
Sementara itu para makhluk kegelapan masih menyerang Alviona sedangkan Alviona sendirian. Raja Mota berinisiatif mendatangkan hewan strengthnya
“KOSEY!” panggil raja Mota
Hanya berjarak beberapa detik, auman seekor singa besar menggelengar ke seluruh penjuru hutan, corak api di seluruh tubuhnya dan rambut-rambutnya yang membara seperti api datang ke hadapan raja Mota. Dengan cakar tajam, mata menyala, dan tubuh kekarnya, singa yang bernama Kosey itu berlari cepat menghampiri raja Mota
Raja Mota menaiki Kosey dan menyiapkan tombaknya. “Maju!” perintahnya
Kosey berlari kencang ke arah yang di tunjuk raja Mota. Di tempat Alviona dan makhluk kegelapan bertarung, Kosey menyemburkan api dan dengan ganas mencabik-cabik makhluk kegelapan. Kedatangan Kosey dapat membalikkan keadaan karena kekuatannya.
Namun tiba-tiba kabut hitam menyelimuti hutan itu. Bahkan terangnya api Kosey dapat diredam oleh kabut itu, semua makhluk kegelapan menghilang, seakan lenyap di antara kabut hitam itu. Alviona tak mengerti ini pertolongan atau serangan
Bugh!
Sebuah pukulan keras menghantam Alviona, saking kerasnya ia sampai terlempar dan menabrak sebuah bukit kecil di dekat tempat itu.
“Sudah dia bilang, kau terlalu lelah. Maka beristirahatlah dulu” sebuah suara samar-samar menggetarkan gendang telinga Alviona, sepasang mata merah meyala tepat di depannya
Namun pengelihatannya sudah buram, suara di sekitarnya semakin pelan dan perlahan menghilang. Semuanya gelap. Lebih gelap dari kegelapan malam. Alviona di ikat di dalam sebuah gua sempit, lalu mulut guanya ditutup batu.
Seketika kabut hitam itu hilang bersamaan dengan hilangnya makhluk-makhluk kegelapan yang menyerang raja Mota. Cahaya api Kosey kembali menyala menerangi hutan, raja Mota tak dapat melihat dimana Alviona. Kuat dugaannya bahwa kabut hitam tadi yang membawa Alviona pergi.
Dari sisi timur semburat cahaya matahari mulai menerangi hutan itu. Bersamaan dengan datangnya Kai membawa pasukan
“Kalian terlambat.” Ujar raja Mota dengan kesal
“Yang mulia baik-baik saja?” tanya salah satu prajurit
Raja Mota menetralkan kembali kekuatannya dan membiarkan Kosey pergi. “Seperti yang kalian lihat.” jawabnya
“Dimana Alv?” tanya Kai celingukan mencari Alviona
Raja Mota menghela nafas, “Itu dia, saat pertarungan tadi tiba-tiba kabut hitam menyelimuti tempat ini. Yang aku lihat hanya kabut dan Kosey. Setelah kabutnya hilang, dia juga hilang. Kuat dugaanku jika kabut itu adalah sarana membawanya pergi”
“Mungkin saja dia masih di sekitar sini” ujar salah satu prajurit memecah suasana tegang
Kai melirik ke arah raja Mota, raja Mota menatapnya balik. “Cari dia!” perintah raja Mota
Seketika semua prajurit yang ada berpencar mencari Alviona. Beberapa saat setelah pencarian, Kai sedikit mencurigai sebuah batu besar yang sebenarnya menutup goa dimana Alviona di ikat. Karena batu-batu disekitarnya tertutupi lumut dan rumput liar, sedangkan batu itu tidak.
Namun Kai menganggap hal itu biasa karena tempat itu baru saja terjadi pertarungan.
“Mungkin saja rumput dibatu ini terbakar api Kosey” pikir Kai lalu pergi meninggalkan tempat itu sambil kembali meneriakkan nama Alviona
Sampai matahari meninggi, salah satu prajurit baru menemukan satu pedang Alviona yang sudah hancur dan menyisakan bagian pegangannya saja. Semuanya berpikiran bahwa Alviona kalah bertarung dan mati di lahap salah satu makhluk pemakan manusia.
Ratu Laluna tak percaya mendengar berita itu. ”Apa?! Itu tidak mungkin. Dia anak yang kuat. Dia tidak mungkin mati.” Katanya sambil menangis
Raja Mota memegang pundak ratu Laluna. “Relakan dia, Laluna. Kejadian itu sangat tidak terduga”
“Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, bagaimana aku bisa merelakannya? Dia banyak berjasa dalam hidup kita, dan dia pergi tanpa pamit?” ratu Laluna tak mau berhenti menangis
Sore harinya, upacara pemakaman tanpa jasad telah dilangsungkan di istana Indana. Kini pangkat senapati dipegang Kai, dan Teli dilepas ke hutan.
Suasana kerajaan sungguh sepi dipagi harinya, Alviona yang biasanya menggedor-gedor pintu kamar Kai agar dia bangun kini hanya ketukan pelan dari pelayan istana. Obrolan seru saat sarapan juga hilang, teriak semangat para prajurit yang sedang berlatih tak selantang saat dilatih Alviona. Latihan pangeran Laroy tak seseru saat bersama Alviona.
Namun, sepi itu tidak bertahan lama. Dua hari setelah hilangnya Alviona, kerajaan diserang pasukan raksasa kekuatan bayangan. Penyerangan itu terjadi terus-menerus selama berhari-hari, hingga menyebabkan kerusakan yang cukup parah di beberapa daerah Indana. Banyak korban jiwa, warga yang kehilangan rumah karena penyerangan itu sementara di ungsikan di daerang yang dekat dengan istana.
Disana, kebutuhan primer warga dicukupi kerajaan. Berbagai cara untuk melindungi warga dari penyerangan itu selalu gagal. Pasukan raksasa selalu berhasil menghindar dan mengalahkan prajurit yang dikirim untuk mengungkap siapa yang mengirim raksasa itu.
Diantara banyak warga yang mengungsi di daerah kerajaan, ada seorang anak laki-laki berusia delapan tahun bernama Fang yang sedang berlatih dengan gurunya di bukit dekat kerajaan. Kondisi kerajaan yang memburuk membuat tekat Fang untuk menjadi prajurit kerajaan semakin bergejolak. Ia masih mengingat cerita yang disebarkan dari mulut ke mulut tentang perjuangan Alviona. Kisahnya sangat menginspirasi Fang untuk menjadi prajurit kuat seperti Alviona.
“Kemana perginya kau? Mengapa kau pergi begitu saja saat kerajaan membutuhkanmu?” tanya Fang seraya menatap ke arah gunung Oz, tempat terakhir kalinya Alviona terlihat.
“Dia tak akan kembali, jadi jangan terlalu mengharap.” Ujar salah satu temannya
Fang menghadap temannya dan mulai berbicara, “Kedatangannya ke pulau seribu bukit juga tidak diketahui. Bagaimana jika dia tiba-tiba kembali dan menyelamatkan kita semua?”
Temannya tetap pada pendiriannya. “Itu tidak mungkin, senapati Alv sudah pernah mati. Mana mungkin dia kembali hidup?”
Fang mulai putus asa, dia tak lagi menanggapi temannya dan kembali menatap ke arah gunung Oz. Tak lama kemudian, ia kembali ke tempat pengungsian. Tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya ungu dari balik salah satu tenda. Fang masuk kedalam tenda itu, ia melihat kristal ungu yang bercahaya ke arah yang berlawanan dengan arah istana.
Saat akan kembali keluar, Fang mendengar bisikan yang mengajaknya melihat lebih dekat kristal ungu itu. Fang pun berjalan mendekati kristal untu yang diletakkan diatas meja kecil, bisikan itu juga mengajaknya memegang kristal ungu itu dan mengangkatnya. Keingintahuan Fang sejalan dengan bisikan itu, maka Fang melakukannya.
Samar-samar Fang mendengar suara pohon runtuh dari hutan yang berada tak jauh dari istana. Ketika Fang keluar dari tenda dan melihat kearah hutan, terlihat jari-jari besar yang mendorong pohon lainnya hingga runtuh. Barulah terlihat tubuh besar dengan wujud mengerikan dari makhluk yang meruntuhkan pohon itu. Fang berlari ke bukit tempat teman-temannya bermain.
“RAKSASA DATANG!!” teriak Fang membubarkan teman-temannya.
Pasukan raksasa itu begitu cepat berjalan menuju istana. Ketika sampai di istana, keadaannya sudah porak-poranda, raja Mota yang ikut pergi bersama prajurit untuk membasmi pasukan raksasa di tempat yang berbeda membuat Kai dan para prajurit kewalahan melawan raksasa-raksasa yang datang. Fang mencoba melawan salah satu raksasa, namun karena kekuatannya belum mumpuni, dirinya terlempar ke dalam istana karena pukulan dari raksasa yang ia lawan. Ternyata ia terlempar ke kamar pangeran Fitz yang sedang tertidur lelap.
Melihat ratu Laluna sedang sibuk membantu Kai dan prajurit mempertahankan istananya dan raksasa yang datang mendekat, Fang memutuskan untuk membawa pangeran Fitz pergi. Ia mengambil jarik dan mengendong pangeran Fitz pergi dari istana. Setelah keluar dari Istana, ia masih dikejar oleh pasukan raksasa. Setiap kali bersembunyi, para pasukan itu selalu berhasil menemukannya, ditambah pangeran Fitz yang menangis karena terbangun.
Dentuman langkah kaki raksasa itu membuat batu besar yang menutup sebuah goa bergeser dan membuka jalan. Akhirnya Fang melihat goa itu dan masuk ke dalamnya untuk menghindari kejaran para raksasa. Meskipun sudah di hantam habis-habisan, goa itu tak hancur, hanya bagian depannya saja yang runtuh. Setelah yakin Fang tidak dapat keluar dari goa itu, para raksasa pergi meninggalkan goa.
Mengetahui hal itu, Fang merasa lega. Ia mulai mencari jalan keluar dengan menyusuri goa hingga sangat dalam. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang diikat rantai, rambutnya panjang, baju merah dengan beberapa robekan masih menempel rapi di tubuhnya. Sabuknya terdapat lima belati yang berbeda-beda bentuknya. Ikat kepalanya masih terikat kuat, Fang mencurigai orang itu. Ia memberanikan diri untuk membuka rambut yang menutupi wajahnya.
Bersambung....