
“Siapa kau mengaku sungai ini milikmu?” tanya Alviona menaikkan sebelah alisnya
“Aku Mota! Pangeran Indana. Aku tinggal di pulau ini, maka pulau ini istanaku, milikku!” jawab pria yang datang dari semak-semak
“Oh, pangeran Mota! Kita berhasil!” seru Alviona kesenangan berhasil menemukan pangeran Mota
“Kami akan membantumu mendapatkan kembali tahta kerajaan Indana pangeran!” sambung Alviona berteluk lutut memberi hormat
“Siapa kau? Kenal saja tidak, bagaimana aku mempercayaimu?” tanya pangeran Mota meremehkan Alviona. Diam-diam Kai berusaha mengambil air dari sungai
“Hei! Bukankah sudah aku bilang? Sungai ini milikku, kalian tidak boleh mengambil air di sini” teriak pangeran Mota mendapati Kai yang mengambil air sungai
“Hei, pulau ini terlalu luas untukmu yang sendirian. Aku belum yakin, kau mampu menaklukkan semua makhluk hidup disini” ejek Alviona memperlihatkan pedangnya dan pedang Kai yang berlumuran darah ular, wajahnya yang terkena percikan darah ular dan bajunya yang terkena darah ular
“Meskipun aku tidak pernah bertarung dengan hewan-hewan di sini, aku yakin mereka akan tunduk denganku” sombong pangeran Mota. Tiba-tiba Alviona melempar pisaunya yang melayang tepat di samping telinga pangeran Mota dan mengenai kepala seekor ular besar yang melata mendekati pangeran Mota yang akan melilitnya. Sontak pangeran Mota melompat terkejut melihat seekor ular besar dilumpuhkan Alviona hanya dalam waktu 1 detik
“Apa kau gila?! Itu bisa membunuhku!” bentak pangeran Mota
“Justru jika aku membiarkan ular itu mendekatimu, kau akan mati! Dan tidak akan mendapatkan Tahta kerajaan Indana. Tujuanku kemari untuk membawamu kembali ke Indana” jelas Alviona
“Hei kau ini siapa ha? Sudah aku bilang, kita ini tidak kenal. Kau tidak mungkin bisa membawaku ke Indana bagaimanapun caranya, kalaupun kau memaksaku aku juga tidak mau. Apalagi aku tidak memegang cakraku” ujar pangeran Mota berjalan meninggalkan Alviona dan Kai
“Oh baiklah, sia-sia aku jauh-jauh ke sini. Kau tidak mau menerima cakra ini, ayo pulang Kai! Sebaiknya aku buang saja cakra ini ke laut” balas Alviona mengeluarkan cakra yang ia curi untuk memancing pangeran Mota agar mengejarnya
“T-tapi, bukankah kau mau pangeran Mota kembali ke Indana?” tanya Kai dengan polos
“Cakraku! Kembalikan!” pangeran Mota segera berbalik mengambil cakra yang dibawa Alviona
“Eh, kembalikan? Kau sudah tidak mempercayaiku, keputusanku sudah bulat. Aku akan buang cakra ini ke laut” Alviona semakin membuat pangeran Mota takut cakranya dibuang ke lautan yang merupakan kelemahannya
“Berikan!” pangeran Mota mengeluarkan tombaknya. Alviona tak tinggal diam dan tidak mau memberikan cakra begitu saja, ia juga kembali mengeluarkan pedangnya dan bersiap dengan kuda-kuda.
Pertarungan antara pangeran Mota dan Alviona pun tidak terhindarkan, pertarungan begitu sengit dan lama namun Kai hanya bisa menyaksikan dan berdoa agar Alviona tidak terbunuh. Setelah cukup lama bertarung, Alviona cukup kelelahan meladeni pangeran yang masih marah itu. Lalu ia menggunakan teknik andalannya. Ia melompat dan menebaskan pedangnya dengan cepat, pangeran Mota masih bisa menghindar. Ketika menyentuh tanah, kakinya segera menyepak kaki pangeran Mota, lagi-lagi pangeran Mota masih bisa menghindarinya. Belum selesai, ketika pangeran Mota menyentuh tanah, pedang Alviona sudah menempel di leher pangeran Mota. Pangeran Mota tidak dapat bergerak lagi dan hanya diam mematung
“Alv yang menang?” ujar Kai menganga tak percaya
“Aku tidak akan membunuhmu, jika kau berjanji dalam pertempuran nanti kau akan menang dan membebaskan ibuku. Hanya itu keinginanku” ancam Alviona. Mendengar itu pangeran Mota tidak bisa menolak
“Baiklah aku berjanji” jawab pangeran Mota gemetaran
“Sungguh?” tanya Alviona memastikan
“Ya, aku berjanji” ujar pangeran Mota meyakinkan Alviona
“Janjimu aku pegang” Alviona kembali menyimpan pedangnya dan melemparkan Cakra pangeran Mota
“Apa ini mimpi?” Tanya pangeran Mota dalam hati karena ini pertama kalinya seorang perempuan yang merupakan manusia biasa mengalahkannya
“Bagaimana bisa?” tanya Kai masih tak percaya dengan keahlian Alviona hingga bisa mengalahkan pangeran Mota
“Dia terlalu lambat” jawabnya santai
Pangeran Mota kembali menyerap kekuatan dalam cakra miliknya yang membuatnya sangat kuat. Namun itu masih kurang, karena hanya separuh
“Berikan separuhnya” pinta pangeran
“A... Apa? Se-separuhnya? Aku tidak salah dengar?” tanya Alviona mencoba mengelak
“Berikan!” ucap pangeran memojokkan Alviona
“Apa maksudmu pangeran?” Alviona mulai ketakutan
“Berikan cepat!” ujar Kai ketakutan melihat pangeran mulai marah
“Aku tidak memegangnya” tak lama setelah menjawab itu, leher Alviona sudah diremat oleh pangeran Mota
“Berikan cakra itu!” Ucap pangeran Mota dengan marah
“Alv!” Kai mencoba menyelamatkan Alviona. Namun belum sampai menyentuh targetnya, sebuah pukulan keras sudah menarget dirinya dan...
Bugh!
Kai terlempar cukup jauh karena pukulan dari pangeran Mota
“Kai!” teriak Alviona dengan suara yang hampir habis
“Auwwgh.... Sial, niatku menolongmu malah aku yang kena” ujar Kai terduduk memegangi pinggangnya yang sakit dan sedikit mimisan
“Di mana cakra itu?” tanya pangeran Mota menginterogasi Alviona. Namun yang ditanya hanya bisa menggerakkan bibirnya tanpa suara dan penglihatannya mulai kabur
Karena tidak mendapat jawaban, pangeran Mota melempar Alviona dan menabrak sebatang pohon
“Huh-huh-huh akhirnya... Argh... Bisa nafas...” ujar Alviona dengan nafas terengah-engah mencoba mengembalikan kadar oksigen dalam tubuhnya
“Kai, kau baik-baik saja?” tanya Alviona menatap Kai dari kejauhan karena mereka terlempar berlawanan arah. Sedangkan yang ditanya mengacungkan jempolnya dengan lemah
Pangeran kembali mendekati Alviona untuk mendapat jawaban dengan tombak ditangannya
“Aku tahu di mana cakra itu, hanya saja aku tidak bisa mengambilnya” ujar Alviona membuat pangeran berhenti melangkah
“Di mana?” tanya pangeran
“Tapi aku punya rencana untuk cara mengambil cakra itu” sambungnya
“Sebenarnya siapa kau? Pendekar?” tanya pangeran keheranan
“Bukan pendekar, bukan prajurit, bukan juga mata-mata” jawab Alviona
“Lalu siapa? Pencuri?” tanya pangeran Mota
“Ya, aku pencuri” jawab Alviona
“Pantas saja kau pandai mencuri dengan mulus” ujar pangeran Mota
“Bagaimana caranya?” tanya pangeran mulai percaya pada Alviona
“Inti kekuatan pangeran Yana adalah kegelapan malam dan kegelapan yang paling gelap adalah lautan. Jadi, sudah dapat dipastikan bahwa jantung kegelapan ada di dalam laut tengah malam. Kegelapan memang bisa ditaklukkan dengan cahaya yaitu apimu, tapi lautan adalah kelemahan api. Jadi kunci kelemahan kegelapan adalah lautan yang membeku. Kegelapannya memang belum tentu hilang, tapi jantung kegelapannya tidak akan berfungsi” jawab Alviona
“Tapi bagaimana kita bisa membekukan lautan yang begitu dalam? Kita sendiri tidak bisa menjamahnya” tanya pangeran mulai tertarik dengan rencana
“Itu dia! Kita bisa meminjam hati es milik kerajaan Eira” ujar Alviona
“Ide bagus kancil! Aku percaya padamu” puji pangeran setuju dengan rencana Alviona. Setelah mendapat jawaban, pangeran pergi meninggalkan Alviona untuk bersiap
Melihat pangeran menjauh, Alviona segera berlari menuju Kai
“Kau berhasil?” tanya Kai
“Tentu saja” jawab Alviona
“Apa kapal kita muat untuk bertiga?” tanya Kai lagi
“Jika tidak muat, aku tinggal membuangmu ke laut” canda Alviona
“Dasar bocah” cibir Kai lalu mengejar Alviona
“Woa...Tolong! Ada raksasa marah!” teriak Alviona
“Rawr!” Kai melengkapi. Mendengar Alviona menjerit, pangeran Mota bergegas menghampiri Alviona, takut jika ada raksasa sungguhan yang sedang mengejarnya. Namun, ya, yang ia lihat bukan monster mengerikan, melainkan Kai dan Alviona yang sedang main kejar-kejaran
“Dasar kancil! Aku kira raksasa sungguhan” ujar pangeran kecewa. Saat itu juga Alviona dan Kai berhenti berlari dan tertawa terbahak-bahak
“Bwahahahahahahaha aku tidak menyangka kau mempercayainya ahahahaha” ledek Alviona. Seketika wajah pangeran memerah karena malu sudah terlalu polos
“Sudah! Dengan apa kita ke kerajaan Eira?” tanya pangeran dengan tegas
“Dengan kapalku tentunya” jawab Alviona santai langsung berjalan menuju pantai. Tapi tiba-tiba ia berhenti teringat sesuatu
“Ehm, Tapi aku tidak ingat jalan kembali ke kapalku” sambungnya berbalik menatap pangeran
“Dasar pelupa! Bagaimana kita bisa ke kerajaan Eira jika kapal kita hilang ha? Harusnya kau ingat arah jalan kita, lagipula belum ada 1 hari” ujar Kai
“Tapi sejak kita turun dari kapal Tuko kita selalu bersama dan jalur perjalanan kita sama. Harusnya kau juga ingat” bela Alviona
“Bukankah kau yang memilih jalannya?” tanya Kai
“Ya, tapi kau juga ikut bukan?” jawab Alviona
“Aku memang ikut, tapi yang menunjukkan jalan harusnya lebih ingat” tepis Kai
“Penunjuk jalan selalu mencari mana jalan yang benar. Seharusnya yang ikut yang memperhatikan ciri-ciri jalan yang dilewati” ucap Alviona
“Kau yang memegang petanya bukan? Kau bisa menandai jalan, mengapa kau tidak menandainya?” Kai tak mau kalah
“Baik, baik, aku yang salah. Sekarang satu-satunya orang yang tahu jalan menuju pantai adalah pangeran Mota. Apa kau tahu pangeran?” tanya Alviona pada pangeran yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan Alviona dengan Kai
“Hm? Aku? Apa ciri-ciri pantai tempat kau meletakkan kapalmu?” tanya pangeran
“Hmmmm, seingatku ada batu karang besar yang... Eee... Kai, apa kau ingat?” tanya Alviona
“Batu karang besar yang keropos” sambung Kai
“Nah, itu! Apakah kau tahu pangeran?” tanya Alviona pada pangeran
“Batu karang besar yang keropos... Hmm... Oh! Aku ingat! Ikut aku” ajak pangeran yang langsung diikuti Alviona dan Kai
“Teli, aku ikut tidak?” tanya Alviona pada trenggilingnya yang tidur. Teli segera bangun dan mengikuti Alviona
“Kau berbicara pada trenggiling itu?” tanya pangeran
“Ya! Dia milikku, jadi aku bisa telepati dengannya” jawab Alviona
“Kau memaksanya atau dia yang memaksamu?” tanya pangeran semakin tertarik dengan Alviona
“Dia yang memaksaku, tapi aku menyukainya” jawab Alviona mengelus kepala Teli
“Aku memaksamu hanya agar aku selamat. Aku sendiri sebenarnya terpaksa” ujar Teli
“Sangat sedikit trenggiling yang mau dimiliki manusia. Kebanyakan dari mereka memilih hidup bebas di alam. Kalaupun ada, mungkin hanya trenggilingmu” jelas pangeran
Bersambung.....