
Hampir satu bulan waktu berlalu kedaan Sham juga belum kunjung membaik, Sham masih sama saat pertama durinya masuk rumah sakit itu, masih dengan alata medis yang melekat ditubuhnya.
Setiap hari orang-orang yang terdekat Sham datang melihat keadaanya namun sedikit saja tidak membawak Sham untuk bangun dari tidur panjangnya itu.
Ardi dan Rikiy juga setiap hari mereka selalu menempatkan melihat Sham dan selalu mereka bicara sebentar walau sampai detik ini Sham belum menadakan akan ada kemajuan.
"Sham lo harus bisa bangun dari tidur panjang lo ini, kita disini membutuhkan lo,perusahaan lo gak ada yang memegang, lo tahu bukan Papi lo gak bisa lagi bekerja terlalu lama, kerena papi lo akan kambuh sakitnya jika terlalu dipaksakan."Rikiy mengajak Sham bicara agar ada respon dari sahabatnya itu.
"Bangulah Sham, apa lo tidak ingin melihat istri yang lo tingalkan sudah cukup lama, lo sudah satu bulan tidur disini,Gue tahu lo pria kuat tidak mudah untuk lo meyerah, berjuanglah Sham demi keluarga lo dan keluarga baru lo."Kata Rikiy lagi.
"Gue pulang dulu, besok gue akan datang kembali untuk berbincang dengan lo."Kata Rikiy dengan memegang tangan sahabatnya itu denga rasa sedih.
Ardi yang melihat Teman dari bosnya itu berbicara setiap hari pada Sham, walau dirinya sibuk di perusahaan Rikiy tetap meyepatkan dirinya untuk menjeguk Sham walau sebentar saja.
Ardi hanya diam saja saat Rikiy keluar dari ruangan rawat Sham, sedikit mata berkaca.
"Kamu sudah lama Ar? "Saat melihat Ardi ..
"Baru saja tuan, aku kesini ingin memastikan saja apa tuan Sham saat ini ada kemajuan dari hari-hari sebelumnya."Jawab Ardi dengan rasa kasihan pada Sham dengan tubuh bosnya itu sedikut kurus.
"Jagan sedi Ar, kamu harus kuat dan saat ini hanya kamu yang bisa bantu om Adi di perusahaan, jika tidak Om Adi sanagt kelelahan, itu akan membuat dia stress itu akan menambah kerjaan kamu lagi Ar."Ucap Rikiy pada Asisten Sham.
"Iya tuan,aku berharap Tuan Dham bisa bangun dari tidurnya."Kata Ardi berharap Bosnya itu bisa sadar dari koma yang sudah satu bulan ini dirinya masih saja terbaring lemah fitrmoatvtidur rumah sakita itu.
**
Tidak saat ini dengan Keadaan Rena tidak baik-baik saja, dirinya semenjak ditingal Sham tubuhnya sangat lemas dirinya sering muntah-muntah dan kepalanya merasa pusing,lelah yang di rasakan oleh Rena sungguh menganggu aktivitasnya setiap hari.
"Kamu ini kenapa sih Ren, ibuk perhatikan semenjak suaminya kamu pergi kamu tidak tampak baik." kat Buk surti melihat putrinya itu tampak aneh ditubuhnya.
"Rena juga gak tahu buk, setiap pagi Rena harus muntah, kepala Rena terasa pusing, pokoknya gak enak banget dehh." Jelasnya pada Ibu surti yang lagi asik memetik sayur si singkong untuk dimasak sore ini.
"Apa kamu itu hamil Rena, apa kamu sudah datang bulan semenjak kamu nikah sama Ben?"Tanya Buk surti pada putrinya itu.
"Semenjak menikah aku gak pernah datang bulan kok buk, pas nikah itu aku baru siap halangan buk." kata Rena Dengan polosnya bicara pada ibunya itu.
"Nantik malam kita coba kebidan sari dekat desa kita saja untuk priksa apa kamu itu benaran hamil Nak." kata Buk surti ingin tahu dan memastikan itu dugaanya memang benar.
"Terserah ibu saja, Rena mengikut saja apa kata ibuk." Kata rena santai.
"Terus Rena mau bilang apa buk, senang yang pasti senang Rena buk, apa lagi saat mas Ben kembali nantik pasti dirinya sangat bahagia dengar Rena hamil anaknya."Kata Rena membayangkan dirinya jika hamil bersama suaminya.
Buk surti hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah putrinya itu.tapi buk surti juga sanagat senang jika Rena benar hamil pasti keluarga kecil mereka akan diramaikan dengan tagis dan tawa anak kecil yang sudah lama tidak terdegar dirumah mereka.
Rena melakukan aktivitas setiap hari, tampa masak dirinya tidak akan senang,rena suka masak selama ini dirinya banyak yang dipelajari dari buku panduan masak, kadang rena jika sendiri sering mencoba masak apa yang ada dibuku masak..
Hanya itu setiap hari dikerjakan Rena tampa bosan memasak dirinya selalu berada di dapur terus.
Siap makan malam Rena dan buk surti langsung mengajak putrinya itu untuk priksa keadaan putrinya itu,kerena buk surti hanya ingin memastikan apa benar Rena hamil atau tidak, sampai di rumah bidan Sari yang ada didesanya itu, buk surti langsung bertemu dangan bidan Sari, mereka langsung memeriksa Rena.
Buk bidan Hanya tersenyum saja baru melihat hasil dari alat tes kehamilan yang baru diujinya, dan menghitung hari mulai Terhir Rena datang bulan.
"Rena Selamat ya kamu hamil, jika dihitung disini dari mulai kamu terahir halangan, itu kehamilan kamu sudah memasuki 6 minggu.makanya kamu sering muntah kerena masi semester awal kehamilan kamu."Jelas buk bidan pada Rena.
"Apa itu benar buk, aku hamil?" kata Rena tidak percaya kerena senang durinya bisa hamil anak Sham.
"Ibuk juga senang ndukk kamu hamil pasti rumah kita akan ramai lagi dengan suara anak kecil itu pasti membuat Ayah kamu senang nak."Kata buk surti tampak bahagia mendengar itu.
"Nantik saya kasih obat ya buk,Vitamin dan obat menghilangkan rasa mual pada kamu Rena, saya harap kamu bisa istirahat dengan baik, jangan terlalu capek kerrna hamil kamu masih sangat rentan." Kata buk bidan menjelaskan pada Rena.
"Baik buk bidan,Rena akan menjaga kadungan Rena dengan baik, terimakasih banyak ya buk bidan." Kata Rena berterimakasih pada bidan Sari.
Setelah itu Reana dan ibunya langsung pulang, dan Rena masuk kedalam kamarnya sungguh hatinya tidak dapat dikatakan sungguh bahagianya dirinya mendegar dirinya hamil.
"Mas Ben saat kamu kembali nantik aku sudah hamil anakmu,semoga saja kamu senang mendengar aku hamil."Kata Rena sangat berharap pada suaminya itu.
Rena sangat merindukan diri suaminya setiap saat, apa lagi saat ini dirinya lagi hamil,ingin rasanya Rena menagis tapi tidak mungkin dirinya selalu sedih jika ingat Sham.
"Muda-mudahan kamu baik-baik saja dikota mas ben, aku akan menunggu kamu dan menjaga kandunganku dengan baik." kata Rena bicara sendiri, dirinya tidak mau larut dalam kerinduan setiap hari yang dirasakan Rena.
Rena juga berharap agar suaminya cepat kembali dan mejemputnya agar bisa dirinya tingal bersama Sham dengan dirinya hamil saat ini pasti Rena ingin selalu dekat suaminya.
"Aku akan menunggu kamu sampai kembali Mas Ben,sudah satu bulan kamu pergi, tidak ada kabar, aku juga tidak ada tempat untuk mau bertanya, kamu saat pergi tidak menigalkan apa-apa yang bisa aku pegang untuk menghubungi kamu mas, aku sangat merindukan kamu saat ini."Kata Rena kembali sambil mengusap perutnya yang masih datar.
******