
“Mereka terlihat.... Lucu!” Puji Alviona melihat 3 orang anak yang berdiri itu. Tiba-tiba 3 anak itu mengoleskan tato-tato mengerikan di wajah mereka dan menyiapkan pedang. Alviona sangat terkejut melihat anak-anak itu mengeluarkan pedang
“Kabur!” teriak Kai membalikkan arah kapal mereka dengan cepat
Para bajak laut itu sudah meluncur ke kapal Alviona dan menyerangnya. Alviona segera melompati satu-persatu dari mereka yang ia gunakan untuk pijakan menuju kapal bajak laut. Alviona mengayunkan pedangnya di atas kapal yang melemahkan semua yang terkena pedangnya. Setelah mencapai ruang pemimpin bajak laut, Alviona disambut oleh ketua bajak laut yang sama-sama menutup sebelah matanya, memegang pedang, pakaiannya sobek-sobek, dan terlihat menyeramkan.
“Berani sekali ya kau kesini, tapi hebat juga bisa kesini” ujar ketua bajak laut itu
“Lepaskan kami!” teriak Alviona memegang pedangnya kuat-kuat memasang kuda-kudanya
“Lepaskan? Kami hanya ingin harta yang kau miliki” jawab ketua bajak laut melirik sekujur tubuh Alviona mencari barang berharga yang bisa diambil
“Kami tidak membawa barang berharga apapun. Kami hanya ingin lewat” jawab Alviona tegas menatap tajam ketua bajak laut
“Cakra itu” ujar ketua bajak laut itu menunjuk kantong Alviona yang berisi cakra pangeran Mota dengan pedangnya
“Ini? Kau mau ini? Ambil sendiri” jawab Alviona mengambil kantongnya lalu melompat menutup pintu ruangan dan memasang kuda-kuda
“Terlalu percaya diri” ujar ketua bajak laut itu bersiap memikirkan cara mengambil cakra dari tangan Alviona
Bajak laut itu melangkah maju mengayunkan pedangnya di kaki Alviona. Dengan cepat Alviona melompat dan mengayun pedang miliknya ke arah leher ketua bajak laut. Ketua bajak laut itu menangkis tebasan Alviona dan mendorongnya hingga melempar tubuh ringan Alviona ke arah pintu dan menghancurkannya. Alviona berusaha berdiri lagi namun ia ditahan ketua bajak laut itu
Ketua bajak laut itu membuka penutup mata Alviona. Betapa terkejut ketua bajak laut itu melihat mata merah tua Alviona. Kesempatan itu tidak Alviona sia-siakan, ia memukul ketua bajak laut itu kuat-kuat hingga terjatuh dari kapal namun ia ditarik sehingga mereka terjatuh ke lautan yang ada seekor hiu lapar menunggu mangsanya jatuh. Beruntung Alviona sigap menahan pedangnya untuk menyayat tenggorokan hingga perut hiu. Hiu itu mati, Alviona dan ketua bajak laut itu selamat. Mereka berenang ke kapal, sesampainya di kapal para bajak laut yang melihat mata mengerikan Alviona tak henti-hentinya memperhatikan Alviona. Alviona dengan menatap tajam yang membuat semua bajak laut yang melihatnya ketakutan
“Ketua?” tanya salah satu bajak laut menatap ketuanya
“Dia kesatria hitam” ujar ketua bajak laut
“Sungguh?!” tanya bajak laut lainnya ketakutan
“Lepaskan Kai dan Teli, atau....” Alviona menunjukkan pedang berlumuran darah hiunya dengan wajah datar yang mengerikan. Semua bajak laut segera melepaskan Kai dan Teli lalu ketua bajak laut itu diam-diam memberi kode untuk kabur pada salah satu anak buahnya
“Ehem! Karena aku yang memenangkan pertarungan tadi, dan aku yang menyelamatkan nyawamu, maka aku minta imbalan” ujar Alviona memergoki ketua bajak laut yang ingin kabur
“Apa?” tanya ketua bajak laut menghentikan langkahnya
“Cukup mudah, kau hanya perlu mengantarku ke pulau 1000 bukit di Timur” jawab Alviona memperlihatkan petanya
“Baik, permintaan kecil. KITA KE TIMUR!” teriak ketua bajak laut itu yang langsung membubarkan para anak buahnya kembali membawa kapal ke arah Timur
Ketua bajak laut yang menyadari hari sudah siang pergi ke bawah kapal mencari seseorang sedangkan Alviona sedang beristirahat meluruskan tulang-tulangnya yang hampir remuk
“Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Kai dengan kagum
“Kau lihat pintu itu? Itu bekasnya” ujar Alviona menunjuk pintu yang hancur karena pertarungannya tadi
“Kau yang menghancurkannya?” tanya Kai terkejut tak percaya
“Bukan aku, tapi karena aku” jawab Alviona tersenyum licik mengambil penutup matanya. Kai berpikir sejenak memikirkan maksud Alviona
“Aku bertarung di dalam, lalu ketua bajak laut itu melemparku hingga menghancurkan pintunya” jelas Alviona setelah menutup mata kirinya
“Oh” ujar Kai kini mengerti maksud Alviona
“Mereka takut padamu?” tanya Kai
“Sepetinya begitu, aku tidak tahu mengapa” jawab Alviona kembali duduk beristirahat. Tidak lama kemudian, ketua bajak laut itu kembali dengan diikuti seseorang yang makanan
“MAKAN SIANG!” seru para bajak laut segera berkumpul di tengah geladak dan memakan bagian mereka
“Di mana tasku?” tanya Alviona meraba sekelilingnya menyadari tasnya tidak ada
“Ini” jawab Kai memberikan tas usang milik Alviona yang tadi ia pakai. Alviona segera mengambil tasnya dan mengeluarkan bekalnya
“Hei kau! Kemarilah, makan bersama kami” ajak ketua bajak laut itu dengan sedikit takut
“Kau mau?” tanya Alviona pada Kai sambil beranjak menuju tempat kosong
“Oh pasti mau!” jawab Kai kesenangan mengikuti Alviona mengambil tempat dan bagian mereka
“Kalian dari mana?” tanya ketua bajak laut itu
“Indana” jawab Alviona datar
“Siapa namamu?” tanyanya lagi
“Alv" jawab Alviona yang langsung dilirik Kai
“Ehem, apa kau tidak ingat.... Alesie?” tanya Kai tersenyum ke arah Alviona
“Bisa kau diam?” tanya Alviona menatap horor Kai. Sedangkan yang ditatap hanya menahan tawanya
“Namamu Alesie?” tanya ketua bajak laut yang mendengar percakapan Alviona dan Kai
“Bukan! Aku Alv, jangan percaya dia” ujar Alviona yang kesal dengan Kai
“Alv....” belum sempat teriakan Kai dilanjutkan, Alviona mengeluarkan pisaunya dan dengan cepat menancapkannya di kayu tepat di samping leher Kai. Suara decitan pisau yang tiba-tiba sudah ada tepat di samping leher Kai dan hanya berjarak setipis kertas membuat semua bajak laut terkejut dengan kekejaman Alviona
“Sudah aku peringatkan. Diamlah Kai” ancam Alviona dengan tatapan tajamnya yang sangat mengerikan kembali menghabiskan makannya tanpa mencabut pisau dari samping leher Kai
“Mengerikan” ujar para bajak laut melihat adegan yang begitu seram. Kai yang baru mengetahui seberapa sadis Alviona kini hanya bisa diam melotot berharap lehernya tidak tersayat sambil sedikit demi sedikit menjauhi pisau yang menancap di kayu dekat ia bersandar
“Ini Kai temanku dan trenggiling itu Teli peliharaanku” jelas Alviona memperkenalkan Kai dan Teli
“Mengapa kau takut dengan kesatria hitam?” tanya Alviona
“Dahulu, ketika aku masih sangat muda, seorang kesatria hitam datang ke kapal kami. Dia mengalahkan ayahku dengan mudah dan menguasai kapal kami selama beberapa bulan lalu dia hilang tanpa jejak. Sejak kejadian itu, kami sangat takut dengan kesatria hitam karena sangat kejam dan kuat” jelas Tuko panjang lebar
“Sungguh? Tapi jiwaku hanya separuh” ujar Alviona
“Sama saja, kau tetap memiliki jika kesatria hitam” jawab Tuko
“Tuko, bisa kita bicara sebentar?” tanya Kai yang sudah selesai makan
“Tentu” jawab Tuko mengikuti Kai yang berjalan menuju bagian depan kapal
“Ada apa?” tanya Tuko penasaran
“Begini, Alv adalah anak yang lahir dengan jiwa kesatria hitam. Aku yakin dia memiliki sifat psikopat walau sedikit, buktinya dia tadi berani menodongku. Jadi, aku ingin kita yang cukup dewasa mendidiknya dengan baik agar tidak menjadi kesatria hitam” jelas Kai meminta pada Tuko
“Aku setuju, aku dulu mempunyai seorang anak dia juga memiliki jiwa kesatria hitam. Bahkan ia membunuh ibunya, akhirnya aku terpaksa membunuhnya. Aku juga tidak mau Alv jadi kesatria hitam” jawab Tuko semangat
“Jadi setuju?” tanya Kai menjulurkan tangannya
“Setuju” Tuko membalasnya. Baru saja percakapan mereka berlangsung, Alv datang mencari Tuko
“Tuko?” panggil Alv
“Ya?” Tuko mendekati Alv
“Bisa kau ajari aku cara berlayar?” tanya Alv penuh semangat. Tuko melirik Kai yang mengangguk padanya
“Baiklah, ayo” ajak Tuko menuju layar kapal dan mengajari Alv dengan baik hingga ia mengerti
Tuko juga mengajarkan banyak hal tentang perkapalan. Cara membaca arah mata angin tanpa kompas di malam hari, Menurunkan dan menaikkan layar, membelokkan kapal, melihat tujuan dari atas kapal, dan menghindari badai. Semua hal yang menyangkut kapal di pelajari Alv dalam waktu singkat dan cepat
...****************...
Setelah 3 bulan lebih, Alviona sudah lihai mengendalikan kapal dan banyak membantu Tuko. Ia juga jadi sangat akrab dengan anak buah Tuko, termasuk 3 anak yang ia lihat pertama waktu itu yang ternyata adalah anak-anak dari anak buah Tuko. Akhirnya mereka sampai di pulau 1000 bukit, tempat tujuan terakhir Alviona.
“KITA SAMPAI!” seru Alv melihat pulau besar dan penuh bukit di depan dengan teropong
“Bersiap!” perintah Tuko yang langsung dilakukan anak buahnya dibantu Alv dan Kai
“Tuko, kalian kembali saja mencari pasukan ,karena kita akan berperang. Aku dan Kai akan mencari pangeran Mota” ujar Alv
“Berhati-hatilah” pesan Tuko bersiap kembali berlayar setelah menurunkan kapal Alv dan Teli. Setelah kapal Tuko menjauh, Alv mulai menyusuri pulau yang penuh dengan bukit
“Di mana bukitnya?” Tanya Kai kebingungan dengan banyaknya bukit di sana
“Aku tidak tahu, kita cari satu persatu saja” usul Alviona
“Bagaimana jika kita salah bukit?” tanya Kai meyakinkan
“Ya sudah turun lagi” jawab Alviona santai
“Merepotkan” gerutu Kai mulai malas melihat bukit-bukit yang tinggi
“Kau mau pulang tidak?!” tanya Alviona menahan kakinya yang gatal ingin menendang Kai
“Iya-iya” jawab Kai dengan malas mulai mendaki salah satu bukit diikuti Alviona dan Teli. Sesampainya di atas bukit, mereka dikejutkan dengan puncak yang sangat subur dan indah. Dipenuhi kupu-kupu yang beterbangan mencari madu pada bunga yang mekar
“Wah! Indah sekali!” ujar Alviona melongo melihat pemandangan yang sangat indah
“Tapi apa kau yakin ini bukitnya?” tanya Kai membuka peta Alviona namun direbut Alviona
“Disini tertulis bukit naga adalah bukit yang subur, penuh pepohonan, dan semak belukar. Sedangkan disini banyak tanaman bunga, berarti kita salah bukit?” tanya Alviona
“Yah, kita salah bukit. Kita turun” ujar Kai langsung turun tanpa memedulikan pemandangan indah di bukit itu lalu diikuti Alviona dan Teli. Setelah itu, mereka kembali mendaki bukit lainnya. Ketika sampai si puncaknya, mereka dikagetkan dengan sekumpulan ular yang sedang berebut makanan. Kedatangan Alviona, Kai dan Teli mengalihkan perhatian para ular itu
“Aku rasa kita salah bukit” ucap Alviona pelan menganga melihat sekumpulan ular berbisa
“Ya, jadi bagaimana sekarang?” tanya Kai yang mematung ketakutan melihat ular-ular ganas
“Kabur!” teriak Alviona menunggangi Teli yang berguling turun lalu diikuti Kai. Teriakan Alviona membuat para ular beralih mengejar mereka. Alviona segera mengambil padang milik Kai dan berdiri
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Kai ketakutan
“PEGANGI AKU!” balas Alviona bersiap melewati pepohonan di depan. Kai segera memeluk kaki Alviona agar tidak jatuh
Mereka kini telah memasuki hutan yang dipenuhi ular yang bergelantungan bersiap menggigit siapa saja yang lewat. Namun mereka kalah siap dengan Alviona yang sudah memegang 2 pedang sekaligus. Alviona memutar-mutar dan mengayunkan pedang dengan cepat sehingga menebas semua ular-ular yang bergelantungan di pohon hingga mereka keluar dari hutan ular. Namun belum selesai, mereka masih dikejar ular-ular yang melata di tanah
Sesampainya di padang rumput yang kering, Alviona menggesekkan kedua pedangnya sehingga menimbulkan percikan api dan membakar rumput kering sehingga mereka selamat dari para ular namun Teli tersandung yang menjatuhkan Kai dan Alviona. Belum selesai, mereka diincar oleh singa-singa padang rumput, Alviona yang mengetahui hal itu segera menaiki Teli dan menarik Kai yang hampir diterkam singa lapar. Setelah melewati keadaan-keadaan genting tadi, Teli, Kai, dan Alviona berhenti di sebuah sungai untuk minum dan beristirahat
“Kita istirahat dulu, aku lelah” ujar Alviona dengan nafas terengah-engah berusaha menyelamatkan diri, Kai dan Teli
“Iya, aku juga lelah” balas Kai yang sudah tergeletak di tanah. Mereka sama-sama tergeletak di tanah saat ini. Lalu Alviona beranjak mengambil air
“Berhenti! Apa hak kalian mengambil air disini? Sungai ini milikku!” Teriak seseorang dari balik semak-semak