My Live For Battle

My Live For Battle
Dendam kematian keluarga



Alviona masih berada di ruangan tahan. Ia membagikan bekal makanannya pada tahanan lainnya sembari membebaskan mereka semua dengan menghancurkan pembatas besi yang memenjara mereka. Selesai makan, tiba-tiba ada sebongkah reruntuhan bangunan besar yang menimpa sebagian lorong tahanan itu. Sontak para tahanan berhamburan keluar menyelamatkan diri, begitu juga dengan Alviona dan ibunya.


Namun reruntuhan bngunan semakin banyak dan menyebabkan semakin banyak kerusakan dan korban. Ibu Alviona salah satunya, kakinya tertimpa reruntuhan


“Ibu!” teriak Alviona mencoba menyingkirkan reruntuhan itu


“Nak, pergilah, selamatkan dirimu” ujar Mala putus asa


“Aku tidak akan pergi tanpa ibu” jawab Alviona masih berusaha membantu ibunya, tapi reruntuhan itu terlalu berat


“Pergilah! Cari bantuan!” paksa Mala


“Tapi...” belum sempat Alviona melanjutkan perkataannya Mala memotongnya


“Ibu menyayangimu” Mala dan Alviona terdiam setelah itu Mala mendorong Alviona dari tempat ia terjebak


Sebenarnya dari atas ada bongkahan reruntuhan yang sangat besar jatuh menuju menuju mereka tanpa disadari Alviona, tapi Mala mengetahui itu dan mencoba menyelamatkan anaknya


Alviona terlempar cukup jauh dari tempat awal ibunya terjebak dan menyaksikan dengan kedua mata kepalanya ketika reruntuhan besar itu menimpa tubuh ibunya hingga tewas ditempat


“IBU!” teriak Alviona histeris melihat kematian ibunya


Seketika ia menangis sekaligus marah dengan raja Yana yang menyebabkan keeusakan hingga menewaskan ibunya. Dari mata kirinya yang ia tutupi muncul kekuatan hitam yang selama ini ada di dalam tubuhnya


“Jika aku memang membawa petaka, BIARKAN AKU MEMBAWA PETAKA UNTUKMU YANA!!” teriak Alviona sambil merobek penutup mata kirinya yang menyala-nyala


Amarahnya kini sudah tak terbendung lagi, orang yang ia perjuangkan selama satu tahun lamanya hilang begitu saja karena ulah raja Yana. Teriakannya ternyata didengar oleh para prajurit yang sedang mencarinya dan langsung menuju ke tempat Alviona saat ini


“Itu dia!” prajurit itu menemukan Alviona


Satu persatu maju untuk menghabisi Alviona, tapi mereka habis ditangan Alviona yang sudah marah besar. Alviona keluar ke halaman kerajaan yang sedang terjadi peperangan dan banyak sekali monster monster yang membantu pihat raja Yana. Kedatangan Alviona di halaman itu langsung disambut para prajurit raja Yana dengan serangan senjata-senjata perang


Alviona menangkis serangan-serangan itu dan membalikkannya hingga menghabisi pemilik serangan itu sendiri. Ia yang melihat pengeran Mota dan raja Yana masih bertarung hebat diatas menara langsung mengikuti arah denah yang diberikan Laroy padanya. Selama perjalanan ia selalu ditunggu oleh oara prajurit, tapi Alviona juga menunggu untuk menjadi malaikat maut mereka


Setelah sampai di atas menara, Alviona melompat tinggi dan menebaskan pedangnya pada raja Yana untuk membalaskan dendamnya atas kematian ibunya barusan, tapi berhasil ditangkis oleh raja Yana


“Kau masih hidup?” tanya raja Yana dengan tatapan mengejeknya yang membuat Alviona jengkel. Alviona kembali mengayunkan pedangnya lalu menyepak kepala raja Yana, menguncinya dengan menarik tangannya kebelakang sedangkan kakinya menahan bahu raja Yana


“Kau pikir aku dengan mudah mati hanya dengan makhluk menjijikanmu itu? Kau sudah membuat keluargaku mati, jadi kau juga harus mati!” ujar Alviona mengambil pedangnya dan bersiap memenggal kepala yang tadi ia sepak


Raja Yana berhasil membebaskan dirinya lalu membalasnya dengan menendang dada Alviona yang membuat Alviona terlempar


“Heh bocah! Bisa apa kau didepanku ha? Kau hanya anak kecil yatim piatu bukan?” ejek raja Yana menodongkan tombaknya yang baru saja ia dapatkan dari peningkatan kekuatannya


Perkataan itu sekali lagi membuat Alviona marah, ia bangkit menepis tombak yang ditodongkan kearahnya lalu beradu pedang dengan raja Yana dibantu pangeran Mota yang ikut menyerang raja Yana


Ditengah pertarungan, Alviona melihat separuh cakra pangeran Mota di dahi raja Yana. Ketika raja Yana sibuk dengan pangeran Mota, Alviona melompat ke kepalanya lalu mengambil separuh cakra itu lalu melemparnya kepada pangeran Mota. Tapi pangeran Mota yang tidak siap gagal menangkap cakra itu lalu cakra itu jatuh


Alviona yang fokus kearah cakra itu menyadari bahwa raja Yana akan membunuh pangeran Mota. Ia segera menghalanginya, tapi ternyata


Jleb...


Serangan dari raja Yana justru mengenai dada kanannya, menembus tulang rusuk dan mengenai paru-paru nya, seketika pangeran Mota syok melihat tombak besar menembus dada kanan Alviona. Setelah tombak dicabut, darah tak henti-hentinya mengalir dari dada kanan Alviona


Pangeran pun balik menyerang raja dan berusaha memenangkan pertarungan itu tanpa separuh cakranya. Tapi tiba-tiba kepalanya terbentur batu yang ada diatas menara itu yang membuatnya pusing hingga hampir jatuh, beruntung Alviona sigap menangkap tangannya dan bergelantungan pinggir menara. Namun karena pegangan pangeran Mota lemah, ia hampir kehilangan pegangan, tapi ia berhasil bergantung di kaki Alviona


“Pangeran, rubah dirimu aga bisa terbang!” perintah Alviona


“Aku baru saja melakukannya, aku tidak mungkin melakukannya lagi tanpa separuh cakraku” jawab pangeran Mota merinding dengan ketinggian menara itu yang hampir menyentuh awan


“Cepat berubahlah!” Alviona semakin khawatir tangannya yang sudah tidak kuat lagi menahan berat badannya dan pangeran Mota


“Tidak bisa!” jawab pangeran Mota kesulitan memanjat kaki Alviona yang panjang


Raja Yana mengeluarkan cairan panas dari ujung tombaknya yang menancap di lantai membuat Alviona semakin panik


“Pangeran, boleh aku mengatakan maaf? Soal ini?” tanya Alviona


“Aku memaafkanmu” jawab pangeran Mota, setelah itu, Alviona melepaskan pegangannya tepat saat cairan panas itu menyentuh tangannya


Namun tangan pangeran Mota masih belum melepaskan kakinya


Pangeran Mota pun sadar dan ingat perkataan ayahnya saat ia masih kecil


“Kekuatan bangsawan yang sesungguhnya ada di dalam hati yang teguh dan memiliki tekat yang kuat untuk melindungi rakyatnya” suara ayahnya memenuhi kepalanya yang seperti memberinya kekuatan besar


Seketika pangeran berhasil melakukan perubahan dan berhasil terbang kembali ke atas menara untuk membalaskan apa yang telah dilakukan saudaranya padanya selama ini


Sedangkan Alviona hanya pasrah jatuh dari ketinggian, tidak ada yang bisa ia gunakan sebagai pegangan, tidaka da lagi yang bisa ia andalkan, tubuhnya lemas, pedangnya tertinggal diatas menara, darahnya semakin berkurang membuat tubuhnya semakin melemah


Setidaknya ia berhasil membangkitkan semangat pangeran Mota kembali dan memotivasinya untuk memenangkan pertempuran ini sesuai yang pangeran janjikan padanya dan...


Duarr...


Tubuhnya menghantam tanah bak meteor dari langit, ajaibnya tubuhnya tak hancur seperti meteor yang hancur lebur setelah sampai tanah


“Ouch, Argh!! Punggungku” ujar Alviona. Ia melihat sekelilingnya yang masih terjadi pertempuran dan di penuh dengan mayat prajurit


Dari kejauhan, Alviona melihat benda berkilau seperti emas. Ternyata itu adalah separuh cakra pangeran Mota yang tadi terjatuh. Alviona beeusaha mengambil cakra itu meskipun dengan merangkak karena tulang-tulangnya remuk setelah jatuh dari ketinggian


Sepanjang jalannya menuju cakra itu terdapat jejak berupa darah segar yang masih mengalir dari dada kanannya dan dari luka lainnya. Dan akhirnya Alviona berhasil mengambil cakra milik pangeran Mota dan menyimpannya


Disisi lain, pangeran Mota sudah berhasil membuat saudaranya itu kewalahan menangani serangan demi serangan yang ia berikan, sampai sampai pangeran Mota sedikit demi sedikit mempreteli armor raja Yana hingga habis akibat armornya dipreteli pangeran Mota, raja Yana tidak bisa lagi terbang


Untuk serangan terakhir, raja Yana menembakkan roh-roh jahat dari tombaknya. Namun itu saja tidak cukup ganas bagi pangeran Mota. Raja Yana pun jatuh dari menaranya sendiri dan terluka parah, pangeran Mota menghampirinya untuk yang terakhir, mengambil tombaknya dan menodongkannya ke leher saudaranya


“Jadi, kau masih yakin kau lebih unggul dariku?” tanya pangeran Mota


“Jelas, aku masih lebih unggul darimu, aku punya banyak kekayaaaaaaa!!!” belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, tombak hitam itu sudah menembus tulang rusuk dan jantungnya sendiri seletika ia tewas ditempat


Ditambah lagi, menara yang ia banggakan selama ini roboh menimpanya sedangkan pangeran Mota selamat karena sudah keluar terlebih dahulu. Melihat pangeran Mota keluar dengan selamat, Alviona masih bisa menunjukkan senyumannya


“Aku yang menang?” tanya pangeran Mota pada Alviona


“Kau memang menang, tapi tugasmu belum selesai” jawab Alviona memberikan separuh cakra yang ia ambil


“Maaf, kotor” sambungnya


“Tidak apa-apa” jawab pangeran Mota


Pangeran Mota menggabungkan kedua cakranya lalu terbang menghabisi monster-monster yang masih berkeliaran. Setelah prajurit raja Yana mati bersamaan dengan rajanya, Kai mwnghampiri Alviona yang terluka parah


“Kau tidak apa-apa?” tanya Kai mengulang pertanyaannya pada Alviona saat mereka pertama kali bertemu


“Yah, sedikit luka disini dan punggungku” jawab Alviona menunjuk dada kanannya yang tertusuk tombak raja Yana


Kai segera mengobati Alviona sebisanya tanpa menyadari Alviona sudah tidak merespon lagi. Dari arah persembunyian pasukan bajak Laut sebelum pertempuran datang putri Laluna bersama Laroy


“Kai, hentikan itu” pinta putri Laluna namun tidak digubris oleh Kai


“Kai hentikan!” ujarnya sedikit kencang menatap mata Kai


“Dia sudah mati” sambungnya sambil meneteskan air matanya lalu memegang tangan Alviona yang dingin


Bersamaan dengan itu, pangeran Mota kembali setelah membantai monster


“Kita kehilangan dia” ujar putri Laluna


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pangeran Mota membawa Alviona ke sebuah candi yang biasa digunakan oleh bangsawan untuk berdoa kepada leluhur mereka. Kai, putrli Laluna dan Laroy hanya bisa mengikutinya dari belakang


“Kakek, aku mohon datanglah” panggil pangeran Mota. Tiba-tiba seberkas cahaya muncul dan arwah kakeknya berdiri didepan mayat Alviona


“Ada apa cucuku?” tanya Alkesh kakek pangeran Mota


“Aku mohon padamu, berikanlah umur panjang pada orang yang paling berjasa dalam keberhasilanku ini” pinta pangeran Mota


“Keinginanmu terkabulkan” jawab Alkesh mengangkat tangannya dan keluar cahaya putih terang


“Tapi aku tidak bisa membangkitkannya kembali tanpa pengganti” sambungnya


Bersambung....