My Live For Battle

My Live For Battle
perang saudara



Perintah pangeran Mota untuk memanggil 1 laki-laki dari 1 keluarga sudah menyebar ke seluruh Indana termasuk desa Juani tempat tinggal Alviona.


“Permisi” para prajurit kerajaan telah sampai di rumah Alviona. Ayah Alviona yang membuka pintu dan menghadap para prajurit kerajaan


“Kami dari kerajaan menyampaikan perintah pangeran bahwa satu keluarga wajib menyerahkan 1 laki-laki untuk pergi berperang di pihak pangeran Mota” sambung prajurit itu sambil memberi segulung kain bertuliskan perintah pangeran Mota


“Aku akan maju berperang” jawab Jara tegas setelah membaca surat dari kerajaan


“Pergilah ke kerajaan besok pagi. Bawa surat itu” ujar prajurit itu


“Baik” Jara menunduk memberi hormat.


Para prajurit itu pergi meninggalkan rumah Alviona menuju ke rumah lain untuk memanggil calon prajurit lainnya. Alviona yang baru pulang dari sawah melihat para prajurit pergi dari rumahnya bertanya pada ayahnya


“Ayah ada apa tadi?” tanyanya polos


“Besok ayah ada pekerjaan baru” ujar Jara mengelus kepala Alviona sambil tersenyum hangat


“Wah, ayah punya pekerjaan baru! Hore!” seru Alviona senang sambil berjalan masuk ke rumah tidak tahu maksud dari “pekerjaan baru”


Jara yang melihat anaknya bahagia menyembunyikan kesedihannya meninggalkan keluarganya tanpa kepastian akan kembali atau tidak. Atau akan kembali namun tinggal nama Jara juga tidak tahu.


Malamnya, Jara mencoba menggunakan pedang milik ayahnya dulu yang diwariskan turun-temurun namun Jara bukan ahli pedang. Tiba-tiba Alviona datang dan terkejut dengan ayahnya yang memegang pedang


“Ayah? Ayah seorang pemain pedang juga?” tanya Alviona kesenangan


“Ayah bukan pemain pedang nak, tapi ayah akan menjadi pemain pedang” jawab Jara mencoba mengayunkan pedangnya. Namun ia terlihat sangat kaku


“Tidak seperti biasanya ayah bermain padang” ujar Alviona sambil duduk di tangga


“Besok ayah akan pergi ke kerajaan. Ayah harus pergi berperang untuk pangeran Mota” jawab Jara lemas. Alviona yang mendengar itu hanya diam memperhatikan ayahnya mencoba memainkan pedang


Namun dalam hatinya Alviona sangat sedih melepas ayahnya yang entah akan kembali atau tidak. Perlahan air mata Alviona jatuh saat tahu ayahnya tidak bisa bermain pedang sama sekali dan itu adalah sebuah pertanda prajurit yang tidak bisa menghindari tebasan pedang di medan perang.


“Mengapa ayah terima itu?” tanya Alviona sambil mengusap air matanya


“Karena ayah satu-satunya laki-laki di keluarga ini” Jara tetap berusaha memainkan pedang di tangannya


“Meskipun aku bukan laki-laki, aku bersedia menggantikan ayah. Apalagi jika aku laki-laki ayah” Alviona berdiri tegap menghadap ayahnya


“Kalaupun kau laki-laki, aku tidak akan membiarkanmu pergi berperang nak. Kau harus mengejar masa depan” Jara mengelus kapala Alviona lalu masuk ke kamarnya


Alviona yang masih di gudang melihat pedang tumpul yang tadi dimainkan ayahnya beranjak mengasahnya lalu memainkannya


“Maafkan aku ayah, jikalau aku yang menerima suratnya aku akan menggantikan ayah saat ini juga” tangis Alviona


Singg....


Suara pedang terdengar jelas didalam gudang saat Alviona memainkannya. Setelah puas, Alviona memberi sedikit ukiran di pegangannya berbentuk hati dan huruf A yang memiliki arti cintanya untuk sang ayah akan selalu ada saat ayahnya menggunakan pedang itu.


...****************...


Keesokan harinya, Jara telah bersiap pergi ke kerajaan menaiki seekor kuda yang dibelinya. Saat ia mengambil pedangnya, terlihat jelas sebuah tanda hati bertuliskan A di pedangnya. Jara hanya menghela nafas sambil tersenyum mengetahui anaknya sangat mencintainya sampai membuatkan tanda hati di pedangnya


“Aku menyayangimu nak, tunggu ayah pulang ya” bisik Jara di telinga Alviona yang masih tertidur di kamarnya lalu mencium kening anak satu-satunya itu


“Hati-hati suamiku” ucap Mala yang melihat Jara akan pergi menaiki kudanya


“Pasti” Jara tersenyum kearah Mala lalu memacu kudanya menuju kerajaan


Alviona yang bangun tanpa ayahnya menyadari ayahnya telah pergi ke kerajaan untuk berperang terlihat murung dan tidak bersemangat seperti biasanya saat di sawah.


“Hei, mengapa kau terlihat murung?” tanya Teli menyenggol Alviona yang murung di sawah


“Ayahku pergi berperang dalam waktu yang tidak ditentukan” jawab Alviona dengan wajah datarnya menyangga dagunya sambil duduk di bawah pohon


“Ayolah, jangan begitu. Kau terlihat seperti orang bodoh” hibur Teli


Bugh...


Pukulan keras mendarat tepat di punggung Teli yang membuatnya berlari menjauh


“Jangan ganggu aku ya! Aku sedang tidak mau bercanda” Alviona terlihat marah


“Ayolah, aku hanya ingin menghiburmu” Teli kembali mendekati Alviona


“Bukan begitu caranya!” Alviona yang semakin kesal naik keatas pohon agar tidak diganggu Teli


“Kau tidak pernah seperti ini” gumam Teli turut sedih


“Aku baru saja bertemu ayah, mengapa ayah harus pergi?” tanya Alviona dalam hatinya


“Apa kau tidak kasihan pada ibumu? Dia kini bekerja sendirian” Teli mendapat ide untuk membujuk Alviona


Alviona melihat seorang pemilik sawah sedang mengairi sawahnya yang sangat luas “Baiklah” Alviona memetik dua buah apel lalu turun dari pohon dan berjalan ke desa sambil memakai capingnya


“Ikut saja” jawab Alviona tanpa berhenti


“Apa yang akan dilakukan anak ini?” Teli semakin penasaran yang akan dilakukan Alviona


Mereka berdua berjalan menyusuri desa lalu Alviona berhenti di depan sebuah rumah yang ia tuju


“Permisi” Alviona mengetuk pintu rumah itu


“Ya? Ada apa? Siapa kau?” tanya seorang ibu-ibu yang membuka pintu


“Bibi, aku ingin bermain dengan Biena. Aku Alv” jawab Alviona dengan senyum polosnya


“Biena! Kau dicari Alv” ibu itu memanggil Biena


“Ya? Alv....!” seru Biena mengetahui itu adalah Alviona namun sebelum Biena meneruskan teriakannya, Alviona menutup mulutnya agar tidak dilarang bermain dengan Biena


“Jangan katakan disini! Ikut aku” bisik Alviona melepas tangannya dari mulut Biena


“Kemana?” tanya Biena keheranan


“Nanti kau akan tahu” jawab Alviona


“Ayo main!” sambung Alviona dengan suara yang agak keras lalu menarik tangan Biena menaiki Teli


“Kita ke sawah” bisik Alviona pada Teli


Teli segera menggulingkan tubuhnya dengan kecepatan tinggi menuju sawah tempat Alviona bekerja. Setelah sampai, Biena langsung memeluk Alviona


“Alviona kemana saja kau?” Biena sangat merindukan Alviona


“Aku pergi ke seluruh Indana untuk mencari rumah” jawab Alviona memejamkan matanya melepas rindu dengan teman dekatnya


“Apa yang kau mau?” tanya Biena seraya melepas pelukan


“Aku ingin minta tolong. Kau datangi pemilik sawah ini lalu tawarkan jasa penjaga sawah seluruh bagian sawah ini” jawab Alviona memegang pundak Biena dengan tatapan serius


“Memangnya mengapa harus aku?” tanya Biena polos


“Begini ya, jika aku yang menawarkan itu, maka sudah pasti pemilik sawah itu menolaknya. Apa kau lupa aku dicap sebagai pembawa petaka?” Alviona menunjuk matanya yang dianggap pembawa petaka


“Upah minimal satu piring beras per hari” sambungnya


“Baiklah” Biena memberanikan diri untuk mengajukan tawaran itu


“Permisi tuan, apa boleh aku menjaga seluruh bagian sawahmu ini?” tanya Biena pada pemilik sawah yang sedang mengairi sawahnya


“Apa kau yakin? Sawahku terlalu besar untuk kau jaga sendirian” tanya si pemilik sawah


“Aku yakin tuan, aku akan menjaga seluruh bagian sawah tuan hingga saatnya panen” Biena mencoba meyakinkan


“Baiklah, berapa upah yang kau mau?” pemilik sawah itu mulai yakin degan Biena


“Satu piring beras” jawab Biena menunjukkan jari telunjuknya


“Baik, sepiring beras setiap harinya” pemilik sawah itu berjabat tangan dengan Biena sebagai tanda terima lalu pergi meninggalkan sawahnya


“Kau bekerja dengan sangat baik. Ini terimalah” Alviona memberikan sebuah apel yang ia ambil tadi


“Maksudmu?” tanya Biena yang tidak mengerti maksud Alviona


“Terima kasih sudah membantuku mendapat pekerjaan. Sekarang, tugasmu adalah mengambil sepiring beras di rumah pemilik sawah itu setiap hari lalu memberikannya padaku. Itu saja” jawab Alviona datar sambil memakan apel miliknya lalu mulai bekerja


“Kau sangat berbeda” ujar Biena yang merasakan perubahan drastis dari Alviona sejak mereka terakhir bertemu


“Kau tidak mau pulang?” tanya Alviona melirik Biena yang masih berdiri mematung ditengah sawah


“Oh, aku..... aku ingin membantumu” jawab Biena sadar dari lamunannya tentang Alviona yang berubah


“Baiklah” Alviona memberikan sebilah tongkat kayu pada Biena lalu mulai berjalan mengelilingi sawah menyelesaikan pekerjaannya


Siang hari telah tiba. Alviona dan Biena beristirahat di atas pohon apel sambil memakan beberapa apel sedangkan Teli masih sibuk mencari semut


“Alviona apa kau lapar?” tanya Biena melirik Alviona yang berbaring di dahan pohon besar karena lelah


“Tentu saja” jawab Alviona dengan santai


“Mau aku ambilkan makanan?” tanya Biena bersiap turun


“Dimana?” Alviona bingung mengambil makanan dimana sedangkan jarak dari sawah ke rumah saja sudah cukup jauh dan melelahkan.


Bersambung...