
Mereka telah tiba di Dee. Tempat yang tandus, kosong dan dingin. Hanya ada tanah pecah-pecah karena kekeringan, dan beberapa pohon mati.
"Tempat yang aneh." komentar Fang.
"Vroegaand." kata Alviona.
"Tapi mana kerajaannya?" tanya Fang keheranan.
"DI DALAM SINI!" teriak Sen dari kejauhan, ia telah menemukan sebuah gua yang merupakan jalan menuju kerajaan Anjana.
Alviona dan Fang segera menyusul Sen di mulut gua. Gua itu sangat gelap, sunyi dan tidak memantulkan suara sama sekali. Sen mengeluarkan cahaya dari dirinya sebagai penerangan.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Fang.
"Aku pernah kesini sebelumnya." kata Sen dengan wajah datar. Jauh berbeda dengan saat masih di Indana.
Fang dan Alviona saling tatap, tapi Alviona hanya mengangkat bahunya. Sen mulai memasuki gua, diikuti Alviona dan Fang sambil mengamati dinding gua yang di bentuk dengan batu.
"Kau sungguhan pernah kemari?" tanya Fang tak percaya.
Sen menarik nafas panjang, lalu dari tasnya keluar sebuah pipe pan. Sen meniupnya perlahan, membunyikan nada indah khas negri peri.
"Dahulu, bangsa peri dan monster begitu damai. Bangsa Monster adalah pelindung bagi bangsa peri yang lemah dari jamahan manusia."
"Masa itu adalah masa yang sangat bahagia. Kami bangsa peri selalu memberikan separuh hasil panen pada para monster untuk makan. Peri-peri kecil sering bermain dengan para monster."
"Hingga ada seorang peri membunuh salah satu monster. Peri itu tiba-tiba menghilang setelah membunuh monster, tidak diketahui motif pelaku."
"Peri itu sama sekali tidak kami kenal. Intinya, bangsa monster marah besar pada kami. Berbagai cara dilakukan agar monster kembali mempercayai peri."
"Tapi tak ada yang berhasil, para monster balik menyerang para peri. Ratu kami pun gugur. Akhirnya bangsa peri memberikan sebagian besar wilayah negri peri pada monster sebagai penutup perang."
"Hingga saat ini, kami tidak pernah berhubungan lagi. Sama sekali tidak pernah." Sen menjelaskan panjang lebar.
Wajahnya begitu sedih, jelas tergambar betapa kecewanya ia dengan bangsa monster yang telah menyerang negri mereka.
"Sebenarnya, ada hal yang janggal dari kejadian itu." Sen kembali memecah keheningan.
"Apa?" tanya Fang antusias.
"Peri yang membunuh monster itu, tidak diketahui identitasnya. Tidak ada laporan peri hilang, semua peri saat itu di tes dengan air kejujuran. Tapi semuanya nihil."
Jelas Sen.
"Kisah yang menyedihkan." komentar Alviona.
"Kau sudah menyiapkan rencananya?" tanya Fang yang sudah melihat cahaya dari mulut gua yang lain.
"Ya. Aku memang tidak tahu dimana pangeran Fitz berada, tapi dengan membuat kerusuhan di suatu daerah mungkin bisa menarik perhatian sebagian monster. Hal itu tentu mempermudah pencarian di daerah kerajaan. Biar aku yang memegang tugas ini."
"Kalian jangan meninggalkanku sebelum aku selesai membuat kerusuhan. Pergilah saat kerusuhan pecah." jelas Alviona.
"Tapi bagaimana jika salah satu dari kita tertangkap?" tanya Fang khawatir.
"Aku juga menghawatirkan itu, tapi mungkin ini bisa membantu." Alviona mengeluarkan tiga bola serabut kelapa kering.
"Apa itu?" tanya Fang penasaran.
"Serabut kelapa, aku yakin kelemahan para monster adalah cahaya. Jadi jika tertangkap, gesekkan saja dengan benda padat. Bola ini akan terbakar dan memancarkan cahaya untuk mengusir para monster." kata Alviona.
"Menarik, kau merakitnya sendiri?" tanya Sen.
"Baiklah, lalu apa rencana kita ketika sudah menemukan pangeran Fitz?" tanya Fang.
"Aku akan pikirkan di saat itu juga. Dengan memanfaatkan keadaan, aku pasti bisa berpikir cepat." jawab Alviona dengan santai.
Ternyata mereka sudah tiba di ujung gua. "Anjana." kata Sen pelan.
Setelah keluar dari gua, mereka hanya menemui bebatuan hitam dengan pasir kering di bawahnya. Tak ada pohon dan tanda-tanda kehidupan di sana, suasananya seperti sekitar pukul 06.00 sore.
Mereka berjalan menyusuri tempat kosong itu selama beberapa menit. Lalu terlihat beberapa rumah dari kejauhan, sebuah gua kecil berada di depan mereka.
"Mungkin kita bisa tanya pada monster di sekitar sini untuk mengetahui letak kerajaan." kata Alviona.
"Kau gila ya?! Tentu saja itu akan merusak rencana kita!" Ujar Fang marah.
Segera Sen menutup mulut Fang, lalu berkata. "Ini bagian dari rencananya, kau tenang saja." dengan tersenyum.
Setelah memasuki gua, seekor monster kera langsung menyambut mereka. Awalnya mereka tampak bingung, lalu mulai bertanya. "Siapa kalian?"
"Kami adalah utusan terakhir raja Yana. kami ditugaskan pergi ke istana Anjana untuk menemui raja Azazel." kata Alviona dengan tenang.
Monster itu nampak ragu dengan Alviona, mengamatinya dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Jalanlah ke Barat, hingga kau menemukan gerbang besar yang dijaga oleh beruang hitam raksasa."
"Terima kasih banyak." balas Alviona, lalu berbalik mengikuti arah yang ditunjuk oleh si monster.
Setelah agak jauh, Sen memberikan sebuah bambu runcing dan beberapa bom pada Alviona. "Ini akan membantumu."
Setelah Alviona menganggukkan kepalanya, terdengar hentakan kaki para monster yang mendekat. "Cukup disini, kalian berangkatlah." kata Alviona.
Fang dan Sen segera lari ke arah barat. Sedangkan Alviona tengah bersiap dengan pedangnya serta sebilah bambu runcing pemberian Sen.
"BERHENTI KAU MANUSIA!!" teriak para monster. Mereka meraung keras bersiap melawan.
Sekelompok monster itu berhenti sekitar 20 meter di depan Alviona seorang. Mereka terlibat saling tatap selama beberapa detik, sebelum si monster kera berkata dengan lantang. "Kau bukanlah utusan terakhir raja Yana!"
"Ya." jawab Alviona singkat.
"Kau pasti ingin mencuri sesuatu disini bukan?" monster ular menebak.
"Tidak." lagi-lagi jawaban Alviona yang singkat membuat amarah para monster meluap-luap.
"Lebih baik kau pergi dari sini, sebelum kami potong tubuhmu sebagai makan siang kami." Ancam monster serigala.
"Baik." Alviona pun melangkah ke arah para monster itu.
Langkahnya begitu santai. Tapi mampu membelah barisan monster tanpa melakukan apapun. Sebenarnya Alviona sedang memperkirakan jumlah monster yang ada, lalu ketika melewati tengah...
DORRR!!!
Bom pertama Alviona ledakkan tepat di tengah gerombolan monster itu dan membunuh sebagian darinya. Dengan asap tebal, beberapa monster kesulitan mencari Alviona yang berukuran lebih kecil dari mereka.
Alviona membidikkan bambu runcing ke arah salah satu monster. Setelah diluncurkan, bambu itu dengan mudah menembus jantung monster dan terbang menuju monster lainnya.
"Benar-benar membantu." kata Alviona dengan senyum senang.
Alviona pun maju membantai satu persatu monster yang datang setelah menyadari keberadaannya. Bersamaan pedang Alviona yang melayangkan nyawa para monster, bambu runcing pemberian Sen juga membunuh mereka.
Sementara itu, Sen dan Fang baru sampai di gerbang besar. Sesuai dengan yang di katakan monster kera, gerbang itu dijaga oleh beruang hitam raksasa yang mengerikan.
Bersambung....