
Alviona memejamkan matanya dan terfokus pada keberadaan Tyson. Benar saja, ia melihat Tyson yang sedang mendaki bukit es. Bukan sedang berbicara dengan mereka
Tyson memberi saran “Kita pindah ke bukit di sisi timur kerajaan. Aku rasa itu tempat yang cukup aman.”
Kai setuju dengan saran Tyson “Ide bagus, ayo kita ke sana sekarang.”
“Tunggu Kai, dia bukan Tyson.”ujar Alviona
“Maksudmu?” tanya Kai
Alviona berjalan mendekati Tyson yang ada di depannya “Kau bukan Tyson.”
“Apa?! Di saat genting seperti ini, kau masih bisa bercanda?” tanya Tyson
“Maaf Tuan, tapi aku dan Tyson memiliki hubungan batin yang sangat erat hingga membuat pikiran kami sama. Dan pikiranku dengan pikiranmu itu berbeda, jadi katakan siapa kau sebenarnya.” Alviona mempertajam tatapan matanya hingga membuat orang yang ada di depannya itu bergidik ngeri
“Soal itu aku bisa jelaskan nanti. Tapi kita harus pergi dulu! Para prajurit mengejar kita.” balas Tyson
“Ooh, para prajurit mengejarmu? Mengapa kau tidak tangani sendiri? Bukankah Tyson sang raja Chaves Locke memiliki kekuatan air yang luar biasa? Dan sejak kapan Tyson menjadi sangat bodoh? Jika kau memang dikejar prajurit, harusnya kau kabur ke arah lain. Bukan malah kemari.” ejek Alviona membuat Tyson yang ada di depannya kesal
Tanpa mengucapkan apapun, Tyson berubah ke wujud aslinya yang merupakan seorang prajurit lalu menyerang Alviona. Dengan cepat Alviona melempar kantong yang berisi potongan hati es pada Kai, “Bawa itu ke Tyson. Akan aku hadapi peniru ini.” perintah Alviona
Kai menangkap kantong itu lalu pergi bersama Kiowa, sedangkan Alviona masih bertarung dengan prajurit itu. Tidak lama setelah itu para prajurit lainnya menyusul peniru tadi. Setelah berhasil melumpuhkan si peniru, Alviona langsung lari menyusul Kai dan Kiowa.
“Labih cepat! Mereka sangat cepat.” ujar Alviona
“Aku bantu.” Kiowa membuat aliran air yang langsung membeku
Aliran air yang membeku itu cukup licin untuk berselancar di atasnya, tentu saja akan lebih cepat. Di depan mereka sudah ada bukit yang tidak terlalu tinggi, di sanalah Tyson menyiapkan pusaran bundar airnya.
“Aku turun di sini saja, aku bisa bersembunyi. Kalian naiklah.” ujar Kiowa
“Kau yakin?” tanya Kai
Kiowa mengangguk meyakinkan Kai. Akhirnya Kai dan Alviona kemanjat bukit tanpa Kiowa, Kiowa yang ada di bawah mencoba membuat sebuah pagar air. Tapi tiba-tiba pagarnya itu membeku diikuti tangannya, pembekuan itu merambat dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Es itu merambat cepat menuju Kai dan Alviona, sialnya salah satu sisi bukit itu longsor yang membuat Alviona dan Kai tidak bisa naik
Kai menempelkan tubunya ke dinding bukit “Naiklah! Cepat!” perintahnya
Alviona terkejut “Tapi kau-“ “Naik!” Kai memaksa. “Baiklah, jaga dirimu.” akhirnya Alviona naik dengan dibantu Kai
Tiba-tiba es yang menjalar itu mulai membekukan kaki Kai. “Lari!” tariaknya
Dengan berat hati Alviona lari meninggalkan Kai. Didepannya sudah ada Tyson, tapi tiba-tiba es itu dengan cepat membekukan tubuh Tyson. Kaki Alviona juga terkena pembekuan es itu, padahal ia belum sampai ke pusaran bundar air itu. Alviona memaksakan tangannya untuk menggapai pusaran itu. Tepat sebelum seluruh tubuhnya membeku, Alviona berhasil melempar kantong itu tepat ke pusaran bundar air
Beruntung pusaran itu mampu membuka ikatan kantong dan mengeluarkan potongan-potongan hati es yang hancur, pusaran air itu juga menyatukannya hingga utuh tanpa retakan sedikitpun seperti sedia kala.
Hal itu membuat es yang membekukan Tyson, Alviona, Kai dan Kiowa menghilang. Serta mengembalikan ⅓ wilayah dan populasi kerajaan Eira. Dewi Ema yang melihat kejadian itu dari dalam istana berlari keluar istana mengetahui siapa yang telah menyatukan kembali hati esnya
Alviona menatap dewi Ema dengan malu“Maaf dewi, aku sudah membunuh pangeran Frost. Tapi bukan sepenuhnya aku yang membunuhnya.”
“Lalu siapa?” tanya Dewi Ema
“Aku tidak tahu, karena aku tidak sadar saat melakukan itu.” jawab Alviona dengan ragu
“Buktinya?” tanya dewi Ema
“Memang benar aku yang kemari dan membunuh pangeran Frost, tapi apakah mungkin aku dapat datang kemari lalu kembali lagi ke Zipa hanya dalam waktu kurang dari semalam tanpa kekuatan apapun? Tidak hanya aku yang mengukur waktu itu, Kai dan kak Kiowa juga mengetahui saat aku hilang.” jelas Alviona
Dewi Ema menghela nafas. “Baiklah... Aku harus mengakui kutukan itu memang benar adanya.”
“Tapi, ini sebagai permintaan maaf ku.” Alviona memberikan hati es yang baru saja di perbaiki
“Terima kasih dewi.” Alviona berlutut memberi hormat pada dewi Ema
“Kalian boleh pergi.” ujar Dewi Ema
“Sekali lagi terima kasih dewi.” Alviona menundukkan kepalanya
Dewi Ema mengangguk lalu pergi kembali ke istananya. “Ini, ambillah.” Salah seorang prajurit mengembalikan belati Alviona pada Alviona.
“Terimakasih” ujar Alviona setelah menerima belati itu
Para prajurit pun membubarkan diri. “Sudah selesai?” tanya Kai
“Sudah” jawab Alviona dan Tyson bersamaan
“Tyson mau kami antar kembali ke kerajaan Kyandra?” tanya Kiowa
“Tentu saja” jawab Tyson
“Baiklah, ayo!” Ajak Alviona. Mereka berempat berjalan kembali ke pantai kerajaan Eira
Setelah pelayaran selama satu bulan, mereka telah tiba di Chaves Locka. Setibanya mereka di pulau itu, pulau itu sangat sepi. Para warga yang biasanya melakukan kegiatan di pesisir pantai kini tidak ada
“Kemana mereka?” tanya Tyson
Tiba-tiba terdengar suara dari balik semak-semak. Dan...
Dorr!
Suara tembakan dari dalam air terdengar dengan jelas. “SELAMAT ULANG TAHUN!” teriak para warga Chaves Locka
“Oh ya?, aku baru ingat hari ini hari ulang tahunku. Terima kasih semuanya” ujar Tyson
“Tunggu, kau juga berulang tahun bukan?” tanya Kai pada Alviona
“Haha, sudah terlewat beberapa hari lalu.” jawab Alviona menggaruk kepalanya
“Rayakanlah sekarang. Tidak ada kata terlambat!” seru Tyson
Alviona menggeleng. “Tidak, terima kasih.” Tapi para warga Chaves Locke tetap merayakan ulang tahun Alviona juga
Perayaan itu begitu meriah. Dengan pertunjukan sihir air, tarian, dan sajian. Perayaan itu berlangsung hingga malam hari. Serlah acara selesai, Tyson dan beberapa warga mengantar Alviona, Kai, dan Kiowa ke pantai
“Baiklah Tyson, tujuanmu sudah kau gapai. Tugasmu sudah selesai, begitu juga tugasku. Kita bertemu lagi di lain hari.” ujar Alviona
“Jika ada apa-apa, panggil aku. Aku akan datang.” Pesan Tyson
Alviona menganggukkan kepalanya. “Terima kasih sudah membantu.”
“Tidak masalah.” balas Tyson, melambaikan tangan dan memandangi kapal Alviona yang semakin menjauh
“Tidak terasa perjalanan kita sudah satu tahun saja.” ujar Alviona
“Ya waktu terasa begitu cepat” sahut Kai
“Aku sudah sangat merindukan kerajaan, apakah raja mota sudah memiliki putra?” tanya Alviona
“Hihi, sebuah kemungkinan. Tapi kapan membuatnya?” pertanyaan Kai membuat Alviona dan Kiowa tertawa geli
Bersambung....