
Beberapa hari setelah kepergian ibunya, Keluarga Biena juga ditahan karena tidak membayar pajak. Alviona yang sedang pulang dari mengambil upah melihat seorang nenek-nenek tua yang terjatuh kelaparan karena mengorbankan makannya demi membayar pajak.
“Nenek, nenek lapar?” tanya Alviona mendekati nenek itu
“Ya, aku belum makan sejak kemarin karena pajak” jawab sang nenek dengan suara serak karena lapar
“Aku hanya punya ini, tapi mungkin sedikit membantu” ujar Alviona sambil mengambil wadah airnya. Dengan cepat sang nenek meneguk air yang dibawa Alviona
“Andai saja, pangeran Mota menang di peperangan dan menjadi raja. Mungkin tidak akan ada pajak sebesar ini” keluh nenek itu
“Jika pangeran Mota mau kembali ke Indana, mungkin semua rakyatnya makmur dan damai” sambung nenek itu sambil menatap langit
Mendengar itu Alviona tergugah semangatnya, jiwa kesatrianya bangkit namun untuk pergi ke pulau 1000 bukit bukanlah hal mudah karena harus melewati lautan luas
“Iya nek. Aku pulang dulu” ujar Alviona lalu bergegas pulang ke rumahnya
Di rumahnya, ada banyak prajurit menggedor pintu rumah mencari si pemilik rumah
“Keluar!” teriak salah satu prajurit
“Ada apa?” tanya Alviona mendekati para prajurit itu
“Kau pemilik rumah ini? Di mana orang tuamu?” tanya prajurit yang menggedor pintu rumah Alviona
“Ayahku gugur di perang saudara kemarin dan ibuku ditahan di kerajaan” jawab Alviona tegas dan menatap tajam para prajurit
“Jadi kau yang bertanggung jawab atas pajak rumah ini?” tanya prajurit lainnya menunjuk rumah kecil Alviona
“Rumah itu memang bukan atas namaku, tapi aku yang tinggal disini” jawab Alviona yang tidak suka mendengar kata pajak lagi
“Jadi kami kemari untuk menagih pajak tanah rumahmu ini” jelas prajurit yang berdiri di dekat Alviona
“Pajak? Baru beberapa hari yang lalu ibuku ditahan karena pajak. Sekarang ada penagihan pajak lagi?” tanyanya dengan nada tidak suka
“Memang begitu seharusnya. Pajak harus dibayar tepat waktu. 12 karung beras!” jawab prajurit itu
“Aku tidak punya sebanyak itu. Untuk makan saja terkadang kurang” balas Alviona
“Hancurkan rumahnya!” perintah seorang prajurit lainnya yang berdiri di dekat sebuah kereta pengangkut. Semua prajurit langsung mengeluarkan rantai besar untuk menghancurkan rumah sederhana Alviona
“Teli!” panggil Alviona untuk menyelamatkan Teli sebelum rumahnya di robohkan. Dengan cepat Teli berguling mendekati Alviona tepat sebelum rumah roboh
Para prajurit merobohkan rumah Alviona dengan sekali tarikan lalu memberi tanda pada bagian rumah Alviona lalu pergi meninggalkan Alviona begitu saja. Alviona mencoba mencari barang-barang yang masih bisa dipakai. Terkumpul beberapa barang yang ia gunakan untuk mengembara 1 tahun yang lalu, ia kembali mengenakan perlengkapannya untuk pergi ke istana mencari peta menuju pulau 1000 bukit
“Ini saatnya” ujarnya mengikat rambut panjangnya dan memakai capingnya lalu mengisi tas bekalnya, memasang sarung pedang, menyimpan pisau kecil, dan sebuah tali.
“Teli, kita ke istana” perintah Alviona menunggangi Teli dan mengikat penutup mata kirinya
“Mengapa?” tanya Teli polos
“Aku ada urusan penting” jawab Alviona dengan wajah datar
“Urusan apa?” pertanyaan Teli semakin membuat Alviona kesal
“Cepat jalan! Aku tidak punya banyak waktu!” jawab Alviona sambil memukul punggung Teli yang sejak tadi hanya bertanya
“Tunjukkan jalan menuju Istana” bisik Alviona pada burung merpati putih yang mengirim surat ayahnya dari medan perang lalu burung itu terbang menuju Istana
Dengan cepat Teli mulai berguling menuju kerajaan mengikuti burung merpati itu kemanapun arahnya. Mereka menyeberangi sungai, melewati jurang, tebing, perumahan warga, hingga akhirnya sampai di Istana
“Tunjukkan jalan menuju perpustakaan” bisik Alviona pada burung merpati itu lagi sambil turun dari punggung Teli
“Aku?” tanya Teli khawatir harus apa
“Kau tunggu disini dulu” sambung Alviona sambil mulai berjalan mengikuti merpatinya
“Bagaimana dia masuk?” batin Teli pasrah melihat Alviona masuk ke istana
Di depan gerbang, Alviona melihat 2 orang prajurit yang menjaga gerbang. Alviona membuat kegaduhan di sisi lain dengan menjatuhkan sebuah dahan pohon yang cukup besar. Keributan yang ditimbulkan membuat salah satu prajurit pergi memeriksa, tepat saat prajurit itu lengah memukulnya dan membuatnya pingsan lalu memakai seragam yang dipakai prajurit itu. Dengan mudah Alviona dapat masuk ke kerajaan
“Ada apa tadi?” tanya seorang prajurit lainnya
“Ada dahan pohon yang jatuh di atas gerobak sampah itu” jawab Alviona memberatkan suaranya agar tidak dikenali
“Oh, baiklah” prajurit itu pergi meninggalkan Alviona. Tepat saat itu, merpati Alviona berada di pagar dekat Alviona
“Mana perpustakaannya?” tanya Alviona dengan berbisik. Merpati itu segera terbang menuju perpustakaan yang berada di lantai 3 diikuti Alviona
Setelah sampai di pintu perpustakaan, Alviona langsung masuk dan mendapati Biena yang diperbudak menjaga perpustakaan dan membersihkannya
“Maaf, aku belum selesai... Aku akan segera menyelesaikan ini” ucap Biena ketakutan melihat seorang prajurit masuk yang ia kira memeriksa pekerjaannya
“Alv!...” seru Biena ketika tahu Alviona datang. Sebelum teriakan Biena terdengar orang lain Alviona sudah menutup mulutnya
“Sssttt, jangan berisik” bisik Alviona menempelkan jari telunjuk di mulutnya
“Alviona!” seru Biena dengan bisikan dan suara kecil
“Bagaimana kau bisa masuk?” tanya Biena keheranan
“Aku menyamar. Sudah, aku ada urusan yang lebih penting” jawab Alviona menutup pintu perpustakaan lalu menguncinya
“Kau cari apa?” tanya Biena mengikuti Alviona yang mencari sesuatu
“Itu dia, aku mencari peta menuju pulau 1000 bukit” jawab Alviona
“Untuk apa?” tanya Biena semakin heran dengan sikap Alviona yang tidak bisa ditebak
“Aku harus membawa pangeran Mota kembali agar bisa membebaskanmu dan ibuku” ujar Alviona yang terlihat sedih mengingat ibunya yang entah berada di mana
“Kau yakin akan membawa pangeran Mota kembali ke kerajaan? Itu bukan hal mudah, lagi pula jika kau membawanya kemari itu akan percuma karena raja Yana sudah pasti akan membunuh pangeran Mota. Apa lagi raja Yana masih memegang 2 cakra sekaligus, pangeran Mota pasti kalah” ujar Biena sambil memberikan segulung peta pada Alviona dari rak atas. Alviona segera menggelar peta itu di meja
“Apa kau tahu tempat disimpannya cakra pangeran Mota?” tanya Alviona sambil memperhatikan peta yang ada di meja
“Oh! Aku tahu! Cakra itu ada di ruang pusaka! Tapi, untuk masuk ke dalamnya bukanlah hal mudah. Ruangan itu dijaga banyak prajurit secara ketat dan banyak jebakan di dalamnya” jelas Biena memperlihatkan denah ruangan itu. Sejenak Alviona terdiam harus apa untuk mengambil cakra pangeran Mota
“Ah! Kita buat permainan disini!” ujar Alviona kegirangan menemukan ide cemerlang
“P-permainan?” Biena sedikit terkejut mendengar kata permainan
“Ya, permainan. Sang penjaga si pencuri” jawab Alviona dengan senyum liciknya
“Bagus! Itu ide yang sangat bagus!” seru Biena mendengar ide cemerlang Alviona
“Baiklah, jadi begini....” Alviona memberi rencananya dan mempersiapkannya dengan sangat matang dengan Biena
“Baik aku mengerti” ujar Biena mengerti alur permainan yang akan dibuat Alviona
“Baiklah jika kau sudah mengerti, kita mulai” Alviona bersiap memakai seragamnya lagi lalu keluar dari ruang perpustakaan membawa denah ruang pusaka diikuti Biena. Mereka berpisah di tengah jalan, Alviona menuju ruang pusaka sedangkan Biena menuju gerbang belakang.
“PENCURI! HEI! ADA PENCURI!” teriak Biena yang mengundang beberapa prajurit untuk menanggapi teriakannya
“Dimana pencurinya?” tanya beberapa prajurit yang datang
“Dia mencuri sesuatu dari ruang pusaka! Dia lari ke sana” jawab Biena seraya menunjuk ke arah luar Istana. Para prajurit segera berlari ke arah yang ditunjuk Biena
Alviona yang sudah melihat tugas Biena sudah selesai dari lantai 4 menunggu beberapa saat lalu mendatangi pintu ruang pusaka menghadap 2 prajurit yang menjaganya
“Apa keperluanmu kemari?” tanya salah satu prajurit menghalangi jalan Alviona
“Seseorang telah mencuri sesuatu dari dalam ruangan, aku diperintahkan yang mulia raja Yana untuk memeriksa pusaka apa yang dicuri dan memastikan cakra pangeran Mota aman” jawab Alviona dengan suara berat
“Baiklah, segera periksa dengan benar dan teliti” ujar prajurit itu sambil membuka pintu ruangan. Alviona segera masuk ke dalam dan menutup pintunya
“Fiuh, akhirnya masuk” ujar Alviona membuka denah ruangan itu. Disana terlihat ada sebuah obor yang digunakan untuk Menerangi seluruh ruangan. Setelah Alviona menyalakan obor itu terlihat banyak sekali jebakan yang terpasang
“Oh astaga! Mengapa sangat mengerikan dari yang tergambar?” keluh Alviona melongo melihat banyaknya jebakan yang sangat sadis
Pertama Alviona harus melewati jalan berduri yang jika ia menginjak satu batu saja maka ia akan ditusuk jarum besar dari bawah. Meskipun sempat merasa ngeri dan merinding Alviona memberanikan diri melewati jalan itu
Jalan kedua, adalah jalan sunyi. Jika ada yang menimbulkan suara walau hanya tiupan angin, maka akan ada 2 besi besar berbentuk pemukul besi yang menjepit apa saja yang ada di antaranya menjadi keripik. Untuk melewati itu Alviona harus tenang dan menahan nafas agar tidak menimbulkan suara.
Jebakan ketiga, tidak tertulis peraturan apa saja yang harus dilewati namun hanya ada peringatan sesuatu akan keluar dari lubang-lubang kecil didinding. Dan benar saja saat Alviona melewatinya banyak anak panah yang meluncur. Beruntung ia cekatan menangkis dan menghindari anak panah itu.
Terakhir, Alviona harus melewati jalan yang tidak tertulis apapun di denah yang ia bawa
“Curang! Aku harus apa disini?” gerutu Alviona bersiap melewati apa saja yang akan terjadi nantinya
Tepat saat Alviona melangkahi tengah jalan, tiba-tiba jalan itu ambles dan muncul semburan api dari bawah. Alviona segera mengeluarkan talinya dan merangkak ke atas hingga apinya padam. Setelah padam, Alviona sampai di peti cakra pangeran Mota.
“Apa?! Hanya ada separuh? Di mana separuhnya?” Alviona sangat kecewa melewati berbagai jebakan namun hanya mendapat separuh cakra. Namun ia tetap bersyukur masih hidup setelah berusaha melewati jebakan itu. Lalu keluar dengan keringat bercucuran
“Bagaimana? Aman?” tanya prajurit yang menjaga pintu ruangan
“Yang dicuri hanya sebuah pedang emas. Bukan pusaka penting. Cakra pangeran Mota juga aman” jawab Alviona lalu segera pergi kabur dengan mengantongi cakra pangeran Mota
“Ditanganku” sambung Alviona dalam hati dengan senyum licik dapat mengelabuhi para prajurit
Bersambung.....