
Alviona yang sudah keluar istana segera melepas seragam prajuritnya lalu menunggangi Teli. Namun Alviona tidak menemukan Biena saat akan kabur. Ternyata Biena sudah ditangkap dan ia kini dicari prajurit Indana
“Hei! Itu dia anak yang satunya! Kejar!” seru seorang prajurit yang mencari Alviona
“Teli kabur!” Teli bergegas kabur mengikuti merpati Alviona sebelum ditangkap para prajurit
“Ini tidak bagus” ujar Alviona yang tahu kini ia diburu prajurit Indana
Alviona, Teli dan merpati putih tiba di bawah pohon beringin yang cukup teduh untuk beristirahat sejenak dan memastikan jalan yang akan mereka lewati
“Kemana kita akan pergi?” tanya Teli memperhatikan Alviona yang mengeluarkan peta dan kompas
“Pertama kita berjalan ke Timur melewati 2 gunung, 2 gunung bersebelahan, dan 3 gunung setelah 2 gunung bersebelahan. Lalu digunung ke 7, berbelok ke Tenggara, hingga laut lalu melaut ke arah timur hingga pulau 1000 bukit” jelas Alviona seraya menunjuk gunung-gunung yang ada di peta
“Itu terlalu jauh” gerutu Teli mendengar tujuan yang sangat jauh
“Kau mau aku hidup sendirian selamanya?” tanya Alviona kesal dengan Teli yang selalu mengeluh
“Adakah cara lain?” tanya Teli
“Tidak ada orang lain selain ibuku yang bisa menerimaku. Tidak satupun” jawab Alviona sambil menyender di batang pohon yang cukup besar
“Ini sudah sore. Kita istirahat disini dulu. Besok kita lanjutkan perjalanan kita” sambungnya lalu memejamkan mata
“Akhirnya istirahat” ujar Teli kelelahan
Keesokan harinya seperti biasa Alviona berlatih pedang dan mengasahnya hingga matahari terbit. Setelah makan bekalnya Alviona menunggu Teli bangun namun tiba-tiba
“Dia di sana!” teriak seorang prajurit yang menemukan Alviona
“Teli bangun! Kita harus kabur!” Alviona menggoyangkan tubuh Teli yang bulat dan masih terlelap
Namun Teli tak kunjung bangun, akhirnya Alviona menaikinya melewati jalan menuju tempat yang lebih rendah agar bisa berjalan. Alviona berhenti di bawah sebuah lereng yang keropos dan berlindung di bawah batu yang menggantung untuk menghindari kejaran prajurit hingga para prajurit menjauh
“Ada apa tadi?” tanya Teli yang baru bangun karena tiba-tiba berguling tanpa ia sadari
“Kita kabur ke selatan dahulu baru kita ikuti petanya lagi” jawab Alviona dengan nafas terengah-engah
Teli segera berguling ke arah selatan mengikuti burung merpati yang menunjukkan arah selatan hingga mereka tiba di pinggir sungai. Lalu mereka kembali mengikuti peta menuju timur, hingga melewati 6 gunung
...****************...
Suara seruling merdu penggembala kambing tersengar jelas di padang rumput yang sangat hijau dan dipenuhi kambing-kambing milik si penggembala. Tiba-tiba si gembala menyadari salah satu kambingnya lari ke hutan mencari rumput yang lebih banyak
“Hei! Mau kemana kau?” si pria penggembala itu mengejar kambingnya hingga masuk jauh ke dalam hutan. Namun bukan kambing yang ia temukan, justru pria penggembala bertemu harimau lapar yang terbangun karena suara berisiknya memanggil kambing
“TOLONG!!” teriak pria gembala yang mencoba lari dari harimau itu
...----------------...
Alviona yang sudah melihat gunung ke 7 di depannya setelah berjalan berbulan-bulan sangat gembira namun tidak dengan Teli
“Ayo Teli! Sebentar lagi kita berbelok” Alviona menyemangati Teli dengan senyum lebarnya
“Aku lelah” jawab Teli merobohkan dirinya ke tanah
“Oh ayolah! Kita hampir sampai di gunung ke 7” ujar Alviona turun dari tubuh Teli dan memberinya sekantung semut
“Kau pikir aku bisa hidup hanya dengan makan tanpa istirahat?” cibir Teli
“Ayolah, kita harus cepat-cepat! Bagaimana ibuku nanti?” tanya Aviona namun tidak mendapat tanggapan apapun dari Teli
“Huuh” gerutu Alviona meskipun dia sendiri juga merasa lelah
“TOLONG!! TOLONG!!” teriakan itu terdengar jelas di telinga Alviona. Dia pun segera memeriksa dari mana asal suara itu
Alviona yang menemukan seorang pria yang menjadi incaran seekor harimau segera mendekatinya sambil mengeluarkan pedang dan memasang kuda-kuda tepat di depan pria itu
“Menjauhlah!” perintah Alviona pada harimau itu. Pria tadi hanya bisa diam menyaksikan pertarungan Alviona dengan harimau itu dengan merinding dan bergidik ngeri
Harimau itu akan menerkam Alviona namun dengan cepat Alviona menghindar dan menyayatkan pedangnya pada rahang si harimau. Lalu harimau itu menyerang dari belakang, sebelum menyentuh Alviona, dia sudah memukul punggung harimau kuat-kuat
Tidak berhenti di situ, harimau itu masih mencoba menerkam Alviona dengan melompat dari pohon dengan cepat. Namun Alviona tidak selengah itu, ia melompat lalu menendang kepala harimau itu dan memukul rahang bawah si harimau. Harimau itu membanting Alviona hingga ia terbentur batu lalu melompat beriap menerkamnya, Alviona bangun dan melompat menebaskan pedangnya pada kaki harimau lalu menusuk dadanya
Setelah memastikan harimau itu mati, Alviona yang sudah sangat lelah merebahkan dirinya ketanah. Melihat orang yang menolongnya jatuh, pria penggembala yang mengira Alviona pingsan langsung mendekatinya
“Kau tidak apa-apa?” tanya pria itu mencoba mencari luka pada tubuh penolongnya
“Hei berhenti berhenti-berhenti. Aku tidak apa-apa, aku tidak pingsan aku tidak terluka, jadi jangan sentuh aku” ujar Alviona memberhentikan pria itu mencari luka pada tubuhnya dengan suara berat
“Oh, kau baik-baik saja? Sungguh?” tanya si pria tampak tak percaya
“Ya, seperti yang kau lihat aku baik-baik saja” jawab Alviona bangun dari tanah dan mencabut pedangnya dari dada harimau tadi
“Terima kasih, siapa namamu?” tanya pria itu menjulurkan tangannya
“Itu tidak penting, yang penting adalah kau selamat, aku aman, dan kau tidak mati. Sudah, aku harus segera pergi” ujar Alviona lalu melangkah menjauhi pria tadi
“Tunggu!” pria itu memberi isyarat ada sesuatu di leher Alviona, namun saat Alviona meraba leher kanannya tidak ada apa-apa. Pria tadi kembali mendekati Alviona
“Bukan di situ” ujar pria tadi menyentuh leher kiri Alviona perlahan. Tiba-tiba Alviona merasa perih saat lehernya disentuh dan saat ia merabanya
“Darah?!” Alviona sangat terkejut melihat darah segar di telapak tangannya yang meraba leher kirinya dan luka di tangan kanannya
“Lukamu sangat parah! Itu harus segera diobati” saran pria itu dengan wajah khawatir
“Ah tidak-tidak. Luka ini lama-kelamaan juga akan sembuh, tidak usah diobati” ujar Alviona mencoba menghindari pria itu
“Tidak bisa begitu! Lukamu sangat parah. Ikut aku!” pria tadi menarik tangan kurus Alviona
“Eh? Teli!” panggil Alviona mencoba melepaskannya namun tidak bisa dan akhirnya hanya pasrah akan dibawa kemana
“Kak Kiowa!” panggil pria itu masuk ke rumahnya dan mengambil beberapa obat
“Ada apa Kai?” tanya Kiowa kakak perempuan Kai, pria yang ditolong Alviona
“Dia terluka parah di leher dan lengannya” jelas Kai sambil membawa beberapa obat yang ia ambil
“Oh astaga! Bagaimana bisa?!” tanya Kiowa histeris mengetahui orang yang datang itu menderita luka parah. Ia segera membawa Alviona masuk dan melepas capingnya
“Bisa kau sisingkan lengan bajumu? Akan aku bersihkan lukamu” pinta Kai yang langsung dituruti Alviona
“Apakah kau tidak merasa sakit?” tanya Kiowa keheranan Alviona tidak memperlihatkan raut kesakitan. Sedangkan yang ditanya hanya menggeleng membiarkan lehernya dibersihkan
“Apa yang sebenarnya terjadi? Lukamu sangat dalam” sambung Kiowa keheranan dengan bekas cakar yang menyayat kulit Alviona dan luka gores di lehernya
“Dia menyelamatkan aku dari harimau saat aku mengejar kambing” jelas Kai singkat karena masih fokus mengobati lengan Alviona
“Siapa namamu?” tanya Kiowa yang menarik perhatian Kai karena tadi dia telah menanyakan hal yang sama namun tidak mendapat jawaban dan Alviona terpaksa harus memberitahu nama samarannya
“Alv” jawab Alviona mengalihkan pandangannya dari lirikan Kai
“Aku Kai” ujar Kai tiba-tiba menjulurkan tangannya lagi. Kali ini Alv membalasnya
“Ini kakakku Kiowa” sambungnya kembali membalut lengan Alv
“Terima kasih” ujar Alv setelah pembalutan selesai
“Sama-sama” balas Kiowa dengan senyum hangatnya
“Aku pamit pergi, aku harus melanjutkan perjalananku” ujar Alv kembali mengenakan capingnya
“Tapi lukamu belum sembuh, kau tidak boleh terlalu banyak bergerak” ujar Kai menghalangi Alv pergi
“Tapi,....” belum sempat Alv melanjutkan perkataannya Kiowa memotongnya
“Jika kau tidak punya rumah, kau boleh tinggal disini sementara waktu. Aku tahu kau pengembara bukan?” ucap Kiowa dengan senyum manis
“Tidak, aku akan menjaga gerakku” jawab Alv
“Perbanmu harus diganti setiap hari, apa kau punya sebanyak hingga lukamu sembuh?” ujar Kai menyender di pintu dan melipat tangannya
“Sudah, tidak apa-apa. Kami tidak keberatan jika kau tinggal disini” sambung Kiowa meyakinkan
“Baiklah” balas Alv
“Berapa lama kau berjalan?” tanya Kiowa basa-basi
“6 bulan” jawab Alv polos
“Kau dari mana?” tanya Kai
“Aku dari Indana” jawab Alv sambil kembali duduk
“Indana?! Kemana tujuanmu?” tanya Kiowa terlihat tertarik dengan perjalanan Alv
“Pulau 1000 bukit” ujar Alv menoleh ke arah Kiowa
“Pulau 1000 bukit?! Untuk apa kau ke sana?” Kai ikut terkejut dengan tujuan Alv
“Aku harus mengembalikan cakra pangeran Mota lalu membawanya kembali ke Indana dan menjadi raja agar ibuku di bebaskan” jawab Alv menunduk mengingat ibunya
“Berapa usiamu? Sepertinya kau masih terlihat sangat muda” tanya Kiowa semakin penasaran dengan Alv
“11 tahun” jawab Alv menatap Kiowa
“Apa?! Aku tidak salah dengar?” Kai terkejut bukan main saat seorang anak akan menempuh perjalanan panjang dan membahayakan demi ibunya
“Memangnya di mana ayahmu?” tanya Kiowa serius
“Ayahku gugur di perang saudara pangeran Indana dan ibuku ditahan karena tidak membayar pajak” jawab Alv sedih mengingat ayahnya
“Oh, maaf aku mengungkitnya” Kiowa memegang pundak Alv
“Tidak apa-apa” balas Alv kembali mengangkat kepalanya
“Oh ya, ini sudah siang, kau sudah makan siang?” tanya Kiowa mencairkan suasana
“Belum” jawab Alv
“Ayo makan bersama” ajak Kai berjalan menuju ruang makan diikuti Kiowa dan Alv
Selesai makan, Alv diberi kamar untuk tidur yaitu di samping Kai. Meskipun kecil, Alv tetap menerimanya karena biasanya ia tidur bersama Teli di bawah pohon atau di samping batu
Keesokan harinya, Alv akan pergi berlatih pedang, namun Kiowa memergokinya
“Ehem, mau kemana?” tanya Kiowa melipat tangannya di samping pintu menatap Alv yang akan keluar
“A-aku, aku mau... Keluar” jawab Alv gugup sambil memegang pedangnya
“Sudah aku bilang kau tidak boleh banyak gerak” Kiowa menuntun Alv kembali ke kamar
“Baiklah” Alv pasrah dilarang berlatih pedang
“Alv, kau harus sembuhkan dulu lukamu, baru kau kembali menyelamatkan ibumu. Bagaimana jika kau nanti bertemu ibumu dengan keadaan penuh luka? Pasti ibumu akan sedih bukan?” tanya Kiowa menenangkan Alv agar tidak selalu teringat pada ibunya dan fokus menyembuhkan lukanya
“Iya” balas Alv dengan anggukan
Bersambung....