
Seminggu Rena tidak bekrja membuatnya bertambah suntuk dengan dirinya hanya berdiam diri dirumah tampa megerjakan apapun lagi, kerena kandungan sudah memasuki sembilan bulan,Rena hanya menunggu hari kelahirannya hanya beberapa minggu lagi.
Pagi ini Rena hanya membuat sarapan untuk abangnya sebelum berangkat kerja, hanya itu saja kerjaan Rena dirumah Konrakan abangnya itu.
Saat Rena duduk di meja makan setelah abis masak dengan memangku tangan dengan kepala menunduk saja.
Raka hanya bingung mperhatikan adiknya itu selama seminggu disini tidak ada senyum yang terlihat diwajah cantik adiknya itu.
"Ren, itu kenapa lagi dengan gaya kamu setiap hari abang perhatikan kamu hanya berdiam sambil bingung seperti ini? kamu kenapa lagi? " Kata Raka bertanya.
"Bang kamu sudah mau pergi kerja ya, Rena sudah masakin sarapan untuk abang!! "Kata Rena Sedikit kaget saat Raka bicara.
"Jika kamu merasa bosan dirumah, pergilah jalan Dek, pagi gini kamu jalan santai bisa membantu persalinan kamu nantik, biar kamu gak merasa bosan."Kata Raka pada adiknya itu.
"Iya, nantik setelah abang berangkat Rena akan jalan-jalan sekeliling komplek sini." Kata Rena Santai menjawab kata abang nya itu.
"Baguslah itu, biar kamu gak bisan, nanti sore Ayah dan ibuk sudah sampai disini, kerena pagi ini ayah barus berangkat dari desa kita, kamu pasti tidak akan bosan lagi jika ada ayah dan ibu bersama kamu disini."kata Raka kerena memintak orang tuanya lebih cepat datang, kerena Raka tidak tega melihat adiknya selalu sedih jika dirinya tidak ada dirumah.
Setelah siap dengan sarapan pagi Raka langsung pamit pergi bekerja, namun dia baru ingat sesuatu hal tentang adiknya itu.
"Ahmmmm dek, kamu sudah priksa kandungan bulan ini belum?" kata Raka baru ingat.
"Belum bang, emangnya kenapa, beberapa minggu lagi Rena tingal tunggu hari lahiran anakku bang, jadi untuk apa priksa lagi."Jawab Rena seadanya.
"Ahh kamu ini suggu membuatku gila, kenapa adikku ini polos dan bodoh begini ya,seharusnya kamu harus priksa kehamilan lagi Rena untuk mastiin kamu itu lahirnya itu bisa normal apa sesar nantik."Kata Raka sangat kesal dengan tingkah adiknya itu.
"Gitu ya Bang, aku gak tahu." ucap Rena lebih adam lagi didengar Raka.
"Diamlah Dek, pagi-pagi kamu sudah membuatku naik pitam saja, tunggu aku pulang siang nantik abang akan mengatarkan kamu kedokter untuk priksa hari ini."Kata Raka meningakan adiknya yang sedikit polos itu.
Rena Hanya santai saja dan tidak terlalu mengambil hati apa yang diucapkan saudara laki-lakinya itu, dengan santai membawa piring kotor kedapur dan mencuci diwastapell yang ada didapur rumah kontrakan Raka.
Setelah siap Rena keluar sabil berjalan santai disekitar komplek tempat tingal Raka, dan Rena juga mencari kedai sayur yang sudah bukak pagi ini, kerena kebetulan persediaan sayurnya sudah tidak ada dikulkas milik abangnya itu lagi.
"Dari aku bingung dirumah bagus juga itu usul bang Raka, jalan pagi enak juga sambil pergi belanja kekedai aku dan banyiku akan sehat juga."Kata Rena sedikita tersenyum.
Rena melihat kedai sayur yang ada dikomplek itu sudah bukak dan sudah ramai ibuk-ibu ngumpul di kedai itu, biasalah lagi cari kebutuhan masak untuk keluarga mereka hari ini.
Rena berjalan santai masuk kekedai itu dengan Rama Rena menyapa ibu-ibu itu, dan Rena juga ikut memilih sayur yang akan dimasak nya hari ini, kebetulan ayah dan ibu juga akan datang hari ini.
"Ehhh ini bukankah adik yang tingal dirumah Raka ya? "Kata Salah satu ibu-ibu yang belaja juga di kedai itu.
"Iya buk, ibu kenal bang Raka? " kata Rena kembali dengan lembut bicara pada ibuk itu.
"Ya kenal lah dek, siapa yang gak kenal dengan Raka yang tampan itu, dia pria yang tampan apa lagi baik dan Rama sama semua orang dikomplek ini, pasti orang sini tahu dia Dek, ehhh dek kamu beruntung memiliki suami sebaik dek Raka itu, kami jadi iri sama kamu."Sambung salah satu lagi ibu sebelah Rena.
Rena hanya tersenyum saja mendengar perkataan ibu-ibu itu bicara, mereka semua mengira Rena adalah istri Raka.
Rena hanya diam saja tidak banyak bicara biarkan saja mereka sendiri yang tahu tentang dirinya dan Raka apa hubungannya, sulit jika ibu sudah bergosip tidak ada yang beres, hanya itu pemikiran Rena saat bersama ibu-ibu komplek.
"Ahh, sungguh aneh dengan mulut ibu-ibu ya, ngosip asal saja,tidak mencari kebenaran dulu aku ini siapa bang Raka,sungguh lucu mereka."Kata Rena sambil berjalan keraha rumah abangnya lagi.
Saat mau masuk kedalam pagar rumah kontrakan Raka, Rena berpapasan dengan tetanga sebelah rumahnya,seorang gadis yang sedikit tua umurnya dari Rena,gadis itu menatap Rena tidak suka, wajah cantik itu sedikit meyerugut saja saat melihat Rena.
Rena selalu ramah pada semua orang tetap saja dirinya meyapa tetangganya itu walau tidak ramah padanya.
"Halo mbak!! " Kata Rena tersenyum ramah pada gadis itu.
"Sebenarnya kamu itu apanya mas Raka sih? " Tanya gadis itu langsung pada dengan gayanya yang tidak sopanya.
"Itu perlu ya mbak? kata Rena kembali.
"Ya harus, kerena kita berdekatan gini harus tahu status kamu itu apanya Mas Raka."Kata gadis itu lagi sedikit bicara agak tidak suka pada Rena.
"Aku istrinya bang Raka mbak."Bohong Rena pada gadis itu, Rena tahu pasti saja orang dihadapannya ini menyukai abangnya itu. "Biar kapok kamu baru dengar bang Raka sudah punya istri, sekalian aku bikin kamu itu menjerit gak bisa Terima hahaha."Rena ketawa dalam hatinya saat melihat wajah gadis itu sudah sangat masam padanya dan bertambah meyerugut.
"Ihhhh, meyebalkan sekali kamu itu mas Raka!! " Kesal Gadis itu pergi dengan menghetak-hentakan kakinya masuk kedalam rumahnya yang ada disebelah rumah Raka.
"Hihihii, Cekikitan Rena melihat Gadis itu lagi putus asa orang yang disuka sudah memiliki istri.
Rena masuk kedalam dengan hati senang megerjain tetangga abanganya itu pagi ini membuat Rena terhibur sedikit kerena tingkah gadis yang suka pada Abangnya.
"Sayang sekali Bang Raka kamu angurin saja gadis secantik dia,tetangga sebelah bang."Kata Rena bicara sendiri sambil memasukan sayuran yang baru dibelinya itu kedalam kulkas.
Setelah itu Rena kembali kekamar mengambil ponselnya yang baru dibelinya, Rena baru bisa membeli ponselnya detelah sebulan bekerja dikediaman aditama.
Rena menghubungi Mbak Jum yang satu minggu ini dirinya tidak bicara pada mbak jum.
Rena memencet tombol tanda pangil itu atas nama mbak jum, tidak lama pangilan itu dijawab oleh mbak jum yang lagi memegan kain pell di tangannya.
"Hallo cantik, Apa kabar kamu Zeren?Sapa Mbak jum dilayar pipi itu dengan melihat wajah cantik gadis baik itu.
"Aku sehat mbak, aku kangen saja ingin segar suara mbak, apa kabarnya mbak? "Kata Rena kembali.
"Seperti kamu lihat sekarang Zeren aku lagi sibuk, lihat itu lagi ingin ngepel ruangan piknes ruan muda, bentar lagi tuan muda akan piknes Kerena tuan muda sudah mulai sehat saat ini."Kata mbak jum bicara menjelaskan pada Rena.
Saat bersama Sham juga baru sampai diruangan itu dengan berjalan berlahan dengan kakinya yang masih belum normal.
Rena dapat melihat wajah itu dengan jelas saat Sham melewati Mbak jum.
"Ehh mbak itukah tuan muda, sungguh tampan sekali dirinya."Puji Rena spotan pada Mbak jum.
Sham sangat mendengar apa yang baru dibilang orang yang baru bicara pada Mbak jum itu, membuat Sham terheti melangkah.
"Suara itu?? " kata Sham tidak percaya.
*****