
Naira's POV
"Naira-sama!!"
"Naira-sama!"
Oh My Goat, ini sudah yang kesekian kalinya anak-anak di akademi berusaha mendekatiku.
Walaupun aku sudah dengan sengaja menjaga jarak dari mereka.
Apa yang sebenarnya terjadi? Awalnya kukira ini hanya sekedar kebetulan semata,
ketika Lady Vinerra mulai menyapaku.
Lalu kemudian hampir seluruh anak-anak di kelas akademi mengakrabkan diri denganku.
Apa aku sudah tanpa sengaja mengaktifkan sihir aneh yang membuat mereka jadi berubah dalam beberapa hari?
Tanyaku pada diri sendiri.
Saking clueless-nya aku sampai tidak tau harus bagaimana.
Hingga kemudian tanpa sadar aku berpapasan dengan Pangeran Richardo.
Dari jarak sepuluh meter pun aku masih mampu melihat bagaimana wajah tampannya yang imut itu tersenyum saat kedua matanya bertatapan denganku.
Tangannya terangkat melambai ketika kedua kakinya sudah berjalan cepat menuju ke arahku.
Tiba-tiba saja tubuhku dengan spontan berbalik lalu berlari pergi meninggalkan lokasi.
Aku sendiri tidak mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi.
Namun, satu hal yang pasti aku merasa tidak tenang dengan perubahan aneh yang terjadi di kelas akademi hingga rasanya aku ingin sekali berdiskusi dengan nona Araya.
Entah kenapa aku mendapatkan firasat bahwa untuk beberapa hari kedepan tidak akan ada yang perlu dikhawatirkan mengenai para pangeran.
Sehingga aku rasanya ingin berkonsentrasi dengan masalah perubahan sikap anak-anak di kelas akademi dan apa yang sebaiknya aku dan nona Araya lakukan sebagai pendatang dari dunia lain.
Dalam menjalankan peran di dunia otome game ini.
Easy to said then done,
itulah kalimat yang cukup cocok untuk kondisiku saat ini.
Selain capek menghindari kerumunan anak-anak di kelas akademi yang mencoba dekat denganku.
Aku juga berusaha sebaik mungkin untuk tidak bertemu dengan para pangeran.
Karena aku tidak ingin mereka curiga akan adanya kedekatanku dengan nona Araya.
Hanya saja masalahnya sekarang,
entah kenapa aku merasa nona Araya tengah menghilang ditelan bumi.
Bagaimana bisa anak itu tidak ada dimanapun?!
Gosh entah kenapa tiba-tiba aku menyesali dunia tanpa gadget ini.
Kalu saja ada handphone, aku, kan, bisa langsung telpon nona Araya dan menanyakan perihal keberadaannya.
ARRRRRRRGH!!
Kalau begini terus apa yang harus kulakukan.
Gerutuku sendiri mengacak-acak rambut, saking pusingnya.
"Apa kamu dengar gossip itu?"
Tanpa sengaja aku yang tengah bersembunyi di belakang gedung perpustakaan,
mendengar perbincangan dua orang siswi.
"Katanya murid bawaan kepala sekolah yang bernama Araya itu sedang dalam perawatan tabib akademi."
"Aku dengar ada yang mendorongnya jatuh dari tangga, apa itu benar?"
Aku benar-benar sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kedua murid perempuan itu,
jadi alasan kenapa nona Araya tidak bisa kutemukan dimanapun karena dia sedang dalam perawatan tabib akademi.
Gedung yang berfungsi sebagai infirmary itu berada di ujung selatan sekolah.
Baiklah, kita coba ke sana sekarang.
"Kudengar ada saksi mata yang bilang kalau si pendorong itu anak berambut iblis!"
Hah??
Aku terhenti seketika.
"Aku malah dengar kalau yang melakukannya adalah anak laki-laki,"
"tapi waktu ditanya anak laki-laki itu menjawab kalau yang menyuruh dia adalah si anak pemilik warna iblis."
Lagi-lagi entah kenapa aku merasa seolah-oleh yang mereka maksud adalah aku.
Hmmm ...
Aku berhm-hm dengan kening berkerut.
Aku yakin sekali bahwa anak iblis yang mereka maksud adalah aku si nona Naira,
tapi msalahnya gossip dari mana itu?
Batinku lagi
"Eh tapi bukannya itu cuma rumor?"
"Well, walaupun benar, tidak akan ada yang berani menyalahkan anak Archduke bukan?"
"Tentu saja, mau yang melakukannya adalah anak itu atau bukan aku sih tidak peduli."
"Aku tidak menyukai anak yang dibawa masuk oleh pak kepala sekolah itu sejak awal."
"Jadi aku tidak peduli apa yang terjadi pada dia."
"Kau benar dia itu sangat menyebalkan, padahal rakyat jelata."
"tapi, bagaimana dia bisa punya hubungan dengan kepala sekolah kita yang tampan itu."
"Ugh aku kesal sekali, aku juga sempat melihat dia berduaan dengan pangeran Richardo dan Pangeran Reynald."
"Aku harap anak berambut iblis itu bisa mengajarkan si rakyat jelata tentang posisinya."
Kalimat itu diakhiri dengan tawa.
Aku tercengang, diam tak bergeming.
Pikiranku kacau, ada seseorang yang mencoba menjebakku dengan rumor soal akulah pelaku yang sudah mencelakai nona Araya.
Tapi ... siapa kira-kira?
Kuhela nafas panjang sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan lokasi.
Apakah masalah ini sudah diketahui oleh para pangeran?
Apa aku bisa melakukan sesuatu untuk mengetahuinya?
Bukannya akan lebih cepat kalau aku menanyakan hal tersebut langsung pada orang yang bersangkutan??
Huh??
No-no-no-no ...
Aku tidak bisa melakukannya.
Bagaimana kalau ternyata pangeran belum tau dan setelah aku menyampaikan hal ini dia malah meledak.
Lagi-lagi aku menghela nafas berat.
Aku merasa terlalu beresiko kalau aku bertemu dengan para pangeran.
Aku juga tidak tau harus menggunakan sihir macam apa agar aku bisa meredam gossip aneh ini.
Kuputuskan untuk kembali ke asrama ketika kepalaku mulai pening dengan berbagai masalah aneh yang kuhadapi beberapa hari ini.
Di dalam kamar Asrama.
"Nona Naira? Apa anda benar baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa Anne hanya sedikit lelah, bisa tolong sampaikan pada Derrick untuk meminta ijin pada guru akademi ... aku tidak bisa mengikuti pelajaran berikutnya."
"Bilang juga kalau hal ini tidak perlu diketahui oleh siapapun dan jika mereka ngotot ingin memanggilkan tabib untukku, aku akan menghilang dari akademi."
Anne hanya bisa tersenyum masam dengan ucapan dan ancamanku.
setelah memberiku cokelat panas dan membantuku berganti pakaian,
Anne pamit pergi untuk menyampaikan pesanku pada Derrick.
Entah apa aku sudah terbiasa dengan kehidupan nona Naira yang seorang Villain puteri kesayangan Archduke yang disegani dan ditakuti semua orang karena kekuatan dan kekuasaannya yang hampir menyetarai kaisar.
Aku jadi sering dan suka memberi ancaman kepada orang-orang yang suka membuatku terganggu dengan mengatakan kalau aku akan menghilang.
Karena bagaimana pun mereka tau kalau sampai terjadi sesuatu padaku,
para kakak terutama Ayahanda tidak akan tinggal diam begitu saja.
Seingatku di dalam novel dikatakan kalau Ayahanda sangat menyayangi Naira,
saking sayangnya dia tidak segan-segan membela Naira yang jelas-jelas mencelakai Araya.
Menutupi hal tersebut agar para pangeran tidak mengetahuinya.
Ayahanda bahkan diam-diam mengirim seorang assassin untuk mencelakai Araya atas permintaan Naira yang menangis karena merasa Pangeran Richardo telah diambil oleh commoner semacam Araya.
Gosh ...
Sekarangpun aku merasa cinta Ayahanda pada Naira tidak kalah besar dengan level yang ada dinovel. Terkadang hal ini kujadikan senjata untuk mengancam.
Mungkin dalam kepala mereka, kalau benar aku menghilang dan Archduke mengetahui hal tersebut kemurkaannya bisa membuat mereka semua celaka.
Ya, aku sih berterima kasih dengan kenyamanan ini.
Kubaringkan tubuhku diatas ranjang,
memikirkan ulang kejadian barusan.
Kyuven merangkak ke atas ranjang dan tidur di sebelahku.
"Aku belum pernah mencoba sihir ini sebelumnya."
Ucapku pada Kyuven saat aku bergerak untuk tidur sambil memeluknya.
"Tapi aku harap ini juga masih bisa berhasil dengan ajaibnya."
Lanjutku kini sudah mengulurkan tangan di udara.
Kupejamkan mataku dan tiba-tiba saja di dalam kepalaku muncul kata-kata yang entah kenapa mampu kupahami namun dengan bahasa asing yang tek pernah kudengar sebelumnya.
Itu adalah bahasa yang sama dengan mantra sihir sebelumnya.
פֿאַר די ליבע און ברכה פון די גרויס געטין, דער גאָט פון שאַפונג אַטשי-סאַמאַ, איך בינדן פֿאַר דיין חן צו אַרויסרופן די באַשעפעניש וואָס האט די אויגן און אויערן פון וניווערסע.
Suatu sinar berwarna biru dan emas membuatku harus membuka mata untuk memastikan mahluk apa yang ku-summon kali ini.
!!?
Aku terperanga melihat mahluk kecil berwarna biru bersayap emas tengah berdiri di atas telapak tanganku.
"Peri?? Sungguhan???"
Tanyaku yang masih tidak yakin
HEEEEEEEEE???
Ungkapku terkejut mendapati mahluk cantik itu kini tersenyum ke arahku.
Aku mundur bersembunyi di belakang badan Kyuven yang besar.
"Seriusan? Aku summon peri??"
Tanyaku masih terheran-heran.
Kyuven juga sepertinya tidak bereaksi dengan kepanikanku,
seolah mengetahui bahwa tidak ada yang berbahaya dari mahluk yang ku summon tersebut.
"Aku memang meminta mahluk bisa menjadi mata dan telingaku."
"yang bisa mendengar dan melihat apa yang tak bisa kujangkau dari inderaku."
kataku yang kini sudah mengulurkan tangan dan disambut oleh peri itu dengan senyuman.
"Apa kamu bisa bicara?"
Tanyaku dengan polosnya.
Aku memincingkan mata dan mencondongkan wajah mungilku itu untuk melihat lebih jelas ekspresi si peri.
"Kalau dilihat-lihat lagi kamu itu ternyata punya wajah Ikemen juga ya?!"
Ungkapku serius walau terdengar konyol.
Cup!!
EH??
POFF!!
HEEEEE???
Hal aneh lainnya terjadi.
Peri mini yang tadi masih berukuran sepuluh cm kini sudah mengecup punggung tangan kananku dengan sosoknya yang segede pangeran Reynald.
"Namaku adalah Radja, Tuan Putri mungil yang cantik."
"Bolehkah aku mendapat kehormatan untuk mengetahui nama anda?"
Sekali lagi kecupan lembut mendarat di punggung tanganku,
kali ini dibarengi dengan senyuman ala ikemen isekai jepang.
Aku hanya bisa membeku dengan wajah bengong yang of course aku yakin masih sangat terlihat imut.
kedua mataku mengerjap bahkan sesekali aku usap saking belum bisa mempercayai sosok di hadapanku ini.
Kyuven juga sepertinya tidak keberatan dengan keberadaan ikemen misterius di atas tempat tidurku.
Apa mungkin dia ini memang jelmaan dari peri mini tadi?
"Anu ... itu, maaf ... apakah tuan Radja ini adalah peri mini yang cantik tadi?"
Tanyaku dengan terbata-bata dan polosnya.
"Benar, sebagai penguasa dan pemimpin bangsa peri saya sangat mengagumi kekuatan Nona ... jadi saya, Radja, mulai saat ini akan mengabdikan diri sebagai mata dan telinga anda."
"Gunakanlah kekuatan saya semau anda."
Terangnya padaku yang masih bengong.
Jadi ... Radja adalah mahluk yang berhasil ku-summon dengan asal-asalan dan ajaibnya dia adalah pemimpin sekaligus penguasa dari seluruh bangsa peri ...
.
.
.
LUAR BAISA!!!
Tiba-tiba saja aku merasa sangat bahagia,
bibirku mengembang dengan senyum sumringah.
"Sungguh? Kamu akan bersedia menolongku?"
Tanyaku dengan semangat, seolah-oleh beban diseluruh kepalaku menghilang seketika.
Aku merasa kedatangan Radja adalah kunci untuk membuka kotak masalah yang tengah kupegang saat ini.
"Tentu saja Nona, tapi sebelum itu,"
"apakah Nona tidak keberatan untuk memberitahu saya nama anda?"
Tanyanya lagi dengan senyum menawan.
"Oh ... maaf, saking senangnya aku sampai mengabaikan permintaanmu."
Kataku dengan wajah sedih dan kedua telapak tangan yang sudah mengatup menutupi bibirku.
"Namaku Naira."
"Senang sekali bisa bertemu dan mengenalmu Tuan Radja."
Sambutku dengan uluran tangan.
Sekali lagi Radja menggenggam tangan kananku untuk memberi kecupan.
Cringe ...
Rasanya aku masih belum terbiasa dengan perlakuan ini.
Walaupun sebelumnya Pangeran Reynald sering melakukannya padaku.
Knock-knock-knock
Suara ketukan pintu kamar asrama terdengar dari luar disusul suara panggilan Anne.
"Nona Naira apa anda sudah tidur?"
Tanyanya sebelum membuka pintu.
"Nona Naira???"
Awalnya aku masih tidak paham dengan ekspresi kaget Anne sampai kemudian sosok Radja membuatku tersadar.
CELAKA!!!
"Anne ... tunggu dulu ini."
Ucapku panik hingga langsung berdiri membelakangi Radja yang masih duduk bersimpuh di atas Ranjangku.
Aku melirik ke arah Radja yang masih terpaku dengan wajah polos di belakangku.
Gawat ... kalau sampai tombol Yandere-nya si Anne ke trigger gegara kemunculan Radja di atas tempat tidurku ...
"Kenapa nona Naira masih belum tidur?"
???
Hah?
Aku menoleh ke arah Anne yang sudah menutup pintu dan berjalan mendekat ke tempat tidurku.
"Apa nona tidak bisa tidur? Apa ada yang kurang nyaman??"
Tanya Anne dengan wajah gusar yang malah membuatku melongo.
Dia gak mempermasalahkan perihal Radja??
Batinku yang masih menatap Anne dengan penuh tanya.
"Ada apa nona Naira? Apa anda demam?"
Tanya Anne yang makin cemas.
"Anda tidak usah bingung nona Naira."
"Kami para peri hanya terlihat oleh orang-orang terpilih saja,"
"atau orang-orang yang kami ijinkan untuk melihat wujud kami."
"Tentu saja selain para God dan Goddess sendiri yang menciptakan kami."
Ohh i see it now ... Jadi Anne benar-benar hanya terkejut karena aku tidak tidur,
bukan karena keberadaan Radja di atas ranjangku.
Yah ... entah kenapa aku merasa bersyukur karenanya.
Aku akan sangat kerepotan kalau sampai Anne murka dan malah melukai satu-satunya source-ku untuk menyelidiki permasalahan ini.
"Aku tidak apa-apa Anne ... aku hanya belum bisa tidur karena ada hal yang aku cemaskan."
Kataku dengan senyum datar.
Anne duduk disebelah tempat tidurku.
"Apa Nona Naira tidak keberatan untuk menceritakannya?"
Tanya Anne dengan wajah sendu.
"Aku kangen rumah ...."
Jawabku asal saja mengalihkan topik dan kenyataan.
"Tentu saja ... Nona Naira belum pernah meninggalkan kediaman Van Vellzhein semenjak nona Naira lahir."
"dan sekarang Nona Naira mulai memasuki akademi yang mengharuskan untuk tinggal di asrama selama beberapa tahun kedepan."
"Nona pasti sangat merindukan Tuan besar dan Nyonya."
Katanya lagi yang sudah mengelus-elus dengan lembut puncak kepalaku.
B-T-W ...
ngomongin masalah keluarga,
aku kok belum ketemu sama para Oniichan ikemen iku itu, ya?
Bukannya mereka seumuran sama pangeran Reynald.
atau jangan-jangan mereka gak punya ijin khusus seperti si pangeran?
Hmmm ...
aku kira karena mereka putera Archduke mereka akan memiliki hak istimewa yang sama dangan putra mahkota.
Heee ...
ternyata gak bisa semudah itu, ya?!
Keluhku yang ternyata dinotis oleh Anne.
"Anda sepertinya sangat merindukan keluarga di rumah ya?"
"Apa saya perlu meminta Derrick untuk memanggil kedua tuan muda kemari?"
Tanya Anne yang langsung membuatku menoleh ke arahnya.
"Maksudmu?"
Tanyaku polos
"Saya bisa meminta Derrick untuk membawa tuan muda Arvhein dan tuan muda Roland kemari."
Katanya lagi yang langsung secara otomatis membuat wajahku berbinar dengan kebahagiaan.
Eh ... tapi ... tunggu dulu ...
tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu dan membuatku menoleh kebelakang.
Radja masih terlihat duduk diam dan tenang di samping Kyuven yang sesekali menguap.
Aku lupa kalau aku sedang punya misi rahasia sendiri.
Apa guna aku men-summon Radja sekarang kalau pada akhirnya aku malah mau bermain-main dengan para kakak.
OMOOOO TERIMA KASIH ATAS KESETIAAN KALIAN PENDUKUNG NONA VILLAIN YANG MASIH MAU MENUNGGU KELANJUTAN CERITA SI MUNGIL DAN IMUT NAIRA.
MAAF YA SEPERTI YANG AUTHOR SUDAH CURCOL
AUTHOR SEDANG SIBUK IKUT PROJECT LOMBA LAIN DAN SIBUK DENGAN URUSAN KERJA DUNIA NYATA (HA HA HA)
TuT);
TAPI AUTHOR AKAN TETAP BERUSAHA UPDATE SEBISA MUNGKIN
THANKS BUAT LIKE, COMMENT DAN SUBSCRIBENYA
NONA NAIRA SAYANG KALIAN SEMUA ^-^)/