My Maid Is My Wife

My Maid Is My Wife
Siapa dia



Sorenya Rena sudah brsiap akan dijemput oleh Raka abangnya, pas pulang kerja Raka akan menjemputnya langsung.


Sejam sudah Rena menunggu abangnya itu namun belum juga datang, Rena duduk di bangku belakang taman rumah itu, dengan mengusap perutnya yang sudah sangat berat dan besar.


Sambil berbicara pada bayinya didalam rahimnya Rena selalu begitu jika dirinya sendiri.


"Sabar ya nak bentar lagi kamu akan melihat dunia ini, dan akan bersama mama, walau tidak ada papa didekat kita, mama akan selalu bersama kamu sayang, mama akan memberikan kasih sayang yang hanya mama beri untuk kamu."Kata Rena sedikit sedih mengingat suaminya yang entah dimana sampai saat ini tidak pernah kembali mencarinya kedesa.


"Kita berdoa saja agar papa baik-baik saja dimana dia berada saat ini dan mama beharap dia juga mengingat mama nak."ungkap Rena bicara sendiri masih mengusap perut yang sudah sangat besar itu dengan lembut.


Sesaat Rena tersenyum kerena bayinya bisa mendengar apa yang baru diucapkannya,bayinya langsung bergerak didalam rahimnya itu.


"Kamu juga sehat-sehat didalam sini ya, kita akan hidup bahagia nak, jika gak ada papa."Kata Rena dengan senang melihat perutnya itu bergerak, seolah bayinya mengerti apa yang dirasakan olehnya.


Saat rena lagi asik bicara saat itu juga Sham juga ingin mencari udara segar ditaman belakang, kerena sudah setengah hari dirinya berada didalam kamar, Sham turun dari lantai dua dengan mengunakan life rumah itu, tidak susah Sham untuk pergi saat ini dirinya masih duduk diatas kursi roda.


Sham baru saja sampai di pintu, Sham melihat punggung Rena yang membelakanginya saat ini, dia berada yang tidak jauh dari Rena duduk.


Sham memperhatikan punggung itu,kerena ada kemiripan pada istrinya jika dilihat dari belakang.


"Apakah itu benar istriku, apa kah kamu itu Rena." Kata Sham masih berkecamuk dari dalam hatinya saat melihat bentuk tubuh itu mirip sekali dengan Rena.


Sham melajukan kursi rodanya kearah gadis itu, saat bersamaan Mbak jum juga datang memangil Rena untuk cepat keluar kerena abangnya sudah datang menjemputnya.


"Zeren Mas Raka sudah datang jemput, dia sudah nunguin kamu itu, ayok buruan."Pangil Mbak Jum pada Rena yang masi duduk di bangku taman itu.


"Ya Mbak Jum, aku akan kesana."Kata Rena dengan cepat berjalan masuk kedalam tempat tingal untuk Pembantu rumah tuan Aditama..


Sham sungguh sangat kaget saat mendegar suara itu, tapi tidak bisa melihat wajah gadis itu kerena dirinya berada dibelakang Rena,jadi posisi Rena membelakangi Sham.


Sham terdiam hatinya sudah tidak enak saat mendegar saaura yang sudah 8 bulan tidak didengarnya itu, tapi saat ini kenapa Suara gadis itu mirip kali dengan suara istrinya.


"Siapa gadis itu? "Tanya Sham saat ini masih melihat punggung gadis itu masuk kearah dalam rumah.


Sham tidak dapat mengejar gadis itu kerena keadaan saat ini tidak memungkinkan, dirinya masih bergerak mengunakan kursi roda.Sham juga pasrah saja, jika iya memang istrinya pasti nantik dirinya akan dipertemukan lagi.


Lain saat ini dengan Rena Yang sudah mau pergi dari rumah besar itu, Rena memeluk Mbak Jum dengan sangat sedih meningalkan orang yang baik padanya selama dirinya bekerja dirumah keluarga Aditama.


"Mbak sering-sering datang kerumah bang Raka nantik ya!! " Kata Rena Sangat sedih meningalkan mbak Jum.


"Sudah jangan sedih gitu, nanti mbak juga akan bagus Zeren, jangan mancing ini air mata udah mau keluar." kata mbak Jum juga sama sedihnya.


Selama ini majikan Rena sungguh baik padanya, Hari-hari mereka selalu bercerita tentang Sham dan kadang Buk Ris juga mendengar Keluhannya Rena yang merindukan suaminya saat ini entah di mana dia pergi bekerja, Rena juga tidak pernah tahu.


Tidak lama buk Risma datang dengan membawa beberapa perlengkapan bayi untuk anak Rena jika Rena sudah melahirkan nantik gadis itu tidak usah membeli lagi perlengkapan bayi nya, kerena buk Ris sudah membelikan itu semua.


"Lohh itu Apa Nyoya? " Bingung Rena pada Manjikannya itu.


"Ini untuk kebutuhan bayi kamu nanti Ziren, kamu gak butuh beli lagi, kamu tingal pakek yang ibu belikan ini, semua sudah ada, kamu bawak, jangan menolak ini bapak yang suruh, kerena hari ini bapak lagi tidak dirumah ada kerjaan dia cuma titip salam saja pada kamu."Kata Buk Ris dengan senang mengasih itu semua untuk Rena, entah mengapa buk Ris sangat menyukai Rena.


"Tapi nyonya besar ini banyak sekali, Saya jadi gak enak dengan kalian." Kata Rena sedikit segan..


"Jangan memikirkan itu Zeren kamu baik selama ini dengan kita, masakan kita dengan enak-enak, tapi sayang kamu hanya sebentar saja bekerja disini, tapi saat nantik anak kamu sudah lahir dan bisa ditingal kamu bisa bejerja lagi disini, atau kamu bawak saja dia bersama kita disini? itu juga kamu mau Zeren? "Tawaran Buk Risma pada Rena.


"Lihat nantik ya nyonya, saya akan pertimbangkan dari ucapan Nyoya, dan terimakasih atas pemberian Nyoya untuk calon bayiku ini."Kata Rena dengan mengusap perut besarnya itu.


"Ya sudahlah, berangkatlah itu Raka sudah lama nungguin kamu diluar, jaga diri kamu ya, sebentar lagi kamu akan lahiran, semoga lancar pas kamu persalinan nak." Kata Buk Ris sungguh berat melepaskan Rena pergi, ada sedikit kesedihan diwajah tidak muda itu.


"Jika begitu aku pamit ya buk!! " Kata Rena menarik kopernya keluar dari dalam pekarangan rumah itu lewat pintu sampaing rumah besar itu.


Rena dibantu oleh mbak Jum membawa barang-barangnya yang dikasih buk Ris padanya untuk bayinya nantik.


"Bang Raka maaf ya Rens Lama keluarnya." Kata Rena pada abangnya itu.


"Gak apa Dek, sini abang bantu, lihat perut kamu itu jadi takut abang lihat nya, nanti takut kenapa-napa dengan calon ponakanku."Kata Raka dengan singap mengambil Koper yang ada pada tangan adiknya itu dan memasukan dalam mobil dinas pabrik itu.


"Mbak Jum terimakasih banyak ya sudah bantu Saya, jangan sampai lupa main kerumah Bang Raka. " Kata Rena Memeluk mbak Jum dengan hati yang sedikit sedih Rena harus meningalkan mereka.


"Iya, kamu juga hati-hati ya ." Kata Mbak jum membuka pintu mobil agar Rena naik kedalam mobil itu.


Rena melambaikan tangan pada pada mbak Jum saat mobil sudah berjalan keluar dari pekarangan rumah besar milik Aditama itu.


Rena hanya diam saja selama di dalam perjalanan kerumah Konrakan abanganya itu, Raka juga heran melihat adiknya itu tidak ada wajah senangnya sama sekali.


"Kamu kenapa dek, sedih ya meningalkan mereka? " Kata Raka melihat adinya itu.


"Tidak Bang, aku hanya sedih saja saat ini kenapa suamiku tidak pernah kembali, apa dia benar-benar melupakan aku, dan tidak ingat sama sekalai tentang diriku dangan dia ya?"Kata Rena sedih.


*******