
“Alviona” jawaban itu membuat Alviona terkejut dan mengangkat kepalanya menunjukkan matanya
“Ibu” panggilnya pelan dengan air mata yang hampir jatuh
“Alviona anakku” Mala ibunya langsung memeluk Alviona erat-erat
“Wah, akhirnya” Teli terlihat senang Alviona kembali bertemu keluarganya
“Jangan pergi jauh-jauh nak. Ibu mengkhawatirkan mu” pesan ibunya tanpa melepas pelukan
“Tapi, kakek...” Alviona takut ia dibuang seperti 5 tahun yang lalu
“Kakek mu sudah meninggal nak” ibunya terlihat sedih dengan keadaan anaknya
Alviona yang mendengar kabar kakeknya meninggal bingung harus mengatakan apa dan memperlihatkan ekspresi apa entah senang atau sedih
“Oh, kakek... semoga dia tenang” Alviona terlihat gugup
“Jangan pergi lagi ya? Ibu tidak mau kehilanganmu” ibu Alviona mengelus pipi anaknya yang lama tidak ia lihat
“Iya ibu” Alviona menikmati buaian tulus dari ibunya
“Ibu akan beri tahu ayahmu dulu. Kau tunggu disini, makanlah dulu” ibunya bergegas memberi tahu ayah Alviona
“Mengapa kau terlihat gugup tadi?” tanya Teli
“Aku hanya bingung. Kakekku meninggal, aku harus senang atau sedih? Aku senang karena yang membenciku telah meninggal atau aku sedih karena kakekku meninggal?” jawab Alviona dengan wajah bingung
“Setidaknya orang yang membencimu sudah mati” ujar Teli tersenyum licik
“Ya, aku kira itu pilihan yang bagus” Alviona melepas sandal dan capingnya
“Jika kau tinggal disini, apa kau akan melepaskan aku di hutan?” tanya Teli penuh harap
“Jangan harap kau akan bebas di hutan ya. Besok pagi-pagi kau antar aku ke sawah. Aku ada urusan” Alviona langsung masuk kedalam rumah
“Apa lagi yang akan dilakukan anak ini?” tanya Teli keheranan
Tidak lama setelah perdebatan kecil Alviona dan Teli, ayah dan ibu Alviona datang menghampiri anaknya yang sedang duduk di dalam rumah
“Alviona!” seru Jara yang langsung memeluk anaknya
“Ayah” panggil Alviona merindukan sang ayah
“Kemana saja kau nak? Kami mencari mu” Jara terlihat sangat khawatir
“Aku pergi mengembara ke seluruh Indana untuk mencari ayah” jawab Alviona ditengah pelukan
“Mulai hari ini, kau tidak boleh pergi jauh lagi ya? Janji?” Jara menunjukkan jari kelingkingnya
“Aku janji ayah” Alviona mengaitkan kelingkingnya dengan jari ayahnya lalu ia berpelukan dengan ayah dan ibunya
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit Alviona melatih permainan pedangnya di pinggir sungai dengan ditemani Teli
“Alviona... di mana kau nak?” mendengar suara Mala mencarinya, Alviona segera menyembunyikan pedangnya dan berjalan seperti tidak melakukan apa-apa
“Ya ibu?” Alviona mendekati ibunya yang mencarinya
“Kemana saja kau? Kan sudah ayah bilang jangan pergi kemana-mana” Mala menjewer telinga Alviona
“Argh, sakit. Aku hanya jalan-jalan ibu, aku tidak pergi kemana-mana” Alviona memegang telinganya yang merah
“Jalan-jalan? Ini terlalu jauh dengan rumah” Mala menarik telinga Alviona sambil berjalan ke rumah
“Aduh, maaf ibu! Aku sudah biasa pergi jauh, jadi aku rasa ini belum terlalu jauh” rengek Alviona merasakan sakit di telinga kirinya
“Dengar ya. Perempuan itu tidak boleh keluar rumah saat hari masih gelap” pesan Mala melepas tangannya dari telinga Alviona
“Iya” Alviona meringis memegang telinga kirinya
“Sudah, ayo ikut ibu masak” ajak Mala lalu menuju dapur
“Apakah itu sakit?” tanya Teli dengan wajah tak berdosa
“Ini bahkan lebih sakit dari pukulan dengan kayu” ujarnya lalu mengikuti ibunya ke dapur sedangkan Teli kembali tidur di teras
Setelah selesai makan, Alviona diajak ibunya untuk pergi ke sawah bekerja membantunya. Namun karena Alviona masih kecil, ia diberi pekerjaan ringan yaitu menjaga sawah dari burung pipit
“Alviona, kau jaga sepetak sawah ini dari pipit. Ibu akan memanen sawah di sana” perintah ibunya sambil memberinya sebilah tongkat
...****************...
Sedangkan di kerajaan, sedang ada pertandingan atara 2 pangeran kembar yaitu pangeran Mota dan pangeran Yana yang memperebutkan tahta kerajaan dengan diawasi Raja Rukka dan Ratu Gina.
“Ayo! Ayo! Ayo! Ayo!” seru seluruh penonton yang menyaksikan pertandingan sengit itu
“Mota, apa kau lelah?” tanya pangeran Yana tersenyum
“Aku tidak akan lelah sampai pertandingan ini berakhir” jawab pangeran Mota membalas senyuman pangeran Yana sambil kembali berdiri dengan tombaknya
Pertandingan terus berlanjut hingga sangat lama namun kedua pihak belum juga kalah ataupun menyerah. Tiba-tiba pangeran Yana melempar bubuk cabai ke mata pangeran Mota yang membuat syok seluruh penonton
“Tahta ini milikku” bisik pangeran Yana di telinga pangeran Mota dengan senyum liciknya
“Yana! Apa yang kau lakukan?” teriak raja Rukka menghampiri area pertandingan
“Pangeran Yana telah didiskualifikasi dari pertandingan karena melakukan kecurangan. Maka pangeran Mota yang akan menjadi penerus tahta” ucap penasihat raja
Sejenak keadaan menjadi senyap karena keputusan yang telah dibuat. Pangeran Yana juga ternganga dengan keputusan yang dibuat
“Baiklah, jika itu keputusannya. Aku berjanji akan kembali di upacara penobatan dengan membawa hadiah” pangeran Yana segera meninggalkan arena lalu pergi keluar kerajaan entah kemana
Keesokan harinya adalah hari penobatan dan hari pernikahan pangeran Mota dan putri Laluna. Seluruh kerajaan merayakan hari penobatan ini dan berbahagia dengan hari pernikahan pangeran mahkota
“Pangeran apa kau siap?” tanya putri Laluna memakai bajunya dengan tersenyum lembut
“Tentu aku siap permaisuri” goda pangeran Mota bertekuk lutut melamar putri Laluna
“Sudah ah, ayo kita keluar sudah ditunggu” putri Laluna segera menarik tangan pangeran Mota menuju ruang penobatan
“Yang mulia raja silahkan memberikan mahkota” ujar perdana menteri
“Kau siap nak?” tanya raja Rukka mengambil mahkotanya
“Selalu siap ayah” pangeran Mota menunduk bersiap menerima mahkota. Belum sempat raja Rukka meletakkan mahkota di kepala pangeran Mota, pangeran Yana datang membuyarkan suasana
“Maaf aku terlambat!” sapa pangeran Yana berjalan mendekati pangeran Mota
“Ini Mota. Oh maaf, yang mulia” goda pangeran Yana sambil memberikan sebilah tombak api
“Wah terima kasih” pangeran Mota menerimanya dengan senang. Baru saja memberikan tombak, pangeran Yana mengeluarkan tombak miliknya
“Yana!” raja Rukka mencoba memperingatkan
“Ayo kita lihat siapa yang benar-benar pantas” ucap pangeran Yana
“Baiklah” pangeran Mota melayani dan bersiap bertarung
“Semuanya jangan berkelahi!” raja melerai kedua anaknya
“Apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian mau pertumpahan darah disini?” ratu Gina mendekat untuk melerai keduanya
“Tapi ini tidak adil! Aku lebih tua dari Mota, aku juga lebih kuat darinya! Harusnya aku yang menjadi raja bukan Mota!” pangeran Yana memberi alasan sambil menatap semua orang yang ada di pelantikan itu
“Bukankah pertandingan kemarin kau curang? Itu bukanlah pertanda kau lebih kuat dariku” tepis pangeran Mota menatap tajam saudaranya
“Baiklah. Jika kau ingin adu kekuatan yang sesungguhnya, mari berperang. Tidak ada kecurangan, dan benar-benar adu kekuatan dan kepandaian” usul pangeran Yana membalas tatapan pangeran Mota tepat didepan mata pangeran Mota
“Baik aku terima!” pangeran Mota menjabat tangannya dengan pangeran Yana tanpa menghilangkan kontak mata
“Yang menang menjadi raja, yang kalah harus bersedia kepalanya di penggal. Apa kau masih yakin?” tanya pangeran Yana dengan tatapan mengejeknya
“Tentu! Kita berperang” kedua pangeran itu kini memutus kontak mata mereka
“Prajurit ku!” panggil pangeran Yana yang mendatangkan sebagian besar prajurit kerajaan Indana
Melihat sebagian besar prajurit diambil alih saudaranya, pangeran Mota berpikir keras untuk tetap memenangkan peperangan
“Semoga berhasil Mota” pangeran Yana pergi meninggalkan kerajaan menuju medan perang bersama seluruh pasukannya
“Mota, apa kau yakin akan melawan saudaramu sendiri?” tanya ratu Gina menatap sedih anaknya yang akan berperang
“Aku yakin ibu. Seorang raja tidak boleh mendapat tahtanya dengan kecurangan. Prajurit yang tersisa! Aku perintahkan kalian untuk memanggil 1 laki-laki dari 1 keluarga untuk berperang!” setelah memberi perintah pangeran Mota pergi ke kamarnya disusul putri Laluna yang mengkhawatirkan calon suaminya akan berperang.
“Siap!” teriak seluruh prajurit tersisa langsung melaksanakan perintah pangeran Mota
Bersambung......