
Di kamar Naira
Thirs Person's POV
Anne yang kemudian kembali meninggalkan kamar membiarkan Nona kecil kesayangannya itu untuk beristirahat.
Tanpa mampu mengetahui bahwa selain Kyuven.
Naira tengah ditemani oleh Kaisar para peri yang sekarang memiliki sosok sebesar pangeran Reynald.
"Say, Radja ... apa kamu bisa membantuku untuk memata-matai seseorang?"
Katanya sengaja menyampaikan hal tersebut dengan konotasi yang terdengar seperti penjahat.
"Tentu saja Nona Naira,"
"seperti yang sudah saya katakan pada anda."
"Silahkan pergunakan kekuatan dan kemampuan saya untuk kepuasan anda."
Jawab Radja dengan senyum lembut.
Naira tersipu.
Jiwanya yang sebagai seorang wanita single membuat hatinya tergelitik senang dengan bagaimana sosok ikemen itu memperlakukannya.
Walaupun dirinya tau,
kalau bukan karena sosok Naira yang imut dan menawan.
Dirinya tidak mungkin akan mendapatkan perlakuan seistimewa ini.
Namun, sekali lagi.
Naira berpikir,
apakah memang ini adalah dunia dalam otome game seperti yang dikatakan oleh Araya.
Sehingga dirinya mendapatkan peran seistimewa ini.
Karena bagaimana pun, seingatnya,
Naira yang ada didalam novel jarang sekali diceritakan.
hingga mustahil bagi dirinya untuk menginfestigasi kebenaran plot yang iya sedang jalani ini.
"Kalau begitu aku minta tolong Tuan Radja untuk menjadi mata dan telingaku."
"Mata-matai gadis yang bernama Araya."
"Aku ingin tau bagaimana kondisinya?"
"apa yang ia lakukan?"
"pergi kemana saja dia?"
"siapa saja yang mengunjunginya dan dimana ia berada sekarang."
Ungkapnya yang membuat Radja mengerjapkan mata dengan polosnya.
"EH???"
Naira seolah tersadar akan sesuatu saat melihat ekspresi Radja,
"Ma-maafkan aku Tuan Radja,"
"permintaanku terlalu merepotkan ya?"
Katanya panik yang kemudian menunduk dengan wajah sedih.
"Tentu saja tidak Nona Naira,"
"Saya hanya terkejut dengan permintaan anda."
"Sebab saya juga sama sekali belum mengenal gadis bernama Araya itu dan masalah Nona dengan dia."
Jelas Radja yang kemudian membuat Naira menepuk jidatnya dalam hati.
Naira lupa kalau bagaimanapun complicated-nya masalah yang ia hadapi.
Ia harus menjelaskan duduk perkaranya,
jika ingin meminta tolong pada seseorang.
Tentu saja dalam benak Naira,
kecuali bila itu bernada perintah yang ditujukan kepada pelayan atau budak.
Naira meringis awkward sebelum kemudian dirinya mulai menceritakan sedikit banyak kecurigaan yang ia pendam,
tentu saja minus dengan kenyataan bahwa dirinya dan Araya adalah reinkarnasi manusia dari dunia lain. "Jadi ... nona Naira memintaku untuk mengkonfirmasi kondisi gadis yang bernama Araya ini?"
"Benar ... "
Jawab Naira tersenyum lemah.
"Aku tidak tau orang brngsk mana yang sudah berani menjebak dan memakai nama Nona Naira untuk mencelakai Araya."
"Tapi, nona Naira tidak perlu cemas. saya, Radja pasti akan menyelidiki hal ini."
Ujarnya tersenyum dengan lembut.
"Terima kasih Radja."
Ungkap Naira dengan senyum bahagia.
Radja tertegun sebelum kemudian mendekatkan wajahnya pada Naira.
"Apa saya boleh mengajukan permintaan. Sebagai balasan atas kerja keras saya nanti?"
Tanyanya dengan senyum yang menawan.
"Selama aku bisa mengabulkannya, katakan saja tuan Radja."
Kata Naira lagi.
"Tolong habiskan waktu anda bersama saya hingga saya berhasil memberikan semua informasi yang nona Naira butuhkan."
Ucap Radja merentangkan telapak tangannya untuk membelai rambut Naira yang tergerai indah.
Naira hanya mampu menatap lugu perbuatan Radja yang kini sudah mengecup ujung rambutnya.
"Maksud tuan Radja?"
Tanya Naira dengan polosnya.
"Maksud saya ...."
Naira sedikit tersentak saat Radja mendekatkan bibirnya ke telinga Naira,
mahluk rupawan itu membisikkan sesuatu yang membuat Naira kaget.
"EH?!"
Wajahnya merona merah.
Radja tersenyum saat melihat reaksi Naira yang malu-malu.
Dalam benak Naira yang didiami oleh seorang wanita dewasa itu,
dia sama sekali tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya sebelum meninggal dan bereinkarnasi menjadi bocah adalah wanita single yang juga belum menikah.
Jadi terkadang walaupun sudah dewasa,
diperlakukan seperti ini membuat jiwa singlenya tergelitik dan berbunga-bunga.
Bahkan terkadang hal itu membuat Naira berpikir,
inikah rasanya berada ditengah-tengah Revers Harem yang selama ini hanya mampu ia bayangkan dan temui dalam novel, manga dan anime.
"Baiklah, kalau itu yang tuan Radja inginkan."
Katanya masih belum bisa menyembunyika wajahnya yang memerah karena malu.
Setelah mendiskusikan hal tersebut dengan Radja,
Naira berusaha sebisa mungkin untuk tidak bertemu dengan para pangeran dan bahkan Penyihir berambut hitam, Kayana.
Sejak saat misi pengintaian Araya dilakukan.
Bahkan Ketika Pangeran Reynald dan tuan Penyihir mengiriminya surat yang menanyakan kondisi dan keberadaannya pun.
Naira hanya mampu membalas kedua surat tersebut dengan berbagai macam Alasan.
Janjinya pada kaisar Peri membuat Naira harus berusaha mencari cara untuk menghindari para Pangeran. Walupun dalam benak Naira mempertanyakan perihal kenapa Radja tidak ingin dirinya bertemu dengan orang-orang tersebut.
Naira juga tak berniat ingin mencari tahu.
Lagipula bagi Naira,
hal yang terpenting buatnya adalah mencari tau informasi mengenai kondisi Araya dan desas-desus tersebut.
Kalau menurut Radja, desas-desus mengenai diriku belum sampai tersebar jauh.
Tentu saja.
Batinnya berlipat tangan saat tengah duduk memangku kepala Kyuven yang berbaring di sofa.
Kalau sampai desas-desus ini terdengar sampai ke telinga para pangeran,
otomatis para kakak akan mengetahui hal tersebut.
Lalu tidak perlu diragukan lagi jika Ayahanda akan melakukan sesuatu bila beliau mendapatkan kabar tersebut dari para kakak.
Batinnya menginfestigasi kabar yang entah kenapa hanya beberapa orang saja yang mengetahui dan membicarakan hal tersebut.
Seolah-olah memang benar ada yang menjebaknya atau ada pihak yang telah meredam penyebaran rumor itu.
Hari berikutnya
"Haaaaaahku capek ...."
Keluhnya yang sudah terbaring pasrah di atas tempat tidur.
Kyuven datang lalu mengusap-usapkan moncongnya ke kepala Naira.
"Hehehe ... Thank you Kyuven."
Ungkapnya sembari memeluk kepala Kyuven dengan penuh sayang.
Dalam kepalanya kembali terisi ingatan tentang bagaimana dirinya berusaha sekeras mungkin untuk bisa menghindari para pangeran dan tuan penyihir.
Dirinya bahkan memasang sihir ajaran Kaisar peri yang dapat mencegahnya untuk berpapasan dengan para pangeran dan Tuan penyihir.
Sudah dua hari seperti ini.
Batinnya mengeluh.
Bukannya aku mau komplain sih,
tapi apa benar tidak apa-apa ya?
Dengan aku tidak berinteraksi dengan para pangeran dan Tuan Penyihir.
Tanyanya pada diri sendiri berpikir.
Aku harap mereka tidak mulai mencurigai nona Araya.
Kalau sampai mereka berspekulasi demikian,
lalu dengan tegas mendatangi nona Araya yang berada di ruang tabib akademi.
Naira terdiam, imajinasinya berhenti sampai disana.
Bentar ... Aku kog jadi penasaran, ya.
Apa yang bakalan terjadi kalau seandainya kedua pangeran dan Tuan penyihir bertemu dengan nona Araya secara bersamaan.
Tiba-tiba saja kedua pipinya mulai menghangat.
Bibirnya tak kuasa menahan senyum sampai-sampia dirinya harus menggigit bibir bawahnya dan menutupi kedua tangannya.
Ah ... tidak ... aku harap mereka bukannya bakalan saling membunuh detik itu juga.
Ya walau bagaimana pun,
berdasarkan manga-manga isekai yang sering aku baca,
kebanyakan hal seperti itu akan terjadi.
Tetapi ...
Naira kembali terdiam dengan jalan pikirannya.
Kembali ia teringat akan ucapan Araya perihal dirinya yang bertingkah laku aneh setiap kali para pangeran dan si tuan penyihir berpapasan dengannya.
Sama halnya dengan bagaimana reaksi para pangeran saat bertemu dengan Araya.
Meskipun pada kenyataannya Araya memiliki seseorang yang ia cintai lebih dari
The-supposed-to-be-main-hero alias tokoh utama pemeran pria dalam Novel.
Yah ... tapi mengingat bahwa dunia ini adalah otome game. tentu saja karakter "pria" itu akan di munculkan sebagai salah satu love interest.
Inikan Revers Harem ... otome game sekelas Ikemen Sengo-beep.
Katanya pada diri sendiri sambil angguk-angguk mengerti.
Naira's POV
Keesokan harinya.
Sigh ... ini sudah hari ke lima,
capek juga harus main petak umpet dengan para pangeran dan Tuan Penyihir Kayana tanpa harus membuat Anne dan Derrick curiga.
Ya, walaupun perihal surat dan permintaanku pada Anne kepada Derrick untuk menyampaikan kondisi "bohongan"-ku pada Tuan Penyihir Kayana,
Tapi paling tidak.
Orang sejujur dan seterbuka Derrick dan Anne,
sampai tidak menanyakan perihal tersebut sebelum aku menceritakannya.
Kurasa itu berarti mereka sepenuhnya mempercayai alasan yang kujelaskan pada mereka.
Aku bertopang dagu di atas meja belajar di samping jendela kamar asrama.
Kembali kupandangi surat kiriman dari Tuan Penyihir Kayana beberapa hari yang lalu,
sejak aku meminta pada Derrick untuk menyampaikan kondisiku pada beliau agar aku bisa mendapatkan ijin absen pada pelajar sihir dengannya.
Kembali aku menghembuskan nafas panjang ketika kedua bola mataku bertemu dengan sepucuk surat yang dikirimkan oleh pangeran Reynald dan Richardo.
Kedua surat tersebut hampir memiliki inti yang sama yaitu menanyakan kondisi dan keberadaanku.
Aku tak bisa menahan tawa ketika membaca bagaimana ceplas-ceplosnya pangeran Richardo yang mengkomplain tentang sulitnya bertemu denganku.
Jangankan menemuiku,
berpapasan saja tidak pernah bisa,
ibaratnya dua magnet dengan kutub yang sama.
Well thanks to the temporare magic dari tuan Radja.
Kataku lagi tersenyum aneh.
(Ribut-ribut)
"yang mulia anda tidak bisa masuk tanpa ijin."
"aku hanya ingin bertemu dengan naira."
Ada ribut apa diluar?
Tanyaku penasaran.
Rasanya aku kenal suara barusan.
BANG!!!
Suara keras pintu kamarku yang dibuka dengan paksa mengagetkanku yang tengah melamun di atas kursi belajarku.
Kyuven sontak merayap masuk ke bawah kolong meja belajar yang terselimuti oleh tablecloth.
"Pa-Pangeran Reynald????"
Tanyaku panik pada sosok yang sudah mendobrak dan berjalan masuk ke kamarku.
"Yang mulia, tidak seharusnya anda memaksakan diri anda untuk memasuki kamar seorang gadis tanpa ijin seperti ini."
Ungkap Anne dengan berani kepada calon kaisan negara Ceylon tersebut.
Anne ... you are amazing.
Pujiku terharu dengan Anne yang berdiri dengan gagah menghalangi sang angeran untuk melangkah lebih jauh di dalam kamarku.
Sesaat kedua mata kami bertemu.
Shyiet!!
Umpatku yang baru sadar bahwa aku tanpa sengaja menunjukkan sosokku pada orang yang Radja inginkan untuk tidak kutemui.
Bukannya komplain yang aku dapatkan, melainkan wajah sang pangeran yang sudah berpaling pada Anne.
"Di mana nona Naira sekarang??"
Tanyanya yang membuatku tertegun.
Uh ... Pardon me??
Tanyaku dalam hati yang meragukan keakuratan pendengaranku barusan.
Aku gak lagi salah dengar, kan??
Aku memiringkan kepala bingung.
"Saya tidak tau Yang Mulia."
Kata Anne tanpa keraguan.
"Apa maksudmu dengan kau tidak tau keberadaan nonamu sendiri."
Protes pangeran Reynald sedikit marah.
"Seperti yang anda ketahui,"
"Nona Naira sudah berpesan kepada saya dan Derrick untuk mempercayai beliau."
"Jadi kemana nona Naira saat ini."
"Kami tidak tau karena nona Naira memang sengaja tidak memberi tahukannya kepada kami."
Jelasnya panjang lebar.
Entah kenapa meskipun samar,
aku seolah mampu melihat aura membunuh dari tatapan dingin dan tajam Pangeran Reynald.
Namun, detik kemudian ekspresinya kembali seperti semula.
lembut namun sedikit arogan.
"Sampaikan pada Nona Naira aku datang berkenjung dan aku minta maaf sudah masuk ke kamarnya tanpa ijin bahkan pemberitahuan."
Katanya yang membuatku kemudian tersedar dari lamunan pujian kepada sang pangeran.
Did you not see me??
Tanyaku dengan dahi berkerut.
Aku yang sudah akan melompat turun dari kursi belajarku,
tiba-tiba mendaatkan pelukan oleh sepasang tangan hangat dari belakangku.
"Shhh ... Kalau anda bergerak lebih jauh dari ini."
"Pangeran Reynald akan mampu melihat anda."
Bisik suara familiar di telinga kiriku.
"Tuan Radja!?"
Aku terkejut dengan sosok ikemen yang kini sudah memelukku dengan erat.
"Nona Naira tidak perlu cemas."
"Karena saat ini pangeran Reynald tidak bisa melihat anda."
Katanya padaku yang menatap dengan lugu dan hanya mampu bertanya dalam hati.
"Karena pelukan saya memiliki efek yang sama seperti sihir."
Jelasnya seolah sudah menjawab pertanya rahasiaku.
Jadi begitu ... karena tuan Radja adalah mahluk mistic yang hanya mampu terlihat oleh orang yang mendapatkan ijin istimewa darinya.
Dan pada dasarnya peri memang mahluk tak kasat mata yang sebenarnya hanya mampu terlihat oleh para God and Goddess.
Jadi wajar saja jika effect pelukan tuan Radja sama seperti sihir menghilangkan diri.
"Akan saya sampaikan pesan anda pada Nona Naira."
Jawab Anne yang membuatku sadar dari lamunan.
Walaupun mata kami sempat bertemu lagi sebelum pangeran Reynald kembali berpaling dan melangkah pergi meninggalkan kamar asrama.
"My Goodness ... aku tidak pernah menyangka kalau Pangeran Reynald yang selalu terlihat dingin dan dewasa itu bisa bertindak seberani ini."
Ungkap Anne dengan kening mengerut.
Well ... aku masih amazed dengan bagaimana Anne masih mampu mengendalikan bahasanya meski dalam mode yandere seperti itu.
Uh... mungkinkah itu yang dinamakan sarkasme?
Tanyaku pada diri sendiri.
"Well ... aku mengerti bagaimana perasaan pangeran Reynald."
"tidak bertemu dengan nona Naira selama berhari-hari pasti sudah sangat menyiksanya."
Ungkap Derrick dengan mata sedih.
Huh?? Be-begitukah?
Tanyaku dalam hati berusaha untuk tidak blushing.
"Coba saja sekarang kau yang bayangkan bagaimana rasanya berada di posisi pangeran Reynald."
"Tidak bisa menemui sosok yang kau cintai lebih dari tiga hari?"
Tanyanya yang membuat Anne terlihat syok,
"aku sendiri pasti sudah berubah jadi orang gila."
Jelas Derrick yang tiba-tiba terlihat depresi.
"Ti-tidak ... tidak mau ... aku tidak mau kalau tidak bertemu dengan nona Naira sehari saja."
"Aku bisa mati!!!"
Katanya histeris.
Aku yang mendengarnya jadi merinding malu sendiri.
Oy-oy-oy ... apa kalian tidak terlalu berlebihan?!
SIGH
Kuhela nafas dalam-dalam.
Sepertinya Virus Naira sudah mulai menginfeksi korbannya dalam level yang cukup lumayan serius.
Apa katanya tadi?? Gila??? Ya ampun.
Aku menepuk jidat berusaha untuk tidak merasa malu dengan tingkah kedua maid dan butler-ku itu yang sekarang tengah terduduk lemah ditengah ruang kamar asrama.
Owkay ini sudah cukup sangat keterlaluan.
Keluhku yang masih berusaha menahan tawa dari rasa malu.
"I see ...."
Komentar tuan Radja yang tiba-tiba membuatku tersadar bahwa sedari tadi aku belum leas dari pelukannya.
"Rupanya aku memang tidak salah menduga."
Katanya lagi masih tak bisa kupahami.
"Ya?"
Tanyaku dengan polosnya.
"Apa anda tau?"
"Bahwa peri adalah mahluk yang tertarik pada perasaan cinta dan kasih."
Tanyanya yang langsung kujawab dengan gelengan kepala.
"Alasan kenapa peri hanya akan menunjukkan diri pada orang-orang yang mendapatkan ijin istimewa."
"Orang-orang tersebut adalah golongan yang diberkahi dengan limpahan cinta dan kasih sayang."
Terangnya yang kudengarkan dengan baik.
"Salah satu alasan kenapa saya mau mengabdikan diri kepada nona Naira adalah ...."
Katanya yang sengaja ditunda, dalam diam aku masih mendengarkannya.
"Ya??"
Tanyaku tak sabar.
"Karena anda memiliki elemen yang kami para peri sangat sukai."
"Cinta dan kasih sayang adalah sumber energi favorit kami."
Jelasnya diakhiri dengan senyum lembut dan menawan.
***HELLO MY BELOVER READERS ***
KETEMU LAGI YA DENGAN NONA NAIRA.
Q: THOR KOG TAYANGNYA G KONSISTEN.
A: GOMEN YE AUTHOR INI PEKERJA KANTORAN BIASA YANG SETELAH PULANG DARI OFFICE KERJAANNYA NGEGARAP WEBTOON BUAT LOMBA DAN ANYTHING ELSE YANG BERHUBUNGAN DENGAN LOMBA NOVEL, MANGA DEMI BISA MERAIH MIMPI (DEBUT) HAHA
JADINYA AUTHOR UPDATE SEENAK JIDAT
ESPECIALLY HARI INI LAGI ARTBLOK DAN GAK BISA LANJUT NGEWEBTOON, AUTHOR NGELANJUTIN NGENOVEL *NGAKAK
^^)/ SEKALI LAGI TERIMA KASIH BUAT YANG SUDAH BERSEDIA MEMBERIKAN WAKTU LUANG MEMBACA KISAH NONA NAIRA.
YANG SUDAH SUBSCRIB, LIKE, VOTE, SHARE BAHKAN KOMEN
WE LOVE YOU SO MUCH, FROM THE BOTTOM OF OUR HEARTS
SEMOGA KALIAN TERHIBUR (^-^)/
SAMPAI JUMPA LAGI