My Live For Battle

My Live For Battle
Itu benar-benar terjadi



Kai menghela nafas, sejenak terdiam lalu menjawab “Kerajaan Eira baru saja berduka, salah satu cucu dewi Ema ditemukan mengambang di perairan sekitar kerajaan Eira. Seseorang telah membunuhnya, tapi satu-satunya bukti hanyalah...”


Tok tok tok...


belum sempat Kai melanjutkan penjelasannya, seseorang mengetuk pintu rumah mereka


“Siapa itu?” tanya Alviona. Kiowa bangkit dan membuka pintu, ternyata itu adalah para prajurit


“Kami sedang mencari pemilik dari belati ini” salah satu dari mereka menunjukkan sebuah tiruan belati yang terbuat dari es, bentuk belati itu sangat mirip dengan belati Alviona yang bengkok dan runcing


Alviona yang mendengar kata belati langsung kaget, Kai yang kaget seketika menatap Alviona


“Aku rasa kita harus kabur” bisik Kai


Alviona mengangguk lalu mereka pergi ke kamar mengemasi barang-barangnya. Kiowa yang mengerti Alviona dan Kai akan kabur membantu mereka dengan memberi alasan pada para prajurit “Maaf, tapi tak ada seorangpun dirumah ini yang memiliki belati. Dan aku tinggal sendirian disini” tak lama setelah mengatakan itu


Pyaar...


Kai yang sibuk mengemasi barang-barangnya tanpa sengaja menjatuhkan wadah air yang berada di dekat ranjangnya yang membuat wadah air itu pecah. Seketika para prajurit masuk secara paksa yang membuat Alviona dan Kai semakin panik. Beruntung mereka masih sempat kabur lewat pintu belakang, beruntung Alviona masih sempat memanggil Teli


Beberapa prajurit lainnya menahan Kiowa untuk di interogasi, sisanya masih mengejar Alviona dan Kai yang kabur kehutan. Alviona dan Kai bersembunyi di balik pohon besar setelah cukup dalam memasuki hutan


“Kita harus buat rencana!” kata Kai


“Tapi bagaimana? Kepalaku sakit lagi, aku tidak bisa berpikir” Alviona memegangi kepalanya yang kembali terasa sakit


Kai kebingungan harus apa, para prajurit itu memang tidak terlalu banyak, tapi dirinya tahu kekuatan prajurit Zipa cukup tinggi. Pasti akan sulit dan menguras tenaga, sedangkan mereka masih harus melakukan perjalanan untuk kabur dari kejaran para prajurit itu. Walaupun tak tahu harus kemana


“Kita lawan langsung saja bagaimana?” tanya Kai meminta persetujuan Alviona


Alviona terdiam sejenak mencoba mencari ide yang biasanya mengalir lancar di otaknya kini hilang entah kemana “Teli bantu aku!” Teli mengangguk lalu memposisikan diri


“Nah, sementara untuk menghabiskan sebagian dari para prajurit itu, kau panah mereka dari balik tubuh Teli. Sisanya serahkan padaku” Alviona mengambil kedua pedangnya


“Kau yakin?” tanya Kai khawatir dengan keadaan Alviona


“Memang ini bukan rencana yang terbaik, tapi bagaimana lagi?” Alviona mencoba meyakinkan Kai


Rencana dimulai, Kai berlindung dibalik Teli yang berjalan keluar dari persembunyian mereka. Melihat trenggiling raksasa muncul, para prajurit mulai memiliki firasat buruk. Dan firasat itu benar adanya, Kai telah membidik salah satu prajurit yang sedang sibuk mencarinya bersama Alviona, anak panah berhasil menembus rongga dada dan mengenai tepat di jantungnya


Seketika para prajurit lainnya yang menyadari panah itu berasal dari trenggiling raksasa milik Alviona, langsung menyerang kearah trenggiling itu. Satu persatu panah diluncurkan Kai dan berhasil membunuh beberapa dari mereka, tapi itu masih belum cukup untuk melumpuhkan para prajurit lainnya. Setelah para prajurit berhasil terpancing, giliran Alviona yang beraksi membunuh salah satu dari mereka dengan menculiknya dan satu lawan satu dengannya


Satu per satu prajurit berhasil Alviona bunuh, begitu juga dengan Kai yang berhasil membunuh mereka semua hingga habis. Dari salah satu prajurit yang telah mati, Kai melihat belati tiruan yang tadi ditunjukkan pada Kiowa


“Alv, apakah ini belatimu?” tanya Kai menunjukkan belati itu pada Alviona


Alviona berjalan mendekat dan memperhatikan bentuk belati itu, sangat mirip dengan belatinya yang hilang. Tiba-tiba muncul sebuah ingatan ketika dirinya menusukkan belati itu ke dada Frost salah satu cucu dewi Ema, saat itu juga kepalanya terasa sangat sakit


“Alv? Kau baik-baik saja?” tanya Kai ketakutan melihat Alviona meringis kesakitan


“Aku benar-benar membunuh Frost! Namun bagaimana bisa?” tanya Alviona membuat kepalanya semakin sakit


“Hah?! Apa?!” Kai semakin panik


“Siapa lagi dalang dari semua ini?!” bisik Alviona. Anehnya setelah mengucapkan itu, kepalanya tidak lagi terasa sakit


Alviona yang sudah muak seperti dipermainkan seseorang dengan kutukan yang datang bergantian mengambil pedangnya yang tadi dia jatuhkan dan mencoba bunuh diri. Namun Kai sigap menghentikan Alviona sebelum pedang tajam itu membunuh pemiliknya sendiri


“Alv! Apa yang akan kau lakukan?!” Kai menahan tangan Alviona kuat-kuat agar tidak mendorong pedang semakin mendekati lehernya


“Mengapa harus aku yang mewujudkan kutukan itu?!” Alviona sudah kehilangan harapan, disatu sisi dirinya diburu karena sudah membunuh pangeran Forst, disisi lain dirinya harus menyelamatkan Kiowa


“Aku tahu itu terasa berat, tapi bukan berarti kau harus menyerah sekarang Alv!” Setelah berhasil membuat pedang itu terlepas dari tangan Alviona dan melemparnya jauh-jauh, Kai memeluk Alviona agar tenang


Alviona sudah tidak bisa bergerak didalam pelukan Kai yang memiliki tubuh tinggi besar, Kai sengaja membuat Alviona diam beberapa saat, agar bisa berpikir dengan tenang dan mengurungkan niat untuk bunuh diri. Tanpa Alviona sadari, matanya mulai berlinang air mata. Dirinya mulai tenang dan berhenti memberontak, meskipun terasa aneh, Alviona merasa nyaman dalam pelukan tulus dari Kai. Alviona balik memeluk Kai


“Sudah tenang?” tanya Kai


Alviona mengangguk lemah, lalu Kai melepaskan pelukannya. Setelah memastikan hanya ada mereka berdua, Kai melepas penutup mata Alviona dan mengusap air matanya. Kai berlutut didepan Alviona dan menatapnya


“Memang aku tidak tahu seluruh perjalanan hidupmu, berapa banyak luka fisik dan luka hati yang belum sembuh, seberapa keras kau di didik oleh keadaan, dan seberapa berat beban yang kau tanggung untuk usiamu yang bisa dibilang masih kanak-kanak. Namun percayalah, menyerah bukan berarti masalah itu selesai. Yah, mungkin selesai untukmu, untuk orang lain?” Kai mencoba mengingatkan Alviona


“Tidak masalah, kita lewati ini bersama. Kau pasti bisa seperti kau melewati masa sulit satu tahun yang lalu!” Kai mengusap lembut kepala Alviona “Tanyakan kepada dirimu, kemana perginya dirimu yang ambisius? Yang pantang menyerah dan selalu memiliki ide cemerlang? Yang tidak pernah mengeluh dan melarang seseorang untuk mengeluh? Kemana dia?”


Alviona menunduk menatap tangannya yang masih berlumuran darah dan memikirkan perkataan Kai “Kau benar, aku harus kembalikan diriku yang dulu, aku harus kuat seperti saat dimedan perang” Alviona kembali menatap Kai


Kai tersenyum hangat “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu dimasa sulit. Kita akan lewati ini bersama” Kai mengambil pedang yang tadi dia lempar


“Kau siap?” tanya Kai memberikan pedang itu pada Alviona


“Siap!” Alviona menegakkan kepalanya dan kembali memakai penutup matanya


“Kita selamatkan kak Kiowa dulu” Kai memberi arahan


“Kita tidak mungkin melakukannya tanpa persiapan, kita harus buat rencara terlebih dahulu” ujar Alviona


Tiba-tiba Kai terpikir sesuatu “Tunggu, jika para prajurit itu bisa sampai kerumah hanya untuk mencari pemilik belati itu, tidak mungkin jika mereka berkeliling Zipa untuk itu. Pasti mereka mengusutnya”


Alviona terkejut “Berarti, mereka sudah lebih dulu mendatangi rumah...”


Bersambung....