aku tanyai adalah orang yang sama dengan orang yang ada dalam pikiran mereka berdua).
(Semua ini pasti ada hubungannya dengan nona Araya.
Sejak munculnya gadis itu, sudah banyak hal aneh yang terjadi padaku dan pangeran Richardo).
(Sekarang ditambah lagi dengan nona Naira yang seolah menghilang hanya ketika kami bertiga ingin menemuinya.
Tetapi, entah kenapa akhir-akhir ini pun. Kami bertiga sangat susah menemukan sosok gadis bernama Araya itu).
(Aku tidak ingin dicap sebagai stalker, jadi Ricky juga setuju untuk tidak terlalu terlihat seperti sengaja mencari keberadaan Araya).
(Tuan Penyihir Kayana pun juga tidak ingin terlalu berurusan dengan Araya.
Sehingga dirinya tidak berupaya untuk menggunakan kedudukannya sebagai guru besar sihir Fairan, hanya demi untuk menemui nona Araya).
Hhhh... kuhela nafas panjang,
(mencoba melepas kusutnya benang pikiran dalam otakku.
Ada yang tidak beres dengan Araya itu.
Apakah nona Naira benar-benar tidak apa-apa?)
(Pasalnya, bahkan pesan yang kusampaikan sebelum menemuinya mendapatkan penolakan dengen jawaban),
"Saya baik-baik saja, saya akan sangat berterima kasih bila Pangeran mau membiarkan saya sendirian untuk beberapa waktu ini."
(Jawaban yang sungguh sangat membuatku terguncang itu.
Akhirnya membuatku nekat untuk pergi menemui nona Naira di kamarnya.
Bahkan mencoba menerobos masuk walau maid dan butler nona Naira sudah berusaha menghalangiku).
(Tapi, rupanya lagi-lagi nona Naira menghilang begitu aku berhasil masuk ke kamarnya.
Aku tau perbuatanku ini sangat kurang ajar dan tak termaafkan.
Ricky dan Kayana pun tidak mungkin melakukan hal seberani itu hanya untuk menemui dan memastikan kondisi nona Naira sebenarnya).
Aku yang masih merasa tidak tenang, tiba-tiba saja di kejutkan oleh suara ketukan pintu dan panggilan Ervan dari luar.
"Yang Mulia, baru saja nona Naira datang menyampaikan surat untuk anda."
Katanya yang langsung membuat tubuhku otomatis beranjak dari sofa dan berlari menuju pintu
"Nona Naira!!!"
Aku hanya bisa membelalakkan mata dan termangu saat wajah Ervan terpajang dihadapanku.
"Uhh ... maaf Yang Mulia ... kalau nona Naira sudah pergi semenjak tadi."
Ucapnya.
Aku hanya bisa menunduk sambil memegangi wajahku, masih frustasi.
"Kenapa kau tidak mencegahnya pergi sampai aku datang."
Kataku sedikit mengeram.
"Maafkan atas ketidak-mampuan hamba Yang Mulia."
"Hamba hanya tidak sanggup mengabaikan permintaan nona Naira yang tidak bisa menemui anda untuk saat ini."
Jelas Ervan sambil membungkuk rendah padaku.
"Beliau juga mengatakan bahwa semuanya telah beliau jelaskan dalam surat ini, Yang Mulia."
Terangnya lagi kini menyodorkan sepucuk surat kepadaku.
Aku mengambil surat itu.
Ketika aku membaliknya di belakang surat itu tertulis,
{mohon sampaikan isi surat ini kepada tuan Peyihir Delarion dan Pangeran Richardo}.
Setelah aku berterima kasih pada Ervan, aku pun bergegas kembali ke dalam dan membaca apapun yang nona Naira tulis di dalam surat tersebut.
{Untuk Pangeran Rey.
Semoga berkah Atashi-sama memberkati anda.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya ... sepertinya akhir-akhir ini aku telah membuat Pangeran Rey,
Pangeran Ricky dan Tuan Delarion merasa cemas atas kondisiku.
Sebenarnya alasan tidak enak badan itu hanya pura-pura saja.
Aku tau kalau ini kedengarannya akan sangat mencurigakan.
Tapi aku menjamin kepada kalian bahwa aku baik-baik saja.
Tidak ada yang perlu kalian bertiga cemaskan.
Hanya saja, ada hal yang ingin aku selidiki dan pastikan, aku tau kalian pasti berpikir seharusnya aku mendiskusikan hal ini dengan kalian.
Tapi satu hal yang ingin kusampaikan pada kalian semua adalah bahwa nona Araya sama sekali tidak berbahaya.
Dan semua kecurigaan mengenai nona Araya adalah sesuatu yang nantinya akan kujelaskan pada kalian.
Aku janji setelah ini aku akan menemui kalian dan menjelaskan segalanya.
oleh karena itu tolong beri aku waktu beberapa hari lagi.
Salam hangat.
Naira}
Surat yang bahkan tidak berisi soal rindu padaku ini membuatku sedikit agak sedih.
Hhhhh ...
(Karena nona Naira ingin aku menyampaikan surat ini pada mereka berdua, aku rasa tiruannya saja sudah cukup).
Seperti tengah melakukan trik sulap kartu.
Kumainkan surat dari Nona Naira di tanganku hingga kemudian surat itu muncul di sela-sela jariku menjadi dua lembar.
Aku melemparkan kedua surat tiruan itu ke udara dan keduanya pun berubah bentuk menjadi burung kertas.
"Pergilah ke tempat Pangeran Richardo dan Penyihir berambut hitam Kayana."
Perintahku yang kemudian membuat kedua burung kertas itu terbang keluar jendela kamarku.
Aku beranjak dan berbaring ke tempat tidur.
Surat asli yang ada di tanganku.
Kuangkat tinggi-tinggi.
Hingga rasanya di mataku terpantul bayangan nona Naira yang tengah menulis surat ini untukku.
"Nona Naira ...."
Gumamku yang kemudian mencium sepucuk surat itu.
Naira's POV
Beberapa hari sebelumnya.
Aku yang masih syok dengan kehadiran sosok di kamarku itu.
Hanya bisa berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, tanpa mampu mengeluarkan suara apapun.
Pikiranku saat ini benar-benar kacau.
Aku tidak menyangka bahwa dia ada di sini, di dalam kamarku dan lebih parah lagi tengah bersama Kyuven dan duplicat diriku.
"... Anda ... bagaimana anda ... bisa masuk ke kamar ini ...."
Akhirnya sepenggal kalimat berhasil keluar walau tidak lancar dari bibirku,
"Nona Araya ...?"
Tanyaku pada sosok gadis yang masih tersenyum dengan polos semenjak tadi kepadaku.
"Sebenarnya saya tidak ingin melakukan hal semacam ini pada anda Nona Naira."
"Tapi ... saya benar-benar tidak ada jalan lain."
Katanya yang masih dengan santai membelai kepala Kyuven.
"Apa maksud anda ...?"
Tanyaku lagi masih belum bisa mencerna situasi yang tengah kualami saat ini.
(Orang yang selama ini tengah dicurigai oleh para pangeran telah berada di sini dan mengetahui seluruh rahasia yang bahkan kusembunyikan dari para pangeran).
Jantungku berdetak tak karuan, entah mengapa tiba-tiba Kyuven seolah tersadar dan berlari ke arahku, lalu berdiri membelakangiku.
"Kyu-Kyuven?!"
Ucapku masih terpaku kini karena melihat Kyuven mengerang ke arah nona Araya.
Seolah-oleh Kyuven merasakan ketakutan yang kurasakan terhadap nona Araya.
"Oh ... maafkan aku Nona Naira, aku benar-benar tidak bermaksud membuat anda takut ...."
Ucapnya yang kemudian merunduk rendah.
"Maafkan ucapan dan segala tindakanku yang gegabah ...."
Sambungnya lagi kini membuatku sedikit merasa tenang.
"Kyuven, duduklah ... aku sudah tidak apa-apa ...."
Kataku yang kemudian dibalas oleh Kyuven dengan suara
Auuun lalu mengusap-usapkan kepalanya kepadaku.
"Syukurlah ... saya akan sangat sedih kalau anda dan Kyuven membenci saya."
Kata Araya yang kini membuatku kembali memberikan perhatian padanya.
"Maksud Nona Araya?"
Tanyaku blak-blakan.
"Uhh ... apa saya boleh minta tolong sebelumnya, duplicat anda ini mungkin boleh di-non-aktifkan ...."
Tanyanya dengan senyum garing.
Aku yang sedikit tertegun, akhirnya menjentikkan jari dan menghilanglah duplicat-ku itu.
"Terima kasih Nona Naira."
Balasnya dengan senyum ceria.
(Aku yang melihatnya jadi tidak tau harus merasa bagaimana.
Salahkah jika aku sampai saat ini masih ingin mempercayai nona Araya dan mengabaikan peringatan para pageran.
Aku tau seharusnya aku tidak segegabah ini.
Tapi ... masa iya aku harus sok mengubah genre novel ini jadi ada action-nya).
Tanyaku pada diri sendiri dengan sweatdrop besar di kepala.
(Sudahlah, mungkin sebaiknya aku menanyakan hal ini secara baik-baik pada nona Araya).
"Jadi ... apa gerangan yang membawa Nona Araya kemari bahkan tanpa seijin dan sepengetahuan saya?"
Tanyaku masih belum mampu memberikan senyum kepadanya.
"Oh ... anda benar, saya sampai lupa tujuan utama saya ingin menemui anda dengan cara sekurang ajar ini."
Katanya yang terlihat terkejut dengan pertanyaanku.
"Ano ... apa saya boleh meminta tolong pada anda, Nona Naira?"
Tanyanya dengan wajah mengiba.
(Aku yang tidak bisa mengatakan tidak karena sungkan itu.
Apalagi nona Araya belum melakukan hal yang lebih jauh selain masuk ke kamarku dengan lancang).
"Apa sekiranya bantuan saya yang anda inginkan?"
Tanyaku masih mencoba tegas kepadanya.
"Begini ... Sebenarnya ini ... ada hubungannya kenapa saya kemari tanpa pemberitahuan sebelumnya ...."
Jelasnya dengan gugup.
Wajahnya sedikit merunduk, kedua tangannya tengah memainkan jemari dengan gugup.
"Lalu?"
"Itu ... Jadi ... Maksud saya ... maukah Nona Naira menjadi teman saya dan mendengarkan curhat saya??"
Tanyanya yang kemudian melompat ke arahku lalu menggenggap kedua tanganku.
Kedua matanya yang menatapku dengan binar harapan membuatku semakin tidak paham selain meresponnya dengan
"EEEEEHH?!"
(Aku benar-benar tidak yakin dengan apa yang barusan aku dengar dari bibir nona Araya.
Apakah alasannya masuk ke kamarku seolah dia adalah Villain yang sesungguhnya adalah hanya dikarenakan dia ingin menajdi temanku dan agar aku mau mendengarkan curhatannya??)
You gotta be kidding me right???
(Sebenarnya ingin sekali kuungkapkan hal tersebut pada Nona Araya.
Tetapi, melihat bagaimana ia dengan sungguh-sungguh memohon kepadaku itu, akhirnya membuatku mengangguk pasrah sambil mengucapkan kata
Yeah, Ok?! Sebagai jawabannya).
"Nona Araya, apakah saya boleh menanyakan sesuatu pada anda?"
Tanyaku dengan memberanikan diri.
"Apakah itu?"
Tanya nona Araya dengan polosnya.
"Apakah anda menyukai para pangeran?"
Tanyaku lagi padanya.
"Pangeran yang mana maksud anda Nona Naira?"
Tanya nona Araya dengan polosnya.
Matanya mengerjap seolah-olah mempertanyakan keseriusan pertanyaanku.
"Bukankah anda menyukai Pangeran Reynald dan Pangeran Richardo??"
Tanyaku lagi kini dengan blak-blakan.
"Hah??"
"Memangnya sejak kapan saya menyukai Pangeran Richardo dan Pangeran Reynald?"
Katanya dengan ekspresi terkejut.
"Siapa yang mengatakan hal seperti itu."
"A-a sama sekali salah, anda salah paham."
Jelasnya lagi, kali ini dengan menyilangkan kedua lengannya sambil mengernyitkan kening,
(Aku speechless dengan jawaban, ekspresi dan tingkah nona Araya yang seolah menyangkal dengan keras hal tersebut dan tidak membenarkan kenyataan).
Aku mengerjapkan mata heran, masih tidak paham dengan respon nona Araya.
BERSAMBUNG ^0^)/
ada yang kangen dengan Nona Naira?? Apa Clifhanger kali ini sesuai prediksi kalian?
coba komen di bawah ya tentang jalan cerita kali ini