
"Rena!! " pangil seseorang itu dari pintu, yang membuat Rena kaget mendegar suara itu, yang sudah lama dia tidak dengar.
Saat Rena memutar tubuhnya dirinya melihat Sham yang ada dipintu masuk kamar itu, selama ini Rena hanya dengar Shambicara pelan tidak dengan suara pritonya selama ini Rena dapat dengan dari Ben.
"Kenapa anda tahu nama panggilan saya sehari-hari tuan Sham? " Kata Rena menatap Sham dengan tatapan ingin penjelasan dari Sham.
"Bukankah nama kamu Zerena?" kata Sham tersenyum dengan berjalan kearah Rena, namun Sham tidak lupa menutup pintu dan menguncinya.
Rena yang melihat itu durinya tentu merasa takut dan tidak nyaman dalam keadaan seprti saat ini.
Pasti dirinya akan nendapatkan gosip baru lagi dari rekannya bekerjanya.
"Apa yang Tuan lakukan, kenapa pintunya ditutup Tuan Sham?"Kata Rena dengan rasa takutnya pada Sham masih mendekat berlahan pada Rena.
"Maafkan aku Sayang, selama ini aku meningalkan kamu,aku tidak bermaksud sepeti ini, tapi aku tidak bisa tahan lagi untuk membohongi kamu." kata Sham dengan memeluk istrinya itu dengan rasa rindu dan kagen selama ini ditahan Sham pada istrinya itu.
Rena yang bingung mendegar dan perlakuan Sham saat ini, pasti dirinya sangat takut, tapi dirinya ingin juga penjelasan Sham apa maksud dari perkataannya itu, saat ini Rena tidak tahu dirinya adalah Ben.
"Apa maksud anda Tuan Sham, kenapa ada bersikap tidak sopan seperti ini pada Saya?"kata Rena tidak nyaman, dan ingin melepaskan pelukan Sham dari tubuhnya.
"Maafkan aku Rena, aku bukan bermaksud meyakiti kamu, tapi keadaannya yang bikin aku seperti ini, maafkan aku."Kata Sham berulang kali masih belum mau melepaskan pelukan itu.
"Apa maksdunya tuan memangil namaku dan pangil Saya Sayang, apa sebelumnya anda mengenal saya? " Tanya Rena masih dalam kebingungan saat ini.
"Ya, aku megrnal kamu dengan baik, kamu orang sudah bisa mengambil hatiku sehinga aku sampai sekarang tidak bisa melupakan kamu semenjak kita menikah setahu lalu." Kata Sham membuat Rena bertambah bingung atas ucapannya itu.
"Apa lagi ini Tuan, jangan membuat saya bertambah bingung seperti ini, ada yang tidak Saya tahu tentang anda, dan tidak mungkin anda suamiku, aku hanya menikah dengan Mas Ben bukan dengan Tuan Sham."Sahut Rena lagi.
Sham melepaskan pelukan itu dan berjalan kearah laci yang masih terbuka itu, Sham mengambil kotak dan buku nikah itu, yang pernah dibawaknya dihari dia meningalkan Rena didesa.
"Lihat ini,ini aku Ben. " Kata Sham memberikan Buku nikah milik nya itu pada Rena.
Rena melihat buku nikah milik Sham ada potonya dengan wajah Ben, bukan wajah Sham yang ada dibuku nikah itu.
"Kenapa buku ini ada pada anda Tuan? " Kata Rena tidak percaya jika Sham salah Ben.
"Lihat ini Rena, apa kamu masih ingat dengan wajah ini, selama ini kamu selalu bilang wajahku sedikit aneh, lihatlah aku akan memakai wajah ini lagi agar mas Ben kamu saat ini kamu bisa lihat." Kata Sham dengan memasang saja berbetuk kulit itu pas seprti aslinya wajah.
"Mas Ben, apa itu kamu, benar saat ini kamu." kata Rena tidak bisa menahan tagisnya saat melihat Wajah Ben.
"Mendekatlah, apa kamu tidak merindukan aku sayang." kata Sham dengan memakai wajah Ben kembali.
Rena tidak bisa bohong dengan rasa rindunya pada suaminya itu,Rena dengan air mata mendekat pada tubuh Yang lama dirindukanya itu.
Lama mereka berdua menupakan rasa rindu itu, selama satu tahun lebih mereka tidak dapat bertemu, tapi hari ini Sham tidak dapat menahan diri lagi, saat dijalan dirinya kembali pulang agar bisa menjelaskan pada Rena siapa dirinya.
Rena masih memeluk tubuh Sham dengan erat dan belum mau melepaskan suaminya itu, rasa senang dan bahagia dirinya bisa melihat wajah yang selama ini dirindukanya itu.
"Kenapa kamu tidak mencariku Mas,kenapa? " Kata Rena mulai bicara setelah dirinya ingin tahu kenapa Ben meninggal dirinya terlalu lama, dan tidak menepati janjinya akan mejemoutnya kembali.
"Maafkan aku sayang, tapi kamu tahu bukan apa yang terjadi selama ini, mungkin tidak perlu aku menjekaskan, mungkin mamy sudah cerita pada kamu banyak sedikit pasti kamu tahu." kata Sham.
"Kenapa kamu berbohong padaku jika ini bukan wajah asli kamu? " Kata Rena lagi baru ingat bukan wajah asli Ben dan bukan nama asli dari suamianya itu.
"Saat itu tidak mungkin aku menunjukkan dengan wajah asliku pada kamu sayang, waktu itu musuhku lagi mencari keberadaanku, bisa-bisa aku hanya megatar nyawa lagi sayang, makanya aku berbohong pada kamu dan keluarga kamu dengan nama Ben, tapi wajah ini sudah ada bersamaku saat aku pertama bertemu kamu, saat aku hanyut bukan, jadi gak usah kamu pikirkan lagi." kata Sham dengan mengusap pipi istrinya itu sudah basah dengan air mata.
"Kamu jahat mas, aku mangat kesepian saat kamu pergi, samapi aku gak bisa menahan rindu, selama ini pada kamu,apa lagi kondisinya saat itu aku lagi hamil sungguh meyedikah saat amil suami gak ada disampingku." kata Rena masih menagis di dada Sham.
"Aku mintak maaf, jika kejadian itu tidak menipaku mungikin aku sudah bersama kamu sampai saat ini, aku mintak maaf tidak menemani kamu selama hamil anak kita." Kata Sham dengan mengecup kening Rena dengan rasa cinta dan sayangnya pada istrinya itu.
Rena sedikit tenang saat ini setelah Sham menjelaskan semua itu padanya, setelah itu keduanya saling menatap,Rena kembali meyentuh wajah itu dan membukak wajah yang menutupi wajah tampan suamianya itu.
"Aku tidak tahu suamiku memiliki wajah tampan melebihi wajah tampan Mas Ben,jika begitu aku akan selingkuh saja sama kamu Tuan muda." kata Rena tersenyum pada Sham dengan sedikit candaannya.
"Tidak masalah asalkan suami kamu gak marah saja padaku."Jawab Sham dengan senang saat ini istrinya bisa menerimanya kembali, tidak seperti yang dibayangkan sebelumya.
"Apa kamu gak marah padaku sayang, aku sudah berbohong dan sangat bersalah pada kamu." kata Sham mengeratkan tanganya dipingang istrinya itu.
"Tidak Mas, aku mala senang kamu kembali padaku, dan mengingatku sampai saat ini."Kata Rena baru ingat suaminya itu hilang ingatan waktu itu.
"Tunggu-tunggu Mas, saat itu kamu tidak ingat keluarga kamu apa itu juga bohong? "kata Rena dengan bola mata menatap Sham ingin keluar saja dan dengan giginya yang dapat .
"Ahmmm." Sham dengan angukkanya saja pada istrinya itu..
"Sadar kamu ini, tukang bohong handal ya." kata Rena dengan memukul dada Sham dengan sangat kuat sehinga saham hanya meringis sedikit menahan sakit,Sham membiarkan istrinya itu memukulnya asal dia senang.
"Sudah?apa kamu sudah puas dengan memukulku? " tanya Sham melihat istrinya itu sudah tidak berkutik lagi kerena lelah memukul Sham samapai dia tidak sadar Sham menahan sakit dari pukulan Rena.
"Belum, masih ada yang harus kamu tahan lagi atas apa yang kamu lakukan padaku seminggu ini aku bekerja disini, gara kamu Tuan, aku dicap oleh rekan kerajaku sebagai tukang rayu kamu." kata Rena menumpakan kekesesalannya pada Sham.
Sham hanya tersenyum saja melihat tingkah Rena yang tidak pernah berubah, jika kesal selalu seprti ini padanya, tapi saat ini hati Sham sudah merasa senang dan lega dirinya dapat mengatakan itu semua pada istrinya itu, tidak harus melihat istrinya itu dari jauh lagi, setiap hari dirinya akan bersama Rena dan putranya.
Next.......