
Sham juga sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan keluarga istrinya itu, juga hari ini Sham bisa melihat putranya yang tidak pernah dibayangkan Sham dirinya sudah memiliki anak saja.
Beby Rafki sangat senang bermain dengan papanya yang baru kali ini dilihatnya hari ini, nanun batin seorang ayah dan anak pasti ada ikatannya.
"Mas Ben kamu bisa main sama Rafki nantik saja dia sudah waktunya tidur siang,biar aku tidurkan dia lebih dahulu." Kata Rena mengambil putranya dari Pelukkan Sham yang masi ingin bersama putranya itu.
"Baiklah sayang, kamu bobok ciang dulu sama mama ya, nantik pas kamu bangun kita main lagi." Kata Sham bicara pada beby Rafki dengan senang.
Sham hanya bisa melihat putranya itu masuk kedalam kamar untuk tidur siang dengan Rena, kerena sudah terbiasa jam segini beby Rafki untuk istirahat.
Sham kembali duduk bersama keluarga Rena yang ada di ruang makan saat ini.
Pak Tarman yang melihat menantunya yang tersenyum pada mereka.
"Nak Ben ayok makan,ini banyak lauk Raka yang beli diluar tadi.
"Ayok adik ipar!! " Santai Raka pada Sham kerena masih diluar tempat dia bekerja.
"Tidak Bang Saya sudah makan siang barusan, Rena sudah masak dirumah tadi." kata Sham menolak ajakan keluarga istrinya itu dengan sangat sopan.
"Pasti kamu senang kali merasakan makasakan istri sendiri ya Adik ipar."Kata Raka yang masih meyedok nasi kemulutnya.
"Raka makan dulu jangan bicara, kamu ini kebiasaan lagi makan bicara." kata Buk Surti memperingati putranya itu.
"Gak apa buk, saat seperti ini aku bisa berbincang dengan anak bos besarku jika tidak aku gak bakal bisa bicara santai dengannya." Sahut Raka dengan santai berkata pada Orang tuanya.
Sham hanya tersenyum saja mendegar Raka bicara kerena selama ini, abang iparnya itu jika bertemu diluar sangatlah amat segan padanya, tapi tidak saat ini, dirinya dirumah adalah kakak iparnya.
"Kenapa kamu tersenyum gitu pada ku adik ipar? " kata Raka curiga pada suami adiknya itu.
"Bang tidak usah canggung dan abang merasa segan jika bicara padaku jika diluar, Jangan segan seperti biasanya pada ku, kita sudah keluarga." Kata Sham keberkata pada Raka apa adanya.
"Baiklah tidak masalah, tapi jka dijam kerja aku tetap menghormati kamu seperti anak bosku." kata Raka singkat.
Sham hanya diam saja tidak bayak bicara lagi jika itu maunya Abang iparnya itu.
Tidak lama Rena keluar setelah menidurkan beby Rafki dikamarnya.
"Mas kamu tidak makan lagi?"kata Rena melihat suaminya saat ini hanya duduk saja dimeja makan itu.
"Tidak Sayang,aku masih kenyang tadi makanku banyak dirumah jadi gak bisa diisi lagi."kata Sham bicara pada istrinya itu.
"Ohhhh gitu ya. "kata Rena tidak ambil pusing lagi jika itu kata Suaminy, dia bisa apa.
"Rafki sudah tidur? " Kata Sham pada istrinya itu.
"Sudah, barusan mas kerena jam tidurnya jama segini, jika lewat nantik pasti dia akan bertingkah dan rewel." kata Rena tahu sifat anaknya kayak mana.
"Kamu merawatnya sangat teliti dan mengatur jam tidurnya dengan baik." kata Sham tidak percaya istrinya itu bisa mendidik putranya dengan disiplin dalam jam istirahat.
"Ya iyalah Yah, dia itu sehari-hari sama ibu ya seperti itu tingkahnya, selalu dimanja Ibuk." Sahut Raka apa adanya tentang keponakannya.
Sham sungguh sangat bersyukur sekali memiliki keluarga baru yang sangat perhatian pada anak dan istrinya.
Sham hari ini berencana ingin membawa istrinya untuk tingal bersamanya dirumah milik sham dari dia masih lajang.
Namun Sham masih ragu bicara pada Kedua orang tuanya istrinya, apa tidak terlalu cepat dirinya untuk membawa istrinya tingal bersamanya, takut mertuanya tidak akan mau ikut dengannya.
"Ahmm Yah-buk, Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua." Kata Sham agak ragu.
"Ada apa nak? sahut pak Tarman dengan bingung melihat menantunya saat ini masih agak ragu bicara padanya.
"Maaf jika saya bicara salah Yah sebelumnya, saya meyapaikan niat saya terlebih dahulu pada ayah dan ibu juga."
"Katakan saja Nak Ben, ada apa kami tidak akan marah, dana jangan memintak maaf lagi kerena kamu tidak melakukan kesalahan pada kami." kata pak Tarman singkat.
"Begini Yah, aku berniat ingin membawa istri dan anakku untuk tingal dirumah hari juga, kerena aku gak bisa diam saja melihat Rena Dan anakku seperti ini, aku sangat mersa bersala pada mereka." kata Sham pada Mertuanya itu.
"Nak Sham ibu tidak masalah kamu mau bawak istri dan anakmu bersama kamu, kerena itu hak kamu Nak, kami gak bisa melarang itu semua adalah keputusan dari istrinya kamu." Kata Buk Surti pada Sham.
"Bagai mana dengan kamu Dek apa kamu bisa ikut dengan suami kamu hari ini? " Kata Raka bicara pada adiknya yang masih mendegar saja kata suaminya saat ini.
"Aku gak masalah tapi ibu dan ayah juga ikut bersama kami tingal dirumah mas Ben." kata Rena juga ingin kedua orang tuanya itu ikut bersamanaya.
"Untuk hari ini kami tingal disini dulu Rena,kerena abang kamu kasihan ditingal sendiri gak ada yang masakan." kata Buk Surti merasa Raka hanya sendiri saja tingal.
"Tu bang, makanya nikah biar ada yang urus." Repet Rena pada abangnya itu.
Raka tidak mendegarkan apa kata adiknya itu lebih baik dia diam saja dari pada membalas kata adiknya itu ujung-ujungnya dia juga akan tersudutkan kerena mulut adiknya tidak mau diam, pasti ada saja bahan bicaraan Rena akan menjawab apa dari setiap kata yang keluar dari mulut nya.
" Kenapa diam tu? ahhh dasar kamu ini bang, entah sampai kapan dia bisa melupakan orang yang sudah tidak akan kembali lagi,sampai jegot kamu itu putih gak bakal dia kembali lagi, kamu akan tua dimakan waktu hanya meyia-yiakn hidup kamu dengan menutup hati kamu itu bang." kata Rena jika bicara suka asal, tidak melihat abaganya itu pasti sedih.
"Yah aku pergi dulu, adik ipar cepat kamu bawak dia tingal bersamamu, jika tidak setiap hari mulutnya itu tidak akan diam, dia akan selalu berceloteh seenak jidatnya saja."Kata Raka pergi tampa menjawab kata adiknya itu.
"Hai mau kemana kamu bang, lihat itu dia bukan setiap Rena bicara dia main pergi saja."Kesal Rena pada abangnya.
"Sudah Sayang, jangan marah gitu, kasihan bang Raka kamu repetin terus, sampai dia gak bisa bicara gitu." kata Sham sedikit mengerti perasaan Raka saat ini.
"Apa yang gak kesal aku mas, samapai kapan dia itu akan seprti ini."Kata Rena lagi tidak mau kalah.
"Tidak muda untuk melupakan seseorang yang sangat berakti dalam hidup kita sayang, makanya kamu itu jika bucara pada bang Raka jangan kayak barusan kasiahan dia pasti sedih." Sham mengingatkan istrinya itu.
Semua yang lagi ada dimeja makan itu hanya bisa diam saja mendegar kata Sham barusan, pak Tarman tidak juga banyak komentar lagi tentang putranya itu yang hampir sama umurnya dengan Sham.
Next.......