My Maid Is My Wife

My Maid Is My Wife
Sham sangat kaget saat mendegar suara itu, wajah cantik istri dihadapanya



Sham tidak bisa diam menunggu pagi datang esok, matanya tidak bisa terpejam dirinya selalu gelisah memikirkan tentang Zeren juru masak yang sudah dipilih oleh Mamy untuk bekerja di rumahnya.


Dengan susah paya Sham untuk bisa tertidur tapi tidak juga bisa, pikirannya selalu pada istrinya, saat ini hatinya selalu berkata tentang Zeren, apa lagi mengingat saat itu gadis itu lagi hamil, itu yang jadi pikiran Sham, apa mungkin juga Rena hamil setelah kepergiannya saat itu.


"Kenapa aku merasa mereka orang sama, jika itu benar betapa bersalahnya aku pada istriku, pasti Rena sangat kesusahan jika dia hamil sampai aku gak ada disampingbya menemani dia selama ini."Kata Sham saat ini membayangkan masa sulit istrinya berjuang sendiri untuk anaknya.


" Semoga saja apa pikiranku saat ini tidak sedang aku pikirkan, tapi jika dipikirkan bisa jadi saat Rena juga bisa hamil kerena aku tidak membiarkan dia untuk menundah hamil waktu itu." Ingat Sham saat terahir dia bersama istrinya itu.


Sham kembali memejamkan matanya dengan dua tangan diatas kepalanya, namun sesaat matanya terbukak lagi kerena masih saja terlintas wajah cantik istrinya.


"Ahhh sayang, aku sangat merindukan kamu, dimana saat ini kamu berada." kata Sham dengan lolong hatinya juga sakit menahan rindu dan hatinya selama beberapa bulan ini semenjak dia baru sadar dari komanya.


"Kenapa Semua ini harus terjadi sehinga membuat aku terpisah seperti ini dengan istri ku dan keluarga baruku, sebenarnya kalian berada dimana saat ini,kenapa Papi tidak mau memberi tahu alamat Raka padaku." Kata Ray mengingat Papinya untuk mencari tahu sendiri jika dia mencintai istrinya itu,saat bicara dengan papinya malam kemarin dirumah utama.


"Kenapa mereka semua menyulitkan aku seperti ini, apa tujuan Papi dan mamy dan juga Asistenku kampret itu juga ikut-ikutan Papi dia." Kata Sham sungguh kesal pada Ardi juga sama ikutan dengan paragai papinya.


Sham hanya bingung dengan tingkah ketiga orang yang bisa dipercayanya itu,tapi dirinya saat ini sangat kesal ingin dirinya berteriak pada mereka bertiga, tapi tidak mungkin itu orang tuanya, dan Ardi sudah seperti teman baik baginya selama bertahun-tahun Ardi selalu setia bekeaja padanya.


Sudah pukul Tiga pagi Sham juga belum bisa memejam matanya, diri masih menatap langit-langit kamar itu dengan pikiran yang mengangunya beberapa bulan ini, untuk menunggu pagi datang sungguh lama, dengan berlahan Sham dengan rasa kantuk yang sudah mulai meyeranganya, akhirnya wajah tampan itu tertidur tidak sadarkan diri lagi.


Paginya Sham baru terbangun kerena Ardi sudah menghubunginya lewat ponselnya diatas kepalanya.


"Ada apa kampret kamu sudah membangunkan aku pagi-pagi sekali."Kata Sham dengan kesal pada Ardi, dengan suara nada bangun tidurnya itu.


"Memang Bos dasar gila, mana ada jam 11 siang di bilang pagi?? " Kata Ardi sangat kesal pada Bosnya itu.


"Apa kata kamu Ar, Jangan sampai gaji kamu aku potong bulan ini." Ancam sham pada Ardi.


"Hai bos gila, lihat jam diding dikamar anda itu, ini bukan pagi lagi oon, ini sudah siang,cepatan anda mandi kerena Siap makan siang ada miting dengan Perusahaan Tex grup, kita tidak bisa melakukan tampa anda." Ingat Ardi sangat kesal pada Bosnya itu.


"Gila ni anak masak sudah jam 11 sih, apa aku ketiduran ya!! " Kata Sham melihat jam diding yang terletak dibelakangnya.


"Ahhh gila, kenapa aku bisa kayak gini? " Kata Sham dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan akan bersiap untuk keperusahaannya siang ini.


Sham dengan cepat berdiap dan setelah itu dirinya turun kebawah mencari buk Mai,kepala pelayan yang biasa mengurus keperluan yang selama ini dirumahnya itu.


"Buk Mai, mana makanan untuk aku hari ini, aku sudah sangat terlamabat, teriak Sham duduk di meja makan agar dirinya bisa makan sedikit sebelum pergi kerja.


Dengan tiba-tiba seseorang meletakan susu di meja dengan sepotong roti dihadapanya,dengan berbicara alah Rena yang biasa Sham dengar selama ini.


"Maaf tuan, buk Mai lagi kepasar untuk membeli keperluan dapur sudah abis, kata gadis itu dengan suara cemrengnya.


Sham yang lagi mengutak atik ponselnya itu lansung terdiam saat mendengar suara yang lama sudah tidak didengarnya itu.


Sham tidak percaya saat ini yang dilihatnya itu benar-benar istrinya, Sham menatap Rena tidak berkutip matanya menatap kerah istrinya saat ini berada di depanya sendiri, matanya yang tajam itu membuat Rena merasa aneh.


"Hallo Tuan Muda tampan!! " Kata Rena dengan menjentik jarinya didepan mata Sham yang masih menatapnya itu.


"Ahhh ya,,,,,kamu juru masak baru yang dikiran mamyku? " Kata Sham pura bertaya pada gadis itu.


"Kenapa tuan menatapku kayak itu, ada yang aneh denganku? " Kata Rena tidak menjawab kata Sham barusan.


"Aku hanya mengingat seseorang jika melihat kamu, wajah kamu mengingatkan aku pada seseorang." Jawab Sham saat ini menyesuaikan suasana,ingin rasanya dirinya memeluk istrinya itu saat itu juga , tapi dirinya Sham baru ingat bukan wajah ini yang Rena lihat waktu dia menikah, Rena tidak mengenal Sham, hanya Ben yang dia tahu sebagai suaminya.


"Mengingatkan seseorang Tuan, apa itu pacar kamu? " Kata Rena asal jika sudah bicara mulutnya tidak bisa diam begitu saja, pasti dirinya akan bertanya lagi sapai jawaban mentok pada sasaranya.


"Bisa saja dibilang begitu, pacar istimewa." Jawab Sham santai dengan menguyah roti yang disiapkan oleh Istrinya itu.


"Maaf tuan muda, hari ini saya tidak bisa masak serapan pagi untuk anda tuan kerena bahannya pada habis, tapi ada untung juga anda tidur samapai jam segini, jadi aku bisa masak makan siang langsung untuk anda." kata Rena tidak merasa takut poda majikannya itu.


"Kamu tidak pernah berubah sayang, cara kamu itu bicara tidak tegok -tegok orangnya, dengan siapa kamu berbicara, semuanya rata. " Ungkap hati Sham masih mendegar perkataan Rena.


Sham selalu memperhatikan Rena, dengan sekali-sekali mencuri pandang pada Rena, kerena Sham masih takut pada Rena dirinya ketahuan masih memperhatikannya.


"Ohh iya saya baru ingat kamu pernah bekerja ditempat mamyku waktu itu, tapi kamu hamil waktu itu, apa kamu sudah melahirkan? " kata Sham ingin tahu tentang anak Rena, dia tahu itu adalah anaknya.


"Benar tuan, saya pernah kerja disana, selama dua bulan dirumah nyonya besar." Kata Rena Apa adanya, dirinya selain jujur dan sikap polosnya itu tidak bisa berubah.


"Terus anak kamu?" Kata Sham lagi.


"Putraku dititip sama Kedua orang tuaku saat ini mereka tingal bersamaku, yang tidak jauh dari sini." kata Rena Juga dengan seadanya menjawab kata Majikannya itu.


"Jika aku boleh tahu suami kamu dimana, sehinga kamu harus kerja sepeti ini, pasti bayinya kamu sangat rewel jika ditingal bersama orang tua kamu?? " Kata Sham masih ingin tahu tentang istrinya itu, saat ini Sham sangat susah payah menahan rasa rindunya untuk bisa memeluk istrinya.


"Suamiku sudah tiada tuan!!"Jawab Rena bicara dengan rasa kecewa nya pada suaminya sampai saat ini tidak bisa dia lihat lagi.


Saat ucapan Rena terdegar memilukan dihati Sham, menusuk jantung saat kata keluar dari mulut istrinya itu.


Sham sangat merasa sesak dangan hati berkecamuk sedih, saat Rena bilang suaminya tiada, berati selama ini istrinya sudah mengagapnya tidak ada lagi.


Sungguh sesak Sham menahan kesedihanya saat seperti ini baru bertemu dengan orang yang sangat dicintainya, tapi membuat Sham merasa tidak tega melihat wajah sedih istrinya saat bilang ditibya Tiada, ingin Sham merangkul tubuh itu kedalam pelukannya, tapi tidak bisa Sham lakukan.


"Bangai mana aku harus menjelaskan ini pada kamu Ren, aku merindukan kamu." Kata Hati Sham masih menatap istrinya itu, dengan butiran air mata yang sudah tergenang dipelupuk matanya.


Next.......