
Setelah jam makan siang Sham lansung kembali kerumah kerena kerjaanya diperusahaan diberikan pada Ardi untuk hari ini,kerena sham akan mengujugi kedua mertuanya dan anaknya hari ini.
Sham samapi dirumah besar miliknya itu dirinya masuk kedalam dengan hati yang sangat bahagia.
Rena baru saja siap menghidangkan makan siang untuk Sham,namun saat itu Rena tidak tahu Dham sudah kembali, Sham dengan diam-diam memeluk istrinya itu dari belakang.
"Aku sanagat meridukan kamu sayang." Kata Sham sudah berada dibelakang Rena tiba-tiba sudah memeluknya saja.
"Apa yang kamu lakukan Mas, mereka akan menganggapku wanita murahan, jika melihat kamu seperti ini." tegur Rena dengan cepat melepaskan pelukan itu dari tumbuhnya itu.
"Biarkan saja sayang mereka bicara begitu, mereka berdua akan malu sendiri jika tahu kamu itu siapa aku." kata Sham dengan sangat lembut bicara pada istrinya itu.
"Jangan cari gara-gara lagi Mas, cukup hari ini mereka menghinaku dengan berkata aku ini wanita murahan dan menjajankan diri pada kamu."kata Rena seadanya bicara pada Sham.
"Siap mereka yang bisa bilang begitu istriku." kata Sham dengan nada suara sangat marah setelah apa yang didengar dari istrinya.
Sham duduk di bangku meja makan itu dengan mengambil ponselnya saku jasnya, dan melihat rekaman cctv yang ada dirimah itu.
Sham sangat marah setelah melihat istrinya hari ini diganggu oleh kedua pembantu rumahnya itu, Sham tidak bisa diamkan lagi dengan tingkah mereka berdua, kenapa mulut mereka bisa lepas dan menuduh istrinya wanita yang murahan.
"Buk Mai!! " pangil Sham pada Orang yang sudah lama berja padanya.
"Ya tuan, ada apa Tuan memangil saya? " Kata Buk Mai tergopo-gopo lari dari belakang masuk kedalam saat majikan yang itu memangilnya.
"Saatnya ganti asisten rumah tangah rumah ini buk,bayar gaji mereka berdua, segera cari ganti mereka, kerena aku tidak mau melihat mereka ada dirumah ini lagi hari ini." kata Sham dengan tegas pada Buk Mai.
"Baik Tuan segerah saya akan memecat mereka, saya akan mencari ganti mereka." Sahut buk Mai dengan cepat pergi dari ruang makan itu dan memecat kedua pembantu rumah tangga yang sudah diingatkan oleh buk Mai pagi tadi.
Rena hanya terpologoh saja atas apa yang dilakukan oleh suamianya barusan.(biasalah ya orang kaya bebas mau apa, dipahami saja Sham ya kakak pembaca😅😅ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤).
Rena tidak akan sangka Sham akan memecat kedua pembantu rumahnya itu secepat itu, ada rasa salah Rena saat ini pada mereka berdua, jika Rena tidak bilang pasti mereka tidak akan kehilangan pekerjaannya.
"Mas apa yang kamu lakukan pada mereka, kok kamu tega amat mecat mereka berdua? " Kata Rena merasa salah.
"Biarkan saja Sayang, aku juga tidak suka Tini semenjak dia bekerja disini beberapa bulan ini, sikapnya juga tidak baik, dan sopan juga kurang." kata Sham apa adanya, kebenaran nya memang seperti itu.
"Enak jadi orang kaya kayak kamu Mas, mecat orang semaunya saja."Helah Rena saat ini ada rasa kasihan pada mereka.
Tapi jika mereka dibiarkan masih bekerja,mereka berdua tidak akan berenti untuk memojokan Rena dan tindak akan puas Tini dan temannya itu untuk mempiknah Rena.
Sham memperhatikan istrinya itu sedikit melamun, sehinga nasih yang mau disiapkan untuk Sham juga tidak jadi masuk kedalam piring Sham.
"Rena, apa lagi yang kamu pikirkan, biarkan saja mereka itu, kerena ulah mereka sendiri mereka kehilangan kerjaanya, punya mulut kok gak dijaga, seenak saja bilang istriku wanita murahan." Kesalan Sham terlihat di wajah tanpanya itu.
Sham tidak mau istrinya itu seseorang merendahkan dengan ucapan yang baru saja dilihat Sham ponselnya.
Tidak lama kedua orang yang baru saja diberhentikan oleh buk Mai berjalan kearah meja makan itu dengan menunduk paduk saja pada majikannya itu dengan rasa takut juga sangat malu pada Rena.
"Kalian tahu siapa yang kalian hina dan gosipkan setiap hari dirumah ini? " Kata Sham kembali menatap mereka dengan rasa maranya.
"Maafkan kami Tuan kami salah, tapi jangan berhentikan kami kasiahan kami tuan, jika kami tidak kerja lagi pakai apa keluargaku makan Tuan. " Jelas teman Tini yang masih mau mintak maaf.
"Kamu juga inem kamu sudah lama bekerja disini kenapa kamu bisa ikut-ikutan dengan dia, biang gosip dan menganggu istri ku." kata Sham lagi.
"Maafkan saya Tuan, bukan bermaksud begitu Tuan Sham tapi dia selalu megomporiku agar aku berbuat jahat pada nona Zeren." Kata inem yang baru sadar bahwa dirinya diperalat oleh Tini.
"Kamu Tini saya tidak akan memaafkan kamu, sekarang kamu boleh keluar dari rumah ini, saya akan mencari ganti kamu hari ini juga, mulut kamu tidak bisa dibiar jika lama-lama dirumah ku." kata Sham tidak suka pada Tini yang bermulut pahit dan jahat itu.
"Awas saja kalain berdua aku tidak akan diam saja, aku akan menghancurkan kamu Zeren."Kata Tini masih menaruh dendam pada Rena dalam diamnya, kerena Tini menyukai Sham saat dia beberapa bulan bekerja dirumah Sham, kerena melihat Tuan mudah sangat tampan membuat Tini jatuh hati saat pandangan pertama.
"Sekarang kalian silakan pergi saya tidak akan mau memperjakan orang berhati busuk." Kata Sham tidak melihat mereka lagi.
Sham tidak mau lagi mempekerjakan mereka kerena jika berlajut untuk mempekerjakan mereka berdua nantinya entah apa lagi yang perbuat Mereka pada Istrinya.
Rena tidak mau ikut campur lagi apa yang sudah dibilang suaminya kerena keputusan semua ada pada suaminya itu, Rena tidak bisa apa-apa.
Setelah siap makan siang Rena dan Sham langsung berangkat kerumah kontrakan abang Rena, saat ini mereka semua juga lagi berkumpul dirumah, Raka juga baru saja sampi kontrakan yang itu.
Buk surti melihat putranya baru saja sampai dirumah melihat putranya membawa beberapa kantong ditanganya.
"Raka apa yang kamu bawak nak!? " Kata buk surti dengan rasa ingin tahu apa yang dibawa putranya itu.
"Ini buk, Raka beli lauk diluar kerena pasti adekku belum kembali bukan, ibuk sangat ribet kali jaga Rafki,jadi ibuk gak usah masak untuk makan siang kita, Raka beli saja diluar buk."kata Raka mengerti saat ini ibunya tidak bisa masak makan siang kerena Rafki sangat rewel.
"Ohhh alah kamu ini buang-buang uanga Saja nak, ibu bisa nyabil masak nak."kata Buk Surti pada putranya itu.
"Gak apa buk, kasian keponakan aku ini ditingal jika nenek masak." kata Raka mengambil ahli mengedong Bayi Rena.
Buk Surti melihat Raka sangat meyayagi keponakannya itu, kadang terlintas lagi bayangan gadis cantik yang selalu bersama Raka selama putranya itu masih sekolah, tapi takdir berkata lain, umur gadis cantik itu tidak panjang kerena sakit gadis yang dicintai Raka meningal.
Sampai saat ini Raka masih sendiri belum mau mengisi hatinya dengan nama gadis lain di hatinya untuk menggantikan Mayang yang selalu jadi cinta pertamanya itu.
"Nak, sampai kapan lagi kamu harus seperti ini,lihat adek kamu sudah punya anak,kamu masih saja menutup hati kamu, cobalah untuk menjalankan hubungan dengan gadis lain,kamu jangan sia-siakan diri kamu hanya untuk Mayang,orang yang tidak mungkin kembali lagi, dia sudah tenang disana nak." kata Buk Surti mengingatkan putranya itu untuk melupakan Kekasihnya itu.
"Jangan pikirkan Raka buk, Raka bisa hidup baik tanpa pendamping disampingku buk,ibuk gak usah cemaskan itu." kata Raka membalas kata dari ibunya itu dengan tenang dan tersenyum.
"Bang jangan lari dari kenyataan, sudah bertahun-tahun abang kayak gini samapai kapan abang akan terus menutup hati abang untuk gadis lain." kata Rena tiba-tiba menyahuti kata ibu dan abangnya itu.
Raka hanya bingung saja tidak terlalu megambil hati kata adiknya itu tapi Raka bingung saat Ada pria bersama Adiknya itu.
"Nak Ben? " Kaget Buk Surti saat melihat menantunya sudah berdiri didepannya saat ini.
Next........